Wall Street mengawali pekan terakhir Agustus sekaligus awal September dengan dua cerita yang saling berlawanan.
Di satu sisi, saham teknologi baru saja menikmati bulan yang kuat. Sektor teknologi S&P 500 naik hampir 6% sepanjang Agustus, didukung reli saham terkait artificial intelligence (AI). Nvidia (NVDA) menguat lebih dari 8% selama bulan tersebut, sementara Microsoft (MSFT) dan Micron Technology (MU) masing-masing naik sekitar 11% dan 13%.
Namun, sentimen berubah memasuki Senin (31/8). Serangan Amerika Serikat terhadap dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, kembali meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik Timur Tengah.
Futures Dow Jones turun sekitar 0,16%, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq-100 melemah sekitar 0,2%. Tekanan bahkan lebih besar terlihat di Asia, dengan KOSPI Korea Selatan sempat anjlok sekitar 3,5% dan Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 2%.
Harga minyak langsung merespons. Minyak mentah AS naik sekitar 2,1% ke US$85,14 per barel, sementara Brent menguat sekitar 2% ke US$89,90.
Dengan geopolitik kembali memanas, yield obligasi masih tinggi, dan data tenaga kerja segera dirilis, pertanyaan pasar pekan ini sederhana: apakah reli Agustus masih punya tenaga untuk berlanjut?
Konflik Iran Kembali Masuk Radar Wall Street
Risiko geopolitik menjadi katalis pertama yang perlu diperhatikan investor pekan ini.
Pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8). Menurut Komando Pusat AS, peluncur tersebut tengah dipersiapkan untuk membawa ranjau laut ke Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Perkembangan ini kembali menempatkan harga minyak dan risiko gangguan di Selat Hormuz sebagai perhatian pasar.
Reaksi awal terlihat jelas. Selain kenaikan minyak, pasar saham Asia dibuka melemah dan futures Wall Street bergerak ke zona merah. Jika ketegangan meningkat, investor berpotensi kembali memperhitungkan risiko kenaikan harga energi terhadap inflasi.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena inflasi masih menjadi salah satu pertimbangan utama Federal Reserve. Ketua The Fed Kevin Warsh pada Jumat lalu menilai data inflasi musim panas memang lebih baik dari perkiraan, tetapi belum cukup menunjukkan bahwa tren dasarnya telah membaik secara signifikan.
Jobs Report Jadi Faktor Berikutnya
Setelah geopolitik membuka perdagangan pekan ini, perhatian investor selanjutnya akan beralih ke kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Agenda terpenting datang pada Jumat melalui laporan tenaga kerja AS untuk Agustus. Data tersebut akan memberikan gambaran baru mengenai kekuatan pasar kerja sekaligus menjadi salah satu input penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Investor juga akan mendapatkan data aktivitas sektor manufaktur dan jasa sepanjang pekan. Kombinasi data tersebut dapat membantu menjawab apakah perekonomian AS masih cukup kuat menghadapi kondisi pembiayaan yang ketat.
Taruhannya cukup besar karena yield Treasury jangka panjang masih berada di level tinggi setelah kekhawatiran inflasi mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun selama Agustus.
Departemen Keuangan AS telah berusaha meredakan tekanan melalui peningkatan pembelian kembali obligasi. Namun, yield jangka panjang masih tinggi dan pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih ketat.
Barclays bahkan melihat peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September menjadi lebih besar setelah pernyataan Warsh, dengan kenaikan tambahan pada Desember masuk dalam proyeksi dasarnya.
Jobs report pekan ini dapat menjadi penentu apakah kekhawatiran suku bunga kembali membesar atau justru mereda menjelang pertemuan The Fed berikutnya.
Reli Teknologi Masuk Ujian Baru
Semua perkembangan tersebut datang ketika Wall Street sebenarnya berada dalam posisi yang cukup kuat.
Dow Jones telah naik sekitar 2,1% sepanjang Agustus dan menuju kenaikan bulanan kelima berturut-turut. S&P 500 naik sekitar 3%, sedangkan Nasdaq Composite menguat sekitar 4%, membawa keduanya menuju kenaikan bulanan pertama sejak Mei.
Teknologi menjadi motor utama reli tersebut.
Optimisme terhadap AI kembali mendapatkan bahan bakar setelah laporan Nvidia pekan lalu. Saham Nvidia (NVDA) melonjak lebih dari 8% pada Kamis setelah perusahaan melampaui ekspektasi pendapatan dan laba.
Untuk kuartal ketiga, Nvidia memproyeksikan pendapatan sekitar US$108 miliar, plus-minus 2%, bahkan tanpa memasukkan penjualan komputasi data center ke China. Manajemen juga memberikan gambaran awal pertumbuhan pendapatan sekitar 70% pada tahun fiskal 2028, meskipun kendala pasokan diperkirakan masih berlangsung.
Kekuatan tema AI juga terlihat dari beberapa laporan perusahaan teknologi lain. Salesforce melonjak 23% setelah mencatat pertumbuhan pendapatan dan permintaan kuat terhadap produk AI dan data. CrowdStrike naik 21% setelah hasil kuartalan dan outlook melampaui ekspektasi, sementara Okta melonjak 29% setelah laba dan pendapatannya mengalahkan proyeksi pasar.
Artinya, fundamental sektor teknologi masih memberikan dukungan bagi pasar. Namun, pekan ini investor akan melihat apakah kekuatan earnings dan AI cukup untuk mengimbangi risiko yang datang dari minyak, geopolitik, yield Treasury, dan kebijakan moneter.
Pekan Ini, Pasar Punya Banyak Ujian
Wall Street memasuki pekan baru dengan posisi yang tidak biasa: reli masih kuat, tetapi daftar risikonya semakin panjang.
Serangan AS terhadap target Iran membuat Selat Hormuz dan harga minyak kembali menjadi variabel yang harus dipantau. Setelah itu, data manufaktur dan jasa akan memberikan gambaran mengenai aktivitas ekonomi sebelum perhatian mencapai puncaknya pada laporan tenaga kerja Jumat.
Semua data tersebut pada akhirnya akan bermuara pada satu pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh The Fed masih perlu mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneternya?
Untuk saham teknologi, jawabannya menjadi semakin penting. Earnings kuat dan pertumbuhan AI memang masih menopang optimisme, tetapi yield yang tinggi dapat kembali menekan valuasi apabila ekspektasi suku bunga bergerak lebih hawkish.
Karena itu, investor pekan ini perlu memantau tiga hal secara bersamaan: perkembangan konflik AS-Iran dan harga minyak, data ekonomi AS, serta pergerakan yield Treasury.
Agustus mungkin segera berakhir dengan keuntungan bagi Wall Street. Namun, apakah reli tersebut bisa dibawa memasuki September akan mulai diuji sejak perdagangan pekan ini.
Siap Pantau Pergerakan Pasar Pekan Ini?
Dari perkembangan geopolitik hingga data tenaga kerja AS, jangan lewatkan katalis yang dapat menggerakkan pasar. Pantau peluang investasi dan update pasar terbaru bersama Nanovest.
Referensi +
- CNBC: Stock futures fall after U.S. strikes Iran; Wall Street heads for winning month
- Seeking Alpha: Trending stocks this week as big tech reports quarterly numbers






