Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pernah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH) di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026. Pencapaian ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan pasar modal Indonesia.
Namun, perjalanan IHSG tidak selalu bergerak naik. Setelah mencapai rekor tersebut, indeks mengalami tekanan hingga kembali berada di bawah level 5.000 pada Oktober 2026.
Simak!
IHSG Tertinggi Sepanjang Sejarah Berapa?
IHSG mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026. Angka tersebut menjadi pencapaian tertinggi IHSG berdasarkan data historis harian Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebelumnya, IHSG juga beberapa kali mencetak rekor baru pada awal Januari 2026. Pada 15 Januari 2026, misalnya, indeks ditutup di level 9.075,406 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp16.512 triliun.
Berikut beberapa pencapaian rekor IHSG pada Januari 2026:
Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perlu diketahui, rekor tertinggi IHSG berdasarkan harga penutupan berbeda dengan rekor intraday. Harga penutupan merupakan posisi indeks ketika perdagangan berakhir, sedangkan intraday menunjukkan level tertinggi yang sempat dicapai selama sesi perdagangan berlangsung.
Dengan demikian, angka 9.134,70 merupakan rekor tertinggi berdasarkan penutupan perdagangan pada data historis tersebut.
Apa Itu IHSG?
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan adalah indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham yang tercatat di Papan Utama dan Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia.
Sederhananya, IHSG memberikan gambaran mengenai kondisi pasar saham Indonesia secara keseluruhan. Ketika IHSG naik, secara umum harga saham di pasar sedang mengalami penguatan. Sebaliknya, ketika IHSG turun, berarti pasar saham secara keseluruhan sedang mengalami tekanan.
BEI menggunakan metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted Average dalam penghitungan IHSG.
Artinya, pergerakan indeks mempertimbangkan kapitalisasi pasar saham dengan penyesuaian terhadap jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara publik (free float), serta pembatasan bobot tertentu.
Karena itu, saham dengan kapitalisasi pasar besar dapat memberikan pengaruh lebih besar terhadap pergerakan IHSG dibandingkan saham dengan kapitalisasi pasar kecil.
Bagaimana Sejarah IHSG Hingga Mencapai Rekor Tertinggi?
IHSG memiliki perjalanan panjang sejak pertama kali diperkenalkan oleh Bursa Efek Indonesia pada 4 April 1983. Pada awal perhitungannya, indeks menggunakan tanggal dasar 1 April 1983 dengan nilai awal 100.
Seiring perkembangan pasar modal Indonesia, IHSG mengalami berbagai fase kenaikan dan penurunan. Pergerakannya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik, situasi global, kebijakan pemerintah, hingga sentimen investor.
Berikut beberapa periode penting dalam perjalanan IHSG:
1. IHSG Mengalami Tekanan Saat Krisis Finansial Asia 1997–1998
Krisis finansial Asia pada 1997–1998 menjadi salah satu periode berat bagi pasar saham Indonesia.
Ketidakstabilan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian ekonomi, dan tekanan terhadap sektor perbankan membuat investor kehilangan kepercayaan terhadap pasar keuangan.
Kondisi tersebut turut menekan harga saham di Bursa Efek Indonesia dan membuat IHSG mengalami penurunan tajam.
2. IHSG Mengalami Koreksi Saat Krisis Finansial Global 2008
Pada 2008, krisis keuangan global yang berawal dari Amerika Serikat turut memberikan tekanan terhadap pasar saham berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan penurunan harga berbagai aset membuat investor cenderung mengurangi risiko investasi.
IHSG pun mengalami penurunan signifikan sebelum akhirnya memasuki fase pemulihan.
3. IHSG Tertekan Saat Pandemi COVID-19 pada 2020
Pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi tantangan besar bagi perekonomian dunia.
Pembatasan aktivitas masyarakat, gangguan kegiatan bisnis, dan ketidakpastian ekonomi membuat pasar saham mengalami volatilitas tinggi.
IHSG sempat menyentuh level 3.937,63 pada 24 Maret 2020. Setelah itu, pasar saham Indonesia secara bertahap memasuki fase pemulihan.
4. IHSG Mencetak Rekor di Atas 9.000 pada Januari 2026
Setelah melewati berbagai periode tekanan dan pemulihan, IHSG akhirnya mencetak rekor tertinggi baru pada awal 2026.
Pada 14 Januari 2026, IHSG berhasil ditutup di level 9.032,58. Sehari setelahnya, indeks kembali mencetak rekor dengan penutupan di level 9.075,406.
Puncaknya terjadi pada 20 Januari 2026 ketika IHSG ditutup di level 9.134,70.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sempat mengalami penguatan signifikan sebelum memasuki periode koreksi.
5. IHSG Mengalami Koreksi Tajam pada 2026
Setelah mencapai rekor tertinggi pada Januari 2026, IHSG mengalami tekanan jual yang cukup besar.
Pada 19 Oktober 2026, IHSG ditutup di level 4.996,61 atau berada di bawah level psikologis 5.000. Kondisi ini menunjukkan besarnya koreksi pasar dibandingkan posisi tertinggi pada Januari.
Tekanan tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi, arus modal asing, nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.
Koreksi ini menjadi pengingat bahwa pencapaian rekor tertinggi tidak menjamin indeks akan terus mengalami kenaikan.
Baca juga: Penyebab IHSG Anjlok: Prospek ke Depan, dan Strategi Investasi
Apa Faktor yang Membuat IHSG Mencapai Rekor Tertinggi?

Kenaikan IHSG hingga mencapai rekor tertinggi tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor yang dapat mendorong penguatan indeks, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Berikut beberapa faktor yang memengaruhinya:
1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi dapat meningkatkan optimisme investor terhadap prospek perusahaan yang tercatat di bursa.
Ketika aktivitas ekonomi meningkat, permintaan barang dan jasa berpotensi bertambah. Kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.
Ekspektasi terhadap kinerja emiten yang lebih baik kemudian dapat meningkatkan minat investor untuk membeli saham.
2. Kinerja Saham Berkapitalisasi Besar
Saham dengan kapitalisasi pasar besar memiliki pengaruh penting terhadap pergerakan IHSG.
Ketika saham-saham berkapitalisasi besar mengalami kenaikan harga, kontribusinya terhadap indeks dapat menjadi lebih signifikan.
Sebaliknya, penurunan harga saham-saham tersebut juga dapat memberikan tekanan besar terhadap IHSG.
3. Arus Dana Investor Asing
Aktivitas investor asing turut memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia.
Ketika investor asing melakukan pembelian bersih atau net buy, permintaan terhadap saham di pasar domestik dapat meningkat.
Namun, ketika terjadi penjualan bersih atau net sell dalam jumlah besar, tekanan jual dapat membuat harga saham dan IHSG melemah.
4. Kebijakan Suku Bunga
Kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, dapat memengaruhi keputusan investasi.
Suku bunga yang lebih rendah berpotensi membuat instrumen investasi berisiko seperti saham menjadi lebih menarik dibandingkan instrumen berbunga tetap.
Namun, pengaruhnya tidak selalu langsung. Investor juga mempertimbangkan inflasi, nilai tukar, kondisi ekonomi, dan prospek keuntungan perusahaan.
5. Sentimen Ekonomi Global
Pasar saham Indonesia tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia.
Beberapa faktor global yang dapat memengaruhi IHSG antara lain:
- Pergerakan suku bunga global.
- Ketegangan geopolitik.
- Harga komoditas dunia.
- Kondisi pasar saham Amerika Serikat dan Asia.
- Kebijakan perdagangan internasional.
Ketika sentimen global membaik, minat investor terhadap aset berisiko di pasar berkembang dapat meningkat. Sebaliknya, ketidakpastian global dapat mendorong investor mengurangi eksposur terhadap pasar saham.
Apakah IHSG Tertinggi Berarti Semua Saham Mengalami Kenaikan?
Tidak. IHSG yang mencapai rekor tertinggi bukan berarti seluruh saham di Bursa Efek Indonesia mengalami kenaikan harga.
Hal ini karena IHSG merupakan indeks gabungan yang mencerminkan pergerakan harga saham secara keseluruhan dengan mempertimbangkan bobot kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float.
Sebagai contoh, saham-saham berkapitalisasi besar mengalami kenaikan signifikan sehingga mendorong IHSG ke level tertinggi. Namun, pada waktu yang sama, sejumlah saham berkapitalisasi kecil justru mengalami penurunan.
Karena itu, investor tidak sebaiknya hanya menggunakan pergerakan IHSG sebagai acuan untuk menilai kinerja seluruh saham.
Penting juga untuk memperhatikan kinerja emiten, laporan keuangan, valuasi, likuiditas, dan prospek bisnis sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca juga: Harga Bitcoin dari Tahun ke Tahun dalam Rupiah
Apa yang Perlu Dilakukan Investor Saat IHSG Mencapai Rekor Tertinggi?
Ketika IHSG mencapai rekor tertinggi, investor perlu tetap mempertimbangkan risiko pasar. Rekor ATH bukan jaminan harga saham akan terus naik.
Berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan:
- Evaluasi fundamental saham: Periksa kondisi keuangan, pertumbuhan laba, utang, dan prospek bisnis perusahaan sebelum membeli saham.
- Hindari keputusan karena FOMO: Jangan membeli saham hanya karena harganya terus naik atau sedang ramai dibicarakan.
- Perhatikan valuasi: Bandingkan harga saham dengan kinerja dan prospek perusahaan untuk menilai apakah harganya masih masuk akal.
- Diversifikasi portofolio: Sebarkan investasi ke beberapa aset atau sektor untuk mengurangi risiko konsentrasi.
- Sesuaikan dengan profil risiko: Tentukan strategi investasi berdasarkan tujuan keuangan, jangka waktu, dan kemampuan menghadapi kerugian.
Kesimpulan
IHSG mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah berdasarkan penutupan perdagangan di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026. Pencapaian ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan pasar modal Indonesia.
Namun, perjalanan IHSG menunjukkan bahwa pasar saham selalu mengalami siklus kenaikan dan penurunan. Faktor ekonomi, kinerja emiten, kebijakan suku bunga, arus dana asing, dan sentimen global dapat memengaruhi pergerakan indeks.
Tak hanya IHSG, kamu bisa mulai mengenal saham Amerika Serikat di aplikasi investasi saham Amerika Nanovest. Telah terdaftar dan diawasi oleh OJK.






