Pasar saham Amerika Serikat menghadapi potensi volatilitas setelah pemungutan suara pemilu paruh waktu atau midterm elections pada Selasa, 3 November 2026. Pemilu tersebut menentukan komposisi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat AS, yang dapat memengaruhi arah kebijakan ekonomi selama sisa masa pemerintahan Presiden Donald Trump.
Sejumlah jajak pendapat dan pasar prediksi menjelang pemungutan suara menunjukkan peluang Partai Demokrat mengambil alih kendali Kongres. Namun, analis Wall Street menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kemenangan Demokrat di kedua kamar.
Kondisi tersebut membuat hasil pemilu menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor, terutama setelah saham AS mencatat kenaikan sepanjang 2026 di tengah pertumbuhan sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa pergerakan pasar setelah pemilu paruh waktu tidak selalu ditentukan oleh partai pemenang. Kebijakan Federal Reserve, kinerja perusahaan, dan perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor penting bagi arah pasar saham.
Kemenangan Demokrat Bisa Tekan S&P 500 dalam Jangka Pendek
Menjelang pemilu, perhatian investor tertuju pada kemungkinan Partai Demokrat memenangkan DPR sekaligus Senat, skenario yang dikenal sebagai blue wave.
Menurut laporan Yahoo Finance, pasar prediksi Polymarket pada Selasa pagi memberikan peluang sekitar 76% bagi Demokrat untuk memenangkan kedua kamar Kongres. Skenario Demokrat menguasai DPR sementara Republik mempertahankan Senat berada di posisi berikutnya dengan probabilitas sekitar 19%.
Persaingan di Senat menjadi perhatian karena Partai Republik sebelumnya menguasai 53 kursi berbanding 47, sementara Demokrat membutuhkan tambahan empat kursi untuk memperoleh mayoritas berdasarkan perhitungan yang digunakan dalam laporan tersebut.
Dari sisi pasar saham, JPMorgan memperkirakan kemenangan Demokrat di kedua kamar dapat membuat indeks S&P 500 turun sekitar 0,5% pada perdagangan Rabu setelah pemilu.
Sebaliknya, apabila Partai Republik berhasil mempertahankan kendali atas kedua kamar, pasar berpotensi mencatat penguatan karena investor menghadapi kesinambungan kebijakan yang lebih mudah diperkirakan.
JPMorgan memperkirakan S&P 500 dapat menguat hingga 1% apabila Republik mempertahankan kendali Senat. Sementara itu, Citigroup menilai skenario Demokrat memenangkan DPR tetapi Republik tetap menguasai Senat berpotensi mendukung pasar saham hingga akhir tahun.
Namun, proyeksi tersebut merupakan perkiraan reaksi pasar, bukan kepastian pergerakan indeks.
Survei Wolfe Research terhadap lebih dari 100 investor institusional juga menunjukkan bahwa posisi investasi menjelang pemilu belum secara kuat mencerminkan satu skenario hasil tertentu.
Artinya, perbedaan antara ekspektasi investor dan hasil akhir pemilu dapat memengaruhi volatilitas pasar, terutama ketika komposisi Kongres mulai terlihat lebih jelas.
Saham AI, Pertahanan, Kesehatan, dan Perbankan Jadi Sorotan
Selain pergerakan indeks secara keseluruhan, perubahan kendali Kongres berpotensi memberikan dampak berbeda pada sejumlah sektor saham.
Salah satu yang paling diperhatikan adalah sektor AI dan infrastruktur pusat data. Saham-saham terkait AI sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat kekhawatiran terhadap besarnya investasi dan keberlanjutan pertumbuhan industri tersebut.
Kemenangan besar Demokrat berpotensi menambah ketidakpastian bagi perusahaan yang mengembangkan pusat data, terutama jika pemerintah negara bagian memperketat perizinan atau pembatasan pembangunan infrastruktur AI.
Texas menjadi salah satu wilayah penting karena merupakan pusat pembangunan pusat data di AS. Perubahan kepemimpinan negara bagian tersebut dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap pengembangan infrastruktur teknologi.
Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan bahwa Kongres yang dikuasai Demokrat lebih mungkin membatasi insentif pajak untuk pusat data dibandingkan menerapkan moratorium pembangunan secara nasional.
Di luar sektor AI, sejumlah industri lain juga menghadapi potensi perubahan kebijakan:
- Pertahanan: Kemenangan Demokrat dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan anggaran pertahanan. Namun, Wells Fargo Investment Institute masih melihat prospek pendapatan industri relatif stabil hingga sedikit positif.
- Kesehatan: Perusahaan rumah sakit dan asuransi kesehatan berpotensi mendapat perhatian apabila Demokrat mendorong pemulihan subsidi premi Affordable Care Act atau perubahan kebijakan Medicaid. Saham yang dipantau investor mencakup HCA Healthcare (HCA), Tenet Healthcare (THC), UnitedHealth (UNH), dan Centene (CNC).
- Perbankan: Sektor keuangan berpotensi menghadapi tekanan regulasi, termasuk pembahasan pembatasan suku bunga kartu kredit hingga 10%. Kebijakan tersebut sebelumnya juga pernah didorong Presiden Trump.
Dampak aktual terhadap masing-masing sektor akan bergantung pada komposisi akhir Kongres dan kebijakan yang benar-benar dapat disahkan.
Kemenangan satu partai tidak otomatis membuat seluruh agenda kebijakannya berlaku, terutama karena proses legislasi tetap melibatkan kedua kamar Kongres dan persetujuan presiden.
Sejarah S&P 500 Tunjukkan Penguatan Setelah Pemilu Paruh Waktu
Walaupun hasil pemilu dapat memicu volatilitas dalam beberapa hari perdagangan, data historis menunjukkan kecenderungan pasar saham AS menguat dalam periode yang lebih panjang.
Berdasarkan analisis CNBC terhadap 11 pemilu paruh waktu sejak 1982 hingga 2022, S&P 500 mencatat kenaikan rata-rata 13,7% dalam satu tahun setelah pemilu. Indeks tersebut bahkan membukukan penguatan pada seluruh 11 periode yang dianalisis.
Data Yahoo Finance dengan cakupan lebih panjang juga menunjukkan pola serupa. Sejak 1946, S&P 500 tercatat lebih tinggi satu tahun setelah seluruh 20 pemilu paruh waktu, dengan rata-rata kenaikan sekitar 14%.
Sementara itu, analisis Edward Jones terhadap 14 pemilu paruh waktu sejak 1970 menunjukkan kenaikan rata-rata S&P 500 sebesar 1,7% dalam satu bulan dan 15,5% dalam enam bulan setelah pemungutan suara.
Sejarah juga menunjukkan bahwa pasar cenderung mencatat kinerja relatif baik ketika pemerintahan terbagi atau divided government, yaitu kondisi ketika partai presiden tidak menguasai seluruh Kongres.
Dalam analisis CNBC terhadap 15 pemilu presiden dan paruh waktu yang menghasilkan pemerintahan terbagi, S&P 500 naik rata-rata 15% dalam satu tahun. Sebagai pembanding, rata-rata kenaikan mencapai 11,5% ketika satu partai menguasai pemerintahan.
Namun, pola historis tersebut memiliki keterbatasan. Jumlah observasinya relatif kecil dan kondisi ekonomi setiap periode berbeda. Tahun 2026 juga memiliki karakteristik tersendiri karena S&P 500 telah mencatat kenaikan dua digit sebelum pemilu.
Menurut analisis BTIG, pada tahun-tahun pemilu paruh waktu sebelumnya, indeks biasanya mengalami tekanan lebih besar menjelang pemungutan suara sebelum kemudian pulih. Kondisi tahun ini berbeda karena pasar telah menguat cukup signifikan.
Dengan demikian, pola penguatan setelah pemilu tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk memperkirakan reli saham pada akhir 2026.
The Fed, AI, dan Risiko Iran Tetap Menentukan Arah Pasar
Di luar hasil pemilu, analis menilai terdapat sejumlah faktor yang berpotensi memberikan pengaruh lebih besar terhadap pasar saham AS dalam beberapa bulan mendatang.
Salah satunya adalah kebijakan Federal Reserve. Perubahan suku bunga dan imbal hasil obligasi dapat memengaruhi biaya pendanaan perusahaan serta valuasi saham, terutama di sektor teknologi.
Société Générale menilai bahwa kebijakan The Fed dan siklus pendapatan perusahaan pada akhirnya lebih menentukan kinerja pasar dibandingkan hasil pemilu.
Perkembangan AI juga menjadi faktor penting. Besarnya investasi pada pusat data dan infrastruktur komputasi membuat investor semakin memperhatikan apakah pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi mampu mengimbangi kebutuhan belanja modal.
Selain itu, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian. Menurut laporan CNBC, kemungkinan meningkatnya kembali konflik antara AS dan Iran dapat memicu kenaikan harga minyak serta menambah tekanan terhadap pasar saham.
Harga minyak mentah sempat melonjak lebih dari 10% sepanjang Oktober sebelum sebagian besar kenaikannya terkoreksi pada awal November. Sementara itu, harga rata-rata bensin AS mencapai US$4,17 per galon pada awal pekan, sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Evercore ISI memperkirakan bahwa kombinasi eskalasi konflik Iran dan kemenangan Demokrat di Kongres dapat menciptakan tekanan besar terhadap pasar. Dalam skenario tersebut, S&P 500 berpotensi turun ke sekitar 6.800 pada akhir tahun.
Namun, angka tersebut merupakan skenario risiko yang bergantung pada sejumlah kondisi, bukan target dasar pasar.
Bagi investor, perkembangan yang perlu diperhatikan setelah pemilu mencakup hasil akhir perebutan Kongres, arah kebijakan fiskal, keputusan The Fed, kinerja perusahaan teknologi, serta perkembangan harga energi.
Hasil pemilu dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek, tetapi arah saham AS hingga akhir tahun tetap akan ditentukan oleh kombinasi kebijakan ekonomi, pendapatan perusahaan, dan kondisi geopolitik.
Wall Street Hadapi Ujian Politik. Sudah Pantau Saham AS?
Di tengah perubahan sentimen pasar, jangan lewatkan perkembangan emiten yang kamu incar. Eksplorasi saham AS melalui Nanovest dan ikuti kabar ekonomi serta pasar terbaru lewat News & Artikel Tips.
Referensi +
- CNBC: Midterm elections could jolt stocks if Democrats sweep Congress
- CNBC: Stock market after midterm elections: What S&P 500 history shows
- Yahoo Finance: What a Democratic sweep could mean for stocks — and why history says not much
- CBS News: How Wall Street analysts think the midterms could affect the stock market






