Ketika pasar saham bergejolak, saham yang mengalami penurunan harga sering kali terlihat seperti sebuah kesempatan.
Namun, ada satu kesalahan yang cukup umum dilakukan investor, terutama investor pemula yakni menganggap saham dengan harga Rp1.000 pasti lebih murah daripada saham Rp10.000.
Padahal, harga per lembar tidak menentukan apakah sebuah perusahaan murah atau mahal.
Saham Rp500 bisa saja memiliki valuasi yang sangat tinggi jika laba per sahamnya kecil. Sebaliknya, saham Rp5.000 bisa saja relatif murah jika perusahaan menghasilkan laba besar, memiliki neraca yang sehat, dan prospek bisnisnya masih kuat.
Karena itu, istilah “saham murah” dalam artikel ini lebih mengacu pada saham yang memiliki kombinasi valuasi yang relatif menarik dan fundamental yang masih layak diperhatikan, bukan sekadar saham dengan nominal harga rendah.
Di Indonesia maupun Amerika Serikat, ada sejumlah saham yang masuk kategori tersebut dan layak dimasukkan ke dalam watchlist investor pada 2026.
Saham Murah Itu Sebenarnya Seperti Apa?
Ada dua definisi yang perlu dipisahkan.
Saham murah secara nominal berarti harga satu lembar sahamnya rendah.
Sementara saham undervalued berarti harga pasar saham dianggap lebih rendah dibandingkan nilai perusahaan berdasarkan ukuran fundamental atau estimasi nilai wajarnya.
Keduanya tidak selalu sama.
Misalnya, saham A diperdagangkan di Rp200 dengan laba per saham hanya Rp2. Artinya, investor membayar 100 kali laba perusahaan.
Di sisi lain, saham B dihargai Rp4.000 tetapi menghasilkan laba per saham Rp800. Secara sederhana, investor hanya membayar lima kali laba.
Jadi, harga Rp200 belum tentu murah dan harga Rp4.000 belum tentu mahal.
Inilah alasan mengapa investor biasanya menggunakan sejumlah rasio seperti Price-to-Earnings (P/E), Price-to-Book (P/B), Return on Equity (ROE), Debt-to-Equity (DER), free cash flow, dan dividend yield untuk melihat apakah harga saham sebanding dengan kualitas bisnisnya.
Kenapa Saham Undervalued Bisa Menarik Perhatian?
Ada alasan mengapa strategi value investing tetap menjadi salah satu pendekatan yang banyak digunakan.
Ketika pasar terlalu fokus pada saham yang sedang populer, perusahaan dengan fundamental solid tetapi kurang mendapat perhatian bisa diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah.
Hal tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:
- Sentimen negatif terhadap sektor tertentu.
- Penurunan laba yang dianggap hanya sementara.
- Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi.
- Rotasi dana investor dari satu sektor ke sektor lain.
- Harga saham turun lebih cepat daripada perubahan fundamental bisnis.
Kondisi seperti ini dapat menciptakan peluang, tetapi tidak berarti setiap saham yang turun otomatis menjadi undervalued.
Morningstar, misalnya, mencatat pada awal September 2026 bahwa pasar saham AS secara keseluruhan diperdagangkan sekitar 9% di bawah estimasi fair value versi mereka. Namun, undervaluation tersebut sangat terkonsentrasi; di luar tujuh saham mega-cap, pasar yang mereka cakup dinilai berada di sekitar fair value.
Artinya, investor tetap perlu melihat saham satu per satu, bukan sekadar membeli karena indeks sedang turun.
Undervalued atau Value Trap? Jangan Sampai Salah
Ini adalah bagian yang paling penting sebelum masuk ke saham murah.
Undervalued berarti harga saham terlihat rendah dibandingkan nilai fundamental perusahaan.
Value trap terjadi ketika saham terlihat murah, tetapi harga tersebut sebenarnya mencerminkan masalah bisnis yang lebih serius.
Karena itu, P/E rendah saja tidak cukup.
Saham dengan P/E 5 kali bisa menjadi jauh lebih berisiko daripada saham dengan P/E 20 kali apabila laba perusahaan pertama terus turun.
Saham Murah Indonesia yang Layak Masuk Watchlist

Berikut beberapa saham Indonesia yang dapat menjadi bahan screening lebih lanjut. Daftar ini bukan peringkat saham terbaik, melainkan contoh emiten dengan karakteristik fundamental atau valuasi yang menarik untuk dipelajari.
1. BBRI — Perbankan
Bank Rakyat Indonesia merupakan salah satu bank besar di Indonesia dengan eksposur kuat terhadap segmen mikro.
Pada 18 September 2026, BBRI ditutup di Rp3.310 per saham, dengan rentang 52 minggu sekitar Rp2.540–Rp4.250.
Karakter BBRI menarik untuk diperhatikan ketika investor mencari saham bank dengan skala bisnis besar dan basis nasabah yang luas.
Namun, investor tetap perlu memantau kualitas kredit, net interest margin, pertumbuhan kredit, serta biaya pencadangan sebelum menilai valuasinya.
2. BMRI — Perbankan
Bank Mandiri menjadi alternatif lain dari sektor perbankan.
BMRI ditutup di sekitar Rp4.260 pada 18 September 2026.
Dengan skala bisnis yang besar dan eksposur terhadap korporasi maupun retail, kinerja BMRI sangat berkaitan dengan pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan kondisi ekonomi domestik.
Bagi investor value, perbandingan P/B dan ROE dengan bank besar lainnya menjadi salah satu indikator penting.
3. BRIS — Bank Syariah
BRIS menawarkan eksposur terhadap pertumbuhan industri perbankan syariah Indonesia.
Harga saham BRIS berada di sekitar Rp1.605 pada 18 September 2026.
Yang menarik untuk dipantau bukan sekadar harga sahamnya, melainkan pertumbuhan pembiayaan, kualitas aset, profitabilitas, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan laba.
4. TLKM — Telekomunikasi
Telekomunikasi Indonesia dapat menjadi pilihan yang menarik bagi investor yang ingin melihat sektor yang relatif defensif.
TLKM ditutup pada Rp2.560 pada 18 September 2026.
Sektor telekomunikasi memiliki karakter berbeda dari komoditas atau saham teknologi karena kebutuhan terhadap konektivitas cenderung tetap ada meski kondisi ekonomi berubah.
Yang perlu diperhatikan adalah pertumbuhan pendapatan, arus kas, belanja modal, serta perkembangan bisnis data center dan digital.
5. PTBA — Energi
PT Bukit Asam menjadi salah satu emiten batu bara yang layak masuk radar investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap sektor energi.
PTBA ditutup pada Rp3.090 pada 18 September 2026, setelah bergerak cukup volatil sepanjang September.
Namun, saham komoditas memiliki karakter berbeda. Harga batu bara, volume penjualan, biaya produksi, dan kebijakan energi dapat memberikan pengaruh besar terhadap laba.
Jadi, valuasi rendah tidak bisa dilihat tanpa memperhitungkan siklus komoditas.
6. PGAS — Gas
Perusahaan Gas Negara memberikan eksposur kepada sektor gas dan infrastruktur energi.
PGAS berada di sekitar Rp1.470 pada 18 September 2026.
Untuk saham seperti PGAS, investor dapat memperhatikan pertumbuhan volume distribusi, harga gas, margin, arus kas, dan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sektor energi.
Baca juga: 20 Saham Energi Terbarukan Indonesia dan Amerika Serikat yang Menarik
Saham Murah AS yang Juga Layak Dipantau

Peluang value investing tidak hanya ada di Bursa Efek Indonesia.
Di pasar saham Amerika Serikat, sejumlah perusahaan besar yang sebelumnya diperdagangkan pada valuasi tinggi juga mengalami penyesuaian.
Berikut beberapa contoh saham yang masuk berbagai screening undervalued pada September 2026.
7. PayPal — PYPL
PayPal menjadi salah satu nama yang menarik untuk diperhatikan setelah pertumbuhan sahamnya tidak lagi seagresif periode sebelumnya.
Screening Investing.com pada September 2026 memasukkan PayPal sebagai salah satu saham S&P 500 yang memiliki estimasi fair-value upside besar berdasarkan model InvestingPro.
Namun, investor tetap perlu melihat perkembangan volume transaksi, margin, free cash flow, dan persaingan di industri pembayaran digital.
8. Adobe — ADBE
Adobe merupakan contoh menarik dari perusahaan teknologi yang memiliki bisnis mapan tetapi menghadapi tekanan valuasi dan perubahan industri akibat AI.
Beberapa screening September 2026 memasukkan Adobe sebagai saham yang terlihat undervalued berdasarkan kombinasi valuasi dan estimasi fair value.
Tantangan utamanya adalah memastikan AI menjadi katalis pertumbuhan, bukan justru mengurangi pricing power produk software tradisional.
9. Fidelity National Information Services — FIS
FIS bergerak di bidang teknologi finansial dan menyediakan infrastruktur pembayaran serta layanan teknologi untuk institusi keuangan.
FIS termasuk dalam daftar saham S&P 500 yang dinilai memiliki discount terhadap fair value dalam screening Investing.com pada September 2026.
Saham seperti ini menarik untuk dianalisis karena memiliki bisnis yang lebih mature dibandingkan perusahaan AI berkapitalisasi besar.
10. The Cigna Group — CI
Sektor healthcare juga dapat menjadi alternatif ketika investor ingin mengurangi ketergantungan terhadap saham teknologi.
The Cigna Group termasuk dalam screening saham S&P 500 yang dinilai undervalued pada September 2026.
Investor tetap perlu memperhatikan perubahan regulasi kesehatan, biaya medis, margin, dan pertumbuhan bisnis sebelum mengambil keputusan.
11. VICI Properties — VICI
VICI Properties merupakan real estate investment trust (REIT) yang juga muncul dalam screening saham undervalued.
NerdWallet mencatat VICI memiliki P/E sekitar 9,99 kali, P/B sekitar 0,97 kali, dividend yield sekitar 7,06%, dan debt-to-equity sekitar 0,61 berdasarkan data per 1 September 2026.
Namun, karena merupakan REIT, investor sebaiknya tidak hanya menggunakan metrik seperti P/E. Funds from operations (FFO) dan kemampuan menghasilkan arus kas menjadi indikator yang lebih relevan.
12. Everest Group — EG
Everest Group merupakan perusahaan reasuransi yang juga masuk dalam screening saham undervalued S&P 500.
NerdWallet mencatat P/E sekitar 8,06 kali dan P/B sekitar 0,95 kali berdasarkan data per 1 September 2026.
Valuasi yang rendah tidak otomatis berarti risikonya rendah. Untuk perusahaan asuransi dan reasuransi, investor juga perlu memperhatikan kualitas underwriting, cadangan klaim, serta kondisi pasar reasuransi.
Investasi Saham Amerika dalam Satu Aplikasi
Akses saham perusahaan global seperti Apple, Tesla, dan Microsoft melalui Nanovest.
Bagaimana Cara Menyaring Saham Murah?
Daripada langsung mencari saham dengan harga per lembar paling rendah, investor dapat menggunakan beberapa tahapan screening.
Pertama, lihat valuasi.
Bandingkan P/E atau P/B dengan perusahaan sejenis dan histori perusahaan. Rasio yang rendah baru berarti jika dibandingkan dengan konteks yang tepat.
Kedua, cek pertumbuhan laba.
Perusahaan dengan valuasi rendah tetapi laba terus menurun membutuhkan perhatian lebih besar dibandingkan perusahaan dengan laba yang stabil.
Ketiga, periksa arus kas.
Laba yang terlihat besar di laporan keuangan belum tentu berarti perusahaan menghasilkan kas yang kuat.
Keempat, lihat neraca.
Utang yang terlalu tinggi dapat menjadi masalah ketika suku bunga meningkat atau pendapatan perusahaan menurun.
Kelima, cari katalis.
Apa yang bisa membuat pasar kembali memberikan valuasi lebih tinggi? Bisa berupa pertumbuhan laba, ekspansi bisnis, penurunan biaya, restrukturisasi, produk baru, atau perubahan kondisi industri.
Tanpa katalis, saham undervalued bisa tetap undervalued dalam waktu yang sangat lama.
Jangan Terjebak Harga Murah
Saham yang sudah turun 50% belum tentu lebih murah daripada sebelumnya.
Jika laba perusahaan turun 70%, misalnya, penurunan harga 50% belum tentu membuat valuasinya menarik.
Hal yang sama berlaku untuk saham yang terlihat murah berdasarkan P/E atau P/B. Rasio tersebut hanya menjadi titik awal screening, bukan alasan tunggal untuk membeli.
Bahkan pada pasar AS, screening terbaru menunjukkan bahwa saham yang terlihat undervalued tidak selalu terkonsentrasi pada perusahaan teknologi. Ada perusahaan finansial, healthcare, real estate, dan sektor lainnya yang masuk dalam daftar berdasarkan ukuran valuasi tertentu.
Baca juga: 15+ Saham Consumer Goods di Indonesia dan Amerika yang Potensial
Risiko Membeli Saham Murah
Saham murah tetap memiliki risiko.
- Value trap
Harga rendah dapat mencerminkan masalah fundamental yang belum selesai.
- Fundamental memburuk
Penurunan laba, margin, atau arus kas dapat membuat valuasi terlihat semakin murah tanpa benar-benar menciptakan peluang.
- Risiko sektor
Saham komoditas sangat bergantung pada siklus harga komoditas, sementara bank sensitif terhadap suku bunga dan kualitas kredit.
- Likuiditas
Saham dengan volume transaksi rendah dapat memiliki spread lebih lebar dan lebih sulit dijual ketika pasar mengalami tekanan.
- Valuasi bisa tetap murah
Pasar tidak memiliki kewajiban untuk segera memberikan valuasi lebih tinggi. Sebuah saham dapat terlihat undervalued selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Kesimpulan
Saham murah tidak selalu berarti saham dengan harga per lembar paling rendah. Yang lebih penting adalah melihat apakah valuasinya sebanding dengan fundamental, profitabilitas, arus kas, kondisi neraca, serta prospek bisnis perusahaan. Investor juga perlu membedakan saham yang benar-benar undervalued dengan value trap, karena harga yang turun belum tentu mencerminkan peluang.
Di pasar Indonesia maupun Amerika Serikat, terdapat sejumlah saham yang dapat masuk watchlist berdasarkan valuasi dan karakteristik fundamentalnya. Namun, setiap saham tetap perlu dianalisis lebih lanjut karena kondisi bisnis, valuasi, dan risiko dapat berubah.
Jika ingin memperluas pilihan investasi ke pasar global, kamu juga bisa mempertimbangkan saham Amerika yang bisa dibeli mulai dari Rp5.000 dan mengakses berbagai saham perusahaan global dalam satu aplikasi.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Daftar saham di atas merupakan contoh watchlist untuk keperluan edukasi, bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Valuasi dan kondisi fundamental dapat berubah mengikuti harga pasar dan laporan keuangan terbaru.






