Saham Moderna (MRNA) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, setelah hasil uji klinis tahap akhir vaksin kanker melanoma yang dikembangkan bersama Merck (MRK) beredar lebih awal dari jadwal. Saham Moderna sempat anjlok lebih dari 25% sebelum memangkas kerugian dan ditutup turun 17,57%.
Penurunan tersebut terjadi meskipun data penelitian menunjukkan hasil positif. Kondisi ini menjadi sorotan karena saham Moderna sebelumnya telah mencatat reli besar, didorong optimisme investor terhadap pengembangan vaksin kanker berbasis mRNA.
Data Vaksin Kanker Bocor, Saham Moderna Tertekan
Hasil uji klinis Fase 3 vaksin melanoma personalisasi Moderna, yang dikenal sebagai intismeran, dilaporkan sempat muncul di situs OncologyCentral sebelum pengumuman resmi perusahaan.
Data tersebut awalnya dijadwalkan untuk dipresentasikan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dalam kongres European Society for Medical Oncology (ESMO) di Madrid, Spanyol.
Setelah informasi beredar, Moderna dan Merck merilis hasil penelitian lebih awal. Reaksi pasar berlangsung cepat, dengan saham Moderna sempat turun hingga sekitar 26% dalam perdagangan intraday dan menjadi saham dengan penurunan terbesar di indeks S&P 500 pada hari tersebut.
Menurut laporan Reuters saat perdagangan masih berlangsung, aksi jual sempat menghapus sekitar US$24 miliar dari kapitalisasi pasar Moderna. Saham kemudian memangkas sebagian penurunannya hingga penutupan.
Saham Merck (MRK) juga melemah, tetapi penurunannya lebih terbatas. Pada penutupan perdagangan, saham MRK turun sekitar 1,76%.
Perbedaan reaksi tersebut mencerminkan besarnya perhatian investor terhadap vaksin melanoma dalam prospek bisnis Moderna, sementara Merck memiliki portofolio produk yang lebih luas.
Hasil Uji Klinis: Risiko Kekambuhan Turun 42%
Penelitian Fase 3 melibatkan lebih dari 1.100 pasien melanoma berisiko tinggi dan mengevaluasi penggunaan intismeran bersama obat imunoterapi Keytruda milik Merck.
Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi kedua terapi tersebut mampu mengurangi risiko kekambuhan kanker atau kematian sebesar 42% dibandingkan penggunaan Keytruda saja. Selain itu, terapi tersebut juga mengurangi risiko metastasis jauh atau kematian sebesar 38% dibandingkan Keytruda saja.
Metastasis jauh merujuk pada penyebaran kanker ke bagian tubuh lain yang jauh dari lokasi awal penyakit.
Hasil penelitian sebelumnya pada kelompok pasien yang lebih kecil menunjukkan penurunan risiko kekambuhan atau kematian sebesar 49%. Namun, kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena melibatkan populasi pasien yang berbeda.
Moderna dan Merck juga menyampaikan bahwa data overall survival atau kelangsungan hidup secara keseluruhan belum lengkap, meskipun hasil sementara menunjukkan tren yang menguntungkan.
Kedua perusahaan tengah berinteraksi dengan otoritas regulasi terkait pengembangan terapi tersebut. Data yang akan dipresentasikan pada konferensi ESMO menjadi perhatian berikutnya, termasuk rincian hasil pada kelompok pasien dengan tingkat risiko berbeda.
Mengapa Saham Moderna Anjlok Meski Hasilnya Positif?
Penurunan saham Moderna terjadi setelah kenaikan harga yang sangat besar dalam beberapa bulan terakhir.
Pada 19 Agustus 2026, saham MRNA melonjak 177% dalam sehari dan ditutup pada US$174,38 setelah Moderna dan Merck mengumumkan bahwa uji klinis melanoma telah mencapai tujuan utamanya.
Reli berlanjut hingga saham Moderna mencatatkan harga penutupan tertinggi sejak Desember 2021 pada Rabu, 21 Oktober. Sebelum aksi jual terbaru, sahamnya telah meningkat hampir empat kali lipat sejak pertengahan Agustus.
Menurut laporan Investopedia, meskipun mengalami penurunan tajam, saham Moderna masih mencatat kenaikan hampir 600% sejak awal tahun.
Analis UBS, William Blair, dan TD Cowen menilai hasil uji klinis tersebut tetap kuat. Namun, ekspektasi pasar telah meningkat signifikan setelah reli saham dan perkembangan positif yang sebelumnya disampaikan perusahaan.
Kondisi ini memicu reaksi yang dikenal sebagai sell the news, yaitu ketika investor menjual saham setelah informasi yang dinantikan akhirnya diumumkan.
Selain itu, investor mulai mempertimbangkan apakah manfaat vaksin melanoma dapat diperluas ke jenis kanker lain untuk mendukung valuasi Moderna yang telah meningkat pesat.
Dengan demikian, tekanan terhadap saham MRNA berkaitan dengan besarnya ekspektasi yang telah tercermin dalam harga saham serta prospek komersialisasi terapi tersebut.
Investor Menanti Data Lengkap di Konferensi ESMO
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada presentasi hasil lengkap uji klinis Moderna dan Merck dalam konferensi ESMO pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Informasi tambahan mengenai efektivitas terapi pada berbagai kelompok pasien, perkembangan data kelangsungan hidup, dan proses regulasi akan menjadi faktor penting untuk menilai prospek vaksin melanoma tersebut.
Pergerakan saham Moderna juga menunjukkan bahwa respons pasar terhadap hasil penelitian dapat dipengaruhi oleh valuasi dan ekspektasi sebelumnya, meskipun data klinis menunjukkan perkembangan positif.
Tekanan tersebut relatif terkonsentrasi pada Moderna. Pada perdagangan yang sama, saham perusahaan kesehatan lain seperti Eli Lilly, Johnson & Johnson, dan Pfizer justru menguat, sementara ETF bioteknologi IBB dan XBI hanya mencatat pelemahan terbatas.
Bagi investor yang memantau Moderna (MRNA) dan Merck (MRK), perkembangan uji klinis berikutnya serta respons pasar setelah presentasi resmi menjadi informasi penting untuk dicermati.
Inovasi Berjalan, Sahamnya Bergerak. Pantau MRNA!
Pantau pergerakan MRNA dan saham perusahaan kesehatan AS lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan pasar dan industri bioteknologi lewat News & Artikel Tips.
Investasi saham mengandung risiko, termasuk volatilitas harga dan potensi kehilangan modal. Pelajari fundamental perusahaan dan sesuaikan keputusan dengan profil risikomu.
Referensi +
- Yahoo Finance: Moderna plunges on leaked vaccine data, Musk to invest $1B in Skydance, Spotify surges
- Reuters: Moderna sheds about $24 billion as cancer vaccine data triggers 'sell-the-news' retreat
- 24/7 Wall St.: Moderna Jumps 7% While Melanoma Vaccine Data Looms; Bristol Myers Squibb Rises 5%, Pfizer Advances 2%






