Selama beberapa tahun terakhir, perlombaan AI memiliki satu arah yang cukup jelas: lebih cepat, lebih besar, dan lebih canggih.
Perusahaan teknologi berlomba membangun model dengan kemampuan lebih tinggi. Data center diperbesar. Permintaan chip melonjak. Modal dalam jumlah besar mengalir untuk memastikan perusahaan tidak tertinggal dari kompetitor.
Sekarang, muncul pertanyaan baru dari orang-orang yang justru berada di garis depan perlombaan tersebut: Perlukah AI terus berkembang secepat ini?
Sam Altman mengatakan pengembangan frontier AI perlu dilakukan secara hati-hati, bukan dihentikan. Ia juga menyatakan OpenAI tidak akan melakukan IPO tahun ini dan menilai langkah tersebut belum tepat pada tahap perkembangan perusahaan saat ini.
Dario Amodei dari Anthropic bahkan menyampaikan bahwa laju peningkatan kemampuan model AI sebaiknya diperlambat agar risiko yang muncul dapat ditangani dengan lebih baik.
Komentar tersebut belum berarti industri AI benar-benar menginjak rem secara serentak. Namun bagi investor, munculnya pandangan serupa dari dua pemimpin perusahaan AI besar tetap menarik karena menunjukkan sesuatu yang lebih fundamental: perlombaan AI mulai menghadapi batas yang tidak sepenuhnya bersifat teknologi.
Selama ini, investor banyak membicarakan apakah industri memiliki cukup GPU, listrik, data center, dan modal untuk memenuhi pertumbuhan AI. Sekarang ada bottleneck lain yang mulai layak masuk perhitungan: seberapa cepat teknologi tersebut dapat dikembangkan dan diterapkan tanpa membuat risikonya ikut berkembang lebih cepat.
Dari “Siapa Paling Cepat?” Menjadi “Seberapa Cepat Masih Masuk Akal?”
Perubahan tersebut penting karena ekspektasi merupakan bagian besar dari valuasi saham AI. Ketika pasar percaya penggunaan AI akan berkembang sangat cepat, investor bersedia membayar lebih mahal untuk perusahaan yang diperkirakan menjadi penerima manfaatnya.
Logikanya sederhana. Semakin cepat AI berkembang, semakin besar kebutuhan terhadap chip, cloud, networking, data center, software, dan berbagai infrastruktur pendukung. Tetapi jika perkembangan model frontier mulai dilakukan dengan lebih hati-hati, garis pertumbuhannya mungkin tidak lagi sesederhana itu.
Ini bukan berarti belanja AI otomatis berhenti. Perusahaan tetap membutuhkan komputasi. Model yang sudah tersedia tetap dapat diterapkan ke berbagai bisnis. Data center yang sedang dibangun juga tidak tiba-tiba kehilangan kegunaannya.
Yang dapat berubah adalah kecepatan ekspektasi. Dan bagi saham yang valuasinya sudah memasukkan asumsi pertumbuhan sangat agresif, perubahan kecil terhadap ekspektasi tersebut dapat memiliki efek yang jauh lebih besar terhadap harga saham.
Dengan kata lain, investor mungkin perlu mulai membedakan dua hal yang selama ini sering dianggap sama: perkembangan kemampuan AI dan pertumbuhan penggunaan AI. Model frontier bisa berkembang lebih lambat, sementara adopsi model yang sudah ada justru terus meningkat. Dan jika itu yang terjadi, pemenangnya juga bisa berbeda.
AI Melambat Bukan Berarti Ekosistemnya Berhenti
Ini mungkin menjadi bagian paling menarik dari perubahan narasi tersebut.
Bayangkan industri otomotif. Produsen tidak harus menciptakan mesin yang dua kali lebih cepat setiap tahun agar industri asuransi, bengkel, jalan tol, atau sistem keselamatan tetap memiliki bisnis.
AI bisa memasuki fase yang mirip. Jika fokus mulai bergeser dari terus mengejar kemampuan model menuju menggunakan teknologi yang sudah ada secara luas, aman, dan efisien, nilai ekonomi dapat bergerak ke lapisan yang berbeda.
Software enterprise dapat mengintegrasikan AI. Perusahaan membutuhkan pengelolaan data. Infrastruktur tetap perlu dijalankan. Dan semakin banyak AI masuk ke proses bisnis, semakin besar pula permukaan digital yang perlu diamankan.
Di sinilah cybersecurity atau keamanan siber menjadi menarik, karena semakin luas penggunaan AI, semakin kompleks pula lingkungan keamanan yang harus dijaga.
CrowdStrike dan “Biaya Keamanan” dari Era AI
CrowdStrike (CRWD) melonjak sekitar 14,5% ketika pasar secara keseluruhan justru melemah. Cybersecurity menjadi salah satu tema yang semakin relevan ketika perkembangan AI membuat ancaman digital ikut semakin kompleks.
Pergerakan satu hari tentu tidak cukup untuk membuktikan tesis investasi jangka panjang.
Namun konteksnya menarik. Selama fase awal booming AI, sebagian besar perhatian investor tertuju pada perusahaan yang menyediakan kemampuan untuk membangun AI: semikonduktor, server, networking, cloud, dan data center.
Fase berikutnya bisa memperbesar perhatian terhadap perusahaan yang menyediakan kemampuan untuk menggunakan AI dengan aman. Ketika perusahaan menempatkan AI dalam customer service, coding, analisis data, operasi internal, hingga sistem yang menyimpan informasi sensitif, jumlah titik yang perlu diamankan ikut bertambah.
Ada lapisan operasional lain: siapa yang dapat mengakses sistem, bagaimana data digunakan, bagaimana ancaman dideteksi, dan bagaimana perusahaan mencegah teknologi baru menciptakan celah keamanan baru.
Jika pengembangan AI memang memasuki fase yang lebih berhati-hati, perusahaan cybersecurity dapat memperoleh relevansi bukan karena model AI terus menjadi semakin besar, melainkan karena AI yang sudah ada semakin banyak digunakan. Ini menciptakan tesis yang berbeda dari sekadar membeli perusahaan yang paling dekat dengan pembangunan model frontier.
Dari Capex AI ke Monetisasi AI?
Ada implikasi lain yang juga menarik. Jika frontier model tidak lagi harus berkembang dengan kecepatan maksimum, perhatian investor berpotensi bergeser dari pertanyaan: “Berapa banyak lagi yang harus dibangun?” menjadi: “Apa yang sebenarnya dihasilkan dari semua yang sudah dibangun?”
Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi mengeluarkan modal besar untuk GPU, data center, networking, dan kapasitas cloud.
Selama pertumbuhan kemampuan AI berlangsung sangat cepat, pengeluaran tersebut relatif mudah dibingkai sebagai perlombaan kapasitas: perusahaan harus terus membangun agar tidak tertinggal.
Fase pengembangan yang lebih terukur dapat membuat investor semakin menuntut bukti dari sisi penggunaan:
- Apakah AI meningkatkan produktivitas?
- Apakah pelanggan bersedia membayar?
- Apakah produk AI menghasilkan revenue baru?
- Apakah investasi data center menghasilkan return yang sebanding dengan modal yang dikeluarkan?
Ini bukan berarti capex AI akan langsung turun, tetapi perubahan narasi dari kecepatan menuju responsible development dapat mengubah jenis pertanyaan yang diberikan investor kepada perusahaan.
Dan itu penting bagi valuasi.
Minyak dan Yield Membuat “Kecepatan” Semakin Mahal
Perubahan tersebut juga datang pada waktu yang menarik. Harga minyak naik lebih dari 3% setelah Arab Saudi menutup pipeline penting yang selama ini menjadi salah satu jalur alternatif Selat Hormuz. Pada saat yang sama, yield Treasury AS tenor 10 tahun masih berada sekitar 4,94% dan tenor 30 tahun 5,32%.
Industri AI tidak sedang mengevaluasi kecepatan pertumbuhan dalam lingkungan modal yang murah.
Yield yang tinggi membuat biaya modal tetap mahal. Richard Saperstein dari Treasury Partners mengaitkan tekanan tersebut dengan inflasi yang masih sulit turun, defisit anggaran yang besar, dan ketidakpastian harga minyak.
Bagi perusahaan yang membutuhkan investasi besar, kombinasi tersebut membuat pertanyaan mengenai return dari capex semakin relevan. Semakin mahal modal, semakin tinggi pula standar terhadap hasil yang harus diberikan sebuah investasi.
Karena itu, “AI slowdown” memiliki dua dimensi. Pertama adalah kecepatan teknologi, yaitu apakah kemampuan model frontier perlu berkembang lebih terukur. Kedua adalah disiplin ekonomi, yaitu apakah perusahaan dapat terus membenarkan belanja AI dalam jumlah sangat besar ketika biaya modal tetap tinggi.
Dua faktor tersebut dapat membuat fase berikutnya dari AI terlihat berbeda dibandingkan beberapa tahun pertama booming-nya.
Saham yang Menarik Diperhatikan
Jika narasi teknologi memasuki periode evaluasi ulang, perusahaan dengan sumber pertumbuhan yang berasal dari ekonomi berbeda dapat membantu investor melihat peluang di luar satu tema besar.
Costco (COST) —Cek COST
Costco membukukan revenue Q3 FY2026 sebesar US$70,53 miliar, naik 11,6% YoY. Penjualan digital melonjak 21,5%, sementara secara TTM perusahaan menghasilkan revenue US$293,59 miliar dan net income US$8,84 miliar.
Kekuatan Costco berasal dari sesuatu yang relatif sederhana: membership, skala, harga, dan loyalitas pelanggan.
Levered free cash flow sekitar US$6,95 miliar dan ROE 29,15% menunjukkan bisnis tetap mampu menghasilkan kas. Namun kualitas tersebut sudah dihargai mahal. P/E TTM sekitar 45,51x dan forward P/E 40,32x membuat valuasi menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
COST menawarkan diversifikasi sumber pertumbuhan dari AI.
Disney (DIS) —Cek DIS
Disney menawarkan cerita berbeda yang secara konseptual justru cukup relevan dengan fase AI berikutnya: monetisasi.
Revenue Q3 FY2026 mencapai US$25,25 miliar dengan laba bersih sekitar US$2,64 miliar. Entertainment, Streaming, dan Experiences menjadi motor penting bisnis, sementara secara TTM Disney menghasilkan net income US$8,60 miliar dan levered free cash flow US$4,86 miliar.
Disney tidak membutuhkan model AI yang semakin canggih setiap beberapa bulan untuk mempertahankan tesis pertumbuhannya. Perusahaan perlu membuat aset konten, streaming, intellectual property, dan Experiences yang sudah dimiliki menghasilkan uang secara lebih efisien.
Risikonya tetap ada pada persaingan streaming, biaya konten, dan sensitivitas belanja konsumen. Namun dengan forward P/E sekitar 14,24x, profil valuasinya berbeda jauh dibandingkan sebagian perusahaan growth berharga premium.
Home Depot (HD) —Cek HD
Home Depot berada pada cerita ekonomi yang berbeda lagi. Revenue Q2 2026 mencapai US$47,9 miliar, tumbuh 5,7% YoY, dengan laba bersih US$4,8 miliar. Comparable sales meningkat 1,7%, memberikan indikasi awal bahwa permintaan home improvement mulai membaik.
Bagi HD, katalis utamanya bukan kecepatan perkembangan AI, melainkan perbaikan renovasi rumah, pertumbuhan pelanggan Pro, dan pada akhirnya kondisi pasar perumahan.
Namun yield yang masih tinggi juga membuat saham ini menarik untuk dipantau dari sisi risiko. Selama biaya pembiayaan tetap mahal, pemulihan housing dapat berlangsung lebih lambat. Sebaliknya, perubahan siklus suku bunga dapat membuka kembali permintaan yang sebelumnya tertunda.
HD dengan demikian memberikan eksposur terhadap pemulihan siklus ekonomi.
Apa yang Perlu Dipantau Investor Selanjutnya?
Hal pertama adalah apakah komentar Altman dan Amodei berkembang menjadi perubahan nyata dalam industri.
Komentar eksekutif belum sama dengan perlambatan investasi. Investor perlu melihat apakah perusahaan AI benar-benar mengubah roadmap model, jadwal deployment, atau rencana belanja infrastrukturnya.
Kedua, perhatikan capex versus monetisasi.
Jika belanja data center tetap tinggi sementara pertumbuhan produk AI mulai melambat, pertanyaan mengenai return on investment akan menjadi semakin penting. Sebaliknya, jika adopsi dan revenue AI terus tumbuh meskipun perkembangan frontier model lebih terukur, slowdown justru dapat menunjukkan industri mulai memasuki fase yang lebih matang.
Ketiga adalah cybersecurity.
CrowdStrike memberikan satu contoh bagaimana perusahaan yang berada di lapisan keamanan dapat memperoleh relevansi ketika penggunaan AI semakin luas. Namun lonjakan satu hari sebesar 14,5% tetap perlu dipisahkan dari tesis fundamental jangka panjang.
Keempat adalah biaya modal.
Yield Treasury jangka panjang yang tetap tinggi membuat perusahaan dengan kebutuhan capex besar harus menghasilkan return yang semakin kuat untuk membenarkan investasinya.
Dan terakhir, investor dapat melihat sumber pertumbuhan di luar AI. COST, DIS, dan HD menunjukkan bahwa membership, monetisasi konten, dan pemulihan housing tetap dapat menciptakan katalis yang sama sekali berbeda dari perlombaan model AI.
Untuk insight dan strategi investasi lainnya, kunjungi nanovest.io/blog/.
Disclaimer: Artikel ini dibuat semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi. Informasi yang disampaikan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau penawaran, atau saran investasi untuk membeli maupun menjual instrumen keuangan tertentu. Investasi mengandung risiko. Pastikan kamu memahami karakteristik produk dan risikonya (Do Your Own Research/DYOR) sebelum berinvestasi. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Referensi +
- Seeking Alpha
- Yahoo Finance






