Ketika industri blockchain berlomba membawa aset dunia nyata ke jaringan digital, perlawanan justru datang dari beberapa perusahaan paling bernilai di dunia. Amazon, Tesla, dan SpaceX menjadi bagian dari gelombang emiten yang menolak perdagangan saham mereka dalam bentuk token digital.
Perkembangan ini menjadi pukulan bagi narasi besar tokenisasi saham, sebuah konsep yang selama beberapa tahun terakhir dipromosikan sebagai jembatan antara pasar modal tradisional dan ekosistem blockchain. Di atas kertas, teknologi ini menjanjikan perdagangan 24 jam, penyelesaian transaksi lebih cepat, serta akses investasi yang lebih luas. Namun di dunia nyata, dukungan dari perusahaan penerbit saham ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Bagi investor, kasus ini memperlihatkan bahwa masa depan saham token tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi dan regulasi, tetapi juga oleh kemauan perusahaan publik untuk menerima model perdagangan baru di luar pasar saham tradisional.
Tokenisasi Saham Hadapi Ujian Terbesar
Selama ini tokenisasi saham dipandang sebagai salah satu sektor paling menjanjikan dalam perkembangan aset dunia nyata atau real-world assets (RWA). Konsepnya sederhana: saham perusahaan yang diperdagangkan di pasar modal direpresentasikan dalam bentuk token digital yang dapat diperdagangkan melalui infrastruktur blockchain.
Pendukung tokenisasi saham percaya model ini dapat membuat pasar lebih efisien. Investor berpotensi memperoleh akses perdagangan yang lebih fleksibel, proses penyelesaian transaksi yang lebih cepat, serta peluang partisipasi yang lebih luas dibanding sistem pasar modal konvensional.
Namun, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting bagi para emiten: apakah mereka nyaman ketika saham perusahaan diperdagangkan dalam bentuk token yang diterbitkan pihak ketiga?
Pertanyaan tersebut kini menjadi salah satu isu utama dalam perkembangan pasar saham token global.
Amazon, Tesla, dan SpaceX Menambah Daftar Penolakan
Amazon, Tesla, SpaceX, Netflix, SoFi Technologies, dan Lam Research menjadi perusahaan terbaru yang menyampaikan keberatan terhadap perdagangan saham token. Dengan tambahan tersebut, jumlah perusahaan yang telah mengajukan keberatan mencapai 56 emiten.
Penolakan terbaru ini juga mempertegas bertambahnya jumlah perusahaan besar yang memilih menjauh dari perdagangan saham token. Sebelumnya, sejumlah nama besar seperti Microsoft, Alphabet, Nvidia, Walmart, Costco, dan Nike juga tercatat mengajukan keberatan terhadap skema serupa.
Dari 62 perusahaan yang tercantum dalam daftar awal perdagangan, sebanyak 49 perusahaan atau sekitar 79% telah menyatakan penolakan. Selain itu, terdapat tujuh perusahaan lain di luar daftar awal yang juga ikut mengajukan keberatan.
Lonjakan jumlah penolakan tersebut menunjukkan bahwa tokenisasi saham masih menghadapi resistensi yang cukup kuat dari banyak perusahaan publik di Amerika Serikat. Mayoritas emiten yang menjadi target perdagangan saham token memilih untuk tidak terlibat dalam tahap awal eksperimen pasar baru tersebut.
Bagi pasar, perkembangan ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar tokenisasi saham saat ini bukan lagi teknologi blockchain, melainkan bagaimana memperoleh dukungan dari perusahaan yang sahamnya menjadi aset dasar dari produk tersebut.
Bukan Menolak Blockchain, tetapi Menjaga Kendali
Penolakan ini tidak serta-merta berarti perusahaan-perusahaan tersebut menolak teknologi blockchain.
Sebaliknya, banyak pihak melihat langkah tersebut lebih berkaitan dengan persoalan kendali atas bagaimana saham perusahaan direpresentasikan dan diperdagangkan di luar infrastruktur pasar modal yang selama ini digunakan.
Bagi perusahaan publik, keberadaan token yang merepresentasikan saham mereka dapat memunculkan berbagai pertimbangan, mulai dari likuiditas pasar, persepsi investor, hingga pengaruhnya terhadap perdagangan saham utama di bursa tradisional.
Karena itu, penolakan terhadap tokenisasi saham lebih mencerminkan sikap hati-hati dibanding penolakan terhadap teknologi blockchain itu sendiri.
Masih Ada 13 Emiten yang Belum Menentukan Sikap
Meski jumlah penolakan terus bertambah, masih terdapat 13 perusahaan dari daftar awal yang belum memiliki keberatan yang dipublikasikan. Beberapa nama yang termasuk dalam kelompok tersebut antara lain Apple, Coinbase, Robinhood, Palantir, Circle, Boeing, Home Depot, dan ServiceNow.
Namun, tidak adanya keberatan yang dipublikasikan tidak dapat dianggap sebagai persetujuan terhadap tokenisasi saham. Hingga saat ini belum ada indikasi publik bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mendukung perdagangan saham token.
Karena tenggat waktu respons berbeda untuk setiap perusahaan, daftar penolakan masih berpotensi bertambah dalam waktu dekat.
Bagaimana Perdagangan Saham Token Bekerja?
Dalam model tokenisasi saham, investor memperdagangkan versi digital dari saham perusahaan menggunakan teknologi blockchain. Pendukung model ini berargumen bahwa sistem tersebut dapat menghadirkan perdagangan yang lebih fleksibel, akses yang lebih luas, serta proses transaksi yang lebih efisien dibanding mekanisme pasar tradisional.
Investor juga dapat memperoleh akses perdagangan yang lebih panjang dibanding jam operasional bursa konvensional, sementara proses penyelesaian transaksi berpotensi dilakukan lebih cepat melalui infrastruktur blockchain.
Meski demikian, keberhasilan model saham token sangat bergantung pada ketersediaan emiten yang bersedia sahamnya direpresentasikan dalam bentuk token digital.
Tanpa kehadiran nama-nama besar seperti Tesla, Amazon, atau Netflix, daya tarik pasar saham token berpotensi berkurang secara signifikan.
Masa Depan Tokenisasi Saham Masih Dipertanyakan
Meski menghadapi penolakan dari sejumlah perusahaan besar, bukan berarti tren tokenisasi saham akan berhenti. Industri blockchain dan sektor RWA masih terus berkembang seiring meningkatnya minat terhadap digitalisasi aset keuangan.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa inovasi teknologi saja belum cukup untuk mendorong adopsi massal. Dukungan dari pemilik aset, kejelasan regulasi, dan kepercayaan pasar tetap menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah model investasi baru.
Bagi investor, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa transformasi pasar keuangan menuju era blockchain kemungkinan akan berlangsung lebih lambat dan kompleks dibanding ekspektasi awal.
Masa depan tokenisasi saham masih menjanjikan, tetapi jalannya tampaknya tidak akan semulus yang dibayangkan banyak pihak. Sampai perusahaan-perusahaan besar merasa nyaman dengan model perdagangan baru ini, adopsi saham token kemungkinan akan bergerak lebih lambat dari harapan industri.
Referensi +
- Amazon, Tesla and SpaceX Join OKX–ICE Tokenized Stock Objections as Deadline Looms - CoinDesk
- Elon Musk’s Tesla and SpaceX Block Their Stock From OKX-ICE Tokenized Venue






