Wall Street sedang berada dalam posisi yang menarik.
Di satu sisi, musim laporan keuangan kuartal kedua menunjukkan bahwa bisnis perusahaan Amerika Serikat masih jauh dari kata lemah. Berdasarkan pembaruan FactSet per 7 Agustus, sekitar 88% perusahaan S&P 500 telah melaporkan kinerja Q2 dan 86% di antaranya mencetak EPS di atas estimasi. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata lima tahun sebesar 78% maupun rata-rata sepuluh tahun sebesar 76%.
Di sisi lain, harga aset juga sudah bergerak cukup jauh. Berdasarkan market performance per 11 Agustus 2026, S&P 500 memang terkoreksi tipis 0,06% dalam sehari, tetapi masih menguat 3,31% dalam sepekan. Nasdaq turun 0,32% secara harian, tetapi mencatat kenaikan mingguan lebih tinggi sebesar 4,53%.
Artinya, investor masih memiliki appetite terhadap risiko. Namun setelah reli yang kuat dan earnings yang berkali-kali melampaui ekspektasi, standar yang diberikan pasar juga ikut meningkat.
Sekarang, sekadar mencetak pertumbuhan mungkin tidak lagi cukup. Pertanyaan yang semakin relevan adalah: berapa besar biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan pertumbuhan tersebut?
Dan lebih penting lagi, apakah pertumbuhan itu akhirnya menghasilkan nilai bagi pemegang saham?
Earnings Kuat Mengubah Standar Permainan
Musim earnings kali ini memberikan gambaran yang cukup konstruktif mengenai kondisi korporasi Amerika.
Data FactSet menunjukkan persentase perusahaan yang mengalahkan estimasi EPS berada jauh di atas rata-rata historis. Seeking Alpha juga mencatat bahwa dari salah satu kelompok 133 perusahaan S&P 500 yang melapor, 114 perusahaan atau sekitar 86% melampaui estimasi EPS dan 79% membukukan pertumbuhan laba dibanding tahun sebelumnya.
Angka tersebut penting karena menunjukkan bahwa reli Wall Street tidak sepenuhnya berdiri di atas ekspektasi. Perusahaan memang menghasilkan pertumbuhan. Namun ketika sebagian besar perusahaan sudah mampu melampaui estimasi, standar keberhasilan ikut berubah.
Sebuah perusahaan tidak lagi hanya dibandingkan dengan ekspektasi analis. Pasar mulai membandingkan kecepatan pertumbuhan, kualitas pendapatan, margin keuntungan, kebutuhan modal, hingga kemampuan menghasilkan arus kas.
Di sinilah musim earnings menjadi jauh lebih menarik. Dua perusahaan bisa sama-sama mencetak pertumbuhan pendapatan tinggi, tetapi kualitas pertumbuhannya belum tentu sama.
Palantir dan Cloudflare: Ketika AI Mulai Terlihat di Angka
Palantir (PLTR) menjadi salah satu contoh paling mencolok. Pendapatan Q2 mencapai sekitar US$1,94 miliar, melonjak 93% dibanding tahun sebelumnya. Bisnis komersial AS bahkan tumbuh 149% YoY. Perusahaan kemudian menaikkan proyeksi pendapatan sepanjang 2026 menjadi sekitar US$8,15-8,158 miliar.
Angka tersebut penting karena memperlihatkan bahwa permintaan terhadap solusi AI mulai diterjemahkan menjadi kontrak dan pendapatan dalam skala besar.
Cloudflare (NET) menawarkan cerita yang berbeda tetapi menuju kesimpulan serupa. Perusahaan membukukan revenue Q2 sebesar US$696,1 juta, naik 36% YoY. Current remaining performance obligations (RPO), yang dapat memberikan gambaran mengenai pendapatan kontraktual yang belum diakui, juga tumbuh 35% YoY.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bagaimana peningkatan penggunaan AI tidak hanya menguntungkan perusahaan yang membuat model atau chip. Infrastruktur internet, keamanan, dan komputasi yang menopang lalu lintas AI juga ikut memperoleh manfaat.
Palantir dan Cloudflare menunjukkan bahwa AI memang mulai menghasilkan revenue. Namun hal tersebut membawa investor menuju pertanyaan berikutnya: Seberapa efisien perusahaan menghasilkan revenue tersebut?
Berkshire Menawarkan Perspektif yang Hampir Berlawanan
Menariknya, salah satu perkembangan penting minggu ini justru datang dari perusahaan yang sangat jauh dari citra startup AI: Berkshire Hathaway (BRK.B).
Perusahaan membukukan kenaikan operating earnings pada Q2, kembali melakukan buyback saham sekitar US$4,5 miliar, dan menjadi net buyer saham setelah lama lebih banyak melepas kepemilikan ekuitas. Saham Berkshire ikut menguat setelah laporan tersebut.
Perubahan yang lebih menarik terjadi pada cara Berkshire menggunakan modalnya. Perusahaan mengerahkan dana untuk membeli saham dalam jumlah besar, termasuk investasi sekitar US$10 miliar di Alphabet, sekaligus meningkatkan pembelian kembali saham Berkshire sendiri. Cash position perusahaan juga turun seiring meningkatnya aktivitas investasi.
Berkshire tentu memiliki profil bisnis yang sangat berbeda dengan Palantir atau Cloudflare. Justru karena itulah perbandingannya menarik. Di tengah pasar yang sangat fokus mengejar pertumbuhan AI, Berkshire menunjukkan sisi lain dari investasi: alokasi modal (capital allocation).
Perusahaan tidak harus tumbuh 80% atau 100% untuk menciptakan nilai. Pertumbuhan nilai juga dapat datang melalui laba operasional, pembelian kembali saham pada valuasi yang dianggap menarik, akuisisi, atau penempatan modal pada perusahaan lain yang menawarkan return jangka panjang.
Keputusan Berkshire menempatkan modal besar pada Alphabet juga menunjukkan bahwa investor yang identik dengan disiplin valuasi tidak sepenuhnya menghindari tema teknologi dan AI. Perbedaannya terletak pada cara mendapatkan eksposur tersebut.
Saham yang Layak Diperhatikan
Palantir (PLTR) —Cek PLTR
Palantir berhasil menunjukkan bahwa permintaan AI dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis yang sangat tinggi.
Revenue Q2 naik 93% YoY menjadi sekitar US$1,94 miliar, sementara bisnis komersial AS melonjak 149%. Kenaikan outlook 2026 semakin memperkuat optimisme terhadap bisnisnya.
Namun semakin tinggi pertumbuhannya, semakin tinggi pula standar yang diberikan pasar untuk mempertahankan valuasi premium.
Cloudflare (NET) —Cek NET
Cloudflare menjadi contoh menarik perusahaan yang memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas internet dan AI tanpa harus berada di pusat perlombaan GPU.
Revenue Q2 tumbuh 36% YoY menjadi US$696,1 juta, sementara current RPO naik 35%. Kombinasi pertumbuhan pelanggan besar dan permintaan terhadap infrastrukturnya membuat Cloudflare menjadi salah satu nama yang layak diperhatikan dalam ekspansi digital berbasis AI.
Berkshire Hathaway (BRK.B) —Cek BRK.B
Berkshire menawarkan profil yang berbeda. Kinerja operasional yang solid, buyback US$4,5 miliar, serta kembalinya perusahaan menjadi net buyer saham menunjukkan bahwa modal yang selama ini tersimpan mulai kembali dikerahkan.
Keputusan menempatkan sekitar US$10 miliar pada Alphabet juga menarik karena menunjukkan bagaimana Berkshire memilih memperoleh eksposur terhadap salah satu perusahaan yang berada di pusat investasi AI tanpa mengejar seluruh saham yang sedang menikmati hype teknologi.
Apa Artinya bagi Investor?
Musim earnings Q2 memberikan sinyal cukup jelas bahwa fundamental perusahaan Amerika secara agregat masih kuat. Namun bagi investor, angka pertumbuhan saja tidak menceritakan keseluruhan cerita.
Ketika mengevaluasi perusahaan bertumbuh, beberapa pertanyaan menjadi semakin penting:
Apakah pertumbuhan revenue ikut memperbaiki margin? Berapa banyak capex yang dibutuhkan untuk mempertahankannya? Apakah perusahaan menghasilkan free cash flow atau masih bergantung pada utang dan pembiayaan eksternal? Dan apakah harga saham saat ini sudah memasukkan sebagian besar pertumbuhan tersebut?
Pertanyaan terakhir menjadi semakin relevan ketika risk appetite masih tinggi.
Market performance menunjukkan S&P 500 +3,31% dalam sepekan dan Nasdaq +4,53%. Indeks memang mengalami konsolidasi tipis secara harian, tetapi belum menunjukkan perubahan besar dalam appetite terhadap aset berisiko.
Kondisi seperti ini dapat menjadi lingkungan yang mendukung saham bertumbuh. Namun semakin tinggi harga bergerak, semakin besar pula kebutuhan bagi fundamental perusahaan untuk mengejar ekspektasi yang sudah tertanam dalam valuasi.
Kesimpulan Strategi
Musim earnings kali ini memperlihatkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar banyaknya perusahaan yang berhasil mengalahkan estimasi. Pertumbuhan masih ada. Bahkan di beberapa bagian pasar, pertumbuhannya sangat tinggi.
Tetapi fase berikutnya kemungkinan akan lebih banyak berbicara mengenai harga dan kualitas pertumbuhan tersebut.
Palantir menunjukkan bagaimana AI dapat mendorong revenue dengan sangat cepat. Cloudflare memperlihatkan peluang dari infrastruktur digital yang menopang penggunaan AI. Berkshire, dari sisi yang sangat berbeda, mengingatkan bahwa kemampuan mengalokasikan modal secara disiplin juga merupakan mesin penciptaan nilai.
Bagi investor, perbedaan tersebut penting. Perusahaan dengan pertumbuhan revenue tertinggi belum tentu menghasilkan return investasi terbaik apabila pertumbuhan tersebut membutuhkan utang, capex, atau dilusi yang terlalu besar. Sebaliknya, perusahaan dengan pertumbuhan lebih moderat dapat menciptakan nilai lebih besar apabila mampu menghasilkan arus kas dan mengalokasikannya secara efektif.
Karena itu, setelah earnings membuktikan bahwa bisnis Amerika masih kuat, pertanyaan berikutnya adalah: berapa mahal pertumbuhan tersebut diperoleh, dan berapa mahal investor harus membayar untuk memilikinya?
Untuk insight dan strategi investasi lainnya, kunjungi nanovest.io/blog/.
Disclaimer: Artikel ini dibuat semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi. Informasi yang disampaikan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau penawaran, atau saran investasi untuk membeli maupun menjual instrumen keuangan tertentu. Investasi mengandung risiko. Pastikan kamu memahami karakteristik produk dan risikonya (Do Your Own Research/DYOR) sebelum berinvestasi. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Referensi +
- FactSet – S&P 500 Earnings Season Update, August 7, 2026
- Seeking Alpha – Earnings Scoreboard: 86% of S&P 500 firms top EPS estimates
- Palantir Investor Relations – Q2 2026 Results
- Cloudflare Investor Relations – Q2 2026 Financial Results
- Seeking Alpha – Berkshire Hathaway Q2 Results
- Reuters – Berkshire accelerates buybacks and capital deployment






