Volatilitas adalah istilah yang sering digunakan dalam investasi untuk menggambarkan seberapa besar perubahan harga suatu aset dalam periode tertentu.
Ketika volatilitas tinggi, harga aset bisa berubah secara tajam dalam waktu singkat. Sebaliknya, volatilitas rendah menunjukkan pergerakan harga yang relatif lebih stabil.
Simak!
Apa Itu Volatilitas?
Volatilitas adalah ukuran yang menggambarkan seberapa besar perubahan harga atau imbal hasil (return) suatu aset dalam periode tertentu. Dalam investasi, volatilitas digunakan untuk memahami seberapa besar harga aset berpotensi bergerak naik atau turun.
Volatilitas biasanya diukur menggunakan standar deviasi. Semakin besar perubahan harga atau return suatu aset, semakin tinggi volatilitasnya. Sebaliknya, perubahan yang relatif kecil menunjukkan volatilitas yang lebih rendah.
Sebagai contoh, saham A bergerak dari Rp1.000 menjadi Rp1.010 dalam sehari. Sementara itu, saham B bergerak dari Rp1.000 menjadi Rp1.100, lalu turun menjadi Rp950 dalam beberapa hari berikutnya.
Pergerakan saham B lebih besar dibandingkan saham A. Hal ini menunjukkan bahwa saham B memiliki perubahan harga yang lebih tajam dalam periode tersebut. Namun, untuk memastikan tingkat volatilitasnya, investor perlu melihat data pergerakan harga atau return selama periode pengamatan yang sama.
Volatilitas tinggi tidak selalu berarti aset tersebut buruk, begitu pula volatilitas rendah tidak otomatis membuat investasi bebas risiko.
Jenis-Jenis Volatilitas
Berikut beberapa jenis volatilitas yang umum ditemukan dalam analisis keuangan.
1. Volatilitas Historis
Volatilitas historis (historical volatility) adalah ukuran tingkat perubahan harga atau return aset berdasarkan data masa lalu.
Investor dapat menggunakan volatilitas historis untuk melihat seberapa besar harga suatu aset pernah bergerak selama periode tertentu, misalnya 20 hari perdagangan terakhir atau satu tahun.
Contohnya, investor ingin membandingkan dua saham selama 30 hari perdagangan. Saham A mengalami perubahan return harian yang relatif kecil, sedangkan saham B mengalami perubahan yang lebih besar. Jika dihitung menggunakan metode dan periode yang sama, saham B dapat menunjukkan volatilitas historis yang lebih tinggi.
Informasi ini membantu investor memahami pola pergerakan harga sebelumnya. Namun, volatilitas historis tidak menjamin bahwa harga akan bergerak dengan pola yang sama pada masa mendatang.
2. Volatilitas Tersirat
Volatilitas tersirat (implied volatility) adalah perkiraan volatilitas masa depan yang tercermin dalam harga opsi.
Berbeda dengan volatilitas historis yang menggunakan data masa lalu, volatilitas tersirat dihitung menggunakan model penetapan harga opsi dan informasi pasar, termasuk harga opsi saat ini.
Sebagai contoh, ketika investor memperkirakan akan ada pengumuman penting yang berpotensi memengaruhi harga saham, permintaan terhadap opsi tertentu dapat meningkat. Jika faktor lain relatif tetap, kondisi tersebut dapat mendorong volatilitas tersirat naik.
Volatilitas tersirat banyak digunakan dalam perdagangan opsi untuk menilai ekspektasi pasar terhadap besarnya pergerakan harga. Namun, indikator ini tidak menunjukkan apakah harga aset akan naik atau turun.
3. Volatilitas Harga
Volatilitas harga menggambarkan tingkat perubahan harga suatu aset dalam periode tertentu. Istilah ini digunakan secara umum untuk membahas pergerakan harga saham, emas, mata uang, maupun aset kripto.
Misalnya, harga emas bergerak relatif stabil selama beberapa hari, sedangkan harga suatu aset kripto mengalami kenaikan dan penurunan tajam dalam periode yang sama. Aset kripto tersebut dapat menunjukkan volatilitas harga yang lebih tinggi.
Untuk membandingkan volatilitas beberapa aset dengan harga nominal berbeda, investor sebaiknya memperhatikan perubahan persentase atau return, bukan hanya selisih harga dalam rupiah.
4. Volatilitas Pasar
Volatilitas pasar menggambarkan tingkat perubahan harga atau return pada pasar keuangan secara lebih luas. Pengukurannya dapat menggunakan indeks pasar atau indikator volatilitas yang sesuai.
Salah satu contohnya adalah pergerakan IHSG, yang mencerminkan kinerja harga saham perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Ketika terjadi krisis ekonomi, ketidakpastian kebijakan, atau gejolak global, banyak saham dapat bergerak tajam dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas pasar saham Indonesia.
Perlu dipahami bahwa volatilitas pasar tidak selalu sama dengan volatilitas setiap saham. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, suatu saham masih bisa bergerak lebih stabil atau justru lebih tajam dibandingkan IHSG.
Apa Perbedaan Volatilitas dan Fluktuasi Harga?
Fluktuasi harga adalah perubahan harga yang terjadi dari waktu ke waktu, baik naik maupun turun. Sementara itu, volatilitas menggambarkan seberapa besar perubahan harga atau return tersebut selama periode tertentu.
| Aspek | Volatilitas | Fluktuasi Harga |
| Pengertian | Ukuran tingkat perubahan harga atau return | Pergerakan harga naik dan turun |
| Fokus | Besar-kecilnya perubahan selama periode pengamatan | Perubahan harga yang terjadi |
| Pengukuran | Dapat dihitung dengan standar deviasi return | Dapat diamati dari perubahan harga |
| Contoh | Saham dengan perubahan return harian yang besar memiliki volatilitas lebih tinggi | Harga saham naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.050 |
Apa Saja Penyebab Terjadinya Volatilitas?

Berikut beberapa penyebab yang umum terjadi.
1. Kondisi Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat pengangguran, dan daya beli masyarakat dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan.
Sebagai contoh, inflasi yang meningkat dapat menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya operasional perusahaan. Jika kondisi tersebut diperkirakan mengurangi keuntungan perusahaan, investor dapat menyesuaikan keputusan investasinya sehingga harga saham ikut bergerak.
Sebaliknya, data ekonomi yang lebih baik daripada perkiraan dapat meningkatkan optimisme investor terhadap prospek pasar.
2. Kebijakan Pemerintah dan Bank Sentral
Kebijakan pemerintah dan bank sentral dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan, terutama ketika keputusan yang diumumkan berbeda dari ekspektasi pasar.
Salah satu contohnya adalah perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia. Kenaikan suku bunga dapat memengaruhi biaya pinjaman perusahaan, keputusan konsumsi, serta daya tarik berbagai instrumen investasi.
Kebijakan fiskal, perubahan pajak, dan regulasi industri juga dapat memengaruhi prospek perusahaan atau sektor tertentu. Reaksi pasar bergantung pada isi kebijakan, kondisi ekonomi, dan ekspektasi investor sebelumnya.
3. Kinerja dan Laporan Keuangan Perusahaan
Kinerja perusahaan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi volatilitas harga saham individual.
Ketika perusahaan mengumumkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang melampaui ekspektasi, harga sahamnya dapat meningkat. Sebaliknya, penurunan laba, kenaikan utang, atau prospek bisnis yang memburuk dapat memicu tekanan jual.
Pergerakan harga juga dapat terjadi ketika hasil laporan keuangan berbeda dari perkiraan pasar, meskipun perusahaan masih mencatatkan keuntungan.
4. Sentimen Pasar dan Aktivitas Investor
Sentimen pasar menggambarkan kecenderungan optimisme atau pesimisme investor terhadap kondisi pasar maupun aset tertentu.
Ketika banyak investor optimistis, permintaan terhadap suatu aset dapat meningkat dan mendorong harga naik. Sebaliknya, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi atau prospek perusahaan dapat meningkatkan tekanan jual.
Penyebaran berita yang belum terverifikasi juga dapat memengaruhi keputusan investor. Karena itu, investor sebaiknya memeriksa sumber informasi sebelum mengambil keputusan berdasarkan sentimen pasar.
5. Peristiwa Global
Peristiwa global, seperti konflik geopolitik, pandemi, krisis keuangan, dan perubahan kondisi perdagangan internasional, dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Contoh nyata terjadi ketika pandemi COVID-19 menyebar pada awal 2020. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global memicu tekanan di pasar saham berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bank Indonesia mencatat bahwa IHSG turun dari kisaran 6.300 pada awal 2020 menjadi sekitar 3.900 pada 20 Maret 2020. Penurunan tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dialami pasar saham Indonesia pada masa pandemi.
Baca juga: Penyebab IHSG Anjlok: Prospek ke Depan, dan Strategi Investasi
Contoh Perhitungan Volatilitas
Volatilitas dapat dihitung menggunakan standar deviasi return. Berikut contoh sederhana menggunakan data return harian sebuah saham.
| Hari | Return Harian |
|---|---|
| 1 | +2% |
| 2 | -1% |
| 3 | +3% |
| 4 | -2% |
| 5 | +1% |
Catatan: Data di atas merupakan simulasi, bukan data historis saham tertentu.
1. Hitung Rata-Rata Return
Jumlahkan seluruh return, lalu bagi dengan jumlah hari pengamatan.
(2% – 1% + 3% – 2% + 1%) ÷ 5 = 0,6%
Jadi, rata-rata return harian adalah 0,6%.
2. Hitung Kuadrat Selisih Return
Kurangi setiap return dengan rata-rata 0,6%, lalu kuadratkan hasilnya.
| Return | Selisih | Kuadrat Selisih |
|---|---|---|
| +2% | 1,4 | 1,96 |
| -1% | -1,6 | 2,56 |
| +3% | 2,4 | 5,76 |
| -2% | -2,6 | 6,76 |
| +1% | 0,4 | 0,16 |
| Total | 17,20 |
3. Hitung Standar Deviasi
Bagi total kuadrat selisih dengan jumlah data, lalu hitung akar kuadratnya.
- Varians = 17,20 ÷ 5 = 3,44
- Standar deviasi = √3,44 = 1,85%
Jadi, volatilitas harian berdasarkan standar deviasi populasi pada simulasi tersebut adalah sekitar 1,85%.
Semakin tinggi standar deviasi return, semakin besar variasi pergerakan return selama periode pengamatan. Angka ini tidak menunjukkan apakah harga akan naik atau turun berikutnya.
Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Saat Harga Saham Turun? Panduan untuk Investor
Bagaimana Volatilitas Memengaruhi Peluang dan Risiko Investasi?
Peluang dari Pergerakan Harga
Bagi trader, perubahan harga yang besar dapat membuka peluang untuk memperoleh keuntungan dari pergerakan naik maupun turun, bergantung pada instrumen dan strategi yang digunakan.
Misalnya, seorang trader membeli saham pada harga Rp1.000 dan menjualnya pada harga Rp1.100. Sebelum biaya transaksi dan pajak, keuntungan yang diperoleh adalah 10%.
Namun, pergerakan harga yang sama juga bisa menghasilkan kerugian jika trader membeli pada harga yang lebih tinggi lalu harga turun.
Risiko Kerugian saat Harga Berubah Tajam
Volatilitas tinggi membuat nilai investasi berpotensi berubah secara signifikan dalam waktu singkat. Jika investor membeli aset pada harga tinggi sebelum terjadi penurunan tajam, nilai investasinya dapat berkurang.
Sebagai contoh, investor membeli saham senilai Rp10 juta. Jika harga saham turun 10% dan investor belum melakukan transaksi lain, nilai investasinya menjadi Rp9 juta. Artinya, terdapat penurunan nilai sebesar Rp1 juta sebelum memperhitungkan biaya transaksi.
Dampak bagi Investor Jangka Panjang dan Trader
Investor jangka panjang umumnya mempertimbangkan fundamental aset, tujuan investasi, dan kemampuan menahan perubahan harga dalam jangka pendek. Mereka tidak selalu perlu bereaksi terhadap setiap pergerakan harga.
Sementara itu, trader cenderung memperhatikan perubahan harga dalam jangka pendek untuk menentukan waktu transaksi. Mereka perlu mempertimbangkan volatilitas ketika menyusun strategi, menentukan batas kerugian, dan mengelola ukuran posisi.
Bagaimana Contoh Volatilitas yang Pernah Terjadi di Pasar Indonesia?
Salah satu contoh volatilitas pasar saham Indonesia yang jelas terjadi pada Maret 2020, ketika pandemi COVID-19 memicu ketidakpastian ekonomi dan tekanan jual di pasar saham.
Pada 12 Maret 2020, BEI mengumumkan penghentian sementara perdagangan saham (trading halt) setelah IHSG turun 5,01%. Perdagangan dihentikan pada pukul 15.33 WIB sesuai mekanisme yang berlaku saat itu.
Sumber: Bursa Efek Indonesia, siaran pers Pembekuan Sementara Perdagangan, 12 Maret 2020.
Bagaimana Cara Menyikapi Volatilitas dalam Investasi?

Berikut beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan.
1. Sesuaikan Investasi dengan Profil Risiko
Setiap investor memiliki kemampuan dan toleransi risiko yang berbeda.
2. Diversifikasi Portofolio
Diversifikasi berarti menyebarkan investasi ke beberapa aset atau sektor agar portofolio tidak bergantung pada satu instrumen saja. Misal, kombinasi saham, emas, dan instrumen lain sesuai tujuan serta profil risikonya.
3. Tentukan Tujuan dan Jangka Waktu Investasi
Dana untuk kebutuhan jangka pendek sebaiknya tidak ditempatkan seluruhnya pada aset yang pergerakannya sangat tajam.
Sebaliknya, investasi jangka panjang tetap memerlukan evaluasi berkala terhadap fundamental aset dan kondisi keuangan pribadi.
4. Hindari Keputusan karena Panik
Ketika harga turun tajam, investor dapat terdorong menjual aset hanya karena khawatir kerugian semakin besar. Sebaliknya, kenaikan harga yang cepat juga dapat memicu keputusan membeli tanpa analisis.
Sebelum bertransaksi, periksa kembali alasan investasi, kondisi aset, dan batas risiko yang mampu ditanggung.
Investasi Multi-aset Terdaftar dan Diawasi OJK
Investasi di Berbagai Aset dalam Satu Aplikasi
Akses saham Amerika, emas, dan kripto melalui Nanovest.
Kesimpulan
Volatilitas adalah ukuran yang menggambarkan besar-kecilnya perubahan harga atau return suatu aset dalam periode tertentu. Volatilitas dapat dipengaruhi kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah dan bank sentral, kinerja perusahaan, sentimen investor, serta peristiwa global.






