Istilah saham konglo cukup sering muncul di kalangan investor Indonesia, terutama ketika perusahaan milik kelompok usaha besar melakukan penawaran umum, aksi korporasi, atau ekspansi ke sektor baru.
Emiten yang masuk kategori ini biasanya memiliki hubungan dengan banyak bisnis sekaligus. Satu grup dapat menjalankan usaha perbankan, media, energi, infrastruktur, teknologi, hingga barang konsumsi melalui beberapa perusahaan berbeda.
Struktur semacam itu menawarkan diversifikasi, akses modal, dan jaringan bisnis yang luas. Namun, banyaknya entitas dalam satu grup juga dapat membuat analisis kepemilikan, utang, serta transaksi antarperusahaan menjadi lebih rumit.
Artikel ini membahas 20 contoh saham konglo di Indonesia dan pasar global. Daftar tersebut bukan rekomendasi investasi, melainkan referensi awal untuk memahami perusahaan, ticker saham, bidang usaha, serta sosok atau kelompok di baliknya.
Apa Saham Konglo Itu Sebenarnya?
Saham konglo adalah istilah informal untuk saham perusahaan yang menjadi bagian dari konglomerasi atau kelompok usaha besar. Perusahaan tersebut dapat berbentuk perusahaan induk, perusahaan operasional utama, maupun anak usaha yang telah tercatat di bursa.
Bursa Efek Indonesia tidak memiliki sektor resmi bernama “saham konglo”. BEI menggunakan klasifikasi IDX Industrial Classification atau IDX-IC, yang membagi emiten berdasarkan kegiatan usahanya, seperti sektor finansial, energi, teknologi, kesehatan, dan barang konsumsi. Karena itu, dua saham dari grup konglomerasi yang sama dapat tercatat dalam sektor berbeda.
Istilah konglomerasi keuangan yang digunakan Otoritas Jasa Keuangan juga memiliki arti lebih khusus. Berdasarkan POJK Nomor 30 Tahun 2024, konglomerasi keuangan terdiri atas lembaga jasa keuangan yang berada dalam satu grup karena keterkaitan kepemilikan atau pengendalian. Definisi tersebut tidak otomatis mencakup semua kelompok usaha yang biasa disebut konglomerat oleh pelaku pasar.
Dengan kata lain, penyebutan saham konglo dalam artikel investasi lebih banyak mengacu pada struktur grup bisnis dan pengendalinya, bukan kategori hukum atau sektor perdagangan tersendiri.
Karakteristik Saham Konglo
Karakteristik pertama adalah keberadaan pemegang saham pengendali yang jelas. Pengendali tersebut dapat berupa individu, keluarga, perusahaan induk, atau badan usaha lain. Pengaruhnya terlihat melalui kepemilikan saham, hak suara, susunan direksi dan komisaris, maupun kemampuan menentukan kebijakan perusahaan.
Karakteristik berikutnya adalah jaringan bisnis yang luas. Emiten tertentu mempunyai anak usaha di beberapa sektor, sedangkan emiten lain hanya mewakili satu lini bisnis dari kelompok yang jauh lebih besar. Perbedaan ini penting karena membeli saham anak usaha tidak berarti investor memiliki seluruh bisnis milik konglomerasi tersebut.
Saham konglo juga relatif aktif melakukan aksi korporasi. Bentuknya dapat berupa akuisisi, divestasi, penerbitan saham baru, pembentukan perusahaan patungan, restrukturisasi, atau pencatatan saham anak usaha. Aksi tersebut dapat mengubah struktur kepemilikan, jumlah saham beredar, dan profil risiko emiten.
Kompleksitas grup menjadi ciri lain yang perlu diperhatikan. Semakin banyak perusahaan afiliasi, semakin penting pemeriksaan terhadap transaksi pihak berelasi, pemberian pinjaman antarentitas, jaminan utang, serta pembagian keuntungan antara perusahaan induk dan anak usaha. OECD menempatkan perlindungan pemegang saham minoritas dan pengawasan transaksi pihak berelasi sebagai bagian penting dari tata kelola perusahaan.
Valuasi perusahaan konglomerasi juga tidak selalu tepat dianalisis hanya dengan rasio harga terhadap laba. Investor dapat menggunakan pendekatan sum of the parts atau SOTP dengan menilai setiap segmen usaha secara terpisah, kemudian mengurangi utang bersih pada tingkat perusahaan induk. Selisih antara nilai gabungan aset dan kapitalisasi pasar kerap disebut conglomerate discount.
Contoh Saham Konglo di Indonesia

Berikut 10 emiten Indonesia yang terhubung dengan kelompok usaha besar. Sebagian merupakan perusahaan induk, sementara lainnya adalah perusahaan operasional atau anak usaha yang telah tercatat di BEI.
1. Bank Central Asia (IDX: BBCA)
PT Bank Central Asia Tbk diperdagangkan dengan ticker BBCA. Sosok yang paling dikenal di balik bank ini adalah Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono melalui PT Dwimuria Investama Andalan.
Berdasarkan informasi perusahaan per akhir 2025, Dwimuria masih berstatus sebagai pemegang saham pengendali BCA. BBCA memberikan eksposur langsung kepada bisnis perbankan BCA, bukan seluruh portofolio bisnis keluarga Hartono.
BBCA juga kerap menjadi salah satu penentu arah IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) karena kapitalisasi pasar dan likuiditasnya yang besar. Pada 26 Mei 2026, kapitalisasi pasarnya mencapai sekitar Rp729 triliun atau setara 6,87% dari total kapitalisasi bursa. Akibatnya, kenaikan BBCA dapat membantu menopang indeks, sedangkan koreksi tajamnya berpotensi menjadi pemberat.
2. Astra International (IDX: ASII)
PT Astra International Tbk memiliki ticker ASII. Perusahaan ini menjalankan bisnis otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, agribisnis, infrastruktur, logistik, teknologi informasi, dan properti.
Pengendali langsung Astra bukan satu pengusaha Indonesia. Jardine Cycle & Carriage menguasai sekitar 50,11% saham ASII per akhir 2025 dan merupakan bagian dari Jardine Matheson Group. Karena itu, kelompok Jardine lebih tepat disebut sebagai pihak di balik struktur pengendalian ASII.
Sebagai salah satu saham berkapitalisasi besar dan anggota berbagai indeks utama, ASII juga dapat memengaruhi pergerakan IHSG. Pada beberapa sesi perdagangan 2026, penguatan ASII bersama saham-saham big caps lain tercatat membantu menopang indeks. Namun, pengaruhnya dapat berubah mengikuti harga saham, kapitalisasi pasar, dan pergerakan konstituen lain.
3. Indofood Sukses Makmur (IDX: INDF)
PT Indofood Sukses Makmur Tbk diperdagangkan dengan ticker INDF. Perusahaan ini berkaitan erat dengan Salim Group dan Anthoni Salim.
Indofood memiliki bisnis yang terintegrasi mulai dari produk konsumen bermerek, penggilingan tepung, agribisnis, distribusi, hingga pengolahan pangan. First Pacific Investment Management menjadi pemegang saham mayoritas INDF, sementara Anthoni Salim memiliki kepentingan dalam struktur First Pacific.
4. Barito Pacific (IDX: BRPT)
PT Barito Pacific Tbk menggunakan ticker BRPT. Perusahaan ini dikendalikan oleh Prajogo Pangestu, pendiri Barito Group.
BRPT berkembang dari bisnis perkayuan menjadi perusahaan investasi yang memiliki eksposur pada petrokimia dan energi terbarukan. Berdasarkan informasi perusahaan pada akhir 2025, Prajogo Pangestu masih menjadi pemegang saham mayoritas sekaligus pemilik manfaat akhir perusahaan.
Nama Prajogo cukup melekat di kalangan investor ritel. Ketika saham-saham Grup Barito bergerak serempak, candaan seperti “Pak Jo turun tangan, pasukan Barito mulai pemanasan” kerap terdengar di komunitas pasar. Ungkapan tersebut hanya humor investor dan bukan indikator untuk membeli saham.
BRPT sendiri pernah menjadi salah satu penggerak IHSG bersama BREN dan emiten berkapitalisasi besar lainnya. Namun, pengaruh BRPT terhadap indeks umumnya tidak sebesar BREN karena perbedaan kapitalisasi pasar.
5. Barito Renewables Energy (IDX: BREN)
PT Barito Renewables Energy Tbk tercatat dengan ticker BREN. Emiten ini merupakan bagian dari Barito Group sehingga terhubung dengan Prajogo Pangestu melalui kepemilikan Barito Pacific.
BREN berfokus pada energi terbarukan dan menjadi pemegang saham mayoritas Star Energy Geothermal. Investor perlu membedakan BREN dari BRPT: BREN memberikan eksposur lebih khusus terhadap aset energi terbarukan, sedangkan BRPT berada pada tingkat grup dengan portofolio lebih luas.
Besarnya kapitalisasi pasar BREN membuat saham ini beberapa kali menjadi penopang sekaligus pemberat IHSG. Pada 1 September 2026, misalnya, penguatan BREN bersama BBCA dan TLKM ikut menopang kenaikan IHSG. Sebaliknya, ketika BREN terkoreksi pada sesi lain, saham tersebut turut memberi tekanan terhadap indeks.
Kondisi itu melahirkan candaan pasar, “BREN hijau, IHSG ikut senyum.” Candaan tersebut memiliki konteks karena ukuran kapitalisasi BREN memang besar, tetapi bukan hubungan yang selalu berlaku. Pergerakan IHSG tetap ditentukan oleh ratusan saham dengan bobot berbeda.
Per akhir Agustus 2026, kapitalisasi pasar BREN tercatat sekitar Rp444 triliun dan masih berada di jajaran lima besar BEI, meskipun turun dari sekitar Rp1.298 triliun pada akhir 2025. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa saham berkapitalisasi jumbo tetap dapat mengalami volatilitas besar.
6. Dian Swastatika Sentosa (IDX: DSSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk diperdagangkan dengan ticker DSSA. Perusahaan ini merupakan bagian dari Sinar Mas, kelompok usaha yang dirintis oleh Eka Tjipta Widjaja. Nama Indra Widjaja juga terhubung dengan struktur pengendalian perusahaan melalui kelompok Sinar Mas.
Portofolio DSSA meliputi energi, pertambangan, infrastruktur digital, pusat data, telekomunikasi, dan investasi teknologi. Perluasan ke infrastruktur digital membuat profil DSSA tidak lagi hanya bergantung pada bisnis energi dan pertambangan.
DSSA sempat masuk dalam jajaran emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI sehingga pergerakannya turut diperhatikan dalam pembentukan IHSG. Namun, likuiditas dan porsi saham publik juga perlu dipertimbangkan karena kapitalisasi pasar yang besar tidak selalu berarti saham diperdagangkan secara aktif.
7. Elang Mahkota Teknologi (IDX: EMTK)
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk memiliki ticker EMTK. Tokoh utama di balik perusahaan ini adalah Eddy Kusnadi Sariaatmadja, bersama salah satu pendiri lainnya, Susanto Suwarto.
EMTK beroperasi melalui bisnis media dan digital, layanan kesehatan, jasa keuangan, serta teknologi dan infrastruktur digital. Kepemilikan pada berbagai perusahaan membuat penilaian EMTK lebih relevan dilakukan dengan memeriksa nilai dan kontribusi setiap portofolio, bukan hanya laba perusahaan induk.
8. Media Nusantara Citra (IDX: MNCN)
PT Media Nusantara Citra Tbk menggunakan ticker MNCN. Emiten ini berada dalam ekosistem MNC Group yang dibangun oleh Hary Tanoesoedibjo.
MNCN berfokus pada bisnis media, termasuk televisi, produksi konten, periklanan, dan distribusi digital. Posisi MNCN perlu dibedakan dari perusahaan lain dalam MNC Group karena setiap emiten memiliki aset, kewajiban, dan lini usaha yang tidak sama. Laporan keuangan serta profil emiten di BEI dapat digunakan untuk memeriksa struktur terkini perusahaan.
9. Saratoga Investama Sedaya (IDX: SRTG)
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk diperdagangkan dengan ticker SRTG. Perusahaan investasi ini didirikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Salahuddin Uno.
SRTG memiliki portofolio investasi pada sektor sumber daya alam, infrastruktur digital, layanan kesehatan, barang konsumsi, dan sektor lainnya. Karena model bisnisnya berbasis investasi, investor biasanya memperhatikan nilai aset bersih, dividen dari perusahaan portofolio, kas perusahaan induk, dan selisih harga saham terhadap nilai portofolionya.
10. Bank Mega (IDX: MEGA)
PT Bank Mega Tbk menggunakan ticker MEGA. Bank ini merupakan bagian dari CT Corp yang dikendalikan oleh Chairul Tanjung.
Pengendalian Bank Mega dilakukan melalui PT Mega Corpora. Selain sektor keuangan, CT Corp memiliki jaringan bisnis di bidang media, ritel, hiburan, dan gaya hidup. Namun, pemegang saham MEGA hanya memperoleh eksposur langsung terhadap bisnis Bank Mega, bukan seluruh perusahaan yang berada dalam CT Corp.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa istilah saham konglo Indonesia dapat merujuk pada bentuk perusahaan yang berbeda. BBCA dan MEGA merupakan perusahaan operasional di sektor perbankan, BREN adalah anak usaha dengan fokus khusus, sedangkan SRTG dan BRPT lebih dekat dengan model perusahaan investasi atau induk.
Pola serupa juga ditemukan di pasar global. Perbedaannya, perusahaan AS lebih sering memakai istilah holding company, multi-industry company, atau diversified corporation. Struktur kepemilikannya pun tidak selalu berpusat pada satu keluarga.
Baca juga: 15+ Saham Sawit di Indonesia dan Dunia yang Menarik
Contoh Saham Konglo di Dunia

Daftar berikut didominasi saham Amerika Serikat karena pasar AS memiliki sejumlah perusahaan induk dan kelompok usaha terdiversifikasi dengan laporan segmen yang relatif mudah diakses. Tiga emiten Asia turut disertakan untuk memberikan perbandingan struktur bisnis lintas negara.
1. Berkshire Hathaway (NYSE: BRK.B)
Berkshire Hathaway diperdagangkan di New York Stock Exchange dengan ticker BRK.B dan BRK.A. Saham BRK.B memiliki harga per lembar lebih rendah dan lebih umum digunakan investor ritel.
Berkshire merupakan perusahaan induk dengan bisnis asuransi, kereta api melalui BNSF, energi dan utilitas melalui Berkshire Hathaway Energy, serta berbagai perusahaan manufaktur, jasa, dan ritel. Perusahaan juga memiliki portofolio saham publik, tetapi kepemilikan saham tersebut berbeda dari anak usaha yang dikonsolidasikan dalam laporan keuangan.
2. Loews Corporation (NYSE: L)
Loews Corporation tercatat di NYSE dengan ticker L. Perusahaan ini berfungsi sebagai induk dari sejumlah bisnis yang bergerak di sektor berbeda.
Portofolionya mencakup CNA Financial di bidang asuransi, Boardwalk Pipelines pada infrastruktur energi, Loews Hotels, dan Altium Packaging. Struktur tersebut membuat investor perlu melihat kontribusi setiap anak usaha serta utang yang berada pada tingkat induk.
3. Markel Group (NYSE: MKL)
Markel Group diperdagangkan di NYSE dengan ticker MKL. Perusahaan ini memiliki bisnis asuransi khusus, reasuransi, investasi, dan kumpulan perusahaan operasional melalui Markel Ventures.
Model bisnis Markel sering dibandingkan dengan perusahaan induk berbasis asuransi karena premi yang diterima dapat membentuk dana investasi atau float. Laporan 2025 mencatat kontribusi dari seluruh segmen yang dilaporkan perusahaan.
4. Textron (NYSE: TXT)
Textron Inc. tercatat di NYSE dengan ticker TXT. Perusahaan multi-industri ini menjalankan bisnis melalui merek seperti Bell, Cessna, Beechcraft, E-Z-GO, dan Textron Systems.
Eksposurnya mencakup penerbangan, helikopter, pertahanan, kendaraan khusus, serta pembiayaan. Pada tahun buku 2025, Textron melaporkan pendapatan sekitar US$14,8 miliar.
5. Roper Technologies (NASDAQ: ROP)
Roper Technologies diperdagangkan di Nasdaq dengan ticker ROP. Berbeda dari konglomerasi industri tradisional, Roper berfokus pada perangkat lunak vertikal dan produk berbasis teknologi untuk pasar khusus.
Perusahaan menggunakan arus kas dari bisnis yang telah dimiliki untuk melakukan akuisisi perusahaan lain. Karena itu, kualitas akuisisi, pertumbuhan organik, utang, dan konversi laba menjadi arus kas menjadi bagian penting dalam analisis ROP.
6. Alphabet (NASDAQ: GOOGL)
Alphabet Inc. memiliki saham kelas A dengan ticker GOOGL dan saham kelas C dengan ticker GOOG di Nasdaq. Perbedaan utamanya terletak pada hak suara.
Alphabet menaungi Google Services, Google Cloud, serta kelompok bisnis Other Bets. Di luar mesin pencari dan YouTube, grup ini memiliki kegiatan di bidang kendaraan otonom, layanan kesehatan, jaringan internet, modal ventura, dan teknologi penerbangan. Sebagian besar pendapatan masih berasal dari Google Services, sehingga banyaknya lini usaha belum berarti kontribusi pendapatannya seimbang.
7. Amazon (NASDAQ: AMZN)
Amazon.com Inc. tercatat di Nasdaq dengan ticker AMZN. Perusahaan ini memiliki bisnis perdagangan elektronik, komputasi awan, periklanan digital, langganan, perangkat, logistik, dan hiburan.
Amazon melaporkan segmen North America, International, dan Amazon Web Services. Penjualan bersih sepanjang 2025 mencapai sekitar US$716,9 miliar, tetapi setiap segmen mempunyai tingkat pertumbuhan dan margin operasi berbeda.
8. SoftBank Group (TSE: 9984)
SoftBank Group tercatat di Bursa Tokyo dengan kode 9984. Grup asal Jepang ini dikenal melalui investasi teknologi, kepemilikan saham, aktivitas telekomunikasi, dan portofolio Vision Fund.
Pergerakan nilai saham SoftBank dapat dipengaruhi oleh perubahan nilai perusahaan portofolio, transaksi penjualan aset, nilai tukar, dan tingkat utang perusahaan induk. Karena itu, analisis nilai aset bersih sering digunakan untuk melengkapi pemeriksaan laba bersih.
9. Reliance Industries (NSE: RELIANCE)
Reliance Industries Limited diperdagangkan di National Stock Exchange of India dengan ticker RELIANCE. Perusahaan yang dipimpin Mukesh Ambani ini mempunyai bisnis energi, petrokimia, telekomunikasi digital, ritel, media, dan infrastruktur.
Reliance menjadi contoh kelompok usaha Asia yang berkembang dari sektor energi menuju konektivitas dan konsumsi. Perusahaan juga mempunyai lini bisnis yang belum seluruhnya diperdagangkan sebagai saham terpisah.
10. Jardine Matheson (SGX: J36)
Jardine Matheson Holdings diperdagangkan di Singapore Exchange dengan ticker J36. Grup ini mempunyai investasi pada otomotif, properti, ritel, hotel, konstruksi, dan jasa keuangan di berbagai negara Asia.
Jardine Matheson relevan bagi investor Indonesia karena grup ini terhubung dengan Astra International melalui Jardine Cycle & Carriage. Meski demikian, membeli J36 dan membeli ASII memberikan eksposur berbeda: J36 mencakup portofolio Jardine yang lebih luas, sedangkan ASII berfokus pada kegiatan bisnis Astra.
Investasi Saham Amerika dalam Satu Aplikasi
Akses saham perusahaan global seperti Apple, Tesla, dan Microsoft melalui Nanovest.
Keuntungan Saham Konglo
Keuntungan utama perusahaan konglomerasi adalah diversifikasi sumber pendapatan. Ketika satu lini usaha melemah, bisnis lain dapat membantu menjaga arus kas grup. Perusahaan besar juga umumnya mempunyai jaringan distribusi, akses pendanaan, sumber daya manajemen, dan kemampuan melakukan ekspansi yang lebih luas dibandingkan perusahaan berskala kecil.
Hubungan antarperusahaan dalam satu grup dapat menciptakan efisiensi. Perusahaan dapat berbagi jaringan distribusi, teknologi, basis pelanggan, pendanaan, atau infrastruktur. Anak usaha yang sedang berkembang juga dapat memperoleh dukungan modal dan pengalaman operasional dari perusahaan induk.
Baca juga: 10+ Saham Transportasi di Indonesia dan Amerika Serikat, Apa Saja?
Risiko Saham Konglo
Namun, ukuran grup tidak menghapus risiko bisnis. Diversifikasi yang terlalu luas dapat menyulitkan manajemen dalam mengalokasikan modal. Unit usaha dengan kinerja baik dapat digunakan untuk membiayai bisnis lain yang belum menghasilkan keuntungan.
Risiko lain berasal dari struktur kepemilikan yang kompleks. Investor perlu memeriksa transaksi pihak berelasi, piutang dan utang antarperusahaan, jaminan yang diberikan kepada afiliasi, serta potensi konflik kepentingan antara pengendali dan pemegang saham publik.
Porsi saham publik atau free float juga penting. Saham dengan kepemilikan pengendali sangat dominan cenderung memiliki jumlah saham yang lebih terbatas untuk diperdagangkan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi likuiditas dan memperbesar pergerakan harga ketika terjadi transaksi besar. Regulasi BEI mengenai free float terus diperkuat, termasuk penerapan kebijakan secara bertahap menuju batas minimum yang lebih tinggi mulai 2026.
Untuk saham global, terdapat tambahan risiko berupa perubahan nilai tukar, kebijakan pajak, perbedaan jam perdagangan, regulasi negara asal, dan biaya transaksi. Investor juga perlu memahami struktur kelas saham karena ticker berbeda dari perusahaan yang sama dapat memiliki hak suara berlainan.
Nama besar pendiri atau keluarga pengendali dapat menjadi bagian dari penilaian tata kelola, tetapi tidak menggantikan analisis keuangan. Pendapatan, laba operasi, arus kas bebas, utang, valuasi, kualitas manajemen, dan perlakuan terhadap pemegang saham minoritas tetap menjadi ukuran yang lebih dapat diuji.
FAQ
Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Daftar perusahaan dapat berubah mengikuti struktur kepemilikan dan aksi korporasi. Lakukan riset mandiri serta sesuaikan keputusan investasi dengan tujuan dan profil risiko.






