Harga emas kembali mendapat dukungan setelah aksi jual saham teknologi mendorong investor mencari perlindungan pada aset yang dianggap lebih aman. Logam mulia tersebut mencatat kenaikan harian terbesarnya dalam lebih dari dua minggu pada Kamis, 15 Oktober 2026, seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Emas sempat menguat hingga 1,8% dan mendekati US$4.180 per ons, sebelum menutup perdagangan Kamis di sekitar US$4.171. Pada awal sesi Asia, Jumat, 16 Oktober, harganya bergerak kembali di kisaran US$4.160.
Pemulihan ini terjadi setelah emas sebelumnya tertekan oleh data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Perubahan sentimen pasar saham, pergerakan yield Treasury, dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve kini menjadi faktor utama yang memengaruhi harga logam mulia tersebut.
Harga Emas Rebound saat Investor Beralih ke Aset Aman
Harga emas menguat pada Kamis setelah penurunan saham teknologi, terutama perusahaan yang terkait dengan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), memicu peningkatan permintaan terhadap aset aman.
Menurut Bloomberg, emas batangan sempat naik hingga 1,8% ke sekitar US$4.180 per ons, memulihkan sebagian kerugian yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Pada pukul 16.53 waktu New York, harga emas spot tercatat sekitar US$4.171,51 per ons. Sementara itu, perak menguat 3,3% menjadi US$57,40 per ons, diikuti kenaikan platinum dan paladium. Memasuki perdagangan Jumat pagi, harga emas cenderung stabil setelah kenaikan 1,6% pada sesi sebelumnya.
Bloomberg mencatat emas spot berada di US$4.158,03 per ons, turun sekitar 0,3% pada pembaruan harga pagi hari. FXStreet juga melaporkan perdagangan emas di sekitar US$4.165 pada awal sesi Asia.
Perbedaan harga tersebut mencerminkan waktu pengamatan pasar yang tidak sama, tetapi keduanya menunjukkan bahwa emas masih bertahan di atas US$4.150 setelah pemulihan pada Kamis.
Kenaikan emas terjadi ketika investor mengurangi eksposur terhadap saham teknologi di tengah kekhawatiran mengenai besarnya investasi infrastruktur AI dan keberlanjutan keuntungan dari pengeluaran tersebut.
Peralihan dana ke aset aman tidak hanya meningkatkan perhatian terhadap emas, tetapi juga mendorong pembelian obligasi pemerintah AS.
Yield Treasury dan Dolar AS Turun, Emas Mendapat Dukungan
Pembelian obligasi pemerintah AS menyebabkan harga obligasi naik dan imbal hasil atau yield turun. Perubahan tersebut menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga atau kupon. Karena itu, ketika yield obligasi menurun, biaya peluang untuk memegang emas ikut berkurang.
Menurut Bloomberg, imbal hasil obligasi pemerintah turun sekitar 12 hingga 15 basis poin di berbagai tenor pada Kamis, setelah sebelumnya melonjak akibat data inflasi AS.
FXStreet melaporkan yield Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 8 basis poin menjadi sekitar 5,079%, sedangkan yield tenor 30 tahun melemah lebih dari 8 basis poin menjadi 5,42%.
Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun turun lebih dari 5 basis poin menjadi sekitar 4,745%.
Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap obligasi di tengah ketidakpastian pasar saham.
Selain yield, pergerakan dolar AS turut mendukung emas. Indeks Spot Dolar Bloomberg melemah sekitar 0,3% pada Kamis, sebelum bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat pagi.
Pelemahan dolar dapat membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi relatif lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Faktor lain yang mendukung pemulihan adalah aktivitas penutupan posisi jual atau short covering oleh sejumlah pelaku pasar.
Menurut TD Securities, pelaku perdagangan sistematis, termasuk Commodity Trading Advisors (CTA), mulai menutup posisi jual pada logam mulia ketika tekanan dari kenaikan suku bunga dan penguatan dolar mereda.
Bank tersebut juga mencatat bahwa arus masuk ke ETF emas dan permintaan bank sentral masih menjadi sumber dukungan bagi pasar logam mulia.
Meski demikian, pemulihan harga dalam satu sesi belum cukup untuk memastikan bahwa tren koreksi emas telah berakhir.
Inflasi AS Masih Tinggi, Peluang Kenaikan Suku Bunga Membayangi
Di balik pemulihan harga emas, pasar masih menghadapi tekanan dari inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan.
Data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) September yang dirilis pada Rabu menunjukkan kenaikan harga yang lebih kuat dari ekspektasi pasar.
Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi biaya bahan bakar, sementara tekanan harga di luar komponen yang bergejolak juga meningkat.
Situasi ini sebelumnya mendorong yield Treasury dan dolar AS menguat, sekaligus menekan harga emas. Tekanan inflasi kembali terlihat melalui data Producer Price Index (PPI) atau indeks harga produsen AS. PPI September tercatat naik 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan, melampaui perkiraan pasar.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya di tingkat produsen masih tinggi dan dapat memengaruhi keputusan Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi tantangan bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi pemerintah.
Namun, setelah aksi jual saham teknologi mendorong yield turun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober mulai mereda.
Menurut FXStreet, pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam dua bulan berturut-turut, meskipun data inflasi masih menunjukkan tekanan.
Sementara itu, indikator CME FedWatch yang dikutip FXStreet menunjukkan pasar masih memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026.
Perubahan ekspektasi tersebut memperlihatkan bahwa arah kebijakan moneter AS masih menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar emas.
Pasar Menanti Pidato Kevin Warsh, Level US$4.200 Jadi Sorotan
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam rangkaian pertemuan Dana Moneter Internasional di Bangkok pada Jumat, 16 Oktober.
Pernyataan tersebut dinantikan untuk memperoleh petunjuk mengenai respons The Fed terhadap data inflasi terbaru dan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026.
Komentar Warsh menjadi penting karena bank sentral akan memasuki periode pembatasan komunikasi publik menjelang pertemuan kebijakan tersebut.
Apabila The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih diperlukan, yield Treasury dan dolar AS berpotensi kembali mendapat dukungan. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih berhati-hati dapat mengurangi tekanan terhadap emas.
Dari sisi teknikal, FXStreet mencatat bahwa emas masih berada di bawah rata-rata pergerakan 100 hari dan garis tengah Bollinger Bands 20 hari.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di sekitar 45, menunjukkan bahwa pemulihan belum disertai penguatan momentum yang cukup untuk mengonfirmasi perubahan tren.
Area US$4.200 per ons menjadi resistensi awal yang perlu diperhatikan. Jika harga mampu bergerak lebih tinggi, level berikutnya berada di sekitar US$4.245, yang berdekatan dengan rata-rata pergerakan 100 hari.
Sementara itu, area US$4.035 per ons menjadi salah satu level dukungan teknikal yang dipantau.
Level-level tersebut merupakan acuan analisis teknikal, bukan jaminan bahwa harga akan bergerak menuju titik tertentu.
Dalam konteks yang lebih luas, emas masih berada dalam fase pemulihan setelah mengalami penurunan lebih dari 20% sejak pecahnya konflik AS-Iran pada akhir Februari 2026.
Konflik tersebut telah meningkatkan tekanan pada harga energi dan inflasi global, yang kemudian memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat.
Dengan demikian, arah harga emas dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi oleh kombinasi permintaan aset aman, pergerakan yield obligasi, dolar AS, dan kebijakan The Fed.
Bagi investor, kenaikan terbaru menunjukkan adanya dukungan ketika sentimen pasar saham melemah, tetapi keberlanjutan pemulihan masih bergantung pada perkembangan faktor-faktor tersebut.
Emas Kembali Menguat, Sudah Pantau Harganya?
Harga emas kembali mendapat dukungan saat yield obligasi AS turun dan investor mencari aset aman. Pantau pergerakan harga emas dan mulai investasi sesuai kebutuhanmu melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan suku bunga The Fed, ekonomi global, dan pasar keuangan di News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Referensi +
- Bloomberg: Gold Holds Gains With Haven Demand and Lower Yields in Focus
- Mining.com: Gold price rallies as lower yields, AI stock selloff fuel haven demand
- FXStreet: Gold rebounds above $4,150 as yields fall, Fed Warsh’s speech in focus






