Perkembangan politik Amerika Serikat mulai menjadi perhatian baru bagi investor saham teknologi. Menjelang pemilu paruh waktu atau midterm elections November 2026, sejumlah analis memperingatkan bahwa hasil pemilu dapat memberikan dampak besar terhadap perdagangan saham berbasis artificial intelligence (AI).
Salah satu skenario yang mulai diperhitungkan adalah apabila Partai Republik mengalami kekalahan besar. Menurut market research platform Bull Theory, kondisi tersebut bahkan dapat menjadi “trigger” yang memicu pecahnya gelembung AI, terutama karena industri tersebut membutuhkan investasi modal dalam jumlah sangat besar.
Meski demikian, hal tersebut merupakan skenario risiko, bukan kepastian bahwa saham AI akan langsung jatuh setelah pemilu. Investor masih perlu melihat bagaimana hasil pemilu diterjemahkan menjadi kebijakan dan bagaimana perusahaan teknologi meresponsnya.
Belanja AI Semakin Bergantung pada Modal Besar
Salah satu alasan utama kekhawatiran tersebut adalah besarnya kebutuhan investasi industri AI. Perusahaan teknologi besar atau hyperscalers terus menggelontorkan dana untuk membangun data center, membeli chip, memperluas kapasitas komputasi, dan mengembangkan model AI.
Bull Theory, mengutip riset JPMorgan, memperkirakan hyperscalers seperti Amazon (AMZN) dan Alphabet (GOOG) akan mengeluarkan hampir US$800 miliar untuk belanja modal pada 2026. Angka tersebut disebut sekitar 10 kali lipat dibandingkan 2019.
Besarnya belanja tersebut memang mendukung pertumbuhan ekosistem AI. Namun, semakin besar investasi yang dibutuhkan, semakin penting pula kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas untuk membiayai ekspansi.
Menurut analisis yang dikutip Bull Theory, belanja AI diproyeksikan menyerap sekitar 93% arus kas hyperscalers pada 2026, dibandingkan 33% pada 2023. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa lama tingkat investasi tersebut dapat dipertahankan.
Midterm Bisa Mengubah Sentimen terhadap Saham AI
Risiko politik menjadi semakin relevan karena hasil pemilu dapat memengaruhi arah kebijakan teknologi Amerika Serikat.
Skenario kemenangan besar Partai Demokrat dapat meningkatkan kemungkinan munculnya pengawasan Kongres terhadap perusahaan AI, termasuk investigasi, dengar pendapat, serta regulasi yang lebih ketat. Sejumlah analis Wall Street sebelumnya memperingatkan bahwa hasil seperti ini dapat meningkatkan volatilitas saham AI.
Perhatian juga tertuju pada pembangunan data center. Infrastruktur tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah besar sehingga biaya energi dan dampaknya terhadap konsumen mulai menjadi isu politik. House of Representatives bahkan telah mengambil langkah untuk membahas perlindungan konsumen dari biaya infrastruktur data center.
Bagi investor, perubahan tersebut dapat memengaruhi persepsi terhadap perusahaan yang selama ini mendapatkan keuntungan dari ledakan investasi AI.
Risiko Bukan Hanya soal Regulasi
Kekhawatiran terhadap saham AI sebenarnya tidak hanya berasal dari pemilu. Industri tersebut juga menghadapi pertanyaan mengenai sustainability of AI spending.
Belanja besar untuk AI telah menjadi salah satu motor utama reli saham teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Jika perusahaan mulai mengurangi capital expenditure karena biaya meningkat atau return investasi tidak sesuai harapan, perusahaan di sepanjang rantai pasok AI dapat ikut terkena dampaknya.
Saham semikonduktor menjadi salah satu kelompok yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi tersebut. Nvidia (NVDA) dan Micron (MU), misalnya, sempat mengalami tekanan ketika investor mulai mempertanyakan keberlanjutan laju investasi AI.
Namun, analis juga menekankan bahwa perlambatan belanja AI tidak otomatis berarti seluruh sektor teknologi akan jatuh. Dampaknya dapat berbeda-beda antara perusahaan yang memiliki fundamental kuat dengan perusahaan yang valuasinya lebih bergantung pada ekspektasi pertumbuhan masa depan.
Investor Mulai Mencermati Risiko Politik dan AI
Dengan midterm elections yang semakin dekat, investor kini menghadapi kombinasi risiko yang cukup kompleks: belanja AI yang sangat besar, biaya pembiayaan yang tinggi, potensi regulasi, dan ketidakpastian politik.
Jika Partai Demokrat mendapatkan kendali lebih besar di Kongres, pasar dapat mulai memperhitungkan kemungkinan regulasi AI yang lebih ketat serta meningkatnya pengawasan terhadap pembangunan data center. Sebaliknya, apabila hasil pemilu tidak banyak mengubah keseimbangan kekuasaan, tekanan terhadap saham AI dari sisi politik bisa lebih terbatas.
Karena itu, hasil midterm bukan satu-satunya faktor yang akan menentukan arah saham AI. Investor tetap perlu melihat pertumbuhan pendapatan perusahaan, arus kas, belanja modal, permintaan chip, dan kemampuan AI menghasilkan keuntungan nyata.
Dengan valuasi saham teknologi yang telah meningkat tinggi, perubahan kecil dalam ekspektasi dapat menghasilkan pergerakan pasar yang cukup besar.
Midterm Mendekat, Pantau Saham AI
Politik AS, belanja AI, dan valuasi teknologi menjadi faktor yang perlu dicermati menjelang midterm. Pantau NVDA, MU, AMZN, GOOG, dan saham AS lainnya melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.






