Pasar kripto mulai memberikan perhatian lebih besar pada satu faktor di luar pergerakan harga: kemampuan aset dan protokol menghasilkan pendapatan.
Hyperliquid (HYPE) menjadi salah satu contoh paling menonjol. Token HYPE sempat mencetak rekor sekitar US$86 setelah reli besar yang turut didukung program buyback lebih dari US$400 juta. Namun, ekspansi Binance ke pasar real-world asset perpetuals mulai menimbulkan pertanyaan apakah Hyperliquid dapat mempertahankan aktivitas dan revenue yang selama ini mendukung pembelian kembali token.
Di sisi lain, Bitmine Immersion Technologies menunjukkan model berbeda melalui Ethereum. Perusahaan tersebut kini memiliki lebih dari 5,95 juta ETH dan telah menempatkan sekitar 85% kepemilikannya dalam staking, menciptakan potensi pendapatan berulang ratusan juta dolar per tahun.
Dua perkembangan ini memperlihatkan bagaimana revenue protokol dan yield dari aset kripto semakin menjadi bagian dari narasi pasar, terutama ketika investor mulai melihat lebih jauh daripada sekadar kenaikan harga token.
Binance Mulai Mengusik Dominasi Hyperliquid
Hyperliquid masih menjadi salah satu pemain utama dalam perdagangan perpetual futures terdesentralisasi, termasuk produk yang memiliki eksposur terhadap real-world assets (RWA) seperti saham, ETF, dan indeks yang ditokenisasi.
Menurut Kepala Riset CoinMarketCap Alice Liu, Hyperliquid masih memimpin di antara decentralized exchange (DEX) dan menjadi salah satu pusat likuiditas serta pengembangan produk di segmen tersebut.
Namun, persaingan mulai meningkat setelah Binance meluncurkan RWA perpetuals. Volume dan likuiditas disebut mulai bergerak ke platform tersebut, sementara Binance secara keseluruhan menguasai sekitar 50% pangsa pasar yang dibahas Liu.
Perubahan ini penting karena aktivitas perdagangan merupakan salah satu sumber revenue Hyperliquid. Jika volume berpindah ke kompetitor, kemampuan protokol menghasilkan pendapatan untuk mendukung mekanisme buyback HYPE juga dapat ikut terpengaruh.
Risiko tersebut menjadi semakin relevan setelah HYPE mengalami reli besar. Token ini naik sekitar 47,5% dalam 30 hari dan sempat mencetak all-time high sekitar US$86.
Salah satu penopangnya adalah buyback. Hyperliquid telah menggunakan lebih dari US$400 juta dari pendapatannya untuk membeli kembali HYPE di pasar. Mekanisme tersebut menciptakan permintaan tambahan terhadap token dan dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu pergerakan harganya.
Setelah reli besar, perhatian mulai bergeser dari seberapa tinggi HYPE dapat bergerak menuju apakah aktivitas jaringan mampu menghasilkan revenue yang cukup untuk mempertahankan buyback.
Revenue Buyback Jadi Ujian Berikutnya bagi HYPE
Hubungan antara aktivitas, revenue, dan buyback membuat persaingan dengan Binance menjadi salah satu risiko penting bagi HYPE.
Aktivitas jaringan yang tinggi tidak selalu langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga token. Sebaliknya, reli harga juga tidak menjamin bahwa aktivitas dan pendapatan protokol akan terus meningkat.
Hyperliquid juga masih menghadapi suplai token baru yang akan terbuka secara bertahap. Dengan lebih banyak HYPE masuk ke pasar dari waktu ke waktu, keberlanjutan permintaan menjadi semakin relevan untuk menjaga keseimbangan antara suplai dan minat investor.
Dalam kondisi tersebut, buyback dapat membantu menyerap sebagian suplai. Namun, mekanisme tersebut pada akhirnya bergantung pada revenue yang dihasilkan protokol.
Jika Binance dan platform lain berhasil mengambil porsi lebih besar dari volume RWA perpetual, pendapatan Hyperliquid berpotensi menghadapi tekanan. Sebaliknya, jika Hyperliquid mampu mempertahankan likuiditas, aktivitas pengguna, dan skala produknya, program buyback dapat terus menjadi salah satu penopang permintaan HYPE.
Perkembangan tersebut membuat beberapa indikator menjadi penting untuk dipantau setelah reli HYPE, mulai dari volume perdagangan, pangsa pasar perpetuals, revenue protokol, besarnya buyback, hingga jadwal token unlock.
Dengan kata lain, kompetisi Hyperliquid dan Binance tidak hanya menjadi perebutan volume transaksi. Persaingan tersebut dapat ikut menentukan seberapa kuat mesin pendapatan yang berada di balik valuasi HYPE.
Bitmine Ubah 5 Juta ETH Jadi Sumber Pendapatan
Jika Hyperliquid mengandalkan aktivitas perdagangan untuk menghasilkan revenue, Bitmine menggunakan karakteristik Ethereum (ETH) untuk membangun sumber pendapatan yang berbeda.
Bitmine Immersion Technologies mengakuisisi tambahan 27.180 ETH pada pekan lalu, membawa total kepemilikannya menjadi lebih dari 5,95 juta ETH dengan nilai sekitar US$15,4 miliar. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4,9% dari suplai Ether yang beredar.
Jika uang tunai dan aset kripto lainnya ikut diperhitungkan, total aset yang dilaporkan perusahaan mencapai sekitar US$15,8 miliar.
Namun, yang lebih menarik bukan hanya besarnya treasury tersebut.
Bitmine mengatakan lebih dari 5,06 juta ETH telah di-staking, atau sekitar 85% dari seluruh kepemilikan Ether perusahaan. Pada tingkat imbal hasil saat ini, aset tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar US$334 juta pendapatan staking per tahun.
Strategi ini membuat treasury ETH Bitmine tidak hanya bergantung pada apresiasi harga Ether. Selama aset tetap di-staking dan jaringan menghasilkan reward, perusahaan memiliki potensi memperoleh aliran pendapatan berulang dari kepemilikannya.
Model tersebut juga memberikan perbedaan struktural dibandingkan perusahaan treasury Bitcoin. BTC tidak memiliki mekanisme staking bawaan, sehingga kepemilikan Bitcoin pada dasarnya tidak menghasilkan native staking yield hanya dengan disimpan.
Bitmine sendiri terus mengakumulasi ETH ketika Strategy, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, justru menjalani dua pekan berturut-turut tanpa pembelian BTC baru. Strategy memilih membeli kembali sekitar 1,42 juta saham preferen STRC senilai US$139,3 juta pada 8-13 September, setelah melakukan buyback STRC US$176,3 juta pada pekan sebelumnya.
Kepemilikan Bitcoin Strategy tetap berada di 845.050 BTC, dengan pembelian terakhir sebanyak 4.603 BTC senilai sekitar US$369,7 juta pada akhir Agustus.
Revenue dan Yield Makin Penting bagi Pasar Kripto
Hyperliquid dan Bitmine menggunakan model yang sangat berbeda, tetapi keduanya menunjukkan perubahan menarik dalam cara nilai ekonomi dibangun di sekitar aset kripto.
Pada HYPE, investor dapat memantau apakah aktivitas perdagangan menghasilkan revenue yang cukup untuk mempertahankan buyback. Pada Bitmine, kepemilikan ETH dapat menghasilkan staking reward yang mengubah treasury kripto menjadi sumber pendapatan berulang.
Perbedaan tersebut juga membantu menjelaskan mengapa aktivitas jaringan, harga token, dan fundamental tidak selalu bergerak bersamaan.
HYPE dapat terus memperoleh dukungan apabila Hyperliquid mempertahankan volume dan revenue, tetapi persaingan Binance dan token unlock menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Sementara bagi Bitmine, staking memberikan sumber yield tambahan, tetapi nilai treasury dan pendapatannya tetap sensitif terhadap harga ETH serta perubahan tingkat staking reward.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan ketika investor mulai lebih selektif terhadap narasi kripto. Liu, misalnya, lebih berhati-hati terhadap token AI yang hanya bergantung pada popularitas tanpa utilitas atau infrastruktur yang jelas, terlebih ketika aset tersebut kini juga bersaing mendapatkan modal dengan saham perusahaan AI.
Karena itu, setelah reli besar di sejumlah aset, pertanyaan pasar mulai bergeser dari sekadar “berapa tinggi harganya bisa naik?” menjadi “aktivitas ekonomi apa yang menopang nilainya?”
Bagi HYPE, jawabannya akan bergantung pada kemampuan Hyperliquid mempertahankan volume dan revenue di tengah ekspansi Binance. Sementara bagi Ethereum, strategi Bitmine menunjukkan bagaimana staking dapat membuka sumber pendapatan baru bagi pemegang ETH berskala besar.
Pantau Katalis Baru di Pasar Kripto
Pantau HYPE, ETH, dan aset kripto lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan buyback, staking, dan tren pasar terbaru lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- CoinTelegraph: HYPE price could suffer as Binance takes its revenue: Alice Liu
- CoinTelegraph: Bitmine projects $334M in annual staking revenue from $15.8B crypto treasury






