September 2026 menjadi salah satu periode tersibuk bagi komunitas lari Indonesia. Dalam dua akhir pekan berurutan, runners bisa mengikuti race di Jakarta, Tangerang, Bandung, hingga Surabaya.
Di tengah euforia tersebut, godaan membeli sepatu baru biasanya ikut meningkat. Namun, sepatu paling mahal atau paling tebal belum tentu menjadi pilihan terbaik. Sepatu race tetap harus cocok dengan bentuk kaki, pace, jarak, dan pengalaman latihan masing-masing runner.
Karena itu, daftar berikut tidak sekadar mengumpulkan brand populer. Setiap sepatu dipilih berdasarkan fungsi yang lebih jelas, mulai dari daily trainer untuk first race, sepatu tempo serbaguna, carbon racer, hingga alternatif brand lokal dengan harga lebih terjangkau.
Race September 2026 yang Perlu Dicatat
MILO ACTIV Indonesia Race 2026 Jakarta International 10K akan berlangsung pada 13 September di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. Selain kategori utama 10K, tersedia jarak 5K dan 2,5K yang lebih ramah bagi pelari pemula.
Pada hari yang sama, Surabaya Orthopedic Half Marathon atau SOHM digelar di kawasan Pakuwon City, Surabaya. Event ini menawarkan kategori 5K, 10K, dan half marathon sehingga pilihan sepatu perlu disesuaikan dengan jarak yang diambil.
Pocari Sweat Run Indonesia 2026 kemudian berlangsung pada 19–20 September di Bandung. Sehari setelahnya, Garmin Run Asia Series Indonesia dijadwalkan berlangsung di Outdoor Plaza ICE BSD, Tangerang, dengan kategori Kids Dash, 5K, 10K, dan 21K.
Sementara itu, Jakarta Running Festival 2026 sebenarnya tidak berlangsung pada September. Berdasarkan jadwal resmi penyelenggara, rangkaian acaranya digelar pada 22–25 Oktober, sedangkan kategori 5K, 10K, half marathon, dan marathon berlangsung pada 24–25 Oktober di Gelora Bung Karno.
Kondisi panas dan lembap membuat race di Jakarta dan kota besar Indonesia terasa berbeda dibandingkan lomba di negara beriklim sejuk. Upper yang breathable, grip pada aspal basah, serta bantalan yang tetap stabil ketika kaki mulai lelah menjadi faktor penting. Jakarta Running Festival bahkan menerapkan cut-off time marathon lima jam untuk mengurangi paparan pelari terhadap suhu dan kelembapan yang meningkat.
Cara Memilih Sepatu untuk Race
Runner 5K tidak selalu membutuhkan sepatu karbon. Daily trainer yang ringan dan responsif sering kali sudah cukup, terutama jika target utamanya adalah menikmati first race atau menyelesaikan lomba tanpa mengejar personal best.
Untuk 10K, pilih sepatu dengan perpaduan bobot ringan, responsivitas, dan grip. Pada jarak half marathon, cushioning dan stabilitas mulai memiliki peran lebih besar karena bentuk langkah biasanya berubah ketika kaki lelah.
Carbon plate dapat membantu menciptakan transisi yang lebih agresif, tetapi karakter sepatu seperti ini umumnya lebih kaku. Runner yang belum pernah berlatih menggunakan sepatu karbon sebaiknya tidak langsung memakainya pada race day.
Ukuran juga tidak boleh mengikuti angka semata. Sisakan ruang sekitar 0,5–1 sentimeter di depan jari karena kaki dapat membesar selama berlari. Cobalah sepatu menggunakan kaus kaki race dan lakukan setidaknya dua atau tiga sesi latihan sebelum membawanya ke garis start.
Rekomendasi Sepatu Running Terbaik
1. Nike Pegasus 42

Nike Pegasus 42 merupakan pilihan aman untuk runner yang hanya ingin memiliki satu sepatu. Kombinasi ReactX foam dan unit Air Zoom sepanjang midsole menghasilkan transisi yang halus tanpa terasa terlalu lembek.
Karakter tersebut cocok untuk latihan harian, easy run, dan first race 5K atau 10K. Toe box yang lebih lega dibandingkan generasi sebelumnya juga membuatnya lebih bersahabat untuk pemakaian berdurasi panjang.
2. Adidas Supernova Rise 3
Supernova Rise 3 lebih fokus pada kenyamanan dan kestabilan daripada kecepatan agresif. Dreamstrike+ midsole dipadukan dengan Support Rods untuk membantu menjaga transisi langkah tetap terarah.
Sepatu ini cocok bagi pemula yang sedang membangun jarak menuju 10K atau half marathon. Bantalan dan platformnya relatif stabil, sehingga kaki tidak terasa “tenggelam” ketika pace mulai menurun.
3. ASICS Novablast 6
Novablast 6 menjadi salah satu daily trainer terbaru ASICS pada 2026. FF Blast Max cushioning dipadukan dengan FF Turbo Squared pada area depan untuk menghasilkan sensasi empuk tetapi tetap bouncy.
Model ini menarik bagi runner yang ingin memakai satu sepatu untuk easy run, long run, dan sesekali tempo. Outsole ASICSGrip juga memberikan traksi lebih baik ketika jalanan lembap setelah hujan.
4. Brooks Ghost 18
Brooks Ghost 18 adalah tipe sepatu yang tidak banyak drama. DNA Loft v3 memberikan bantalan yang seimbang, sementara drop 10 milimeter terasa familiar bagi banyak heel striker.
Ghost 18 bukan pilihan paling ringan untuk mengejar personal best. Namun, kestabilan dan kenyamanannya membuat sepatu ini cocok untuk pemula, recovery run, serta race 5K–10K dengan target finis nyaman.
5. Hoka Clifton 11

Clifton 11 mempertahankan karakter khas Hoka berupa bantalan tebal dengan transisi bergulir. Pembaruan pada upper dan outsole membuatnya lebih siap menghadapi pemakaian rutin di luar ruangan.
Sepatu ini cocok untuk easy run, long run, atau half marathon bagi runner yang lebih mementingkan proteksi kaki daripada sensasi agresif. Bobotnya bukan yang paling ringan, tetapi masih cukup nyaman untuk mileage tinggi.
6. Puma Velocity Nitro 4
Velocity Nitro 4 menawarkan keseimbangan antara bantalan, responsivitas, dan harga. Nitro Foam memberikan pantulan yang cukup hidup, sementara PumaGrip menjadi nilai lebih ketika race berlangsung di jalan basah.
Karakter serbagunanya cocok untuk latihan harian hingga 10K. Ini dapat menjadi pilihan menarik bagi runner yang belum membutuhkan carbon plate tetapi menginginkan sepatu yang tidak terasa datar saat pace dinaikkan.
Baca juga: 10 Brand Fashion Terkenal di Dunia yang Sahamnya Bisa Dibeli
7. On Cloudmonster 3
Cloudmonster 3 menggunakan tiga lapisan struktur CloudTec untuk meredam benturan sekaligus membantu transisi ke depan. Sepatu ini terasa lebih hidup saat digunakan berlari dibandingkan ketika hanya dipakai berjalan.
Model tersebut lebih cocok untuk long run dan half marathon daripada sesi interval pendek. Runner yang menyukai cushioning tebal tetapi tetap menginginkan ride terkontrol dapat mempertimbangkannya.
8. New Balance SuperComp Rebel
SuperComp Rebel generasi pertama diluncurkan pada Agustus 2026 sebagai penerus pendekatan FuelCell Rebel. Sepatu ini menggunakan Infinion foam dan pelat Pebax berinfus karbon untuk menghadirkan rasa seperti race shoe dalam format trainer.
Karakter ringan dan responsif membuatnya relevan untuk tempo, 10K, dan half marathon. Namun, cek ketersediaannya di Indonesia karena model ini masih tergolong baru di pasar global.
9. Adidas Adizero EVO SL
Adizero EVO SL menggunakan full-length Lightstrike Pro tanpa pelat karbon penuh. Hasilnya adalah ride yang ringan, fleksibel, dan cukup cepat tanpa terasa terlalu kaku.
Untuk runners yang ingin satu sepatu bagi tempo run sekaligus race 5K–10K, EVO SL menjadi opsi yang masuk akal. Sepatu ini juga lebih mudah digunakan sehari-hari dibandingkan supershoe kompetisi.
10. Saucony Endorphin Speed 5

Endorphin Speed 5 memakai pelat nilon dan geometri Speedroll untuk menciptakan dorongan ke depan yang lebih halus. Pelatnya tidak sekaku serat karbon, sehingga masih nyaman digunakan untuk latihan reguler.
Sepatu ini cocok untuk interval, tempo, dan race dari 5K hingga half marathon. Bagi banyak pelari rekreasional, Speed 5 dapat menjadi jalan tengah antara daily trainer dan supershoe.
11. Puma Deviate Nitro 4
Deviate Nitro 4 menggunakan dua lapisan Nitro Foam dan PWRPLATE berbahan komposit karbon. Versi ini lebih ringan serta memiliki transisi yang lebih natural dibandingkan pendahulunya.
Sepatu tersebut cukup fleksibel untuk steady run, tempo, dan race. Grip yang kuat juga menjadikannya pilihan praktis untuk lomba di Jakarta atau Bandung ketika aspal masih basah akibat hujan malam.
12. ASICS Magic Speed 5
Magic Speed 5 dirancang untuk speedwork dan race dengan bantuan pelat karbon. Bantalannya terasa lebih firm dibandingkan Novablast, tetapi memberikan transisi yang lebih cepat ketika runner mempertahankan pace tinggi.
Model ini cocok untuk 10K dan half marathon bagi pelari yang sudah terbiasa dengan sepatu plated. Untuk easy run, karakter agresifnya mungkin terasa berlebihan.
13. Nike Vaporfly 4
Vaporfly 4 menggabungkan ZoomX foam dan carbon Flyplate dalam konstruksi yang ringan. Ini merupakan sepatu khusus race, bukan daily trainer untuk mengumpulkan mileage setiap hari.
Runner yang mengejar personal best pada 5K, 10K, atau half marathon dapat mempertimbangkannya. Namun, Vaporfly sebaiknya sudah digunakan dalam beberapa sesi latihan karena bentuk rocker dan platformnya tidak cocok untuk semua kaki.
14. Hoka Rocket X 3
Rocket X 3 menawarkan PEBA foam, pelat karbon, dan geometri rocker yang agresif. Dibandingkan beberapa supershoe lain, platformnya relatif terkontrol sehingga masih nyaman digunakan pada jarak panjang.
Sepatu ini lebih pas untuk runner berpengalaman yang menargetkan waktu tertentu di 10K, half marathon, atau marathon. Harganya berada di kelas premium, sehingga pastikan karakter sepatunya benar-benar sesuai sebelum membeli.
15. Ortuseight Hyperblast

Untuk kategori lokal, Ortuseight Hyperblast menjadi opsi daily trainer yang cukup ramah kantong. Cumulus Foam memberikan cushioning responsif, sedangkan bobotnya masih berada di bawah 280 gram.
Sepatu ini cocok untuk latihan harian dan first race 5K. Kisaran harganya sekitar Rp585.000–Rp699.000, tergantung warna, ukuran, dan promo retailer.
16. League Kumo 1.5
League Kumo 1.5 mengutamakan kenyamanan dan stabilitas untuk easy run atau recovery run. Engineered mesh membantu sirkulasi udara, sementara midsole-nya cukup empuk untuk meredam benturan di jalan aspal.
Dengan kisaran harga Rp689.000–Rp699.000, Kumo 1.5 cocok untuk runner pemula yang membutuhkan sepatu latihan sekaligus race santai tanpa mengejar pace agresif.
17. Specs Coanda
Specs Coanda menggunakan midsole Substance 1 dengan karakter ringan dan responsif. Outsole karetnya dirancang untuk menghadapi beragam kondisi jalan serta memakai sebagian material karet daur ulang.
Coanda bisa digunakan untuk daily run, long run, dan 10K dengan pace moderat. Harganya berada di kisaran Rp630.000–Rp700.000, menjadikannya salah satu opsi lokal dengan fungsi cukup luas.
18. Mills Enermax Dynaplate
Mills Enermax Dynaplate memadukan Aptive Foam dengan struktur Dynaplate untuk memberikan transisi yang lebih cepat. Karakternya tidak seagresif carbon racer, sehingga masih nyaman bagi pelari yang baru mulai berlatih tempo.
Kisaran harganya sekitar Rp549.000–Rp699.000. Model ini menarik bagi runner yang ingin naik kelas dari daily trainer biasa tanpa langsung membeli sepatu karbon.
19. 910 Haze Pro
910 Haze Pro merupakan carbon racer lokal dengan konstruksi midsole dua lapis. Pelat serat karbonnya membantu menciptakan momentum dan transisi yang lebih efisien ketika pace mulai dinaikkan.
Dengan kisaran harga Rp1,28 juta–Rp1,5 juta, Haze Pro dapat menjadi alternatif untuk race 10K atau half marathon. Seperti sepatu plated lainnya, gunakan lebih dulu saat latihan agar otot betis dan telapak kaki beradaptasi.
20. Ardiles Nfinity Sense Pro 2.0

Ardiles Nfinity Sense Pro 2.0 dibekali PowerFly Carbon Plate dan double-layer midsole. Sky Mesh pada upper membantu menjaga ventilasi sekaligus mengurangi bobot sepatu.
Harganya berada di kisaran Rp850.000–Rp930.000, cukup kompetitif untuk kategori carbon racer lokal. Sepatu ini cocok untuk runner yang ingin mencoba teknologi pelat karbon tanpa langsung masuk ke rentang harga produk global.
Baca juga: 7 Merek Skincare Terbaik dan Saham Perusahaan di Baliknya
Brand Sepatu Running dan Ticker Saham AS
Demam running tidak hanya terlihat dari penuhnya slot race. Industri sepatu lari juga menjadi bagian menarik dari sektor consumer discretionary di pasar saham Amerika Serikat.
Nike diperdagangkan dengan ticker NYSE: NKE, sementara On Holding tercatat sebagai NYSE: ONON. Hoka berada di bawah Deckers Outdoor dengan ticker NYSE: DECK, sedangkan Saucony merupakan bagian dari Wolverine World Wide dengan ticker NYSE: WWW. Brooks dimiliki oleh Berkshire Hathaway yang saham kelas B-nya menggunakan ticker NYSE: BRK.B.
Adidas, Puma, dan ASICS memiliki pencatatan utama di negara asal masing-masing, tetapi investor AS dapat menemukan American Depositary Receipt melalui pasar OTC. Tickernya adalah OTC: ADDYY untuk Adidas, OTC: PUMSY untuk Puma, dan OTC: ASCCY untuk ASICS. New Balance serta brand lokal dalam daftar ini masih berupa perusahaan tertutup sehingga tidak memiliki ticker saham publik.
Pertumbuhan kategori running juga terlihat dalam laporan perusahaan. Penjualan Hoka pada kuartal pertama tahun fiskal 2027 mencapai US$703,5 juta, naik 7,7% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan On Holding pada kuartal kedua 2026 tumbuh 13,5% menjadi CHF850,3 juta. Penjualan On di Asia Pasifik bahkan meningkat 43,1%.
Meski demikian, popularitas satu model sepatu tidak otomatis menjadi alasan membeli saham perusahaan. Investor tetap perlu memeriksa pertumbuhan penjualan, margin, persediaan, valuasi, dan kemampuan brand mempertahankan tren setelah euforia running mereda.
Beli Saham Sepatu Amerika Serikat
Jangan Lewatkan Saham Nike, Adidas, Puma, Asics
FAQ
Apa sepatu running terbaik untuk pemula?
Nike Pegasus 42, Adidas Supernova Rise 3, dan Brooks Ghost 18 merupakan pilihan aman karena karakternya cukup stabil dan mudah digunakan. Dari brand lokal, Ortuseight Hyperblast dan League Kumo 1.5 bisa menjadi alternatif lebih terjangkau.
Apakah race 5K harus menggunakan sepatu karbon?
Tidak. Daily trainer yang ringan atau sepatu tempo sudah cukup untuk sebagian besar pelari 5K. Carbon racer lebih relevan ketika runner memiliki target waktu, teknik lari yang konsisten, dan sudah terbiasa menggunakannya saat latihan.
Bolehkah memakai sepatu baru saat race day?
Sebaiknya jangan. Gunakan sepatu baru dalam dua atau tiga sesi latihan, termasuk satu sesi dengan pace lomba. Tujuannya bukan sekadar melenturkan sepatu, tetapi memastikan tidak ada masalah pada ukuran, tumit, jari, atau telapak kaki.
Sepatu apa yang cocok untuk MILO Jakarta 10K dan Garmin Run?
Untuk 5K–10K, Nike Pegasus 42, Adidas EVO SL, Saucony Endorphin Speed 5, Puma Deviate Nitro 4, atau Mills Enermax Dynaplate dapat dipertimbangkan. Pilih berdasarkan sepatu yang paling nyaman dan sudah digunakan selama latihan.
Bagaimana memilih sepatu untuk half marathon?
Utamakan cushioning yang tetap stabil setelah belasan kilometer. ASICS Novablast 6, Hoka Clifton 11, On Cloudmonster 3, dan Brooks Ghost 18 cocok untuk target finis nyaman. Runner berpengalaman dapat memilih Magic Speed 5, Haze Pro, atau Rocket X 3 untuk mengejar waktu.
Kapan sepatu running perlu diganti?
Banyak sepatu dapat digunakan sekitar 500–800 kilometer, tetapi angka tersebut bukan aturan mutlak. Perhatikan outsole yang mulai rata, midsole kehilangan pantulan, upper rusak, atau munculnya rasa tidak nyaman yang sebelumnya tidak ada.
Referensi +
- Kalender Lari Indonesia
- Runner’s World
- Deckers Investor Relations
- On Holding Investor Relations






