Laporan keuangan kuartal III 2026 dari dua perusahaan besar sektor kesehatan Amerika Serikat menunjukkan respons pasar yang berbeda terhadap peningkatan prospek laba.
Johnson & Johnson (JNJ) dan UnitedHealth Group (UNH) sama-sama menaikkan proyeksi kinerja tahunan. Namun, kedua saham justru mengakhiri perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, di zona merah.
Saham JNJ anjlok 5,73% setelah investor menyoroti pertumbuhan bisnis teknologi medis yang lebih rendah dari harapan. Sementara itu, UNH sempat menguat hingga 5% berkat peningkatan proyeksi laba, sebelum memangkas seluruh kenaikannya dan ditutup turun tipis.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana investor tidak hanya memperhatikan kenaikan proyeksi laba, tetapi juga perkembangan operasional yang mendukung keberlanjutan pertumbuhan masing-masing perusahaan.
Johnson & Johnson Turun 5,73% Meski Naikkan Proyeksi Laba
Saham Johnson & Johnson ditutup pada US$248,61 pada 13 Oktober 2026, turun US$15,12 atau 5,73% dari sesi sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi meskipun perusahaan kembali menaikkan proyeksi pendapatan dan laba untuk tahun penuh 2026.
Perhatian investor terutama tertuju pada unit teknologi medis JNJ, yang mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 2,5%. Kinerja ini menjadi perhatian di tengah pertumbuhan bisnis farmasi perusahaan yang relatif lebih kuat.
Menurut CFO Johnson & Johnson Joe Wolk, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi bisnis perangkat medis.
Pertama, sebuah studi di Inggris pada awal 2026 mempertanyakan manfaat penggunaan pompa jantung perusahaan dalam sejumlah prosedur berisiko tinggi. Perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi bisnis perangkat medis yang berkaitan dengan teknologi jantung.
Kedua, konflik geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi penjualan. Sejumlah negara di kawasan tersebut mengalihkan sebagian anggaran untuk kebutuhan pertahanan, sehingga memengaruhi belanja layanan kesehatan.
Manajemen menilai kebutuhan terhadap teknologi medis masih ada dan memperkirakan tekanan tersebut dapat mereda memasuki 2027.
Di luar kinerja kuartalan, JNJ juga tengah mengevaluasi masa depan bisnis ortopedinya. Sebelumnya, terdapat laporan mengenai pembicaraan dengan Apollo Global Management terkait potensi penjualan unit tersebut. Namun, Wolk menyampaikan bahwa manajemen kini lebih memilih opsi pemisahan bisnis atau spin-off.
Pertimbangan tersebut berkaitan dengan penurunan valuasi perusahaan teknologi medis yang dapat memengaruhi harga jual apabila unit ortopedi dilepas kepada pihak lain.
Dengan posisi kas yang kuat, JNJ menilai pemisahan bisnis berpotensi memberikan fleksibilitas lebih besar dan memungkinkan unit ortopedi berkembang sebagai perusahaan tersendiri.
Bisnis Farmasi JNJ Tetap Tumbuh, Tremfya Naik 68%
Di tengah perlambatan unit teknologi medis, bisnis farmasi tetap menjadi salah satu pendorong pertumbuhan Johnson & Johnson. Penjualan segmen farmasi perusahaan meningkat 7,7% menjadi sekitar US$16,8 miliar, didukung pertumbuhan sejumlah obat untuk kanker, penyakit autoimun, dan gangguan kesehatan mental.
Salah satu produk dengan pertumbuhan menonjol adalah Tremfya, obat biologis suntik untuk psoriasis dan penyakit radang usus. Penjualan Tremfya meningkat 68%, seiring perluasan penggunaannya dalam pengobatan berbagai kondisi inflamasi.
Manajemen JNJ memperkirakan Tremfya berpotensi berkembang menjadi produk dengan penjualan tahunan lebih dari US$10 miliar dalam jangka panjang. Namun, angka tersebut masih merupakan ekspektasi perusahaan, bukan pendapatan yang telah terealisasi.
Selain Tremfya, JNJ juga mengembangkan pasar untuk Icotyde, obat psoriasis berbentuk pil yang dikonsumsi sekali sehari. Sejak diperkenalkan pada awal 2026, Icotyde telah memperoleh sekitar 20.000 resep, dengan basis tenaga kesehatan yang meresepkannya mencapai sekitar 9.000 orang.
Manajemen menjelaskan bahwa sebagian pasien masih menerima sampel gratis, sehingga jumlah resep tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam pendapatan produk.
Menariknya, penggunaan Icotyde tidak hanya berasal dari dokter spesialis kulit, tetapi juga dokter layanan primer dan tenaga kesehatan lainnya. JNJ menilai kehadiran obat oral dapat memperluas akses pengobatan psoriasis, terutama bagi pasien yang belum menggunakan terapi biologis berbentuk suntikan.
Perusahaan juga menyatakan bahwa peningkatan penggunaan Icotyde sejauh ini tidak mengurangi permintaan Tremfya.
Meski bisnis farmasi menunjukkan pertumbuhan, respons pasar terhadap laporan JNJ memperlihatkan bahwa investor masih memperhitungkan tantangan di unit teknologi medis serta perkembangan restrukturisasi portofolio perusahaan.
UnitedHealth Naikkan Proyeksi Laba untuk Ketiga Kalinya
Sementara Johnson & Johnson menghadapi tekanan dari bisnis perangkat medis, UnitedHealth Group melaporkan perkembangan positif dalam upaya pemulihan profitabilitas.
UnitedHealth membukukan pendapatan kuartal III 2026 yang melampaui estimasi Wall Street dan kembali menaikkan proyeksi laba tahunan. Perusahaan kini memperkirakan laba per saham disesuaikan minimal US$20,50 untuk tahun penuh 2026, meningkat dari proyeksi sebelumnya sebesar US$19,50-US$20,00.
Revisi tersebut menjadi kenaikan proyeksi laba ketiga yang diumumkan UnitedHealth sepanjang tahun ini. Salah satu faktor pendukungnya adalah biaya medis yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga membantu meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari program pemulihan UnitedHealth yang diluncurkan pada 2025, setelah perusahaan menghadapi tekanan dari kenaikan biaya layanan kesehatan, penurunan keuntungan, dan tantangan regulasi.
Kinerja terbaru menunjukkan adanya kemajuan dalam pelaksanaan program tersebut, meskipun perusahaan masih perlu mempertahankan pengendalian biaya dan memperbaiki hasil operasional secara berkelanjutan.
Respons awal investor terhadap laporan UNH cukup positif. Saham perusahaan sempat melonjak hingga 5% dalam perdagangan Selasa. Namun, kenaikan tersebut berangsur berkurang hingga saham UNH akhirnya ditutup di US$377,76, turun 0,20% dari sesi sebelumnya.
Sejak awal 2026, saham UnitedHealth telah meningkat sekitar 14%, setelah sebelumnya mengalami tekanan besar pada Januari akibat usulan kenaikan pembayaran Medicare Advantage 2027 yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Di sisi lain, Berkshire Hathaway sebelumnya juga mengungkapkan bahwa perusahaan telah menjual seluruh kepemilikannya di UnitedHealth, yang berjumlah lebih dari lima juta saham.
Dengan demikian, meskipun proyeksi laba UNH terus membaik, pergerakan sahamnya menunjukkan bahwa investor masih mempertimbangkan keberlanjutan pemulihan bisnis dan risiko yang dihadapi sektor asuransi kesehatan.
Earnings Sektor Kesehatan AS: Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Laporan JNJ dan UNH menunjukkan dua kondisi bisnis yang berbeda dalam sektor kesehatan Amerika Serikat.
Bagi Johnson & Johnson, pertumbuhan farmasi tetap menjadi kekuatan utama. Namun, investor masih perlu memperhatikan kinerja perangkat medis, perkembangan penjualan produk baru, dan keputusan perusahaan terkait pemisahan bisnis ortopedi.
Sementara itu, bagi UnitedHealth, fokus utamanya adalah kemampuan mempertahankan pengendalian biaya medis dan merealisasikan proyeksi laba yang telah dinaikkan.
Perbedaan model bisnis juga menjadi pertimbangan penting. JNJ memperoleh pendapatan dari pengembangan dan penjualan obat serta perangkat medis, sedangkan UNH memiliki eksposur besar terhadap bisnis asuransi kesehatan dan pengelolaan layanan kesehatan.
Karena itu, faktor yang memengaruhi profitabilitas keduanya tidak selalu sama. Penurunan saham JNJ sebesar 5,73% dan pelemahan tipis UNH sebesar 0,20% pada 13 Oktober memperlihatkan bahwa peningkatan proyeksi keuangan tidak otomatis menghasilkan respons positif di pasar.
Untuk menilai prospek kedua saham, investor perlu mencermati realisasi pendapatan, margin keuntungan, perkembangan biaya operasional, serta konsistensi pertumbuhan bisnis pada kuartal berikutnya.
Outlook Naik, Saham Turun? Pantau JNJ & UNH!
JNJ dan UNH sama-sama menaikkan proyeksi laba, tetapi pasar merespons dengan cara berbeda. Pantau saham sektor kesehatan AS dan peluang investasi lainnya melalui Nanovest, serta ikuti perkembangan earnings dan update pasar terbaru di News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Referensi +
- Yahoo Finance: Johnson & Johnson stock falls despite strong earnings as investors focus on medtech unit
- Yahoo Finance: UnitedHealth Group stock trims gains on profit outlook increase






