Pernah membeli Oreo, Lay’s, Hershey’s, Heinz, atau Jif?
Merek-merek tersebut mungkin lebih sering terlihat di rak supermarket daripada di layar aplikasi investasi. Namun, di belakangnya terdapat perusahaan bernilai miliaran dolar yang sahamnya diperdagangkan di Amerika Serikat.
Oreo, misalnya, merupakan bagian dari Mondelēz International (MDLZ). Lay’s dan Doritos berada dalam portofolio PepsiCo (PEP), sedangkan Heinz menjadi salah satu merek utama Kraft Heinz (KHC).
Menariknya, perusahaan-perusahaan tersebut tidak menjalankan bisnis yang sama persis. Ada yang mendapatkan sebagian besar bisnisnya dari snacking, ada yang bermain di cokelat, sereal dan makanan kemasan, ada pula perusahaan yang berfokus pada bumbu hingga protein hewani.
Karena itu, istilah saham makanan sebenarnya mencakup kelompok bisnis yang jauh lebih luas daripada sekadar perusahaan yang menjual makanan.
Lalu, apa saja saham makanan Amerika yang dapat kamu kenali dari produk-produknya? Yuk, cek perusahaan di balik beberapa merek makanan terkenal sekaligus pahami bisnis yang sebenarnya kamu dapatkan ketika membeli sahamnya.
Daftar Isi
ToggleDaftar Saham Makanan Amerika dan Merek di Baliknya
Merek makanan yang familiar belum tentu berasal dari perusahaan dengan model bisnis yang sama. Oreo dan Hershey’s sama-sama berada di kategori camilan, misalnya, tetapi perusahaan di balik keduanya memiliki portofolio, sumber pendapatan, dan faktor risiko yang berbeda.
Berikut 10 saham makanan Amerika yang bisa kamu kenali dari merek-merek terkenalnya, sekaligus gambaran bisnis dan faktor yang perlu diperhatikan sebelum menjadikannya bagian dari riset investasi.
1. Mondelēz International (MDLZ)

Ticker:MDLZ
Bursa: Nasdaq
Merek terkenal: Oreo, Ritz, Cadbury Dairy Milk, Toblerone, Milka, LU
Kalau ada satu perusahaan yang menunjukkan betapa besarnya bisnis di balik camilan sehari-hari, Mondelēz International (MDLZ) adalah salah satu contoh paling jelas. Portofolionya mencakup Oreo dan Ritz untuk biskuit, Cadbury Dairy Milk, Milka, dan Toblerone untuk cokelat, serta berbagai merek lokal di banyak negara.
Jangkauannya pun sangat luas. Mondelēz menjual produknya di lebih dari 150 negara dan membukukan pendapatan sekitar US$38,5 miliar sepanjang 2025. Itu membuat MDLZ lebih tepat dipahami sebagai saham perusahaan snacking global daripada sekadar “saham Oreo”.
Perkembangan terbaru juga cukup menarik. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan Mondelēz tumbuh 4,1%, sementara organic net revenue meningkat 2,2%. Yang lebih penting, volume/mix kembali tumbuh 0,7%. Perusahaan kemudian menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan organik 2026 menjadi setidaknya 2%.
Mengapa volume penting?
Perusahaan makanan dapat meningkatkan pendapatan dengan menaikkan harga. Namun, jika konsumen akhirnya membeli jauh lebih sedikit, pertumbuhan tersebut belum tentu menunjukkan permintaan yang semakin kuat. Karena itu, investor biasanya melihat harga dan volume secara bersamaan.
Yang perlu diperhatikan investor: pertumbuhan volume, kemampuan mempertahankan pangsa pasar, harga kakao dan bahan baku lain, serta seberapa jauh perusahaan dapat menaikkan harga tanpa mendorong konsumen beralih ke produk lain.
2. PepsiCo (PEP)

Ticker:PEP
Bursa: Nasdaq
Merek terkenal: Lay’s, Doritos, Cheetos, Quaker, Pepsi, Gatorade
Nama PepsiCo (PEP) memang identik dengan minuman bersoda. Namun, melihat PepsiCo hanya sebagai perusahaan minuman membuat kita melewatkan bagian besar dari bisnisnya.
Lay’s, Doritos, Cheetos, dan Quaker juga berada di bawah PepsiCo. Artinya, ketika seseorang membeli saham PEP, eksposurnya bukan hanya terhadap Pepsi atau Gatorade, tetapi juga bisnis convenient foods yang sangat besar.
Skalanya bahkan sulit disepelekan. Produk PepsiCo dikonsumsi lebih dari 1 miliar kali setiap hari di lebih dari 200 negara dan wilayah. Pada 2025, perusahaan menghasilkan pendapatan hampir US$94 miliar dari kombinasi makanan dan minumannya.
Struktur inilah yang membuat PEP berbeda dari perusahaan makanan lain dalam daftar ini.
Ketika penjualan minuman menghadapi dinamika tertentu, perusahaan masih memiliki portofolio makanan ringan. Sebaliknya, tekanan pada kategori snack tidak otomatis menggambarkan keseluruhan PepsiCo.
PEP juga dikenal sebagai salah satu perusahaan dengan riwayat distribusi dividen yang panjang. Pada 2026, PepsiCo menaikkan dividen tahunan menjadi US$5,92 per saham, menandai kenaikan dividen tahunan selama 54 tahun berturut-turut. Namun, riwayat dividen tidak berarti bisnisnya bebas tantangan.
Yang perlu diperhatikan investor: pertumbuhan volume bisnis snack dan minuman, perubahan kebiasaan konsumen, pricing, biaya komoditas, serta kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan di tengah pergeseran konsumen menuju pilihan makanan dan minuman yang berbeda.
3. The Hershey Company (HSY)

Ticker:HSY
Bursa: NYSE
Merek terkenal: Hershey’s, Reese’s, Kisses, Jolly Rancher, SkinnyPop
Cokelat Hershey’s mungkin menjadi produk yang paling mudah diasosiasikan dengan The Hershey Company (HSY). Namun, bisnis perusahaan telah berkembang jauh melewati satu batang cokelat.
Hershey juga berada di balik Reese’s, Kisses, Jolly Rancher, SkinnyPop, Pirate’s Booty, dan berbagai produk snacking lainnya. Perusahaan menyebut dirinya sebagai pemain nomor satu di kategori confectionery AS dan nomor dua di snacking AS, dengan penjualan bersih 2025 sekitar US$11,7 miliar.
Hershey menjadi contoh menarik karena menunjukkan satu risiko yang sangat spesifik di bisnis makanan: harga bahan baku. Untuk perusahaan cokelat, perubahan harga kakao dapat memengaruhi biaya produksi, harga jual, margin, dan pada akhirnya keputusan konsumen.
Hershey masih aktif memperluas dan menyegarkan portofolionya sepanjang 2026, termasuk inovasi produk pada Reese’s dan Hershey’s, sementara perusahaan melaporkan hasil kuartal keduanya pada 30 Juli 2026.
Brand kuat memang memberi perusahaan ruang untuk melakukan pricing. Tetapi ada batas seberapa jauh harga dapat dinaikkan sebelum konsumen mengurangi pembelian atau beralih ke alternatif yang lebih murah.
Yang perlu diperhatikan investor: harga kakao dan gula, kemampuan menaikkan harga, elastisitas permintaan, margin, serta perkembangan bisnis salty snacks di luar cokelat.
4. General Mills (GIS)

Ticker:GIS
Bursa: NYSE
Merek terkenal: Cheerios, Nature Valley, Betty Crocker, Pillsbury, Old El Paso
Dari sereal sarapan hingga granola bar dan bahan untuk membuat kue, General Mills (GIS) memiliki portofolio yang menyentuh banyak bagian dapur konsumen. Cheerios, Nature Valley, Betty Crocker, Pillsbury, Old El Paso, Totino’s, dan Annie’s merupakan beberapa nama dalam ekosistem perusahaan.
Namun, 2026 menunjukkan mengapa memiliki banyak brand terkenal tidak selalu berarti bisnis terus tumbuh mulus. Untuk tahun fiskal 2026 yang berakhir 31 Mei, General Mills mencatat penjualan bersih US$18,4 miliar, turun 5% dari tahun sebelumnya. Organic net sales turun 2%, dengan perusahaan menyebut sentimen konsumen yang lebih lemah dan volatilitas yang mendorong lebih banyak konsumen membeli ketika ada promosi sebagai sebagian faktor yang memengaruhi bisnis.
Kuartal keempat memberikan sinyal yang sedikit lebih baik: penjualan naik 1% menjadi US$4,6 miliar dan organic net sales relatif datar. Perusahaan juga menargetkan efisiensi biaya senilai US$3 miliar hingga tahun fiskal 2030.
Ada perubahan portofolio yang juga perlu diperhatikan. General Mills melakukan sejumlah divestasi, sehingga membandingkan angka penjualan dari satu tahun ke tahun berikutnya perlu mempertimbangkan perubahan struktur bisnis, bukan sekadar menyimpulkan bahwa konsumen berhenti membeli produknya.
Yang perlu diperhatikan investor: pertumbuhan organik, volume, promosi, perubahan portofolio akibat divestasi, biaya input, serta keberhasilan perusahaan mengembalikan pertumbuhan bisnis North America Retail.
5. Kraft Heinz (KHC)

Ticker:KHC
Bursa: Nasdaq
Merek terkenal: Heinz, Kraft, Philadelphia, Lunchables, Oscar Mayer
Botol saus Heinz mungkin menjadi produk yang paling mudah dikenali dari The Kraft Heinz Company (KHC). Tetapi di baliknya terdapat portofolio makanan yang jauh lebih luas, termasuk Kraft, Philadelphia, Lunchables, Oscar Mayer, dan berbagai merek lainnya.
Kraft Heinz menghasilkan sekitar US$25 miliar penjualan bersih pada 2025 dan menjual produknya di lebih dari 40 negara.
Kondisi bisnis 2026 memperlihatkan tantangan klasik perusahaan makanan kemasan: bagaimana menaikkan harga untuk menghadapi inflasi tanpa terus kehilangan volume.
Pada kuartal kedua 2026, penjualan bersih Kraft Heinz turun 1,4% dan organic net sales turun 1,3%. Adjusted operating income juga turun 18,4%. Meski begitu, kinerja tersebut melampaui ekspektasi internal perusahaan sehingga Kraft Heinz menaikkan outlook organic net sales tahunannya dan menambah investasi bisnis 2026 menjadi sekitar US$700 juta.
Ada pula angka yang terlihat dramatis: perusahaan membukukan operating loss US$6,4 miliar pada kuartal tersebut. Namun, sebagian besar angka itu dipicu oleh non-cash impairment charges sebesar US$7,4 miliar.
Yang perlu diperhatikan investor: pemulihan volume di AS, pricing, margin, efektivitas investasi brand, free cash flow, serta kemampuan perusahaan mengembalikan pertumbuhan organik secara konsisten.
6. McCormick & Company (MKC)

Ticker:MKC
Bursa: NYSE
Merek terkenal: McCormick, Frank’s RedHot, French’s, Cholula
Saham makanan tidak harus identik dengan cokelat, keripik, atau makanan siap saji. Ada juga McCormick & Company (MKC), perusahaan yang bisnisnya berpusat pada rasa.
Portofolionya mencakup rempah dan bumbu McCormick, saus Frank’s RedHot, mustard French’s, hingga Cholula Hot Sauce. Selain menjual langsung kepada konsumen, McCormick juga memiliki bisnis yang memasok flavor solutions kepada perusahaan makanan dan pelanggan industri lainnya.
Model tersebut membuat MKC cukup berbeda dari MDLZ atau HSY.
Pada kuartal kedua 2026, penjualan McCormick meningkat 16,7% menjadi sekitar US$1,94 miliar. Namun, angka tersebut perlu dibaca lebih jauh: pertumbuhan organiknya hanya 1,7%, sementara sebagian kenaikan berasal dari faktor lain termasuk dampak mata uang. Adjusted operating income naik 30,1% menjadi sekitar US$336 juta.
Yang perlu diperhatikan investor: organic sales growth, volume, margin, integrasi bisnis, biaya bahan baku, serta performa Consumer Segment dibanding Flavor Solutions.
7. Tyson Foods (TSN)

Ticker:TSN
Bursa: NYSE
Merek terkenal: Tyson, Jimmy Dean, Hillshire Farm, Ball Park
Kalau Hershey harus memikirkan harga kakao, Tyson Foods (TSN) menghadapi persoalan yang sama sekali berbeda. Bisnis Tyson berpusat pada protein. Perusahaan memiliki operasi besar di kategori ayam, daging sapi, daging babi, dan prepared foods, dengan merek seperti Tyson, Jimmy Dean dan Hillshire Farm.
Artinya, faktor yang menggerakkan bisnisnya juga berbeda dari perusahaan biskuit atau bumbu.
Pasokan ternak, harga pakan, biaya produksi, harga daging, kapasitas pemrosesan, hingga siklus komoditas dapat memberikan dampak besar pada profitabilitas.
Perbedaan tersebut terlihat jelas pada 2026. Pada awal September, Tyson memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan tahunannya menjadi 1,5%-2%, dari sebelumnya 2,5%–3,5%, di tengah kondisi pasokan sapi AS yang sangat ketat. Saham TSN turun sekitar 7% setelah perkembangan tersebut.
Ini menjadi pengingat bahwa label consumer staples tidak membuat semua bisnis makanan bergerak dengan pola yang sama. Permintaan daging mungkin tetap ada, tetapi profitabilitas produsen dapat berubah ketika harga ternak atau pasokan bergerak melawan perusahaan.
Yang perlu diperhatikan investor: cattle supply, harga pakan, margin Beef dan Chicken, volume, pricing, serta siklus komoditas protein.
8. Conagra Brands (CAG)

Ticker:CAG
Bursa: NYSE
Merek terkenal: Slim Jim, Healthy Choice, Birds Eye, Duncan Hines, Reddi-wip
Kalau membuka freezer atau lorong makanan kemasan di supermarket Amerika, kemungkinan besar ada produk Conagra Brands (CAG) di dalamnya. Portofolio perusahaan mencakup Birds Eye, Healthy Choice, Slim Jim, Duncan Hines, Reddi-wip, Marie Callender’s, dan Angie’s BOOMCHICKAPOP.
Karena itu, bisnis Conagra tersebar dari frozen foods hingga snack dan makanan kemasan.
Hasil tahun fiskal 2026 menunjukkan kondisi yang cukup menantang. Penjualan bersih sepanjang tahun turun 2,9%, sedangkan organic net sales turun 0,4%. Pada kuartal keempat, reported net sales memang naik 3,6%, tetapi penjualan organiknya kurang lebih datar.
Perusahaan juga membukukan kerugian GAAP besar akibat sejumlah non-cash goodwill dan brand impairment charges, sementara adjusted operating margin kuartal keempat berada di 11,7%.
Bagi investor, situasi seperti ini menekankan pentingnya membedakan antara penurunan nilai akuntansi dan kondisi operasional bisnis, tanpa mengabaikan pesan yang diberikan impairment mengenai ekspektasi nilai aset atau brand.
Yang perlu diperhatikan investor: volume makanan beku dan snack, pricing, brand investment, margin, utang, serta kemampuan perusahaan mengembalikan pertumbuhan organik.
9. J.M. Smucker (SJM)

Ticker:SJM
Bursa: NYSE
Merek terkenal: Jif, Smucker’s, Uncrustables, Café Bustelo
Nama The J.M. Smucker Co. (SJM) mungkin langsung mengingatkan pada selai. Namun, struktur bisnis perusahaan saat ini jauh lebih beragam.
Selain Smucker’s dan selai kacang Jif, salah satu aset yang semakin penting adalah Uncrustables, sandwich beku siap makan yang terus mencatat pertumbuhan volume. Perusahaan juga memiliki bisnis kopi ritel AS melalui merek seperti Café Bustelo dan produk kopi Dunkin’ berlisensi.
Hasil terbaru per Agustus 2026 memperlihatkan dinamika tersebut. Pada kuartal pertama tahun fiskal 2027, penjualan J.M. Smucker meningkat 5% menjadi US$2,22 miliar. Kenaikan tersebut berasal dari kombinasi kenaikan harga sekitar empat poin persentase dan volume/mix sekitar satu poin, terutama didukung Uncrustables dan kopi.
Yang perlu diperhatikan investor: pertumbuhan Uncrustables, harga kopi, volume Jif dan spreads, kinerja Sweet Baked Snacks, utang, serta kemampuan perusahaan menerjemahkan pricing menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan.
10. Campbell’s (CPB)

Ticker:CPB
Bursa: Campbell’s (CPB)
Merek terkenal: Campbell’s, Goldfish, Snyder’s of Hanover, Pepperidge Farm
Nama Campbell’s sangat identik dengan sup kalengan. Namun, The Campbell’s Company (CPB) sekarang juga memiliki bisnis snack melalui merek seperti Goldfish dan Snyder’s of Hanover, selain berbagai produk makanan dan saus.
Sektor makanan sering dianggap defensif karena orang tetap perlu makan dalam berbagai kondisi ekonomi. Tetapi permintaan terhadap makanan tidak sama dengan jaminan pertumbuhan bagi setiap perusahaan makanan. Konsumen masih dapat berpindah merek, membeli lebih banyak ketika ada diskon, memilih private label, mengurangi snack tertentu, atau mengubah pola konsumsi.
Yang perlu diperhatikan investor: tren volume, performa snack, efektivitas program penghematan biaya, margin, kesehatan neraca, dan kemampuan perusahaan menstabilkan penjualan setelah periode pelemahan.
Ringkasan 10 Saham Makanan Amerika
Agar lebih mudah dibandingkan, berikut ringkasan 10 saham makanan Amerika dan merek terkenal di baliknya.
| Perusahaan | Ticker | Bursa | Beberapa Merek Terkenal | Fokus Bisnis |
|---|---|---|---|---|
| Mondelēz International | MDLZ | Nasdaq | Oreo, Ritz, Cadbury, Toblerone | Makanan ringan (snacks) & cokelat |
| PepsiCo | PEP | Nasdaq | Lay's, Doritos, Cheetos, Quaker | Makanan ringan (snacks) & minuman ringan |
| The Hershey Company | HSY | NYSE | Hershey's, Reese's, Kisses | Cokelat & makanan ringan |
| General Mills | GIS | NYSE | Cheerios, Nature Valley, Betty Crocker | Makanan kemasan (packaged food) |
| Kraft Heinz | KHC | Nasdaq | Heinz, Kraft, Philadelphia, Lunchables | Makanan kemasan (packaged food) |
| McCormick & Company | MKC | NYSE | McCormick, Frank's RedHot, French's | Bumbu dan perisa makanan (spices & flavor) |
| Tyson Foods | TSN | NYSE | Tyson, Jimmy Dean, Hillshire Farm | Daging-dagingan dan protein |
| Conagra Brands | CAG | NYSE | Slim Jim, Healthy Choice, Birds Eye | Makanan kemasan & makanan beku |
| J.M. Smucker | SJM | NYSE | Jif, Smucker's, Uncrustables | Makanan, kopi & makanan ringan (food, coffee & snacks) |
| Campbell's | CPB | Nasdaq | Campbell's, Goldfish, Snyder's of Hanover | Makanan utama & makanan ringan (Meals & snacks) |
Apakah Semua Merek Makanan Terkenal Punya Saham?
Tidak selalu. Sebuah merek makanan bisa dimiliki oleh perusahaan publik, tetapi bisa juga berada di bawah perusahaan privat yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa.
Pringles menjadi contoh yang menarik. Merek keripik kentang tersebut sebelumnya berada di bawah Kellanova, perusahaan publik dengan kode saham K. Namun, setelah Kellanova diakuisisi Mars pada Desember 2025, saham Kellanova tidak lagi diperdagangkan secara publik.
Mars sendiri merupakan perusahaan privat. Artinya, meskipun kamu masih bisa menemukan Pringles, Cheez-It, atau Pop-Tarts di supermarket, saat ini tidak ada saham Mars yang dapat dibeli di bursa saham Amerika.
Hal serupa berlaku pada banyak merek makanan lain.
Karena itu, ketika menemukan produk yang menarik, ada dua pertanyaan berbeda yang perlu dijawab: Siapa perusahaan pemilik merek tersebut? Dan apakah perusahaan itu merupakan perusahaan publik? Kalau jawabannya iya, barulah kita bisa mencari kode saham perusahaan tersebut.

Apa yang Perlu Dilihat Sebelum Membeli Saham Makanan?
Setelah menemukan perusahaan dari produk yang kamu kenal, tahap berikutnya adalah melihat bagaimana bisnis tersebut berjalan.
Untuk saham makanan, ada beberapa hal yang cukup berguna untuk diperhatikan.
1. Penjualan dan Volume
Pertumbuhan pendapatan menjadi salah satu titik awal. Namun, untuk perusahaan makanan, jangan berhenti pada angka penjualan.
Perhatikan juga volume atau jumlah produk yang terjual. Misalnya, sebuah perusahaan menaikkan harga produknya 8%, tetapi volume penjualan turun 7%. Pendapatannya mungkin masih terlihat tumbuh, tetapi konsumen sebenarnya membeli lebih sedikit.
Sebaliknya, kenaikan penjualan yang dibarengi pertumbuhan volume dapat menunjukkan kondisi permintaan yang berbeda.
2. Kemampuan Menaikkan Harga
Merek yang kuat terkadang memiliki pricing power, yaitu kemampuan menaikkan harga tanpa kehilangan terlalu banyak konsumen. Brand seperti Oreo, Lay’s, atau Hershey’s mempunyai tingkat pengenalan yang tinggi. Namun, loyalitas konsumen tetap memiliki batas.
Jika harga terus naik, sebagian konsumen dapat beralih ke merek yang lebih murah, menunggu promosi, atau mengurangi pembelian. Karena itu, investor dapat memperhatikan hubungan antara harga, volume, dan pangsa pasar.
3. Harga Bahan Baku
Setiap perusahaan makanan mempunyai eksposur bahan baku yang berbeda.
Harga kakao sangat relevan bagi Hershey dan Mondelēz. Kondisi pasokan ternak penting bagi Tyson Foods. Perusahaan lain dapat terpengaruh oleh harga gula, gandum, kopi, minyak, susu, kemasan, hingga biaya transportasi.
Ketika biaya tersebut meningkat, perusahaan perlu memilih antara menyerap kenaikan biaya sehingga margin tertekan atau meneruskannya kepada konsumen melalui kenaikan harga. Keduanya dapat memengaruhi kinerja bisnis.
4. Margin Keuntungan
Pendapatan besar tidak selalu berarti keuntungan besar. Margin membantu menunjukkan berapa banyak keuntungan yang dapat dipertahankan perusahaan setelah berbagai biaya dikeluarkan.
Perhatikan apakah margin perusahaan membaik atau justru terus tertekan, sekaligus alasan di balik perubahannya. Kenaikan biaya bahan baku, promosi yang lebih agresif, perubahan produk, dan efisiensi operasional dapat memengaruhi margin perusahaan makanan.
5. Utang dan Arus Kas
Perusahaan besar sekalipun dapat memiliki utang. Utang tidak selalu buruk. Perusahaan dapat menggunakannya untuk akuisisi, ekspansi, atau kebutuhan bisnis lainnya.
Namun, investor tetap perlu melihat apakah perusahaan menghasilkan arus kas yang cukup untuk membiayai operasional, investasi, pembayaran bunga, dividen, dan kewajiban lainnya.
6. Valuasi Saham
Terakhir, jangan hanya bertanya: “Apakah ini perusahaan yang bagus?” Pertanyaan berikutnya adalah: “Berapa harga yang harus dibayar untuk memilikinya?”
Perusahaan dengan merek kuat dan bisnis berkualitas tetap dapat menjadi investasi yang kurang menarik jika sahamnya dibeli pada valuasi yang terlalu tinggi. Sebaliknya, harga saham yang turun juga tidak otomatis berarti saham tersebut murah. Penurunan bisa terjadi karena kondisi bisnis memang sedang memburuk.
Beli Saham Makanan Amerika dari Indonesia melalui Nanovest
Investor Indonesia bisa mendapatkan akses ke berbagai saham Amerika melalui Nanovest, termasuk perusahaan di sektor makanan dan consumer staples.
Nanovest menyediakan saham AS secara fraksional sehingga kamu tidak harus membeli satu saham secara penuh. Dengan begitu, kamu dapat menyesuaikan nominal investasi sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Kalau selama ini kamu hanya mengenal Oreo, Lay’s, Hershey’s, atau Heinz sebagai produk yang dikonsumsi sehari-hari, kamu bisa mulai melihat sisi lain di baliknya: perusahaan yang membangun merek tersebut dan saham yang mewakili kepemilikan atas bisnisnya.
Mulailah dari perusahaan yang kamu pahami. Kenali produknya, pelajari sumber pendapatannya, lihat kondisi keuangan dan valuasinya, lalu pahami risikonya sebelum mengambil keputusan investasi.
Kenali Saham di Balik Merek Favoritmu
Jelajahi saham perusahaan di balik berbagai merek yang kamu kenal, lalu pelajari bisnis, fundamental, dan risikonya sebelum menentukan keputusan investasi.
Investasi saham memiliki risiko dan harga dapat naik maupun turun. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca selengkapnya: 7 Cara Beli Saham Luar Negeri dari Indonesia
FAQ Saham Makanan Amerika
Beberapa saham makanan Amerika antara lain Mondelēz International (MDLZ), PepsiCo (PEP), The Hershey Company (HSY), General Mills (GIS), Kraft Heinz (KHC), McCormick & Company (MKC), Tyson Foods (TSN), Conagra Brands (CAG), J.M. Smucker (SJM), dan Campbell’s (CPB).
Perusahaan tersebut memiliki model bisnis yang berbeda, mulai dari camilan, cokelat, makanan kemasan, bumbu, hingga protein.
Tidak ada saham bernama Oreo. Oreo merupakan merek milik Mondelēz International, perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di Nasdaq dengan kode MDLZ.
Lay’s merupakan bagian dari PepsiCo, sehingga perusahaan publik di balik merek tersebut memiliki kode saham PEP. PepsiCo juga memiliki berbagai merek lain seperti Doritos, Cheetos, Pepsi, dan Gatorade.
The Hershey Company diperdagangkan di New York Stock Exchange dengan kode saham HSY. Perusahaan berada di balik merek seperti Hershey’s, Reese’s, dan Kisses.
Heinz merupakan bagian dari The Kraft Heinz Company, yang sahamnya diperdagangkan dengan kode KHC. Membeli saham KHC berarti memiliki bagian dari Kraft Heinz secara keseluruhan, bukan hanya merek Heinz.
Ya. Meskipun PepsiCo terkenal dengan bisnis minumannya, perusahaan juga memiliki bisnis makanan ringan yang besar melalui merek seperti Lay’s, Doritos, Cheetos, dan Quaker.
Karena itu, PEP memiliki eksposur terhadap bisnis makanan sekaligus minuman.
Pringles tidak memiliki saham sendiri. Merek tersebut sebelumnya berada di bawah Kellanova, tetapi Kellanova diakuisisi oleh Mars pada Desember 2025. Karena Mars merupakan perusahaan privat, saat ini tidak ada saham publik Mars atau Pringles yang dapat dibeli di bursa AS.
Banyak saham perusahaan makanan diklasifikasikan dalam sektor consumer staples karena menjual produk yang relatif rutin dikonsumsi.
Namun, investor tetap perlu memeriksa klasifikasi masing-masing perusahaan karena struktur bisnisnya dapat berbeda.
Saham makanan sering dianggap memiliki karakter defensif karena permintaan makanan relatif lebih stabil dibanding sejumlah barang non-esensial.
Namun, defensif bukan berarti bebas risiko. Harga saham tetap dapat turun akibat penurunan volume, kenaikan biaya bahan baku, tekanan margin, utang, perubahan perilaku konsumen, maupun valuasi.
Saham makanan seperti MDLZ atau HSY umumnya berasal dari perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan produk makanan melalui retailer dan berbagai kanal lainnya.
Saham restoran seperti MCD, CMG, atau YUM berasal dari perusahaan yang menjalankan atau mewaralabakan jaringan restoran. Karena model bisnisnya berbeda, faktor yang memengaruhi kinerjanya juga berbeda.
Tidak. Popularitas produk tidak menjamin fundamental perusahaan atau kinerja saham.
Investor tetap perlu melihat pertumbuhan penjualan dan volume, margin, arus kas, utang, kondisi industri, valuasi, serta risiko sebelum mengambil keputusan.
Investor Indonesia dapat mengakses saham AS melalui platform investasi yang menyediakan perdagangan saham Amerika, termasuk Nanovest.
Sebelum membeli, pelajari terlebih dahulu perusahaan, model bisnis, laporan keuangan, valuasi, dan risiko saham yang dipilih.
NEWS & ARTIKEL TIPS
Pantau Cerita di Balik Saham Favoritmu
Ikuti earnings, perkembangan perusahaan AS, dan tren pasar terbaru melalui Nanovest.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan rekomendasi atau ajakan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko dan harga dapat naik maupun turun. Lakukan riset mandiri dan sesuaikan keputusan investasi dengan tujuan serta profil risiko masing-masing.
Referensi +
- Mondelēz International — Investor Relations & Q2 2026 Results
- PepsiCo — Corporate & Investor Information
- The Hershey Company — Investor Relations
- General Mills — Fiscal 2026 Results
- Kraft Heinz — Investor Relations / Q2 2026 Results
- McCormick & Company — Q2 2026 Results
- Tyson Foods — Fiscal 2026 Outlook Update
- Conagra Brands — FY2026 Results
- The J.M. Smucker Co. — Fiscal 2027 Q1 Results
- The Campbell's Company — Investor Relations






