Harga minyak kembali mendekati level tertingginya setelah pasar menghadapi pertanyaan baru mengenai salah satu jalur ekspor terpenting Arab Saudi.
Brent naik lebih dari US$2,80 hingga kembali menembus US$108,50 per barel, mendekati US$109 yang sempat dicapai sehari sebelumnya. WTI juga melonjak sekitar US$3,50 hingga diperdagangkan di atas US$104,50.
Pemicunya adalah penutupan East-West Pipeline, jalur yang menghubungkan wilayah produksi minyak Saudi di sisi Teluk Persia dengan terminal Yanbu di Laut Merah. Pipa tersebut menjadi semakin penting selama konflik AS-Iran karena memungkinkan Saudi mengalihkan ekspor dari Selat Hormuz.
Kini pasar menghadapi dua perkiraan yang sangat berbeda. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan gangguan kemungkinan hanya berlangsung dalam hitungan hari. Namun, citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan pada salah satu stasiun pompa, sementara analis memperkirakan perbaikan penuh berpotensi membutuhkan waktu lebih lama.
Perbedaan estimasi tersebut membuat satu pertanyaan menjadi semakin penting bagi pasar: seberapa cepat Arab Saudi benar-benar dapat memulihkan aliran minyak melalui jalur yang selama ini menjadi alternatif utama Hormuz?
Pipa Saudi Jadi Jalur Krusial Pengganti Hormuz
Dengan kapasitas sekitar 7 juta barel per hari, pipa tersebut membawa minyak dari wilayah timur Saudi menuju Yanbu di pesisir Laut Merah. Dari sana, minyak dapat dimuat ke tanker untuk bergerak melalui Bab el-Mandeb menuju pasar global atau ke arah Terusan Suez dan Mediterania.
Perannya menjadi jauh lebih penting selama konflik di Timur Tengah karena aktivitas melalui Selat Hormuz terganggu. Sebelum perang, sekitar 15 juta barel minyak per hari melewati Hormuz, membuat jalur alternatif Saudi menjadi salah satu penyangga penting bagi pasokan global.
Menurut data yang dikutip CNN dalam sumber, East-West Pipeline rata-rata mengalirkan sekitar 6 juta barel per hari selama konflik, mendekati kapasitas maksimalnya sekitar 7 juta barel per hari.
Namun, serangan pekan lalu memaksa Arab Saudi menutup jalur tersebut sebagai tindakan pencegahan. Pemerintah Saudi mengonfirmasi bahwa jaringan East-West Pipeline mengalami beberapa serangan dan tim teknis telah melakukan pemeriksaan keamanan.
Gangguan ini membuat Saudi harus kembali mengandalkan sebagian pengiriman melalui Hormuz. Pada saat yang sama, jalur Laut Merah juga menghadapi risiko keamanan di sekitar Bab el-Mandeb.
Kombinasi tersebut mempersempit pilihan Saudi untuk memindahkan minyak ke pasar global, menjelaskan mengapa gangguan pada satu jaringan pipa mampu menghasilkan respons besar pada harga minyak.
Hitungan Hari atau Berbulan-bulan?
Ketidakpastian terbesar saat ini bukan hanya tingkat kerusakan, melainkan berapa lama pipa akan tetap terganggu.
Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan aliran minyak dapat kembali dalam hitungan hari dan menggambarkan gangguan tersebut sebagai kondisi sementara. Saudi juga sedang meningkatkan kembali sebagian pengiriman melalui Hormuz selama pipa belum beroperasi.
Namun, gambaran dari lapangan memberikan alasan bagi pasar untuk tetap berhati-hati. Citra satelit menunjukkan kerusakan akibat kebakaran yang signifikan pada salah satu stasiun pompa. Analisis awal yang dikutip CNN juga menunjukkan beberapa stasiun pompa di sepanjang jaringan terkena serangan.
Perbedaan tersebut tidak harus berarti salah satu estimasi keliru. Sebagian aliran dapat berpotensi dipulihkan sebelum seluruh fasilitas selesai diperbaiki, sehingga operasi parsial dan perbaikan penuh dapat memiliki jadwal berbeda.
Durasi tetap menjadi faktor krusial. Persediaan minyak di Yanbu diperkirakan sekitar 15 juta barel, yang menurut estimasi dalam sumber dapat bertahan sekitar empat hingga tujuh hari tergantung tingkat penarikan.
Jika gangguan berlangsung selama sebulan, estimasi Kpler dan Rystad menunjukkan sekitar 120 juta barel minyak berpotensi tertahan dari pasar.
Tekanan mulai terlihat pada pengiriman aktual. Arab Saudi dilaporkan membatalkan sebagian kargo September untuk pembeli Eropa, sementara aktivitas pemuatan di terminal Yanbu juga sempat terganggu. Reuters melaporkan penghentian pemuatan di Yanbu ikut mendorong harga minyak naik sekitar US$3 pada perdagangan Selasa.
Pasar Minyak Tertekan dari Berbagai Arah
Gangguan pipa Saudi terjadi ketika pasar minyak global sudah menghadapi pasokan yang ketat dari beberapa arah.
Di Laut Merah, meningkatnya risiko keamanan di sekitar Bab el-Mandeb mengancam jalur ekspor Saudi. Di sisi timur, konflik di sekitar Selat Hormuz terus membatasi salah satu jalur energi terpenting dunia.
Tekanan juga datang dari luar kawasan. Serangan terhadap fasilitas penyulingan Rusia telah mengganggu pasar produk minyak, sementara produksi Libya ikut menghadapi gangguan akibat persoalan keamanan domestik.
Dampaknya terlihat lebih jelas di pasar fisik. Sumber Yahoo Finance mencatat Dated Brent, acuan bagi sebagian besar transaksi minyak fisik dunia, diperdagangkan di atas US$130 per barel, sementara harga minyak Dubai dan Oman berada sekitar US$128. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kontrak futures Brent di sekitar US$108-US$109, menunjukkan besarnya premi untuk pasokan minyak yang tersedia secara fisik.
Gangguan energi juga datang pada waktu yang sensitif bagi Federal Reserve. Harga energi yang tinggi dapat menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus menambah tekanan inflasi, membuat arah kebijakan suku bunga semakin kompleks.
Karena itu, kabar bahwa East-West Pipeline dapat kembali dalam hitungan hari berpotensi memberikan ruang bagi tekanan harga untuk mereda. Namun, pasar kemungkinan membutuhkan bukti bahwa aliran minyak benar-benar kembali.
Tiga hal menjadi penting untuk dipantau selanjutnya: kecepatan pemulihan East-West Pipeline, kondisi pengiriman melalui Hormuz dan Laut Merah, serta apakah gangguan tersebut mulai mengurangi volume ekspor Saudi secara lebih signifikan. Selama ketiganya belum menunjukkan perbaikan yang konsisten, premi risiko geopolitik kemungkinan masih menjadi salah satu faktor utama yang menjaga harga minyak di level tinggi.
Pantau Pasar di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Pantau saham AS dan peluang investasi lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan harga minyak, The Fed, dan pasar global terbaru lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Yahoo Finance: Oil prices jump after Saudi Arabia shuts East-West pipeline
- CNN: Saudi Arabia has shut a critical oil pipeline. Here’s why it matters for the global oil market
- CNBC: Saudi pipeline closure is a brief interruption that will last days, U.S. Energy secretary tells CNBC
- Reuters: Oil settles $3 higher on Yanbu disruption, Saudi cargo cancellations






