Energi terbarukan kembali menjadi salah satu tema penting di pasar saham global.
Pemicunya bukan hanya target pengurangan emisi, tetapi juga kenaikan konsumsi listrik, pembangunan pusat data, elektrifikasi transportasi, serta kebutuhan memperkuat ketahanan energi.
Lalu, apa saja daftar saham energi terbarukan? Yuk, simak!
Apa Itu Saham Energi Terbarukan?
Saham energi terbarukan merupakan saham perusahaan yang memperoleh sebagian atau seluruh pendapatannya dari sumber energi yang dapat diperbarui, seperti tenaga surya, angin, air, panas bumi, biomassa, dan pengolahan sampah menjadi listrik.
Cakupannya lebih luas daripada operator pembangkit. Produsen modul surya, pembuat inverter, sistem pelacak panel, penyedia baterai, dan perusahaan pengelola jaringan juga menjadi bagian dari rantai bisnis ini.
Investor perlu membedakan emiten terbarukan murni dengan perusahaan transisi. Emiten murni memperoleh mayoritas bisnisnya dari pembangkit atau perangkat energi terbarukan. Sementara itu, perusahaan transisi masih memiliki bisnis batu bara, minyak, gas, atau pembangkit konvensional, tetapi sedang mengalihkan modal ke usaha rendah karbon.
Perbedaan tersebut penting karena kenaikan investasi energi hijau belum tentu langsung memberikan kontribusi besar terhadap laba perusahaan terdiversifikasi. Pada beberapa emiten, bisnis fosil tetap menjadi sumber pendapatan utama.
Saham Energi Terbarukan di Indonesia

Daftar saham energi terbarukan Indonesia berikut bukan pemeringkatan maupun rekomendasi pembelian. Pemilihannya mempertimbangkan eksposur bisnis, proyek yang sedang dikembangkan, dan keterkaitannya dengan rantai transisi energi.
1. Pertamina Geothermal Energy (IDX: PGEO)
Pertamina Geothermal Energy menjadi salah satu pilihan paling langsung untuk memperoleh eksposur ke bisnis panas bumi Indonesia. Perusahaan mengelola kapasitas sekitar 1.932 MW, terdiri dari 727 MW yang dioperasikan langsung dan 1.205 MW melalui kontrak operasi bersama.
PGEO menargetkan kapasitas yang dikelola sendiri mencapai 1 GW dalam beberapa tahun mendatang dan 1,7 GW pada 2034. Karakter pembangkit panas bumi yang mampu beroperasi secara stabil menjadi keunggulan dibandingkan sumber listrik yang bergantung pada cuaca.
Risiko utamanya berasal dari biaya eksplorasi, kebutuhan modal besar, waktu pengembangan panjang, dan potensi keterlambatan proyek.
2. Barito Renewables Energy (IDX: BREN)
Barito Renewables Energy memiliki portofolio panas bumi melalui Star Energy Geothermal serta pembangkit listrik tenaga angin. Hingga semester pertama 2026, kapasitas panas bumi perusahaan mencapai 926 MW setelah penyelesaian sejumlah proyek peningkatan fasilitas.
BREN menargetkan kapasitas panas bumi melampaui 1 GW pada akhir 2026. Proyek Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, dan peningkatan fasilitas Darajat menjadi bagian dari rencana ekspansi tersebut.
Selain pertumbuhan kapasitas, investor perlu mencermati valuasi, konsentrasi kepemilikan saham, likuiditas perdagangan, beban pendanaan, dan ketepatan waktu penyelesaian proyek.
3. Arkora Hydro (IDX: ARKO)
Arkora Hydro awalnya dikenal sebagai pengembang pembangkit listrik tenaga air berjenis run-of-river. Perusahaan kemudian memperluas portofolionya ke tenaga surya melalui sejumlah akuisisi dan perjanjian proyek baru.
Pada September 2026, kapasitas yang telah dikontrak ARKO mencapai 118,1 MW, terdiri dari 62,8 MW proyek hidro dan 55,3 MWp proyek surya. Perusahaan juga mempunyai pipeline proyek lebih dari 300 MW.
Ekspansi tersebut membuka ruang pertumbuhan, tetapi meningkatkan kebutuhan pendanaan dan risiko pengerjaan proyek. Untuk pembangkit hidro, perubahan debit air juga dapat memengaruhi produksi listrik.
4. Kencana Energi Lestari (IDX: KEEN)
Kencana Energi Lestari berfokus pada pembangkit tenaga air, mini hidro, dan biomassa. Perusahaan mengoperasikan PLTA Pakkat berkapasitas 18 MW, PLTA Air Putih 21 MW, PLTM Ma’dong 10 MW, serta pembangkit biomassa Tempilang 5 MW.
Sebagian besar listrik dijual melalui kontrak jangka panjang dengan PLN. Model tersebut memberikan visibilitas pendapatan, tetapi pertumbuhannya tetap bergantung pada penambahan kapasitas baru.
Investor perlu memperhatikan arus kas, jadwal penyelesaian proyek, struktur utang, dan ketergantungan perusahaan terhadap satu pembeli listrik utama.
5. Terregra Asia Energy (IDX: TGRA)
Terregra Asia Energy mengembangkan, membangun, dan mengoperasikan proyek hidro serta tenaga surya. Portofolionya mencakup pembangkit mini hidro di Sumatra dan proyek surya atap untuk pelanggan komersial maupun institusi.
Daya tarik TGRA terletak pada pipeline proyek yang dapat memperbesar kapasitas perusahaan. Namun, sebagian proyeknya masih berada dalam tahap pembangunan atau penyelesaian perjanjian.
Skala perusahaan yang relatif kecil membuat saham ini mempunyai risiko eksekusi dan likuiditas lebih tinggi. Investor perlu memastikan apakah proyek telah memperoleh pendanaan, kontrak jual beli listrik, dan jadwal operasi komersial yang jelas.
6. Maharaksa Biru Energi (IDX: OASA)
Maharaksa Biru Energi berfokus pada pengolahan sampah menjadi listrik. Perusahaan tengah menyiapkan proyek di Tangerang Selatan dan Jakarta Barat dengan total kebutuhan investasi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp8 triliun.
Proyek Tangerang Selatan dirancang mengolah sekitar 1.100 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sekitar 20–24 MW. OASA juga membentuk anak perusahaan baru untuk memperluas portofolio energi dan pengelolaan limbah.
Tema bisnisnya menarik karena menjawab persoalan listrik sekaligus sampah perkotaan. Namun, sebagian besar nilai perusahaan masih bergantung pada proyek masa depan. Saham ini memiliki risiko perizinan, pembiayaan, pembangunan, serta keterlambatan operasi yang tinggi.
7. TBS Energi Utama (IDX: TOBA)
TBS Energi Utama sedang bertransformasi dari perusahaan berbasis batu bara menjadi kelompok usaha berkelanjutan. Portofolionya berkembang ke pembangkit terbarukan, kendaraan listrik, pengelolaan limbah, dan daur ulang.
Perusahaan telah menyelesaikan pelepasan bisnis pasokan listrik berbasis batu bara dan terlibat dalam pembangunan PLTS terapung Tembesi di Batam. Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas 35 MWac atau 46 MWp.
TOBA menawarkan eksposur pada beberapa bagian transisi energi sekaligus. Tantangannya, proses transformasi membutuhkan modal besar, sedangkan kontribusi bisnis baru harus mengejar pendapatan dari usaha lama yang dilepas.
8. Cikarang Listrindo (IDX: POWR)
Cikarang Listrindo merupakan pemasok listrik kawasan industri yang masih mengoperasikan pembangkit konvensional. Karena itu, POWR tidak dapat disebut sebagai emiten terbarukan murni.
Eksposur hijaunya berasal dari pengembangan tenaga surya dan penggunaan biomassa. Hingga akhir 2025, kapasitas tenaga surya perusahaan mencapai 45,7 MWp, sedangkan sistem co-firing biomassa di pembangkit Babelan mampu mendukung kapasitas hingga 70 MW.
Basis pelanggan industri memberikan sumber pendapatan yang relatif stabil. Namun, investor tetap perlu menghitung seberapa besar kontribusi energi terbarukan dibandingkan keseluruhan kapasitas dan pendapatan perusahaan.
9. Medco Energi Internasional (IDX: MEDC)
Medco Energi merupakan perusahaan terdiversifikasi dengan bisnis utama minyak dan gas. Eksposur energi terbarukannya berasal dari Medco Power, yang mengoperasikan pembangkit gas, panas bumi, surya, dan teknologi pembangkit lainnya.
Medco Power mencatatkan kapasitas sekitar 1.011 MW dan terus mengembangkan proyek panas bumi serta surya. Perusahaan juga bekerja sama dengan PGEO untuk mempelajari pengembangan beberapa proyek panas bumi.
MEDC dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan kombinasi arus kas energi konvensional dan pertumbuhan bisnis rendah karbon. Namun, pergerakan sahamnya masih sangat dipengaruhi harga minyak, produksi migas, dan aksi akuisisi.
10. Indika Energy (IDX: INDY)
Indika Energy masih mempunyai jejak bisnis batu bara, tetapi perusahaan terus memperbesar pendapatan non-batu bara melalui tenaga surya, kendaraan listrik, mineral, solusi digital, dan bisnis berbasis alam.
Eksposurnya mencakup pembangunan pembangkit surya melalui Empat Mitra Indika Tenaga Surya serta ekosistem kendaraan listrik roda dua dan bus. Strategi ini membuat INDY lebih tepat dikategorikan sebagai saham transisi daripada emiten terbarukan murni.
Katalis utama berasal dari keberhasilan perusahaan meningkatkan kontribusi bisnis non-batu bara. Risikonya adalah kebutuhan investasi besar dan kemungkinan transformasi berjalan lebih lambat daripada target manajemen.
Baca juga: 10+ Saham Batu Bara Potensial di BEI dan Amerika
Saham Energi Terbarukan Amerika

Pasar saham Amerika menawarkan pilihan yang lebih beragam, mulai dari operator pembangkit hingga produsen perangkat. Beberapa perusahaan menghasilkan arus kas dari kontrak listrik jangka panjang, sedangkan lainnya lebih sensitif terhadap siklus permintaan, suku bunga, tarif impor, dan perubahan insentif pemerintah.
1. NextEra Energy (NYSE: NEE)
NextEra Energy menggabungkan bisnis utilitas Florida Power & Light dengan pengembangan pembangkit, baterai, dan infrastruktur melalui NextEra Energy Resources.
Pada kuartal kedua 2026, unit Energy Resources menambah 3,6 GW proyek terbarukan dan penyimpanan energi ke dalam backlog. NextEra juga sedang mengupayakan merger dengan Dominion Energy, yang masih memerlukan persetujuan regulator.
NEE mempunyai arus kas utilitas yang relatif stabil, tetapi sahamnya tetap sensitif terhadap suku bunga, belanja modal, utang, keputusan regulator, dan hasil proses merger.
2. First Solar (NASDAQ: FSLR)
First Solar memproduksi modul surya thin-film untuk proyek skala utilitas. Model bisnisnya berbeda dari pemasang panel residensial karena perusahaan lebih banyak melayani pengembang proyek besar.
Pada kuartal kedua 2026, First Solar membukukan penjualan bersih US1,06miliar dan laba persaham US3,92. Backlog penjualan yang telah dikontrak mencapai 45,1 GW.
Backlog besar memberikan visibilitas hingga beberapa tahun ke depan. Meski demikian, investor perlu memantau pembatalan kontrak, perizinan, biaya pembangunan pabrik, tarif perdagangan, dan perubahan dukungan pemerintah.
3. Enphase Energy (NASDAQ: ENPH)
Enphase Energy dikenal sebagai produsen microinverter, baterai rumah, dan perangkat pengelolaan energi. Kinerjanya sangat berhubungan dengan permintaan panel surya residensial.
Pendapatan kuartal kedua 2026 mencapai US$291,9 juta. Penjualan di Amerika Serikat turun sekitar 3% secara kuartalan, sedangkan bisnis Eropa tumbuh sekitar 35%.
Saham ENPH menawarkan eksposur langsung ke elektrifikasi rumah. Namun, permintaannya sensitif terhadap suku bunga kredit, biaya pemasangan, insentif konsumen, persediaan distributor, dan kondisi pasar perumahan.
4. SolarEdge Technologies (NASDAQ: SEDG)
SolarEdge memproduksi inverter, power optimizer, baterai, dan perangkat pengelolaan tenaga surya. Perusahaan sempat menghadapi penurunan permintaan serta kelebihan persediaan pada industri surya residensial.
Pemulihan mulai terlihat pada kuartal kedua 2026. Pendapatannya mencapai US$346,2 juta, naik sekitar 20% secara tahunan, sekaligus menandai enam kuartal berturut-turut perbaikan margin kotor.
Walaupun kondisi operasional membaik, SEDG masih tergolong saham berisiko tinggi. Investor perlu mengawasi proyeksi pendapatan, arus kas, tingkat persediaan, serta kemampuan perusahaan kembali mencetak laba secara konsisten.
5. Brookfield Renewable Corporation (NYSE: BEPC)
Brookfield Renewable Corporation memberikan eksposur ekonomi yang setara dengan Brookfield Renewable Partners, tetapi melalui struktur korporasi. Portofolionya mencakup hidro, angin, surya, baterai, dan berbagai aset rendah karbon di sejumlah negara.
Brookfield Renewable mengoperasikan sekitar 49 GW kapasitas dan menyelesaikan sekitar 3,1 GW proyek baru sepanjang semester pertama 2026. Perusahaan juga memperbesar bisnis penyimpanan energi melalui rencana akuisisi Aypa Power.
Diversifikasi menjadi keunggulan utama BEPC. Risikonya meliputi utang, suku bunga, kurs, kebutuhan pendanaan proyek, dan kompleksitas portofolio lintas negara.
6. Clearway Energy (NYSE: CWEN)
Clearway Energy memiliki pembangkit yang sebagian besar didukung kontrak jual beli listrik jangka panjang. Model ini dirancang menghasilkan arus kas yang kemudian dapat dibagikan kepada pemegang saham.
Portofolio perusahaan mencapai sekitar 13,9 GW kapasitas bruto, termasuk 11,1 GW tenaga angin, surya, dan baterai. Produksi segmen terbarukan dan penyimpanan meningkat 16% secara tahunan pada kuartal kedua 2026.
CWEN menarik bagi investor yang mencari kombinasi energi terbarukan dan distribusi kas. Namun, produksi tetap dipengaruhi kondisi angin, sinar matahari, kerusakan fasilitas, serta biaya refinancing.
7. AES Corporation (NYSE: AES)
AES merupakan perusahaan listrik global dengan portofolio pembangkit konvensional, utilitas, tenaga surya, angin, dan penyimpanan energi. Perusahaan banyak melayani pelanggan korporasi melalui kontrak listrik jangka panjang.
Laporan tahunannya menunjukkan backlog proyek terbarukan AES Clean Energy sekitar 7,6 GW. Skala tersebut memberikan peluang pertumbuhan ketika kebutuhan listrik perusahaan teknologi dan industri meningkat.
Karena bukan emiten terbarukan murni, investor perlu memisahkan kinerja proyek hijau dari aset konvensional. Tingkat utang, biaya modal, eksposur mata uang, serta perubahan regulasi di berbagai negara juga perlu diperhatikan.
8. Ormat Technologies (NYSE: ORA)
Ormat merupakan salah satu emiten panas bumi paling murni di pasar Amerika. Perusahaan tidak hanya mengoperasikan pembangkit, tetapi juga merancang dan memasok teknologi panas bumi.
Portofolio pembangkitnya mencapai sekitar 1.835 MW, terdiri dari 1.340 MW panas bumi dan surya serta 495 MW penyimpanan energi. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan segmen penyimpanan energi meningkat 195,1% secara tahunan.
ORA memberikan kombinasi pembangkit stabil dan pertumbuhan baterai. Risiko utamanya adalah pengeboran, biaya proyek, ketersediaan sumber panas, serta ketergantungan pada penyelesaian kontrak baru.
9. Fluence Energy (NASDAQ: FLNC)
Fluence Energy menyediakan sistem baterai skala besar, perangkat pengelolaan energi, serta layanan untuk operator jaringan dan pengembang pembangkit.
Permintaan industrinya terlihat kuat dengan backlog sekitar US$6,4 miliar pada akhir Juni 2026, tertinggi dalam sejarah perusahaan. Namun, kemampuan mengubah backlog menjadi pendapatan masih menjadi perhatian pasar.
FLNC menawarkan potensi besar dari kebutuhan stabilisasi jaringan listrik. Sebaliknya, keterbatasan produksi, penundaan pengiriman, tekanan margin, dan kebutuhan modal kerja membuat sahamnya sangat volatil.
10. Nextpower, Sebelumnya Nextracker (NASDAQ: NXT)
Nextpower menyediakan sistem pelacak yang membuat panel surya mengikuti posisi matahari, beserta fondasi, komponen listrik, dan solusi instalasi proyek.
Pada tahun fiskal 2026, perusahaan mencetak pendapatan US 3,56 miliar dan backlog lebih dari US$5,25 miliar. Pengiriman sistem pelacak secara kumulatif telah melampaui 160 GW.
Berbeda dari operator pembangkit, NXT mendapatkan keuntungan dari aktivitas pembangunan proyek. Risikonya berasal dari penundaan proyek pelanggan, harga baja, tarif perdagangan, persaingan, dan perubahan insentif tenaga surya.
Investasi Saham Amerika dalam Satu Aplikasi
Akses saham perusahaan energi terbarukan melalui Nanovest.
Tips Investasi Saham Energi Terbarukan
Bedakan pendapatan aktif dan pipeline
Pipeline besar belum tentu langsung menghasilkan pendapatan. Periksa apakah proyek baru sebatas rencana, telah memenangkan tender, memperoleh kontrak jual beli listrik, mencapai pembiayaan, sedang dibangun, atau sudah beroperasi secara komersial.
Semakin awal tahap proyek, semakin besar risiko perizinan, pembebasan lahan, kenaikan biaya, dan keterlambatan konstruksi.
Periksa sumber arus kas
Operator pembangkit dengan kontrak listrik jangka panjang mempunyai karakter berbeda dari produsen perangkat. Pendapatan pembangkit cenderung lebih dapat diprediksi, sedangkan pembuat modul, inverter, baterai, dan pelacak lebih sensitif terhadap siklus pesanan serta tekanan harga.
Investor juga perlu memeriksa siapa pembeli listriknya, durasi kontrak, skema penyesuaian tarif, dan kemampuan pihak pembeli memenuhi kewajibannya.
Jangan mengabaikan utang dan suku bunga
Proyek energi memerlukan modal awal yang sangat besar. Ketika suku bunga naik, biaya pembiayaan bertambah dan nilai sekarang dari arus kas jangka panjang dapat turun.
Rasio utang terhadap laba operasional, jadwal jatuh tempo, arus kas bebas, dan kebutuhan belanja modal sering kali lebih penting daripada pertumbuhan kapasitas semata.
Ukur seberapa murni eksposur terbarukannya
PGEO, BREN, ARKO, KEEN, dan ORA memberikan eksposur yang relatif langsung terhadap pembangkit terbarukan. Sementara MEDC, INDY, POWR, AES, dan NEE memiliki bisnis lain yang turut menentukan kinerja.
Perusahaan terdiversifikasi dapat lebih tahan ketika satu segmen melemah. Namun, investor mungkin memperoleh eksposur energi terbarukan yang lebih kecil daripada kesan yang diberikan oleh rencana ekspansi perusahaan.
Pahami risiko tiap teknologi
Tenaga hidro dipengaruhi debit air, tenaga angin bergantung pada kondisi angin, sedangkan surya menghadapi risiko perubahan cuaca dan penurunan harga perangkat. Panas bumi membutuhkan pengeboran mahal, sementara pengolahan sampah menjadi listrik memiliki tantangan pasokan, emisi, dan penerimaan masyarakat.
Baterai memiliki prospek pertumbuhan besar, tetapi industrinya menghadapi penurunan harga, perubahan teknologi, keterbatasan bahan baku, dan risiko keselamatan.
Perhatikan perbedaan pasar Indonesia dan Amerika
Saham Indonesia lebih banyak dipengaruhi kontrak dengan PLN, kebijakan tarif, pembangunan transmisi, dan likuiditas pasar. Saham Amerika lebih sensitif terhadap suku bunga, kebijakan pajak, tarif impor, permintaan pelanggan, dan ekspektasi laba kuartalan.
Investor Indonesia yang membeli saham Amerika juga menghadapi risiko perubahan kurs rupiah terhadap dolar AS.
FAQ
Apakah semua saham dalam daftar ini merupakan emiten energi terbarukan murni?
Apa saham energi terbarukan Indonesia yang bergerak di panas bumi?
Apa saham tenaga surya Amerika yang dapat dipantau?
Mengapa saham energi terbarukan sensitif terhadap suku bunga?
Apakah saham energi terbarukan cocok untuk investasi jangka panjang?
Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Daftar perusahaan tidak disusun berdasarkan peringkat. Lakukan riset mandiri dan sesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing.
Referensi +
- Financial Performance Results-Barito Web
- Quarterly Results-First Solar
- Nextpower Reports Q4 and Fiscal Year 2026 Financial Results-NextPower
- News Release Details-Fluence
- Ormat Technologies Reports Second Quarter 2026 Financial Results-Ormat
- SolarEdge Announces Second Quarter 2026 Financial Results-SolarEdge
- Enphase Energy Reports Financial Results for the Second Quarter of 2026-Enphase Energy






