Memulai investasi sering kali berawal dari pertanyaan, “Sebaiknya beli aset apa?” Padahal, ada pertanyaan yang perlu dijawab lebih dulu: apakah kondisi keuanganmu sudah siap?
Cara cek kesehatan keuangan sebelum mulai investasi adalah dengan meninjau pemasukan, pengeluaran, utang, dana darurat, serta kebutuhan yang akan datang. Pemeriksaan ini membantu kamu menentukan uang yang bisa diinvestasikan tanpa mengganggu biaya hidup.
Dengan kondisi keuangan yang lebih tertata, kamu juga bisa mengurangi kemungkinan menjual investasi secara terpaksa ketika membutuhkan uang.
10 Cara Cek Kesehatan Keuangan yang Wajib Kamu Ikuti
Mengetahui kondisi keuangan sejak dini dapat membantu kamu mengelola penghasilan, mengendalikan pengeluaran, dan mempersiapkan kebutuhan masa depan. Kesehatan keuangan tidak hanya dilihat dari jumlah tabungan, tetapi juga dari arus kas, cicilan, dana darurat, hingga kemampuan menghadapi risiko finansial.
Ada beberapa cara cek kesehatan keuangan yang bisa kamu lakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi keuangan saat ini dan menentukan langkah perbaikan yang tepat.
1. Catat Penghasilan Bersih yang Benar-Benar Diterima
Mulailah dari jumlah uang yang masuk setelah potongan pajak dan potongan lainnya. Pisahkan penghasilan rutin dengan pemasukan tambahan yang belum tentu diterima setiap bulan.
Misalnya, gaji bersihmu Rp7 juta dan sesekali mendapat proyek tambahan Rp2 juta. Untuk menyusun anggaran rutin, gunakan penghasilan yang paling bisa diandalkan sebagai dasar.
Jika kamu bekerja sebagai freelancer atau menjalankan usaha, tinjau pemasukan beberapa bulan terakhir. Perhatikan juga bulan dengan penghasilan rendah agar anggaran tidak bergantung pada kondisi terbaik.
Yang perlu diperiksa: apakah kebutuhan tetap masih bisa dibayar ketika pemasukan tambahan tidak ada?
2. Periksa Apakah Arus Kas Bulanan Masih Surplus
Arus kas menunjukkan selisih antara pemasukan dan pengeluaran dalam periode tertentu.
Surplus bulanan = penghasilan bersih − seluruh pengeluaran bulanan
Masukkan kebutuhan pokok, cicilan, transportasi, langganan aplikasi, hiburan, hingga bantuan untuk keluarga. Gunakan riwayat transaksi agar pengeluaran kecil tidak terlewat.
Contohnya:
- Penghasilan bersih: Rp7 juta.
- Kebutuhan hidup dan pengeluaran lainnya: Rp4,8 juta.
- Cicilan: Rp1 juta.
- Sisa uang: Rp1,2 juta.
Sisa Rp1,2 juta tersebut masih perlu dibagi untuk dana darurat, kebutuhan mendatang, dan investasi.
Jika pengeluaran terus melebihi pemasukan, prioritaskan memperbaiki arus kas. Mengharapkan keuntungan investasi untuk menutup kekurangan bulanan dapat membuat keuangan semakin rentan.
3. Hitung Porsi Penghasilan untuk Membayar Cicilan
Jumlah cicilan yang terlihat kecil bisa menjadi besar ketika digabungkan. Catat seluruh kewajiban, termasuk kredit kendaraan, KPR, kartu kredit, pinjaman pribadi, dan paylater.
Gunakan rumus:
Rasio cicilan = total cicilan bulanan ÷ penghasilan bulanan × 100%
Jika penghasilanmu Rp7 juta dan total cicilan Rp2,1 juta, rasio cicilan mencapai 30%.
Materi literasi OJK menggunakan rasio pelunasan utang di bawah 30% sebagai salah satu acuan pemeriksaan kesehatan keuangan. Namun, angka ini perlu dibaca bersama biaya hidup dan kondisi masing-masing orang.
Walaupun rasio cicilan masih rendah, perhatikan apakah pembayaran utang membuatmu kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Utang yang menunggak atau berbunga tinggi perlu mendapat perhatian sebelum menambah investasi berisiko.
4. Ukur Berapa Lama Dana Darurat Bisa Membiayai Hidup
Dana darurat membantu kamu menghadapi kehilangan penghasilan atau kebutuhan mendesak tanpa langsung menjual investasi.
Untuk memeriksanya, gunakan rumus:
Ketahanan dana darurat = dana darurat tersedia ÷ pengeluaran wajib bulanan
Misalnya, kamu memiliki dana darurat Rp12 juta dengan pengeluaran wajib Rp4 juta per bulan. Artinya, dana tersebut setara dengan tiga bulan pengeluaran.
Sebagai panduan awal, Kementerian Keuangan menyebut kisaran 3–6 bulan biaya hidup untuk individu tanpa tanggungan dan 6–12 bulan bagi orang dengan tanggungan atau penghasilan tidak tetap. Sesuaikan target dengan kondisi pekerjaan dan keluarga.
Tempatkan dana darurat pada tempat yang mudah diakses dan berisiko rendah. Jika belum terbentuk, jadikan pengumpulannya sebagai prioritas.
5. Pisahkan Kebutuhan Tahunan dari Dana Investasi
Pengeluaran tahunan sering membuat saldo terlihat lebih besar daripada uang yang sebenarnya tersedia.
Contohnya adalah pajak kendaraan, uang sekolah, premi asuransi, biaya mudik, atau perpanjangan sewa. Pengeluaran tersebut sudah bisa diperkirakan sehingga perlu disiapkan melalui pos tersendiri.
Alokasi bulanan = kebutuhan dana ÷ jumlah bulan sebelum pembayaran
Jika kamu membutuhkan Rp6 juta untuk biaya tahunan dalam 12 bulan, sisihkan Rp500 ribu per bulan.
Dengan begitu, kamu bisa mengetahui surplus yang benar-benar tersedia untuk investasi setelah kebutuhan tersebut diperhitungkan.
6. Tinjau Aset dan Total Utang
Saldo rekening hanya menunjukkan sebagian kondisi keuangan. Untuk melihat gambaran yang lebih lengkap, hitung kekayaan bersih.
Kekayaan bersih = total nilai aset − total sisa utang
Aset dapat mencakup tabungan, deposito, investasi, kendaraan, dan properti. Gunakan perkiraan nilai jual yang wajar. Untuk utang, catat sisa kewajibannya, bukan hanya cicilan bulan ini.
Selain jumlahnya, perhatikan kemudahan aset dicairkan. Seseorang bisa memiliki kekayaan bersih positif, tetapi tetap kesulitan membayar tagihan karena sebagian besar asetnya berupa rumah atau tanah.
Karena itu, periksa dua hal sekaligus: berapa kekayaan bersihmu dan berapa dana yang bisa segera digunakan.
7. Periksa Perlindungan terhadap Risiko Keuangan Besar
Pengeluaran besar akibat sakit atau hilangnya sumber penghasilan dapat mengganggu rencana investasi.
Tinjau apakah perlindungan kesehatanmu aktif, bagaimana prosedur penggunaannya, dan biaya apa yang masih perlu ditanggung sendiri. Jika ada anggota keluarga yang bergantung pada penghasilanmu, evaluasi juga kebutuhan perlindungan bagi mereka.
Kementerian Keuangan memasukkan kecukupan asuransi, dana darurat, dan pengelolaan utang sebagai bagian dari pemeriksaan kesiapan keuangan sebelum berinvestasi.
Pilih perlindungan sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar iurannya agar tetap dapat dipertahankan.
8. Tentukan Tujuan dan Waktu Penggunaan Uang
Sebelum membeli aset, tuliskan tujuan investasi, jumlah dana yang dibutuhkan, dan kapan uangnya akan dipakai.
Misalnya, uang muka rumah dalam dua tahun memiliki kebutuhan yang berbeda dengan dana pensiun 20 tahun lagi. Perbedaan waktu tersebut memengaruhi seberapa besar fluktuasi nilai yang bisa kamu hadapi.
Uang yang harus tersedia dalam waktu dekat perlu mempertimbangkan kestabilan nilai dan kemudahan pencairan. Untuk tujuan lebih panjang, kamu bisa mempelajari pilihan aset sesuai profil risiko.
Pertanyaan utamanya: jika nilai investasi turun saat uang dibutuhkan, apakah tujuanmu akan terganggu?
9. Uji Kemampuan Menghadapi Penurunan Nilai Investasi
Merasa berani mengambil risiko belum tentu berarti mampu menanggung kerugian.
Coba gunakan simulasi sederhana: kamu menginvestasikan Rp5 juta, lalu nilainya turun 20% menjadi Rp4 juta. Penurunan ini hanya ilustrasi; kerugian sebenarnya dapat lebih besar.
Tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi?
- Apakah kamu harus menjual aset untuk membayar tagihan?
- Apakah kamu memahami alasan membeli aset tersebut?
- Apakah keputusanmu akan berubah hanya karena melihat harga turun?
Jika penurunan nilai langsung mengganggu biaya hidup, tinjau kembali nominal investasi dan jenis aset yang dipilih.
10. Tetapkan Anggaran Investasi yang Bisa Dipertahankan
Setelah seluruh kebutuhan diperhitungkan, tentukan anggaran investasi yang realistis.
Sebagai ilustrasi, dari surplus bulanan Rp1,2 juta, kamu mungkin perlu mengalokasikan Rp500 ribu untuk kebutuhan tahunan dan Rp500 ribu untuk memperkuat dana darurat. Sisa Rp200 ribu dapat dievaluasi untuk investasi sesuai kesiapanmu.
Pembagian tersebut hanyalah contoh. Jika dana darurat belum memadai atau ada utang mendesak, kamu bisa mengutamakan kebutuhan tersebut terlebih dahulu.
Anggaran investasi juga perlu ditinjau ketika penghasilan turun, tanggungan bertambah, atau kebutuhan hidup berubah.
Kapan Kondisi Keuangan Lebih Siap untuk Investasi?
Kamu lebih siap mengalokasikan dana investasi ketika kebutuhan rutin terpenuhi, cicilan terkendali, cadangan darurat memadai, dan kebutuhan mendatang sudah diperhitungkan.
Kamu juga perlu memahami tujuan pembelian aset serta risiko kehilangan sebagian atau seluruh dana, sesuai karakteristik produknya.
Gunakan pemeriksaan ini untuk menemukan bagian yang perlu diperbaiki. Rasio keuangan merupakan panduan evaluasi yang harus disesuaikan dengan tahap kehidupan dan kondisi pribadi.
Mulai Investasi Sesuai Kemampuan Bersama Nanovest
Setelah mengetahui kemampuan keuanganmu, langkah berikutnya adalah mempelajari aset yang sesuai dengan tujuan investasi.
Di Nanovest, kamu dapat mempelajari pilihan investasi seperti saham AS dan aset kripto. Sebelum bertransaksi, periksa karakteristik produk, biaya, serta risikonya melalui informasi yang tersedia di aplikasi.
Buka aplikasi Nanovest dan mulai dari nominal yang sesuai kemampuanmu. Pastikan dana yang digunakan sudah terpisah dari kebutuhan sehari-hari dan dana darurat.
FAQ
Apakah harus bergaji besar untuk mulai investasi?
Tidak. Besarnya penghasilan bukan satu-satunya penentu. Periksa sisa uang setelah kebutuhan, cicilan, cadangan darurat, dan pengeluaran mendatang diperhitungkan.
Apakah boleh investasi ketika masih punya utang?
Evaluasi bunga, kelancaran pembayaran, dan dampaknya terhadap arus kas. Jika utang menunggak atau membebani kebutuhan hidup, prioritaskan penanganannya sebelum menambah investasi berisiko.
Berapa persen gaji yang sebaiknya diinvestasikan?
Tidak ada persentase yang cocok untuk semua orang. Tentukan dari kemampuan keuangan setelah kebutuhan utama dan perlindungan dasar terpenuhi.
Seberapa sering kesehatan keuangan perlu diperiksa?
Kamu bisa meninjau arus kas setiap bulan dan melakukan pemeriksaan lebih lengkap secara berkala, terutama setelah perubahan penghasilan, pekerjaan, utang, atau tanggungan keluarga.






