Investasi aset kripto memiliki risiko keamanan yang perlu dipahami setiap investor. Salah satunya adalah peretasan atau hacking yang dapat menyebabkan aset digital dicuri, baik melalui pembobolan akun crypto exchange, pencurian private key, maupun eksploitasi sistem blockchain.
Kasus peretasan seperti yang dialami Ronin Network, WazirX, dan Bybit menunjukkan bahwa risiko keamanan tidak hanya mengancam pengguna wallet pribadi, tetapi juga platform perdagangan kripto berskala besar.
Jika aset kripto kena hack, kamu perlu segera mengambil tindakan untuk mencegah kerugian lebih besar. Langkah yang bisa dilakukan antara lain mengamankan akun, memindahkan sisa aset ke wallet baru, mencabut izin akses aplikasi mencurigakan, melacak transaksi, dan mengumpulkan bukti digital.
Lantas, apa yang harus dilakukan jika aset kripto diretas? Berikut langkah-langkah yang bisa kamu lakukan secara mandiri.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Aset Kripto Diretas atau Kena Hack?
Ketika mengetahui aset kripto hilang atau berpindah tanpa persetujuan, jangan langsung panik. Segera lakukan beberapa tindakan berikut untuk membatasi akses pelaku dan mengamankan aset yang masih tersisa.
1. Identifikasi Sumber Peretasan
Langkah pertama adalah mencari tahu bagaimana peretasan terjadi. Hal ini penting karena penanganan akun exchange yang dibobol berbeda dengan wallet yang private key-nya telah dicuri.
Secara umum, ada beberapa kemungkinan sumber peretasan:
- Akun crypto exchange diretas: Pelaku mendapatkan akses ke akun melalui pencurian password, phishing, malware, atau pengambilalihan email.
- Private key atau seed phrase bocor: Pelaku mendapatkan informasi yang memungkinkan mereka mengakses dan memindahkan aset dari wallet.
- Wallet terhubung ke aplikasi berbahaya: Pengguna tanpa sadar memberikan izin kepada smart contract atau aplikasi yang dapat mengakses token tertentu.
- Perangkat terkena malware: Program berbahaya dapat mencuri informasi login, merekam aktivitas, atau mengganti alamat wallet saat transaksi.
- Platform mengalami eksploitasi: Kerentanan pada smart contract, bridge, sistem keamanan, atau infrastruktur exchange dimanfaatkan oleh penyerang.
Periksa riwayat login, notifikasi keamanan, email, aktivitas wallet, dan transaksi terakhir. Jangan terburu-buru menggunakan perangkat yang dicurigai telah terinfeksi malware untuk mengakses akun atau membuat wallet baru.
2. Amankan Sisa Aset Kripto ke Wallet Baru
Jika masih ada aset yang tersisa di wallet dan private key atau seed phrase diduga telah bocor, segera pertimbangkan untuk memindahkannya ke wallet baru yang aman.
Namun, lakukan tindakan ini dengan hati-hati:
- Gunakan perangkat yang bersih dan tidak dicurigai terinfeksi malware.
- Buat wallet baru menggunakan aplikasi atau hardware wallet dari sumber resmi.
- Simpan seed phrase wallet baru secara offline dan jangan membagikannya kepada siapa pun.
- Pastikan alamat wallet tujuan benar sebelum melakukan transfer.
- Jika memungkinkan, lakukan pengiriman dalam jumlah kecil terlebih dahulu untuk menguji alamat tujuan.
- Setelah berhasil, pindahkan sisa aset yang masih berada di wallet lama.
Penting: Jangan membuat wallet baru menggunakan seed phrase yang sama dengan wallet yang telah diretas. Wallet baru harus memiliki private key atau seed phrase yang berbeda.
Jika akun exchange yang diretas, jangan sembarangan memindahkan aset atau mengubah pengaturan sebelum memahami apakah pelaku masih memiliki akses. Amankan akun melalui prosedur resmi platform dan lakukan pembekuan akses jika tersedia.
3. Cabut Izin Akses Aplikasi Mencurigakan (Token Approval)
Salah satu penyebab kehilangan aset kripto adalah pemberian izin akses kepada smart contract yang ternyata berbahaya.
Ketika menggunakan aplikasi DeFi, pengguna terkadang memberikan izin kepada smart contract untuk menggunakan token tertentu. Izin ini dikenal sebagai token approval.
Jika pengguna pernah menghubungkan wallet ke situs mencurigakan, segera periksa dan cabut izin yang tidak dikenal atau tidak lagi diperlukan.
Beberapa alat yang bisa digunakan secara mandiri antara lain:
- Revoke.cash: Membantu memeriksa dan mencabut izin token atau NFT pada berbagai jaringan blockchain yang didukung.
- Etherscan Token Approval Checker: Memeriksa dan mengelola izin token pada jaringan Ethereum.
- BscScan Token Approval Checker: Memeriksa izin token pada jaringan BNB Smart Chain.
Cara melakukannya:
- Buka situs resmi Revoke.cash atau approval checker blockchain terkait.
- Pastikan domain situs benar sebelum menghubungkan wallet.
- Hubungkan wallet yang ingin diperiksa.
- Periksa daftar smart contract yang memiliki izin akses.
- Identifikasi izin yang tidak dikenal atau mencurigakan.
- Cabut izin yang tidak diperlukan melalui transaksi blockchain.
Perlu diketahui, pencabutan izin tidak mengembalikan aset yang sudah dicuri. Tindakan ini hanya membantu membatasi akses smart contract terhadap token yang masih tersimpan.
Jika private key sudah dikuasai pelaku, pencabutan izin saja tidak cukup karena pelaku masih dapat menandatangani transaksi menggunakan wallet tersebut.
4. Ganti Password dan Amankan Akun yang Terhubung
Jika peretasan berkaitan dengan akun crypto exchange, email, atau perangkat, segera amankan seluruh akun yang berpotensi terdampak.
Beberapa tindakan yang perlu dilakukan:
- Ganti password akun exchange dan email menggunakan perangkat yang aman.
- Gunakan password unik yang tidak digunakan pada layanan lain.
- Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA), sebaiknya menggunakan aplikasi authenticator atau security key.
- Keluar dari seluruh sesi login yang tidak dikenal.
- Hapus API key yang mencurigakan atau tidak lagi digunakan.
- Periksa perubahan nomor telepon, email pemulihan, dan perangkat tepercaya.
- Hubungi operator seluler jika nomor telepon diduga mengalami SIM swap.
Jangan hanya mengganti password exchange jika email yang digunakan untuk pemulihan akun masih dikuasai pelaku.
5. Lacak Transaksi Kripto yang Dicuri
Transaksi aset kripto pada blockchain umumnya dapat ditelusuri melalui blockchain explorer. Kamu bisa memeriksa ke mana aset dikirim dan apakah dana tersebut berpindah ke alamat lain.
Beberapa blockchain explorer yang bisa digunakan:
| Blockchain | Blockchain Explorer |
|---|---|
| Ethereum | Etherscan |
| BNB Smart Chain | BscScan |
| Bitcoin | Blockchain.com Explorer |
| Solana | Solscan |
| Polygon | PolygonScan |
| Tron | Tronscan |
Berikut cara melacak transaksi:
- Buka riwayat transaksi wallet atau akun exchange.
- Cari transaksi yang tidak kamu kenali.
- Salin Transaction Hash (TxID) atau alamat wallet pengirim.
- Buka blockchain explorer yang sesuai dengan jaringan aset.
- Tempelkan TxID pada kolom pencarian.
- Periksa alamat pengirim, penerima, jumlah aset, waktu transaksi, dan status transaksi.
- Catat alamat tujuan serta transaksi lanjutan jika aset dipindahkan kembali.
Informasi ini dapat membantu mengidentifikasi alur perpindahan aset dan menjadi bukti saat melakukan pelaporan.
Namun, perlu dipahami bahwa blockchain explorer hanya menunjukkan aktivitas transaksi. Alamat wallet tidak otomatis mengungkap identitas pemiliknya.
6. Simpan Bukti Digital Peretasan
Jangan menghapus email, notifikasi, atau riwayat transaksi yang berkaitan dengan insiden.
Kumpulkan bukti digital yang dapat membantu proses investigasi, seperti:
- Transaction ID atau TxID transaksi mencurigakan.
- Alamat wallet yang mengirim dan menerima aset.
- Screenshot saldo sebelum dan sesudah kejadian.
- Riwayat login dan aktivitas akun.
- Email pemberitahuan perubahan password atau penarikan aset.
- Waktu kejadian dan perkiraan jumlah aset yang hilang.
- Bukti komunikasi dengan pihak exchange atau layanan terkait.
Simpan bukti tersebut secara aman dan jangan membagikan seed phrase, private key, password, maupun kode OTP kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sedang membantu investigasi.
7. Laporkan Insiden kepada Pihak Terkait
Setelah mengamankan akun dan mengumpulkan bukti, lanjutkan dengan pelaporan.
Beberapa pihak yang dapat dihubungi antara lain:
- Crypto exchange: Jika aset hilang dari akun exchange, segera hubungi layanan pelanggan resmi. Minta pembekuan penarikan jika masih memungkinkan dan berikan TxID serta bukti pendukung.
- Pihak berwenang: Laporkan dugaan pencurian atau kejahatan siber kepada kepolisian melalui kanal resmi.
- Otoritas terkait: Untuk layanan aset keuangan digital di Indonesia, pengguna dapat mencari informasi dan menyampaikan pengaduan melalui kanal resmi OJK sesuai kewenangannya.
- Penyedia wallet atau protokol: Jika peretasan melibatkan aplikasi DeFi, bridge, atau smart contract, sampaikan informasi kepada tim pengembang atau pengelola protokol.
Semakin cepat laporan disampaikan, semakin besar peluang pihak terkait melakukan tindakan pembatasan atau penelusuran dana. Namun, tidak ada jaminan aset yang sudah dicuri dapat dikembalikan.
3 Kasus Peretasan Aset Kripto dalam 5 Tahun Terakhir dan Cara Penanganannya
Peretasan aset kripto tidak selalu disebabkan oleh kesalahan pengguna. Beberapa insiden besar justru terjadi akibat kelemahan sistem keamanan pada platform dan infrastruktur blockchain.
Berikut tiga kasus peretasan yang dapat menjadi pelajaran bagi investor dan pengelola platform kripto.
1. Ronin Network (2022): Peretasan Private Key Validator
Pada Maret 2022, Ronin Network, blockchain yang digunakan oleh game Axie Infinity, mengalami serangan siber yang menyebabkan sekitar 173.600 ETH dan 25,5 juta USDC dicuri.
Total nilai aset yang dicuri saat kejadian diperkirakan mencapai US$625 juta.
Peretasan terjadi karena pelaku berhasil mendapatkan akses ke private key validator yang digunakan untuk memvalidasi transaksi pada jaringan Ronin.
Setelah memperoleh kendali atas sejumlah validator yang dibutuhkan, penyerang dapat menyetujui penarikan aset dalam jumlah besar dari Ronin Bridge tanpa persetujuan yang sah.
Bagaimana penanganannya?
Tim Ronin dan Sky Mavis mengambil beberapa langkah setelah insiden tersebut:
- Menghentikan sementara operasional Ronin Bridge untuk mencegah kerugian lebih lanjut.
- Melakukan investigasi terhadap kompromi private key validator.
- Meningkatkan jumlah validator dan memperkuat sistem keamanan jaringan.
- Melakukan audit keamanan sebelum membuka kembali Ronin Bridge.
- Menyusun mekanisme pemulihan dana untuk pengguna yang terdampak.
Sky Mavis dan Axie Infinity Treasury kemudian menyediakan dana untuk mengganti aset pengguna yang hilang. Ronin Bridge kembali dibuka pada Juni 2022 setelah melalui proses audit keamanan.
Pelajaran untuk investor:
Kasus ini menunjukkan bahwa keamanan blockchain juga bergantung pada pengelolaan private key dan sistem validasi transaksi. Pengguna perlu memahami bahwa aset yang disimpan melalui bridge atau protokol DeFi memiliki risiko tambahan di luar risiko fluktuasi harga kripto.
2. WazirX (2024): Peretasan Wallet Multisignature
Pada 18 Juli 2024, crypto exchange asal India, WazirX, mengalami peretasan yang menyebabkan aset senilai lebih dari US$230 juta dicuri.
Insiden tersebut melibatkan wallet multisignature yang digunakan untuk menyimpan aset exchange.
Wallet tersebut menggunakan infrastruktur multisig Safe, dengan beberapa pihak yang memiliki kewenangan untuk menyetujui transaksi.
Menurut investigasi WazirX, serangan melibatkan manipulasi transaksi dan perbedaan antara informasi transaksi yang ditampilkan pada antarmuka wallet dengan transaksi yang sebenarnya disetujui. Investigasi selanjutnya mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok Lazarus dari Korea Utara.
Bagaimana penanganannya?
WazirX mengambil beberapa langkah setelah peretasan:
- Menghentikan sementara penarikan aset kripto dan mata uang fiat.
- Melakukan investigasi dan bekerja sama dengan pihak keamanan blockchain.
- Melacak aliran aset yang dicuri melalui blockchain.
- Melakukan proses restrukturisasi untuk menangani kewajiban kepada pengguna.
- Mengembangkan skema pemulihan aset dan distribusi kerugian kepada pengguna terdampak.
Kasus ini juga menunjukkan bahwa proses pemulihan dana dari exchange yang diretas dapat berlangsung panjang dan tidak selalu menghasilkan penggantian penuh secara langsung.
Pelajaran untuk investor:
Penggunaan wallet multisignature tidak otomatis menjamin keamanan aset. Pengguna perlu mempertimbangkan rekam jejak keamanan exchange, mekanisme penyimpanan aset, transparansi pengelolaan dana, serta kebijakan penanganan insiden.
3. Bybit (2025): Manipulasi Transaksi pada Cold Wallet
Pada 21 Februari 2025, Bybit mengalami peretasan besar yang menyebabkan sekitar US$1,5 miliar aset kripto dicuri.
Insiden tersebut menjadi salah satu peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto.
Menurut investigasi Bybit dan analisis keamanan blockchain, serangan dilakukan dengan memanipulasi proses transaksi pada wallet Ethereum cold storage milik Bybit.
Penyerang mengeksploitasi sistem yang digunakan dalam proses persetujuan transaksi sehingga transaksi yang tampak sah bagi penandatangan sebenarnya mengarahkan aset ke alamat yang dikendalikan pelaku.
Serangan tersebut kemudian dikaitkan oleh FBI dengan kelompok Lazarus dari Korea Utara.
Bagaimana penanganannya?
Bybit mengambil beberapa tindakan setelah serangan:
- Melakukan investigasi dan bekerja sama dengan perusahaan keamanan blockchain.
- Melacak alamat wallet yang menerima aset hasil peretasan.
- Menginformasikan alamat yang terkait dengan serangan kepada ekosistem kripto agar dapat diwaspadai.
- Memperkuat proses keamanan dan persetujuan transaksi.
- Memenuhi permintaan penarikan pengguna dengan dukungan likuiditas dan penggantian cadangan aset.
Bybit menyatakan bahwa operasional penarikan tetap berjalan dan aset yang dicuri ditangani melalui penguatan cadangan serta pengadaan likuiditas.
Namun, pemulihan cadangan exchange tidak berarti seluruh aset yang dicuri berhasil ditemukan atau dikembalikan.
Pelajaran untuk investor:
Cold wallet merupakan salah satu metode penyimpanan aset yang dapat mengurangi paparan terhadap ancaman online. Namun, metode ini tidak sepenuhnya bebas risiko. Proses penandatanganan transaksi, pengelolaan akses, dan keamanan perangkat tetap menjadi faktor penting.
Apakah Aset Kripto yang Dicuri Bisa Dikembalikan?
Aset kripto yang dicuri masih memiliki kemungkinan untuk ditemukan atau dibekukan, tetapi tidak ada jaminan bahwa seluruh dana dapat dikembalikan.
Peluang pemulihan bergantung pada beberapa faktor, seperti jenis peretasan, blockchain yang digunakan, kecepatan pelaporan, dan apakah aset sudah dipindahkan ke layanan yang dapat melakukan pembekuan.
Ada beberapa kemungkinan dalam proses pemulihan aset:
- Aset berhasil dibekukan: Jika dana dikirim ke exchange terpusat yang dapat mengidentifikasi dan membatasi akun penerima, aset mungkin dapat ditahan untuk proses investigasi.
- Aset berhasil dilacak: Perusahaan analisis blockchain dapat membantu menelusuri perpindahan dana dan mengidentifikasi alamat yang berkaitan dengan pelaku.
- Aset dikembalikan oleh pelaku: Dalam beberapa kasus eksploitasi protokol, pelaku mengembalikan sebagian atau seluruh dana setelah proses negosiasi. Namun, hal ini tidak bisa diandalkan.
- Aset tidak berhasil dipulihkan: Jika dana sudah dipindahkan melalui berbagai alamat, layanan pencampur aset, atau mekanisme lain, proses pelacakan dan pemulihan dapat menjadi lebih sulit.
Penting untuk diketahui bahwa transaksi blockchain yang sudah terkonfirmasi umumnya tidak dapat dibatalkan secara sepihak. Berbeda dengan transaksi perbankan tertentu, tidak ada mekanisme chargeback otomatis pada transaksi kripto.
Cara Mencegah Aset Kripto Kena Hack
Selain mengetahui langkah penanganan ketika terjadi peretasan, investor perlu menerapkan kebiasaan keamanan digital untuk mengurangi risiko kehilangan aset.
Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
1. Gunakan Password yang Kuat dan Unik
Jangan menggunakan password yang sama untuk akun exchange, email, dan layanan digital lainnya. Gunakan password manager untuk membantu membuat dan menyimpan password yang kuat.
2. Aktifkan Two-Factor Authentication (2FA)
Aktifkan 2FA untuk akun exchange dan email. Jika tersedia, gunakan authenticator atau security key sebagai lapisan keamanan tambahan.
3. Jangan Membagikan Private Key dan Seed Phrase
Private key dan seed phrase merupakan informasi penting yang dapat memberikan kendali atas aset dalam wallet. Jangan menyimpannya di tempat yang mudah diakses orang lain, seperti chat, email, atau cloud tanpa perlindungan yang memadai.
4. Periksa Alamat Wallet Sebelum Mengirim Aset
Selalu periksa alamat penerima sebelum melakukan transfer. Jangan hanya memeriksa beberapa karakter awal dan akhir karena pelaku dapat menggunakan modus address poisoning untuk menampilkan alamat yang menyerupai alamat tujuan.
5. Hindari Menghubungkan Wallet ke Situs Tidak Dikenal
Periksa alamat situs dan reputasi aplikasi sebelum menghubungkan wallet. Jangan sembarangan menyetujui transaksi atau memberikan token approval kepada smart contract yang tidak dikenal.
6. Gunakan Hardware Wallet untuk Penyimpanan Jangka Panjang
Hardware wallet dapat membantu menyimpan private key secara offline sehingga mengurangi risiko pencurian melalui serangan online. Namun, pengguna tetap harus menjaga perangkat, PIN, dan seed phrase dengan baik.
7. Perbarui Perangkat dan Aplikasi Secara Berkala
Gunakan sistem operasi, browser, dan aplikasi wallet versi terbaru dari sumber resmi. Pembaruan dapat memperbaiki kerentanan keamanan yang berpotensi dimanfaatkan oleh penyerang.
FAQ Seputar Aset Kripto yang Kena Hack
1. Apakah aset kripto yang kena hack bisa kembali?
Aset kripto yang dicuri memiliki kemungkinan untuk ditemukan atau dibekukan jika berhasil dilacak dan pihak terkait dapat melakukan tindakan. Namun, tidak ada jaminan dana akan kembali sepenuhnya.
2. Bagaimana cara melacak aset kripto yang dicuri?
Kamu bisa menggunakan blockchain explorer seperti Etherscan, BscScan, Solscan, atau Tronscan. Masukkan Transaction ID untuk melihat alamat pengirim, penerima, jumlah aset, dan riwayat transaksi.
3. Apakah transaksi kripto yang sudah dikirim bisa dibatalkan?
Umumnya tidak. Transaksi blockchain yang sudah terkonfirmasi tidak dapat dibatalkan secara sepihak. Pemulihan biasanya memerlukan kerja sama pihak penerima, exchange, atau proses hukum.
4. Apakah exchange bertanggung jawab jika aset pengguna diretas?
Hal ini bergantung pada penyebab insiden, ketentuan layanan, kebijakan platform, dan aturan yang berlaku. Jika peretasan terjadi pada sistem exchange, pengguna perlu memeriksa mekanisme penanganan insiden dan proses klaim yang disediakan.
5. Apakah hacker bisa mencuri aset hanya dengan mengetahui alamat wallet?
Tidak. Alamat wallet pada umumnya bersifat publik dan digunakan untuk menerima aset serta melihat transaksi. Untuk memindahkan aset dari wallet non-custodial, pelaku biasanya membutuhkan private key atau akses lain yang memungkinkan mereka mengotorisasi transaksi.
6. Apakah menghapus aplikasi wallet bisa menghentikan hacker?
Tidak. Menghapus aplikasi wallet tidak otomatis mencabut akses pelaku terhadap aset. Jika private key atau seed phrase sudah bocor, pelaku masih dapat mengakses wallet melalui perangkat atau aplikasi lain. Karena itu, pengguna perlu mengamankan sisa aset dan menggunakan wallet baru dengan kredensial berbeda.
7. Apa yang harus dilakukan jika seed phrase sudah diketahui orang lain?
Anggap wallet tersebut sudah tidak aman. Buat wallet baru melalui perangkat yang bersih, amankan seed phrase baru secara offline, lalu pindahkan aset yang masih tersisa. Jangan menggunakan kembali seed phrase lama.
Kesimpulan
Peretasan aset kripto dapat terjadi melalui berbagai celah keamanan, mulai dari pencurian password dan private key hingga eksploitasi infrastruktur exchange maupun blockchain.
Jika aset kripto kena hack, segera identifikasi sumber peretasan, amankan sisa aset, cabut izin aplikasi mencurigakan, periksa aktivitas transaksi, dan kumpulkan bukti digital. Jangan hanya mengandalkan laporan kepada exchange karena ada sejumlah tindakan mandiri yang dapat dilakukan untuk membatasi kerugian lebih lanjut.
Kasus Ronin Network, WazirX, dan Bybit juga menunjukkan bahwa keamanan aset kripto merupakan tanggung jawab bersama antara pengguna, pengelola platform, dan pengembang infrastruktur blockchain.
Oleh karena itu, pahami cara kerja wallet, jaga kerahasiaan private key, gunakan autentikasi berlapis, dan lakukan pemeriksaan keamanan sebelum bertransaksi.
Investasi aset kripto memiliki risiko kehilangan modal, termasuk akibat serangan siber. Lakukan riset mandiri dan jangan menginvestasikan dana yang tidak siap kamu tanggung risikonya.






