Indonesia punya posisi penting dalam industri nikel global. Komoditas ini digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari stainless steel hingga material baterai kendaraan listrik. Perkembangan industri pengolahan di dalam negeri juga membuat rantai bisnis nikel semakin luas.
Bagi investor, eksposur terhadap industri tersebut bisa ditemukan melalui sejumlah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ada perusahaan yang fokus menjual bijih nikel, perusahaan dengan fasilitas smelter, hingga bisnis terintegrasi yang mengolah nikel menjadi produk bernilai tambah.
Lantas, apa saja saham nikel yang bisa dipantau? Berikut daftar perusahaan nikel di Indonesia beserta model bisnis dan perkembangan terbarunya.
Daftar Isi
ToggleApa Itu Saham Nikel?
Saham nikel adalah saham perusahaan publik yang memiliki kegiatan usaha terkait komoditas nikel, seperti eksplorasi dan pertambangan, penjualan bijih, pengolahan melalui smelter, hingga produksi material nikel untuk kebutuhan industri.
Jenis produknya juga beragam. Bijih saprolit dapat diolah menjadi produk seperti Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel yang banyak digunakan dalam industri stainless steel. Bijih limonit dapat diproses menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), salah satu bahan antara yang dapat digunakan dalam rantai material baterai.
Karena model bisnisnya berbeda, tingkat sensitivitas setiap emiten terhadap harga nikel, biaya produksi, dan permintaan industri juga dapat berbeda. Investor perlu melihat sumber pendapatan serta posisi perusahaan dalam rantai pasok nikel sebelum membandingkan sahamnya.
Daftar Saham Nikel di Indonesia
Berikut beberapa saham nikel di BEI yang memiliki eksposur langsung atau signifikan terhadap penambangan dan pengolahan nikel.
1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Kode Saham: ANTM
Eksposur Nikel: Bijih nikel | Feronikel | Hilirisasi
PT Aneka Tambang Tbk atau ANTAM merupakan perusahaan pertambangan terdiversifikasi yang tergabung dalam holding pertambangan BUMN MIND ID. Selain emas dan bauksit, nikel menjadi salah satu komoditas utama perusahaan.
ANTAM memiliki kegiatan penambangan bijih nikel serta produksi feronikel. Pada semester I 2026, produksi bijih nikel perusahaan mencapai 7,78 juta wet metric ton (wmt) dengan volume penjualan 6,77 juta wmt.
Eksposur ANTM juga berkembang ke hilirisasi dan ekosistem baterai kendaraan listrik. Namun, karena perusahaan juga mempunyai bisnis emas dan bauksit, kinerja ANTM perlu dilihat dari keseluruhan portofolio komoditasnya.
Yang perlu diperhatikan: volume produksi dan penjualan bijih nikel, performa feronikel, harga komoditas, serta perkembangan proyek hilirisasi.
2. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Kode Saham: INCO
Eksposur Nikel: Nickel matte | Bijih saprolit dan limonit | Proyek hilirisasi
PT Vale Indonesia Tbk merupakan salah satu produsen nikel yang telah lama beroperasi di Indonesia. Perusahaan memproduksi nickel matte dan kini memperluas portofolionya melalui penjualan bijih nikel serta proyek pengolahan lanjutan. MIND ID memegang 34% saham INCO, sedangkan Vale Canada memiliki 33,88%.
Ekspansi perusahaan berlangsung melalui tiga wilayah utama, yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Pada awal 2026, INCO mulai mencatat penjualan bijih limonit dari Pomalaa setelah sebelumnya memulai penjualan dari proyek Morowali/Bahodopi.
INCO sedang menjalankan investasi besar untuk memperluas kapasitas dan jenis produk nikelnya. Karena itu, perkembangan proyek baru dan kebutuhan belanja modal menjadi bagian penting dalam memantau perusahaan.
Yang perlu diperhatikan: produksi nickel matte, penjualan bijih, realisasi proyek Pomalaa dan Bahodopi, harga jual nikel, capex, dan progres fasilitas pengolahan baru.
3. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
Kode Saham: NCKL
Eksposur Nikel: Tambang | RKEF | HPAL | NPI/Feronikel | MHP
PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel memiliki model bisnis yang terintegrasi dari pertambangan hingga pengolahan nikel di Pulau Obi, Maluku Utara.
Eksposurnya mencakup bijih saprolit dan limonit dengan dua jalur pengolahan utama. Teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) digunakan untuk menghasilkan produk berbasis feronikel/NPI, sementara fasilitas HPAL mengolah bijih limonit menjadi MHP yang terhubung dengan rantai pasok material baterai. Struktur ini membuat NCKL memiliki eksposur terhadap dua sumber permintaan besar industri nikel: stainless steel dan material baterai.
Bagi investor, integrasi tersebut membuat volume produksi tambang, utilisasi fasilitas RKEF dan HPAL, harga jual produk, serta biaya input pengolahan menjadi beberapa indikator penting untuk dipantau.
Yang perlu diperhatikan: volume bijih, utilisasi smelter, produksi MHP dan feronikel/NPI, biaya energi dan sulfur, serta harga jual produk nikel.
4. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
Kode Saham: MBMA
Eksposur Nikel: Tambang | RKEF | High-grade nickel matte | MHP/HPAL
PT Merdeka Battery Materials Tbk memiliki rantai aset nikel dari tambang hingga fasilitas pengolahan dan material baterai. Salah satu aset hulunya adalah tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) di Sulawesi Tenggara.
Karakter bisnis tersebut membuat MBMA memiliki eksposur cukup luas terhadap pertumbuhan industri pengolahan nikel Indonesia, tetapi ekspansi fasilitas baru juga membutuhkan modal dan eksekusi proyek yang besar.
Yang perlu diperhatikan: pertumbuhan produksi SCM, biaya penambangan, ramp-up fasilitas HPAL, produksi nickel matte, capex, dan struktur pendanaan perusahaan.
5. PT PAM Mineral Tbk (NICL)
Kode Saham: NICL
Eksposur Nikel: Pertambangan bijih nikel
PT PAM Mineral Tbk merupakan emiten yang bergerak di pertambangan mineral dengan fokus utama pada nikel. Dibandingkan perusahaan yang memiliki banyak fasilitas pengolahan, eksposur NICL lebih dekat dengan kegiatan pertambangan dan penjualan bijih.
Karakter ini membuat volume produksi, kadar bijih, harga jual rata-rata, biaya penambangan, serta kuota produksi menjadi variabel penting terhadap kinerja perusahaan. NICL telah menyampaikan laporan keuangan semester I 2026 pada akhir Juli 2026.
Dalam prospek 2026, perusahaan juga menempatkan nikel sebagai komoditas strategis untuk industri dan transisi energi, sambil melanjutkan eksplorasi dan pengelolaan kegiatan pertambangan.
Yang perlu diperhatikan: produksi dan penjualan bijih nikel, cadangan dan sumber daya, RKAB, biaya produksi, serta perkembangan kegiatan eksplorasi.
6. PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
Kode Saham: IFSH
Eksposur Nikel: Bijih nikel | NPI | Feronikel
PT Ifishdeco Tbk menjalankan kegiatan pertambangan nikel di Sulawesi Tenggara. Konsesi utamanya berada di Tinanggea, Konawe Selatan, dan perusahaan memproduksi serta menjual bijih nikel kepada pelanggan di Indonesia.
Eksposur IFSH juga mencakup pengolahan melalui anak perusahaan PT Bintang Smelter Indonesia, yang menjalankan kegiatan terkait Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel. Struktur tersebut memberi perusahaan aktivitas di sisi tambang sekaligus pengolahan.
Yang perlu diperhatikan: realisasi target volume penjualan, harga jual bijih, biaya bahan bakar, perkembangan smelter, dan rencana akuisisi tambang.
7. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT)
Kode Saham: DKFT
Eksposur Nikel: Pertambangan bijih nikel
PT Central Omega Resources Tbk memiliki kegiatan usaha yang berkaitan dengan pertambangan dan pengolahan mineral, termasuk nikel. Saham DKFT menjadi salah satu ticker yang sering masuk dalam kelompok emiten nikel di BEI karena eksposur operasional perusahaan terhadap komoditas tersebut.
Kinerja perusahaan pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan dari sisi profitabilitas. DKFT mencatat penjualan sekitar Rp1 triliun, naik 6% secara tahunan. Laba bersih tumbuh 30% menjadi sekitar Rp403 miliar dan EBITDA mencapai Rp545 miliar, meskipun volume penjualan turun 34%. Perusahaan menyebut efisiensi operasional dan optimalisasi harga jual rata-rata sebagai faktor yang mendukung kinerja tersebut.
Yang perlu diperhatikan: volume penjualan, average selling price (ASP), margin, biaya operasional, dan pengembangan aset nikel perusahaan.
Perbandingan Saham Nikel Indonesia
| Kode Saham | Perusahaan | Eksposur Utama | Bursa |
|---|---|---|---|
| ANTM | PT Aneka Tambang Tbk | Bijih nikel, feronikel, hilirisasi | BEI |
| INCO | PT Vale Indonesia Tbk | Nickel matte, bijih nikel, proyek pengolahan | BEI |
| NCKL | PT Trimegah Bangun Persada Tbk | Tambang, RKEF, HPAL, MHP, NPI/feronikel | BEI |
| MBMA | PT Merdeka Battery Materials Tbk | Tambang, RKEF, nickel matte, HPAL/MHP | BEI |
| NICL | PT PAM Mineral Tbk | Pertambangan bijih nikel | BEI |
| IFSH | PT Ifishdeco Tbk | Bijih nikel, NPI, feronikel | BEI |
| DKFT | PT Central Omega Resources Tbk | Pertambangan dan pengolahan nikel | BEI |
Saham Nikel Global yang Menarik Dipantau
Eksposur terhadap industri nikel juga dapat ditemukan melalui perusahaan yang tercatat di bursa global. Beberapa memiliki tambang nikel sebagai bagian dari portofolio komoditas yang lebih luas, sementara perusahaan lain memiliki eksposur yang lebih terkonsentrasi pada produksi dan pengolahan nikel.
8. Vale S.A. (VALE)
Kode Saham:VALE
Bursa: NYSE, B3
Eksposur Nikel: Tambang | Nickel concentrate | Refined nickel | Nickel pellets
Vale S.A. merupakan perusahaan tambang global asal Brasil dan induk dari grup Vale yang juga memiliki eksposur terhadap PT Vale Indonesia. Selain menjadi produsen bijih besi besar, Vale memiliki operasi nikel di Kanada dan Brasil melalui aset seperti Sudbury, Voisey’s Bay, Thompson, dan Onça Puma.
Produksi nikel Vale mencapai 42.000 ton pada kuartal II 2026, naik 4% secara tahunan dan menjadi produksi kuartal II tertinggi perusahaan sejak 2020. Voisey’s Bay menghasilkan 10.400 ton finished nickel, sedangkan Onça Puma mencapai 9.400 ton setelah mendapat dukungan dari kinerja furnace kedua. Penjualan nikel pada periode tersebut mencapai 44.400 ton.
Saham Vale diperdagangkan di B3 Brasil dengan ticker VALE3 dan di NYSE dengan ticker VALE. Dengan bisnis yang juga mencakup iron ore dan copper, investor perlu melihat kontribusi nikel dalam konteks portofolio komoditas Vale secara keseluruhan.
Yang perlu diperhatikan: produksi Sudbury, Voisey’s Bay dan Onça Puma, harga jual nikel, biaya produksi, serta kontribusi iron ore dan copper terhadap kinerja grup.
9. BHP Group Limited (BHP)
Kode Saham:BHP
Bursa: ASX | ADR di NYSE
Eksposur Nikel: Nickel sulphide | Aset tambang dan pengolahan dalam care and maintenance
BHP merupakan perusahaan pertambangan global dengan portofolio utama yang mencakup iron ore, copper, dan potash. Perusahaan juga memiliki aset nikel di Western Australia melalui Western Australia Nickel, termasuk Nickel West dan proyek West Musgrave.
Kondisi bisnis nikelnya perlu diperhatikan secara khusus. BHP menempatkan Western Australia Nickel dalam care and maintenance setelah tekanan pada pasar nikel membuat operasi tersebut kurang kompetitif. Pada 2026, West Musgrave juga masih berada dalam fase tersebut.
Karena itu, BHP saat ini lebih tepat dilihat sebagai saham tambang terdiversifikasi yang masih memiliki aset dan optionality nikel, daripada sebagai pure-play produsen nikel aktif. BHP sendiri mencatat kinerja FY2026 terutama melalui bisnis iron ore, copper, dan coal.
Investor AS dapat mengakses BHP melalui ADR yang diperdagangkan di NYSE dengan ticker BHP, dengan setiap American Depositary Share merepresentasikan dua saham biasa BHP Group Limited.
Yang perlu diperhatikan: keputusan mengenai masa depan Western Australia Nickel, perkembangan harga nikel, serta kontribusi copper, iron ore, dan komoditas utama BHP lainnya.
10. Glencore plc (GLEN)
Kode Saham: GLEN
Bursa: London Stock Exchange (LSE)
Eksposur Nikel: Tambang | Pengolahan | Refined nickel
Glencore merupakan perusahaan sumber daya global dengan portofolio yang mencakup copper, zinc, cobalt, nickel, dan berbagai komoditas lainnya. Eksposur nikelnya berasal dari sejumlah operasi, termasuk Murrin Murrin di Australia dan Nikkelverk di Norwegia, serta aset lainnya dalam jaringan produksi dan pengolahannya.
Seperti Vale dan BHP, Glencore merupakan diversified miner. Perubahan pada copper, zinc, coal, dan bisnis marketing komoditas dapat memiliki pengaruh besar terhadap kinerja perusahaan di luar pergerakan pasar nikel.
Yang perlu diperhatikan: pencapaian guidance 70.000-80.000 ton, performa aset nikel, biaya produksi, harga nikel, dan kontribusi komoditas lain terhadap earnings.
11. Eramet S.A. (ERA)
Kode Saham: ERA
Bursa: Euronext Paris
Eksposur Nikel: Tambang bijih nikel | NPI | Weda Bay Nickel
Eramet menarik untuk investor yang ingin memahami hubungan antara perusahaan tambang global dengan industri nikel Indonesia. Grup pertambangan asal Prancis ini memiliki 38,7% kepentingan di PT Weda Bay Nickel (WBN) yang beroperasi di Halmahera, Maluku Utara, bersama mitranya Tsingshan.
Weda Bay merupakan salah satu operasi nikel berskala besar. Pada 2025, tambang tersebut menghasilkan 41,9 juta wet metric ton bijih yang dapat dipasarkan, sementara fasilitas NPI menghasilkan 35.800 ton nikel. Eramet juga menyebut Indonesia menyumbang sekitar 66% produksi bijih nikel global berdasarkan estimasi 2025.
Tahun 2026 membawa dinamika berbeda. Weda Bay sempat berada dalam care and maintenance selama empat bulan terkait proses perizinan dan kuota produksi. Pada 10 September 2026, Eramet mengumumkan bahwa aktivitas pertambangan mulai berjalan kembali secara bertahap setelah mendapat izin dari pemerintah Indonesia. Perusahaan belum memberikan estimasi produksi dan penjualan yang dapat diandalkan untuk sisa 2026 karena proses ramp-up masih berlangsung.
Yang perlu diperhatikan: kecepatan ramp-up Weda Bay, RKAB, volume penjualan bijih, harga nikel, serta kebijakan pemerintah Indonesia terhadap produksi.
12. Nickel Industries Limited (NIC)
Kode Saham: NIC
Bursa: Australian Securities Exchange (ASX)
Eksposur Nikel: Tambang | RKEF | NPI | Nickel matte
Nickel Industries merupakan perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap industri nikel Indonesia. Asetnya mencakup Hengjaya Mine serta berbagai operasi RKEF di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park dan Indonesia Weda Bay Industrial Park.
Dibandingkan diversified miners seperti BHP atau Vale, hubungan kinerja Nickel Industries dengan industri nikel lebih langsung karena sebagian besar aset operasionalnya berada di rantai produksi komoditas tersebut.
Yang perlu diperhatikan: RKAB dan pasokan bijih, produksi NPI dan nickel matte, biaya energi, harga jual produk, serta perkembangan fasilitas pengolahan perusahaan di Indonesia.
Perbandingan Saham Nikel Global
| Kode Saham | Perusahaan | Bursa | Eksposur Utama | Karakter Bisnis |
|---|---|---|---|---|
| VALE | Vale S.A. | NYSE, B3 | Tambang dan refined nickel | Diversified miner |
| BHP | BHP Group | NYSE (ADR), ASX | Aset nickel sulphide* | Diversified miner |
| GLEN | Glencore | LSE | Tambang dan refined nickel | Diversified miner |
| ERA | Eramet | Euronext Paris | Weda Bay, bijih nikel, NPI | Diversified metals |
| NIC | Nickel Industries | ASX | Tambang, RKEF, NPI, nickel matte | Nickel-focused |
Kenapa Indonesia Penting bagi Pasar Nikel Dunia?
Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia. USGS memperkirakan Indonesia menghasilkan sekitar 2,6 juta ton nikel pada 2025, dari total produksi global sekitar 3,9 juta ton. Cadangan nikel Indonesia juga diperkirakan mencapai 62 juta ton.
Posisi tersebut semakin kuat setelah kebijakan hilirisasi mendorong pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri, termasuk smelter RKEF untuk memproduksi NPI dan feronikel serta fasilitas HPAL yang menghasilkan produk seperti MHP.
Besarnya kontribusi Indonesia membuat RKAB, kuota produksi, pasokan bijih, serta perkembangan smelter dan HPAL ikut memengaruhi keseimbangan pasar nikel global. Bagi investor, faktor-faktor ini penting karena dapat berdampak pada volume produksi, utilisasi fasilitas pengolahan, biaya, hingga kinerja perusahaan nikel di Indonesia maupun negara lain.
Apa yang Memengaruhi Harga Saham Nikel?
Kinerja saham nikel tidak selalu bergerak persis mengikuti harga komoditasnya. Struktur bisnis, biaya produksi, volume penjualan, dan kondisi keuangan masing-masing perusahaan juga berpengaruh. Beberapa faktor utama yang perlu dipantau antara lain:
1. Harga Nikel Global
Perubahan harga nikel dapat memengaruhi harga jual dan margin produsen. Dampaknya berbeda pada setiap perusahaan tergantung produk yang dijual, kontrak penjualan, dan struktur biaya operasional.
2. Produksi dan Penjualan
Pertumbuhan produksi dapat meningkatkan volume yang tersedia untuk dijual. Investor dapat memantau realisasi produksi, penjualan, average selling price (ASP), serta pencapaian target tahunan perusahaan.
3. Biaya Produksi dan Energi
Pertambangan dan pengolahan nikel membutuhkan energi serta investasi besar. Harga energi, bahan bakar, sulfur, tenaga kerja, dan bahan baku dapat memengaruhi margin perusahaan.
4. Permintaan Stainless Steel dan Baterai
Stainless steel masih menjadi penggunaan utama nikel secara global, sementara baterai menjadi sumber permintaan lainnya. Karena itu, perkembangan kedua industri tersebut ikut memengaruhi prospek permintaan nikel. USGS mencatat sekitar 65% nikel yang dikonsumsi di negara-negara Barat digunakan untuk stainless steel.
5. Kebijakan Pemerintah
Di Indonesia, RKAB, kuota produksi, aturan pertambangan, dan kebijakan hilirisasi dapat memengaruhi pasokan bijih hingga utilisasi smelter. Posisi Indonesia sangat penting karena USGS memperkirakan negara ini menyumbang sekitar 62% produksi tambang nikel global pada 2024.
Bagaimana Cara Investasi Saham Nikel?
Untuk saham nikel yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, seperti ANTM, INCO, NCKL, MBMA, NICL, IFSH, dan DKFT, investor dapat membelinya melalui perusahaan sekuritas yang menyediakan akses ke BEI.
Sementara itu, saham perusahaan global perlu dibeli melalui platform yang menyediakan akses ke bursa tempat saham tersebut diperdagangkan.
Dalam daftar sebelumnya, Vale S.A. (VALE) diperdagangkan di NYSE, sedangkan BHP Group (BHP) juga dapat diakses di pasar AS melalui ADR. Investor perlu mengingat bahwa keduanya merupakan perusahaan tambang terdiversifikasi sehingga performa sahamnya juga dipengaruhi komoditas lain.
Untuk saham yang diperdagangkan di pasar Amerika Serikat, Nanovest menyediakan akses ke ratusan saham yang tercatat di bursa seperti NYSE dan Nasdaq, dengan investasi yang dapat dimulai dari Rp5.000.
Mulai Investasi Saham AS di Nanovest
Ingin memperluas portofolio ke perusahaan global? Jelajahi ratusan saham AS di Nanovest dan mulai investasi dengan modal dari Rp5.000.
FAQ tentang Saham Nikel
Beberapa saham nikel yang tercatat di BEI antara lain ANTM, INCO, NCKL, MBMA, NICL, IFSH, dan DKFT. Masing-masing memiliki eksposur berbeda terhadap pertambangan dan pengolahan nikel.
PT Vale Indonesia Tbk tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode INCO. Perusahaan memiliki operasi pertambangan dan pengolahan nikel di Indonesia.
INCO merupakan saham PT Vale Indonesia Tbk yang tercatat di BEI. Sementara VALE merupakan ticker Vale S.A., grup pertambangan global asal Brasil, yang diperdagangkan di NYSE. Vale S.A. juga memiliki kepemilikan tidak langsung di PT Vale Indonesia.
Beberapa emiten memiliki proyek atau fasilitas yang terhubung dengan rantai material baterai, termasuk NCKL dan MBMA melalui pengolahan berbasis HPAL. Investor tetap perlu melihat kontribusi bisnis tersebut terhadap kinerja masing-masing perusahaan.
Pergerakannya dapat dipengaruhi harga nikel, supply-demand, produksi dan penjualan perusahaan, biaya operasional, kinerja keuangan, regulasi, sentimen pasar, serta valuasi saham.
Prospek jangka panjang bergantung pada kondisi industri serta fundamental masing-masing perusahaan. Investor perlu mempertimbangkan pertumbuhan produksi, profitabilitas, neraca, proyek ekspansi, valuasi, dan risiko perubahan harga komoditas sebelum mengambil keputusan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi dan tidak merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko dan harga dapat berfluktuasi. Lakukan riset dan sesuaikan keputusan investasi dengan tujuan serta profil risiko masing-masing.
Referensi +
- U.S. Geological Survey (USGS) — Mineral Commodity Summaries 2026: Nickel
- USGS — Indonesia Minerals Yearbook/Indonesia country data






