Harga tembaga kembali mencetak rekor setelah reli yang berlangsung selama beberapa pekan semakin diperkuat oleh ketidakpastian tarif Amerika Serikat dan ketatnya pasokan global.
Kontrak acuan tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat naik 0,8% menjadi US$14.533 per ton, melampaui rekor sebelumnya yang tercipta pada Januari. Harga kemudian berada di sekitar US$14.513 per ton pada perdagangan Senin.
Kenaikan tersebut bukan hanya pergerakan jangka pendek. Tembaga telah mencatat 10 kenaikan mingguan berturut-turut hingga Jumat lalu, rentetan terpanjang sejak 1994. Di balik reli itu, pasar menghadapi kombinasi yang tidak biasa: persediaan global sebenarnya masih relatif tinggi, tetapi lokasinya semakin terkonsentrasi di AS ketika stok di jaringan LME menyusut.
Kondisi tersebut semakin memperkuat perhatian terhadap tembaga ketika permintaan jangka panjang dari data center, energi terbarukan, dan jaringan listrik terus berhadapan dengan keterbatasan produksi tambang.
Ancaman Tarif AS Mengubah Arus Tembaga Global
Salah satu katalis terbesar reli terbaru datang dari ketidakpastian kebijakan perdagangan AS.
Pasar masih memperhitungkan kemungkinan pemerintahan Presiden Donald Trump memperluas tarif terhadap impor tembaga primer dan logam olahan. Ketidakpastian tersebut mendorong trader mengirim tembaga dalam jumlah besar ke Amerika untuk memanfaatkan harga yang lebih tinggi sekaligus mengantisipasi potensi bea masuk.
Pada Juli saja, sekitar 200.000 ton tembaga olahan masuk ke AS, arus bulanan terbesar yang pernah tercatat. Persediaan Comex kemudian menembus 1 juta ton ketika pelaku pasar bersiap menghadapi kemungkinan tarif 15% yang dapat berlaku paling cepat Januari.
Dampaknya, masalah pasar tembaga saat ini bukan semata-mata kekurangan stok global, melainkan lokasi persediaan yang semakin tidak seimbang.
Stok global masih relatif tinggi, tetapi semakin banyak logam terkonsentrasi di AS. Pada saat bersamaan, persediaan di jaringan LME terus menyusut, mengurangi ketersediaan fisik bagi pembeli di pasar lainnya dan memberikan tekanan kepada trader yang memegang posisi short.
Stok gudang LME bahkan sempat turun selama 42 hari berturut-turut hingga pertengahan Agustus, periode penurunan terpanjang sejak 2014. Hampir separuh persediaan yang tersisa juga sudah dialokasikan untuk ditarik dari gudang.
Kombinasi tersebut membantu menjelaskan mengapa harga dapat terus naik meski permintaan fisik saat ini belum menunjukkan kondisi yang sangat kuat.
Gangguan Tambang Perketat Prospek Pasokan
Di luar tarif, masalah produksi menjadi faktor yang lebih struktural bagi pasar tembaga.
Data International Copper Study Group menunjukkan produksi tambang global turun 1,1% pada semester pertama 2026, dengan Codelco dan Freeport-McMoRan sama-sama mencatat penurunan dua digit.
Salah satu gangguan terbesar berasal dari Indonesia. Pada 8 September 2025, sekitar 800.000 ton material basah membanjiri kompleks tambang Grasberg milik Freeport-McMoRan, salah satu sumber tembaga terbesar dunia. Gangguan tersebut masih memengaruhi rantai pasokan setahun kemudian.
Freeport telah memangkas proyeksi produksi Grasberg untuk 2026 sekitar sepertiga, sementara pemulihan penuh diperkirakan baru terjadi pada 2027 atau 2028.
Tekanan juga datang dari Chili, produsen tembaga terbesar dunia. Negara tersebut mencatat kuartal kedua terlemah dalam setidaknya 19 tahun dan telah dua kali memangkas proyeksi produksi 2026 hingga kini mengarah pada penurunan sekitar 2,6%. Ekspansi Andes Norte milik Codelco di tambang El Teniente juga baru diperkirakan mulai berproduksi pada 2029.
Kongo menambah ketidakpastian setelah melarang ekspor konsentrat tembaga dan kobalt pada awal Agustus untuk mendorong lebih banyak pengolahan domestik. Meski kebijakan tersebut hanya memengaruhi sebagian kecil perdagangan tembaga negara itu, harga LME naik 1,8% pada hari pengumuman.
Berbagai gangguan tersebut memperkuat persoalan yang sudah lama dihadapi industri: banyak tambang besar semakin tua dan kualitas bijih menurun, sementara proyek baru membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mampu menambah produksi secara signifikan.
AI dan Data Center Perkuat Permintaan Jangka Panjang
Reli tembaga juga memiliki fondasi permintaan yang lebih panjang.
Penggunaan tembaga terus berkembang untuk data center, jaringan listrik, dan energi terbarukan, sementara armada tambang global yang menua semakin kesulitan meningkatkan produksi dengan kecepatan serupa.
Ekspansi artificial intelligence ikut memperbesar perhatian terhadap logam ini karena pembangunan data center membutuhkan tidak hanya chip dan server, tetapi juga infrastruktur listrik dalam skala besar.
Situasi tersebut telah memberikan keuntungan bagi perusahaan pertambangan besar. Rio Tinto, BHP, Glencore, dan Zijin Mining sama-sama mencatat peningkatan laba yang signifikan dalam laporan terbaru, dibantu kinerja bisnis tembaga mereka. Namun, beberapa produsen juga masih menghadapi tantangan operasional, termasuk pengiriman tembaga Chili yang jatuh ke level terendah dalam lebih dari setahun pada Agustus.
Meski demikian, kondisi saat ini belum berarti dunia langsung menghadapi kekurangan tembaga olahan. Morgan Stanley masih memperkirakan produksi refined copper meningkat hampir 1% tahun ini karena smelter dapat menggunakan lebih banyak scrap untuk mengimbangi penurunan produksi tambang.
Perhatian utama justru berada pada seberapa cepat pasokan tambang dapat mengejar pertumbuhan permintaan.
Citigroup memperkirakan harga tembaga dapat mencapai US$15.000 per ton pada akhir 2026, bahkan berpotensi menyentuh US$17.000 apabila permintaan dari AI atau pemulihan manufaktur tumbuh lebih cepat daripada kemampuan tambang menambah produksi.
Dengan harga sudah berada di rekor tertinggi, arah berikutnya akan bergantung pada dua hal besar: apakah kebijakan tarif AS terus menarik pasokan menuju Amerika, dan apakah industri pertambangan mampu mempercepat pertumbuhan produksi ketika permintaan struktural terus meningkat.
Pantau Peluang di Balik Reli Komoditas
Pantau saham AS dan berbagai peluang investasi melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan komoditas, AI, ekonomi global, dan sentimen Wall Street lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Bloomberg: Copper Surges to All-Time High as Tariff Turmoil Rocks Market
- Oilprice.com: Copper's Longest Rally Since 1994 Collides With a Shrinking Supply Chain






