Aset keuangan adalah aset yang memiliki nilai ekonomi dan umumnya memberikan hak kepada pemiliknya untuk menerima uang, memperoleh keuntungan, atau memiliki bagian kepemilikan dalam suatu entitas.
Contohnya meliputi uang tunai, tabungan, deposito, saham, dan obligasi.
Berikut penjelasannya.
Apa Itu Aset Keuangan?
Aset keuangan adalah aset yang memiliki nilai dalam bentuk uang atau hak finansial. Aset ini dapat berupa kas, instrumen ekuitas, maupun hak kontraktual untuk menerima uang atau aset keuangan lainnya.
Menurut International Monetary Fund (IMF) dalam Monetary and Financial Statistics Manual and Compilation Guide (2016), aset keuangan merupakan bagian dari aset ekonomi yang umumnya berbentuk instrumen keuangan dan melibatkan hubungan klaim antara pihak-pihak yang bertransaksi.
Sementara itu, IAS 32 dari IFRS Foundation menjelaskan aset keuangan melalui beberapa kategori, antara lain:
- Kas.
- Instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh entitas lain.
- Hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya.
- Hak kontraktual untuk menukar instrumen keuangan dalam kondisi yang berpotensi menguntungkan.
Apa Saja Jenis-Jenis Aset Keuangan?
Aset keuangan memiliki beberapa jenis berdasarkan bentuk dan karakteristik instrumennya. Berikut contohnya.
1. Kas dan Setara Kas
Kas merupakan aset keuangan yang paling likuid karena dapat langsung digunakan untuk transaksi.
Sementara itu, setara kas adalah investasi jangka pendek yang sangat likuid dan mudah dikonversi menjadi uang tunai dengan risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.
Contohnya:
- Uang tunai.
- Saldo rekening giro.
- Instrumen pasar uang jangka pendek yang memenuhi kriteria setara kas.
2. Tabungan dan Deposito
Tabungan dan deposito merupakan simpanan di bank yang termasuk aset keuangan.
Perbedaannya terletak pada fleksibilitas penggunaan dana. Tabungan umumnya dapat ditarik kapan saja, sedangkan deposito memiliki jangka waktu tertentu dan ketentuan pencairan.
Deposito biasanya menawarkan bunga sesuai kesepakatan dan ketentuan bank.
Baca juga: 7+ Perbedaan Deposito dan Tabungan, Mana yang Lebih Cocok Untukmu?
3. Saham
Saham merupakan instrumen ekuitas yang menunjukkan kepemilikan seseorang atas suatu perusahaan.
Dengan memiliki saham, investor berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga sahamcCapital Gain dan pembagian dividen jika perusahaan membagikannya.
Namun, harga saham dapat naik maupun turun sehingga investor juga berisiko mengalami kerugian.
4. Obligasi dan Surat Utang
Obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk memperoleh pendanaan.
Investor yang membeli obligasi pada dasarnya memberikan pinjaman kepada penerbit. Sebagai imbalannya, investor dapat menerima pembayaran kupon dan pengembalian pokok sesuai ketentuan obligasi.
Risikonya antara lain gagal bayar penerbit, perubahan suku bunga, dan penurunan harga obligasi di pasar sekunder.
5. Reksa Dana
Reksa dana merupakan wadah untuk menghimpun dana investor yang kemudian dikelola oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek atau instrumen lainnya sesuai kebijakan investasi.
Contohnya:
- Reksa dana pasar uang.
- Reksa dana pendapatan tetap.
- Reksa dana saham.
- Reksa dana campuran.
Nilai investasi reksa dana dapat berubah mengikuti kinerja aset yang menjadi portofolionya.
6. Pinjaman dan Piutang
Pinjaman dan piutang juga termasuk aset keuangan karena memberikan hak kepada pemberi pinjaman untuk menerima pembayaran dari pihak yang berutang.
Contohnya, perusahaan memberikan pinjaman kepada pihak lain dan memiliki hak untuk menerima pengembalian pokok beserta bunga jika disepakati.
Bagi pemberi pinjaman, piutang tersebut merupakan aset. Sebaliknya, bagi pihak yang meminjam, kewajiban membayarnya merupakan liabilitas.
7. Instrumen Derivatif
Derivatif merupakan instrumen keuangan yang nilainya bergantung pada aset atau variabel lain yang menjadi dasarnya (underlying asset).
Contohnya:
- Futures.
- Options.
- Forward.
- Swap.
Derivatif dapat digunakan untuk lindung nilai (hedging) maupun spekulasi. Instrumen ini memiliki karakteristik dan risiko yang lebih kompleks dibandingkan beberapa aset keuangan lainnya.
Baca juga: Aset Likuid: Pengertian, Contoh, dan Cara Mengelolanya
Apa Saja Contoh Aset Keuangan dalam Kehidupan Sehari-hari?
Aset keuangan tidak hanya dimiliki investor atau perusahaan besar. Masyarakat umum juga memiliki aset keuangan dalam aktivitas sehari-hari.
Berikut beberapa contohnya:
| Contoh | Keterangan |
| Uang tunai | Dana yang dapat digunakan langsung untuk transaksi |
| Tabungan | Simpanan di rekening bank |
| Deposito | Simpanan berjangka di bank |
| Saham | Bukti kepemilikan atas perusahaan |
| Obligasi | Instrumen utang yang memberikan hak tagih |
| Reksa dana | Kepemilikan unit penyertaan dalam suatu dana investasi |
| Piutang | Hak untuk menerima pembayaran dari pihak lain |
Apa Perbedaan Aset Keuangan dan Aset Riil?
Aset keuangan umumnya berbentuk kas, instrumen investasi, atau hak finansial. Sementara, aset riil merupakan aset yang memiliki bentuk fisik atau nilai ekonomi dari keberadaan dan kegunaannya.
Berikut perbedaannya:
| Aspek | Aset Keuangan | Aset Riil |
| Bentuk | Kas, surat berharga, dan hak finansial | Aset fisik |
| Sumber nilai | Hak finansial, arus kas, dan nilai pasar | Kegunaan, kelangkaan, dan permintaan pasar |
| Contoh | Saham, obligasi, deposito | Emas fisik, tanah, properti |
| Likuiditas | Bergantung pada instrumennya | Umumnya membutuhkan waktu untuk dijual |
| Potensi hasil | Bunga, kupon, dividen, dan kenaikan harga | Sewa dan kenaikan nilai aset |
Apa Karakteristik Aset Keuangan?

Aset keuangan memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari aset lainnya.
1. Memiliki Nilai Ekonomi
Aset keuangan memiliki nilai yang dapat dinyatakan dalam bentuk uang. Nilainya bisa tetap atau berubah bergantung pada jenis instrumen dan kondisi pasar.
2. Memberikan Hak Finansial
Sebagian besar aset keuangan memberikan hak kepada pemiliknya, seperti hak menerima bunga, pembayaran pokok, dividen, atau hak kepemilikan.
3. Memiliki Tingkat Likuiditas Berbeda
Likuiditas menunjukkan kemudahan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai.
Kas memiliki likuiditas tinggi, sedangkan saham dengan perdagangan terbatas atau instrumen tertentu mungkin lebih sulit dicairkan.
4. Memiliki Risiko yang Berbeda
Setiap aset keuangan memiliki risiko sesuai karakteristiknya. Saham memiliki risiko fluktuasi harga, obligasi memiliki risiko gagal bayar, sedangkan deposito memiliki risiko dan ketentuan pencairan tersendiri.
5. Berpotensi Memberikan Hasil Finansial
Beberapa aset keuangan dapat menghasilkan bunga, kupon, dividen, atau keuntungan dari kenaikan harga. Namun, tidak semua aset keuangan memberikan imbal hasil.
Baca juga: Aset Digital: Pengertian, Jenis, Contoh, Manfaat, dan Risikonya
Apa Manfaat Memiliki Aset Keuangan?
Berikut beberapa manfaatnya:
- Mendukung kebutuhan likuiditas. Kas, tabungan, dan instrumen likuid lainnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan mendesak.
- Membantu mencapai tujuan finansial. Aset keuangan dapat disesuaikan dengan tujuan jangka pendek, menengah, maupun panjang.
- Berpotensi menghasilkan pendapatan. Beberapa instrumen memberikan bunga, kupon, atau dividen.
- Mendukung diversifikasi portofolio. Memiliki beberapa jenis aset dapat membantu menyebarkan risiko investasi.
- Membantu membangun kekayaan. Aset yang dikelola dengan baik berpotensi meningkatkan nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Apa Risiko Memiliki Aset Keuangan?
Meskipun memiliki manfaat, aset keuangan juga memiliki risiko yang perlu dipahami.
- Risiko pasar: Nilai aset dapat berubah akibat kondisi ekonomi, sentimen investor, atau perubahan harga pasar.
- Risiko likuiditas: Aset mungkin sulit dijual atau dicairkan pada waktu tertentu.
- Risiko kredit: Penerbit instrumen atau pihak yang berutang gagal memenuhi kewajibannya.
- Risiko suku bunga: Perubahan suku bunga dapat memengaruhi nilai instrumen seperti obligasi.
- Risiko inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa dapat mengurangi daya beli dari nilai uang yang disimpan.
Baca juga: Cara Mengelola Keuangan Keluarga yang Benar agar Bisa Mulai Investasi
Bagaimana Cara Mengelola Aset Keuangan?

Mengelola aset keuangan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan berbagai instrumen. Kamu juga perlu menyesuaikannya dengan tujuan dan kondisi finansial.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
1. Tentukan Tujuan Keuangan
Tentukan tujuan penggunaan dana, misalnya untuk kebutuhan harian, membeli rumah, pendidikan, atau persiapan pensiun.
Tujuan ini membantu menentukan jenis aset yang sesuai.
2. Kenali Profil Risiko
Pahami seberapa besar risiko yang mampu diterima. Setiap instrumen memiliki karakteristik berbeda sehingga tidak semuanya cocok untuk setiap orang.
3. Lakukan Diversifikasi
Jangan hanya mengandalkan satu jenis aset. Kamu dapat mempertimbangkan kombinasi instrumen sesuai tujuan, kebutuhan likuiditas, dan profil risiko.
4. Sesuaikan dengan Jangka Waktu
Dana untuk kebutuhan jangka pendek sebaiknya tidak seluruhnya ditempatkan pada instrumen yang memiliki fluktuasi tinggi. Sementara itu, tujuan jangka panjang dapat mempertimbangkan instrumen dengan karakteristik yang sesuai.
5. Evaluasi Secara Berkala
Periksa perkembangan nilai aset, biaya, risiko, dan kesesuaiannya dengan tujuan keuangan. Lakukan penyesuaian jika kondisi atau kebutuhan berubah.
Mulai Mengenal Investasi di Nanovest
Saham, emas, hingga kripto merupakan salah satu bentuk aset keuangan yang dapat menjadi bagian dari portofolio investasi. Jika ingin mengenal perusahaan global, kamu bisa mempelajari berbagai pilihan saham Amerika.
Melalui Nanovest, kamu dapat berinvestasi mulai dari Rp5.000.
Investasi di Berbagai Aset dalam Satu Aplikasi
Akses saham Amerika, emas, dan kripto melalui Nanovest.
FAQ Seputar Aset Keuangan
Referensi +
- IMF – Monetary and Financial Statistics Manual and Compilation Guide (2016), Chapter 4
- IFRS Foundation – IAS 32 Financial Instruments: Presentation
- IFRS Interpretations Committee – Holdings of Cryptocurrencies (2019)
- IMF – Balance of Payments and International Investment Position Manual






