Pernah melihat komentar “in this economy?” saat seseorang membahas harga barang, nongkrong di kafe, atau membeli barang mahal? Ungkapan ini sering muncul di media sosial untuk menggambarkan kondisi ketika pengeluaran perlu dipertimbangkan lebih matang.
Tren in this economy juga berkaitan dengan kebiasaan mengatur keuangan. Di tengah berbagai kebutuhan, seseorang perlu menentukan prioritas agar tetap bisa menikmati hidup tanpa mengabaikan kondisi finansial.
Lantas, apa arti in this economy dan bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Sih Maksud In This Economy?
In this economy secara harfiah berarti “dalam kondisi ekonomi seperti ini”. Ungkapan ini populer di media sosial sebagai komentar terhadap situasi ekonomi yang membuat orang lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Contohnya, seseorang mungkin berkomentar “In this economy, beli kopi mahal setiap hari?” ketika melihat orang lain rutin membeli minuman yang harganya cukup tinggi.
Ungkapan ini biasanya digunakan untuk menyindir pengeluaran yang dianggap kurang perlu atau menunjukkan bahwa kondisi ekonomi saat ini membuat orang perlu lebih selektif dalam menggunakan uang.
Meski begitu, in this economy tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami kesulitan keuangan. Ungkapan ini juga bisa digunakan sebagai candaan ketika membahas harga kebutuhan, biaya hidup, atau kebiasaan belanja.
Kenapa Tren In This Economy Relate dengan Generasi Sekarang?
Tren ini mudah dipahami karena berkaitan dengan keputusan keuangan sehari-hari kalangan generasi saat ini.
Beberapa contoh situasi yang sering dikaitkan dengan tren in this economy antara lain:

- Naiknya Harga kebutuhan. Pengeluaran untuk makan, transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya perlu diperhitungkan.
- Keinginan banyak. Nongkrong, liburan, membeli gadget, dan mengikuti tren bisa membutuhkan biaya tambahan.
- Perlu menyiapkan masa depan. Orang juga perlu memikirkan tabungan, dana darurat, dan tujuan finansial jangka panjang.
- Tekanan media sosial. Melihat gaya hidup orang lain bisa mendorong membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan.
Bagaimana Kondisi Ekonomi Memengaruhi Kebiasaan Belanja?
Kondisi ekonomi dapat memengaruhi cara seseorang menggunakan uang, mulai dari membeli kebutuhan sehari-hari hingga menentukan anggaran hiburan. Ketika harga barang dan jasa naik, sebagian orang perlu menyesuaikan pengeluaran agar pendapatan tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Salah satu indikator yang bisa digunakan untuk melihat perubahan harga adalah inflasi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (year-on-year), sedangkan inflasi bulanan tercatat sebesar 0,30%. Artinya, secara umum, tingkat harga konsumen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, perubahan harga setiap barang bisa berbeda-beda.
Ketika harga kebutuhan meningkat, daya beli dapat tertekan jika pendapatan tidak ikut naik. Akibatnya, seseorang mungkin perlu mengurangi pengeluaran yang kurang prioritas, mencari alternatif yang lebih terjangkau, atau menunda pembelian barang yang belum dibutuhkan.
Meski begitu, kondisi ekonomi tidak selalu berarti masyarakat harus berhenti berbelanja. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2026 berada di level 118,1, masih dalam zona optimistis karena berada di atas 100. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini tercatat sebesar 107,5. Data ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap ekonomi bisa tetap optimistis meskipun ada perubahan harga.
Dalam konteks tren in this economy, situasi tersebut bisa membantu menjelaskan mengapa kebiasaan belanja dan pengeluaran sering menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Ungkapan ini digunakan secara humoris ketika seseorang merasa suatu pembelian terlalu mahal atau sulit dibenarkan dalam kondisi ekonomi saat ini. Namun, tren tersebut bukan bukti bahwa semua orang sedang mengalami kesulitan keuangan.
Karena itu, langkah yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan pengeluaran dengan kondisi masing-masing. Buat anggaran bulanan, dahulukan kebutuhan pokok dan kewajiban, lalu tentukan batas untuk hiburan maupun belanja tambahan. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati hidup tanpa mengabaikan tujuan keuangan jangka panjang.
Baca juga: Menabung atau Bayar Hutang Dulu? Mana yang Lebih Prioritas?
Manfaat Tren In This Economy untuk Keuangan

Jika disikapi dengan tepat, tren in this economy bisa mendorong kebiasaan finansial yang lebih baik.
1. Lebih Selektif dalam Berbelanja
Tidak semua barang yang menarik harus langsung dibeli. Sebelum bertransaksi, pertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, sesuai anggaran, dan bermanfaat dalam jangka panjang.
2. Lebih Sadar terhadap Pengeluaran
Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa menghabiskan sebagian pendapatan.
3. Membantu Menentukan Prioritas
Tren ini bisa menjadi pengingat untuk mendahulukan kebutuhan penting sebelum mengalokasikan uang untuk hiburan atau keinginan lainnya.
4. Mendorong Kebiasaan Menabung
Uang yang berhasil dihemat dapat dialihkan untuk tujuan finansial, seperti membangun dana darurat, menabung untuk membeli barang tertentu, atau mempersiapkan investasi sesuai kemampuan.
Baca juga: 8+ Cara Menabung dengan Gaji Kecil, Terbukti Efektif
Tips Hemat ala Prita Ghozie

Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie dikenal dengan pendekatan pembagian anggaran menjadi tiga pos, yaitu living, saving, dan playing. Pendekatan ini membantu membedakan biaya hidup, tabungan dan investasi, serta pengeluaran untuk bersenang-senang.
Dalam salah satu panduan pengaturan anggarannya, Prita menggunakan ilustrasi alokasi 50% untuk living, 30% untuk saving, dan 20% untuk playing. Persentase tersebut bisa menjadi titik awal, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan pendapatan dan kebutuhan masing-masing.
Berikut cara menerapkannya.
1. Bagi Uang ke Tiga Pos
Pisahkan pendapatan menjadi tiga kategori:
- Living: kebutuhan sehari-hari, seperti makan, tempat tinggal, transportasi, dan tagihan.
- Saving: tabungan, dana darurat, dan investasi sesuai tujuan serta profil risiko.
- Playing: hiburan, nongkrong, hobi, dan pengeluaran untuk menyenangkan diri sendiri.
Jika biaya hidup ternyata lebih besar dari 50% pendapatan, jangan memaksakan persentase tersebut. Utamakan kebutuhan wajib dan sesuaikan alokasi lainnya.
2. Evaluasi Pengeluaran Rutin
Coba periksa kembali transaksi selama satu bulan. Apakah ada biaya langganan yang jarang digunakan, terlalu sering memesan makanan, atau kebiasaan belanja impulsif?
Kamu tidak harus menghilangkan semua pengeluaran tersebut. Cukup pilih pengeluaran yang bisa dikurangi tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Baca juga: 6 Cara Cek Aplikasi Investasi yang Terdaftar di OJK
3. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Sebelum membeli barang, tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut memang diperlukan atau hanya ingin dimiliki karena sedang tren.
Jika masih ragu, tunda pembelian selama beberapa hari. Cara sederhana ini bisa membantu mengurangi keputusan belanja yang dilakukan secara impulsif.
4. Tetapkan Anggaran untuk Hiburan
Hidup hemat bukan berarti tidak boleh nongkrong, menonton film, atau membeli barang yang disukai. Kamu tetap bisa menikmati aktivitas tersebut selama anggarannya sudah diperhitungkan.
Misalnya, tentukan bujet hiburan bulanan atau dana liburan. Ketika anggaran tersebut habis, tunda pengeluaran tambahan sampai periode berikutnya.
5. Bangun Dana Darurat Sebelum Berinvestasi
Dana darurat berguna untuk menghadapi kebutuhan tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan. Mulailah menyisihkan uang secara bertahap sesuai kemampuan.
Nah, setelah kebutuhan utama dan dana darurat mulai tertata, kamu bisa mempertimbangkan investasi untuk tujuan keuangan tertentu.
Apakah In This Economy Berarti Harus Berhenti Menikmati Hidup?
Tidak. Tren in this economy bukan berarti kamu harus berhenti menikmati hidup atau merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang untuk hiburan.
Kuncinya adalah menyesuaikan pengeluaran dengan kondisi finansial. Jika kebutuhan utama sudah terpenuhi dan anggaran hiburan tersedia, menikmati kopi viral atau berlibur sesekali bukanlah masalah.
Tapi, jika pengeluaran untuk lifestyle-mu membuat tabungan terus terpakai, kamu perlu evaluasi prioritas keuanganmu.
Mulai Kelola Keuangan dan Kenali Pilihan Investasi
Jika kondisi keuangan sudah mendukung, kamu juga bisa mulai mempelajari berbagai pilihan investasi. Seperti emas digital saham luar negeri, hingga aset kripto yang memiliki potensi keuntungan sekaligus risiko fluktuasi harga yang tinggi.
Nanovest sebagai aplikasi investasi multi-aset yang terdaftar dan diawasi OJK menyediakan akses investasi mulai dari Rp5.000. Sebelum mulai, pelajari karakteristik aset, risikonya, serta ketentuan dan status perizinan platform yang berlaku.
Investasi di Berbagai Aset dalam Satu Aplikasi
Akses saham Amerika, emas, dan kripto terdaftar dan diawasi OJK melalui Nanovest.
Kesimpulan
In this economy adalah ungkapan yang digunakan untuk mengomentari kondisi ekonomi saat ini, terutama ketika seseorang perlu lebih selektif dalam mengeluarkan uang. Tren ini bisa menjadi pengingat untuk mengevaluasi kebiasaan belanja dan menentukan prioritas keuangan.
Salah satu cara menerapkannya adalah membagi anggaran untuk kebutuhan, tabungan dan investasi, serta hiburan. Dengan perencanaan yang sesuai kondisi pribadi, kamu tetap bisa menikmati hidup sambil mempersiapkan tujuan finansial di masa depan.
FAQ
Referensi +
- Tips Mudah Mengatur Cashflow Bulanan A la Prita Ghozie-Kumparan
- Survei Konsumen September 2026: Keyakinan Konsumen Tetap Terjaga-Bank Indonesia
- Inflasi year-on-year (y-on-y) pada September 2026 sebesar 3,28 persen.-BPS






