Daftar orang terkaya di Indonesia nggak pernah benar-benar “final”, posisinya terus berubah mengikuti naik-turunnya harga saham dan nilai perusahaan yang mereka kendalikan.
Menurut data Forbes Real-Time Billionaires per 9 September 2026, Low Tuck Kwong masih memuncaki daftar sebagai orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan bersih sekitar USD18,8 miliar atau setara Rp329,13 triliun (asumsi kurs Rp17.507 per dolar AS).
Secara total, kekayaan 10 orang terkaya Indonesia versi Forbes ini mencapai sekitar USD111,4 miliar, atau sekitar Rp1.950,28 triliun, jumlah yang setara dengan lebih dari separuh APBN Indonesia dalam satu tahun.
Sumber kekayaan mereka pun beragam, mulai dari batu bara, petrokimia, perbankan, pusat data, sampai kelapa sawit dan nikel.
Yuk, simak!
Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes
1. Low Tuck Kwong — USD18,8 Miliar (~Rp329,13 Triliun)

Low Tuck Kwong dikenal sebagai “raja batu bara” Indonesia. Ia mendirikan PT Bayan Resources Tbk pada 2004, perusahaan yang bergerak di penambangan, pengolahan, dan perdagangan batu bara, dengan pendapatan tercatat USD3,4 miliar dan laba USD741,7 juta sepanjang 2026. Di luar Bayan Resources, Low juga mengendalikan perusahaan energi Metis Energy di Singapura, punya kepentingan di Samindo Resources, dan terlibat dalam proyek kabel bawah laut lewat SEAX Global. Forbes menempatkannya di peringkat ke-147 orang terkaya dunia.
2. Prajogo Pangestu — USD17,2 Miliar (~Rp301,12 Triliun)

Prajogo memulai bisnisnya dari sektor kayu pada akhir 1970-an, sebelum melebarkan sayap ke petrokimia dan energi. Lewat Barito Pacific, ia mengakuisisi 70% saham Chandra Asri pada 2007, yang kini menjadi salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Ia juga punya eksposur ke sektor batu bara dan energi terbarukan lewat Petrindo Jaya Kreasi dan Barito Renewables Energy.
3. Robert Budi Hartono — USD16,8 Miliar (~Rp294,12 Triliun)

Bersama saudaranya, mendiang Michael Hartono, Budi Hartono membangun kekayaan dari kepemilikan mayoritas di Bank Central Asia (BCA) serta bisnis rokok Djarum. Kini, bisnis keluarga Hartono makin terdiversifikasi lewat Global Digital Niaga yang menaungi e-commerce Blibli, serta Polytron yang mulai merambah kendaraan listrik sejak 2025.
4. Anthoni Salim — USD11,3 Miliar (~Rp197,83 Triliun)

Anthoni Salim memimpin Salim Group, konglomerasi bisnis yang membentang dari makanan, ritel, perbankan, telekomunikasi, hingga energi. Grup ini menaungi Indofood, salah satu produsen mi instan terbesar dunia, serta punya kepentingan di berbagai sektor pertambangan dan energi Indonesia.
5. Tahir dan Keluarga — USD9,5 Miliar (~Rp166,32 Triliun)

Kekayaan keluarga Tahir bersumber dari Mayapada Group, yang bergerak di sektor perbankan, kesehatan, media, dan properti. Sebelum sukses di bisnis ini, Tahir sempat menggeluti bisnis dealer mobil dan garmen pada dekade 1980-an.
6. Sri Prakash Lohia — USD8,7 Miliar (~Rp152,31 Triliun)

Lohia membangun kekayaannya dari sektor pupuk dan polimer lewat Indorama Corp, perusahaan yang didirikannya bersama sang ayah pada era 1970-an sebagai produsen benang pintal, sebelum berkembang jadi produsen bahan baku industri berskala global.
7. Otto Toto Sugiri — USD8,4 Miliar (~Rp147,06 Triliun)

Berbeda dari kebanyakan nama di daftar ini, kekayaan Otto Toto Sugiri berasal dari bisnis pusat data (data center) lewat PT DCI Indonesia Tbk, yang ia dirikan pada 2011. Sebelumnya, ia juga mendirikan Sigma Cipta Caraka (kini Telkomsigma) dan ikut membangun Indonet, salah satu penyedia jasa internet pertama di Indonesia.
8. Marina Budiman — USD6 Miliar (~Rp105,04 Triliun)

Marina Budiman adalah satu-satunya perempuan dalam daftar 10 besar ini. Ia salah satu pendiri sekaligus Presiden Komisaris DCI Indonesia, yang didirikannya bersama Otto Toto Sugiri pada 2011. Kehadiran Marina dan Otto di jajaran orang terkaya menandai makin pentingnya sektor infrastruktur digital dalam peta kekayaan Indonesia.
9. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono — USD4,9 Miliar (~Rp85,78 Triliun)

Keluarga Lim mengendalikan bisnis di sektor perkebunan kelapa sawit lewat Bumitama Agri, serta pertambangan bauksit dan pengolahan nikel lewat Harita Group. Salah satu anak usahanya, Trimegah Bangun Persada, melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2023 dan berhasil menghimpun dana sekitar USD650 juta lewat penawaran umum perdana.
10. Theodore Rachmat — USD4,9 Miliar (~Rp85,78 Triliun)

Theodore Rachmat mendirikan Triputra Group pada 1998, yang kini memiliki bisnis di sektor pertanian, manufaktur, dan pertambangan. Ia juga memegang saham minoritas di perusahaan batu bara Alamtri Resources Indonesia (dulu bernama Adaro Energy).
Baca juga: Pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto, Adalah Orang Terkaya Ke-11 di Dunia
Kenapa Peringkatnya Bisa Berubah-Ubah?
Daftar Forbes Real-Time Billionaires ini sifatnya dinamis, bukan angka tetap. Nilai kepemilikan di perusahaan publik diperbarui tiap lima menit selama jam bursa saham terkait dibuka, dengan jeda data harga saham sekitar 15 menit. Sementara itu, kekayaan yang bersumber dari perusahaan privat baru diperbarui sekali sehari.
Karena itu, pergerakan harga saham bisa langsung mengubah posisi seseorang dalam daftar ini. Sepanjang 2026 saja, posisi puncak sempat berpindah-pindah antara Low Tuck Kwong dan Prajogo Pangestu tergantung performa saham masing-masing grup usaha mereka.
Baca juga: 10 Daftar Orang Terkaya di Dunia dan Sumber Kekayaannya
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Daftar Ini?
Kalau diperhatikan, sebagian besar kekayaan nama-nama di atas nggak dibangun dari gaji bulanan, melainkan dari kepemilikan aset dan bisnis dalam jangka panjang baik lewat saham perusahaan yang mereka dirikan sendiri, maupun ekspansi ke sektor-sektor baru yang lagi bertumbuh, seperti pusat data.
Meski skalanya jelas beda jauh dari kita sebagai investor ritel, prinsip dasarnya sebenarnya bisa dipelajari, yakni memiliki aset produktif dalam jangka panjang, daripada hanya mengandalkan pendapatan aktif semata.
Salah satu cara paling realistis untuk mulai menerapkannya adalah lewat instrumen investasi yang lebih terjangkau dan mudah diakses, seperti saham, emas digital, atau kripto.
Kalau kamu tertarik mulai membangun aset investasi dari sekarang, Nanovest menyediakan akses ke berbagai instrumen dalam satu aplikasi, mulai dari saham Amerika Serikat, aset kripto, hingga emas digital, sesuai dengan tujuan dan profil risiko finansialmu.
Tak perlu modal besar seperti para konglomerat di atas, yang penting adalah mulai membangun kebiasaan berinvestasi secara konsisten.
Ingat, setiap instrumen investasi memiliki risikonya masing-masing, jadi pastikan kamu memahami produknya dan menyesuaikan dengan kemampuan finansialmu sebelum memutuskan berinvestasi.
Investasi di Berbagai Aset dalam Satu Aplikasi
Akses saham Amerika, emas, dan kripto melalui Nanovest.
Kesimpulan
Daftar 10 orang terkaya Indonesia versi Forbes ini menunjukkan betapa besar dan beragamnya sumber kekayaan yang bisa dibangun dari berbagai sektor, mulai dari energi tradisional seperti batu bara, sampai sektor yang baru berkembang seperti pusat data. Meski peringkatnya terus berubah mengikuti pasar, satu hal yang konsisten: kekayaan besar ini pada dasarnya dibangun dari kepemilikan aset dan bisnis jangka panjang, bukan sekadar pendapatan sesaat.
FAQ
Siapa orang terkaya di Indonesia saat ini menurut Forbes?
Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires per 9 September 2026, Low Tuck Kwong menempati posisi teratas dengan kekayaan sekitar USD18,8 miliar atau setara Rp329,13 triliun.
Dari sektor apa saja sumber kekayaan 10 orang terkaya Indonesia?
Sumber kekayaannya tersebar dari sektor batu bara, petrokimia, perbankan, pusat data, perkebunan kelapa sawit, hingga pertambangan nikel dan bauksit.
Kenapa peringkat orang terkaya Indonesia bisa berubah-ubah?
Karena Forbes menghitung kekayaan secara real-time berdasarkan nilai kepemilikan saham di perusahaan publik, yang diperbarui setiap lima menit selama bursa saham buka. Pergerakan harga saham otomatis mengubah nilai kekayaan dan posisi para konglomerat ini.
Berapa total kekayaan 10 orang terkaya di Indonesia?
Total kekayaan 10 orang terkaya Indonesia versi Forbes per 9 September 2026 mencapai sekitar USD111,4 miliar, atau sekitar Rp1.950,28 triliun.
Apakah data kekayaan miliarder ini akurat sepenuhnya?
Data Forbes merupakan estimasi berdasarkan kepemilikan saham dan aset yang bisa dilacak publik, sehingga bisa berbeda dari kekayaan riil yang sebenarnya, terutama untuk aset privat yang nilainya tidak diperbarui secara real-time.






