Wall Street mengawali pekan 19-23 Oktober 2026 dengan upaya pemulihan setelah saham teknologi mengalami tekanan tajam pada perdagangan pekan sebelumnya. Koreksi tersebut terutama dipicu kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan pendanaan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta kemampuan perusahaan mengubah investasi tersebut menjadi keuntungan.
Indeks S&P 500 kehilangan hampir 2% sepanjang pekan lalu, mencatat penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni. Nasdaq mengalami tekanan lebih besar dengan penurunan 4,5%, sekaligus mengakhiri kenaikan selama empat pekan berturut-turut.
Meski demikian, kontrak berjangka saham AS mulai menunjukkan pemulihan menjelang pembukaan perdagangan Senin. Investor kini menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar, sementara perkembangan geopolitik dan harga minyak tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Wall Street Coba Pulih Setelah Sell-Off Saham AI
Kontrak berjangka indeks saham AS bergerak menguat pada perdagangan Minggu malam waktu setempat, menjelang dimulainya pekan perdagangan baru.
Menurut CNBC, kontrak berjangka Nasdaq-100 naik 0,4%, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 menguat 0,2%. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average juga meningkat 0,2%, atau sekitar 110 poin.
Kenaikan tersebut terjadi setelah investor mulai kembali masuk ke sejumlah saham yang sebelumnya mengalami koreksi tajam. Namun, penguatan kontrak berjangka belum memastikan bahwa indeks utama akan mempertahankan kenaikan sepanjang sesi reguler.
Tekanan pada saham teknologi pekan lalu terutama berkaitan dengan kekhawatiran terhadap pembiayaan ekspansi AI.
Salah satu perusahaan yang paling terdampak adalah CoreWeave (CRWV), penyedia infrastruktur cloud yang menggunakan pembiayaan utang dalam jumlah besar untuk membangun pusat data yang kemudian disewakan kepada perusahaan teknologi.
Saham CoreWeave merosot sekitar 25% sepanjang pekan lalu, mencatat penurunan mingguan terbesarnya sejak November 2025.
Perusahaan sejenis, Nebius (NBIS), juga mengalami penurunan lebih dari 25%.
Kekhawatiran investor tidak hanya tercermin pada harga saham. Di pasar obligasi korporasi, biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar CoreWeave meningkat, sementara selisih imbal hasil kredit atau credit spread perusahaan AI dan penyedia infrastruktur komputasi besar melebar.
Menurut catatan trader Goldman Sachs yang dikutip CNBC, credit spread perusahaan terkait AI dan hyperscaler telah mencapai level terlebar sepanjang tahun. Perubahan tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian investor terhadap biaya pendanaan, tingkat utang, dan kemampuan perusahaan membiayai ekspansi infrastruktur AI dalam jangka panjang.
Di sisi lain, sebagian analis Wall Street masih menilai bahwa koreksi terbaru belum tentu menunjukkan pelemahan fundamental industri AI secara menyeluruh.
Analis Wedbush menyoroti bahwa CoreWeave memiliki komitmen pendapatan pelanggan sekitar US$104 miliar pada akhir kuartal II, yang menunjukkan adanya kontrak bisnis untuk periode mendatang.
Sementara itu, laporan dan komentar dari ASML (ASML) serta Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSM) masih menunjukkan permintaan yang kuat terhadap teknologi semikonduktor.
Perbedaan antara prospek permintaan AI dan kekhawatiran terhadap biaya pembiayaannya menjadi salah satu faktor yang akan terus diperhatikan investor pada pekan ini.
Earnings Meta dan Tesla Jadi Perhatian Investor
Setelah koreksi saham teknologi, perhatian Wall Street beralih ke laporan keuangan sejumlah perusahaan besar yang dijadwalkan pada pekan ini.
Menurut CNBC, Meta Platforms (META) dan Tesla (TSLA) termasuk perusahaan yang laporan keuangannya menjadi perhatian pasar.
Hasil earnings kedua perusahaan dapat memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi bisnis teknologi, terutama di tengah meningkatnya selektivitas investor terhadap perusahaan dengan kebutuhan investasi besar.
Bagi Meta, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada pertumbuhan pendapatan, tetapi juga pada pengeluaran untuk pengembangan AI dan infrastruktur komputasi.
Investasi pusat data, model AI, serta kapasitas komputasi membutuhkan belanja modal yang signifikan. Karena itu, investor akan mencermati apakah pertumbuhan bisnis dan prospek pendapatan perusahaan sejalan dengan kebutuhan investasi tersebut.
Sementara itu, laporan Tesla menjadi salah satu agenda yang dapat memengaruhi sentimen terhadap saham teknologi dan perusahaan dengan valuasi yang bergantung pada ekspektasi pertumbuhan.
Secara lebih luas, earnings pekan ini berlangsung ketika pasar mulai menilai investasi AI dari sudut pandang yang lebih beragam.
Jika sebelumnya perhatian investor banyak tertuju pada pertumbuhan permintaan chip dan kapasitas pusat data, kini faktor seperti biaya modal, arus kas bebas, serta kemampuan menghasilkan pengembalian investasi juga semakin diperhatikan.
Perkembangan tersebut terlihat dari koreksi saham perusahaan penyedia infrastruktur AI, meskipun sejumlah produsen chip masih melaporkan permintaan yang kuat.
Menurut UBS, gejolak pasar terbaru dapat mencerminkan penyesuaian ekspektasi investor terhadap sektor AI, bukan secara otomatis perubahan mendasar dalam prospek pertumbuhan teknologinya.
Karena itu, laporan keuangan perusahaan teknologi besar pekan ini akan menjadi salah satu sumber informasi untuk menilai keberlanjutan pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, dan kebutuhan belanja modal.
Namun, hasil earnings tetap perlu dibedakan dari proyeksi perusahaan. Target pertumbuhan dan rencana investasi yang disampaikan manajemen belum tentu terealisasi sesuai perkiraan.
Konflik Rusia-Ukraina dan Teluk Persia Jaga Harga Minyak Tinggi
Di luar sektor teknologi, perkembangan geopolitik kembali menjadi faktor penting bagi pasar global.
Sepanjang akhir pekan, Ukraina melancarkan serangan drone berskala besar terhadap sejumlah target di Rusia, termasuk fasilitas energi di St. Petersburg.
Menurut CNBC, serangan tersebut menyebabkan kebakaran di terminal dan depot minyak. Laporan lain juga menyebut adanya gangguan penerbangan di kawasan tersebut.
Ketegangan turut meningkat di wilayah Teluk Persia setelah laporan serangan terhadap kapal komersial, termasuk dua kapal tanker di lepas pantai Arab Saudi pada Jumat.
Perkembangan ini meningkatkan perhatian terhadap keamanan jalur pengiriman energi dan potensi gangguan pasokan minyak global.
Meski risiko geopolitik meningkat, harga minyak justru sedikit melemah pada perdagangan awal pekan.
CNBC mencatat harga minyak mentah Brent turun sekitar 1% menjadi US$108,80 per barel, sedangkan minyak mentah AS melemah 0,2% menjadi sekitar US$101,18 per barel pada pembaruan perdagangan awal.
Pada pembaruan berikutnya, Brent berada di sekitar US$107,82 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$100,65 per barel.
Walaupun turun secara harian, harga minyak tetap berada pada level tinggi di tengah kekhawatiran gangguan infrastruktur energi.
Di sisi diplomatik, hubungan antara Amerika Serikat dan Ukraina juga menghadapi ketegangan baru.
Presiden AS Donald Trump mempertahankan keputusan pemerintahannya untuk melonggarkan pembatasan terhadap ekspor diesel Rusia dan menunda sejumlah langkah perdagangan tambahan terhadap Moskow.
Keputusan tersebut mendapat kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan AS dalam konflik Rusia-Ukraina.
Bagi pasar keuangan, perkembangan ini penting karena gangguan pasokan energi dapat memengaruhi harga minyak, biaya produksi, dan tekanan inflasi.
Jika harga energi kembali meningkat secara signifikan, prospek suku bunga dan kondisi pendanaan global juga berpotensi terpengaruh.
Pasar Asia Melemah, Investor Pantau Arah Saham Teknologi
Tekanan pada saham teknologi AS juga tercermin dalam perdagangan sejumlah pasar Asia pada Senin, 19 Oktober.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,65%, sementara indeks Topix melemah 1,12%. Di Korea Selatan, Kospi turun 1,29% dan indeks Kosdaq terkoreksi 0,93%. Sebaliknya, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,37%, menunjukkan bahwa pergerakan pasar kawasan tidak sepenuhnya seragam.
Pelemahan saham Asia berlangsung ketika investor mempertimbangkan dampak koreksi saham AI AS dan perkembangan ketegangan geopolitik.
Saham semikonduktor menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian setelah tekanan pada perusahaan chip dan infrastruktur AI selama pekan sebelumnya.
Meski demikian, prospek permintaan industri semikonduktor masih mendapat dukungan dari sejumlah indikator.
Menteri Keuangan Korea Selatan Lee Hyoung-Il memperkirakan pertumbuhan industri semikonduktor dapat berlanjut setidaknya hingga 2027, didukung kesenjangan antara permintaan dan kapasitas pasokan yang masih besar.
Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan sejumlah perusahaan semikonduktor yang menunjukkan permintaan AI masih kuat, meskipun harga saham sektor tersebut mengalami koreksi.
Dengan demikian, investor memasuki pekan baru dengan dua perkembangan yang perlu dinilai secara bersamaan: permintaan teknologi AI yang masih tumbuh dan meningkatnya kekhawatiran terhadap biaya ekspansi serta pembiayaannya.
Bagi Wall Street, arah pasar pekan ini akan banyak dipengaruhi oleh hasil earnings perusahaan teknologi, perubahan sentimen terhadap investasi AI, dan perkembangan harga energi.
Pemulihan kontrak berjangka pada awal pekan memberikan sinyal perbaikan sentimen jangka pendek, tetapi keberlanjutannya masih akan bergantung pada informasi baru yang diterima investor sepanjang pekan perdagangan.
Wall Street Masuk Pekan Baru, Saham Apa yang Kamu Pantau?
Earnings Big Tech, pergerakan saham AI, hingga harga minyak global siap menjadi perhatian pasar pekan ini. Pantau saham META, TSLA, NVDA, dan saham AS lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan pasar, laporan keuangan, dan berita ekonomi terbaru di News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Referensi +
- Yahoo Finance: 'Just another scare': Wall Street sees the AI trade strong despite tech's latest rout
- CNBC: Nasdaq futures gain as investors buy the dip in the AI trade: Live updates
- CNBC Daily Open: A thousand drones and one strained U.S.-Ukraine alliance






