Memilih skincare yang bagus bukan hanya soal harga. Setiap orang punya jenis dan kebutuhan kulit yang berbeda, sehingga produk yang cocok untuk satu orang belum tentu memberikan hasil yang sama untuk orang lain.
Di Indonesia sendiri ada banyak merek skincare terkenal, mulai dari Neutrogena, Olay, SK-II, The Ordinary hingga Clinique. Merek-merek tersebut menawarkan produk dengan karakteristik dan target konsumen yang berbeda.
Namun, ada fakta menarik di balik beberapa merek tersebut. Sejumlah brand skincare populer ternyata dimiliki oleh perusahaan besar yang sahamnya diperdagangkan di Amerika Serikat. Jadi, selain mengenal produknya, kamu juga bisa mengenal bisnis perusahaan di balik skincare yang mungkin selama ini kamu gunakan.
Merek Skincare Terkenal dan Paling Bagus yang Sahamnya Bisa Dibeli
Berikut beberapa merek skincare terkenal yang menarik untuk dikenal, termasuk perusahaan yang berada di balik masing-masing brand.
1. Neutrogena
Neutrogena merupakan merek skincare yang menawarkan berbagai produk perawatan kulit, mulai dari facial cleanser, moisturizer, serum hingga sunscreen.
Brand ini juga sudah hadir di Indonesia dan memiliki situs resmi khusus Indonesia yang menyediakan informasi mengenai produk serta edukasi perawatan kulit.
Neutrogena berada di bawah Kenvue, perusahaan consumer health yang sahamnya diperdagangkan di Amerika Serikat dengan kode KVUE.
Artinya, Neutrogena merupakan nama brand yang dikenal konsumen, sementara Kenvue adalah perusahaan besar di belakangnya.
Bagi calon investor, hal seperti ini menarik untuk dipelajari karena sebuah produk yang sering ditemukan sehari-hari ternyata merupakan bagian dari bisnis perusahaan publik.
2. Olay
Olay merupakan salah satu merek skincare yang sudah lama dikenal. Produknya mencakup moisturizer, serum, cleanser hingga berbagai produk perawatan wajah lainnya.
Olay dimiliki oleh Procter & Gamble atau P&G, perusahaan consumer goods asal Amerika Serikat.
P&G sendiri bukan perusahaan yang hanya bergerak di bidang skincare. Perusahaan mempunyai banyak brand dari berbagai kategori kebutuhan sehari-hari.
Saham Procter & Gamble diperdagangkan dengan kode PG.
Jadi, jika membeli saham PG, investor bukan hanya berinvestasi pada bisnis Olay. Investor memiliki eksposur terhadap keseluruhan bisnis Procter & Gamble.
Nanovest juga menyediakan halaman khusus untuk mempelajari saham Procter & Gamble.
3. SK-II
SK-II dikenal sebagai merek skincare premium dengan berbagai produk seperti essence, serum, cleanser dan moisturizer.
Brand ini juga tersedia untuk konsumen Indonesia melalui kanal resminya.
Menariknya, SK-II mempunyai perusahaan induk yang sama dengan Olay, yaitu Procter & Gamble.
Meskipun Olay dan SK-II mempunyai produk, harga dan target konsumen yang berbeda, keduanya menjadi bagian dari bisnis P&G.
Dari sini kita bisa melihat bagaimana sebuah perusahaan besar dapat mempunyai beberapa merek untuk menjangkau kelompok konsumen yang berbeda.
Bagi investor, yang perlu dipelajari bukan hanya seberapa populer SK-II, tetapi bagaimana keseluruhan bisnis P&G berjalan.
4. The Ordinary
The Ordinary menjadi salah satu brand skincare yang populer karena banyak produknya menonjolkan bahan aktif dan formulasi yang relatif mudah dikenali konsumen.
Namun, The Ordinary bukan perusahaan publik yang berdiri sendiri.
Brand tersebut berasal dari DECIEM, yang kini dimiliki oleh The Estée Lauder Companies.
Saham Estée Lauder Companies diperdagangkan di Amerika Serikat dengan kode EL.
Jadi, tidak ada saham bernama The Ordinary. Jika tertarik mempelajari perusahaan di balik brand tersebut, perusahaan yang perlu dikenal adalah Estée Lauder Companies.
5. Clinique
Clinique menawarkan berbagai produk skincare dan kosmetik. Untuk kategori skincare, produknya mencakup cleanser, moisturizer, serum dan berbagai produk perawatan wajah lainnya.
Sama seperti The Ordinary, Clinique berada di bawah The Estée Lauder Companies.
Ini berarti The Ordinary dan Clinique yang terlihat sebagai dua brand berbeda ternyata dimiliki oleh kelompok perusahaan yang sama.
Hal seperti ini penting dipahami ketika mulai belajar saham. Sebuah perusahaan publik bisa mempunyai banyak merek yang mungkin selama ini kita anggap sebagai perusahaan berbeda.
6. Estée Lauder
Estée Lauder merupakan salah satu brand utama dari The Estée Lauder Companies. Produknya mencakup skincare, makeup hingga fragrance.
Berbeda dengan Clinique dan The Ordinary, nama Estée Lauder juga digunakan sebagai bagian dari nama perusahaan induknya.
Saham perusahaan diperdagangkan dengan kode EL.
Ketika membeli saham EL, investor tidak hanya mendapatkan eksposur terhadap brand Estée Lauder. Di dalam perusahaan tersebut terdapat berbagai merek beauty lain yang juga menjalankan bisnis di berbagai negara.
7. La Mer
La Mer dikenal sebagai merek skincare premium. Brand ini juga merupakan bagian dari The Estée Lauder Companies.
Menariknya, La Mer dan The Ordinary memiliki positioning yang sangat berbeda. The Ordinary dikenal dengan pendekatan produk berbasis ingredients, sedangkan La Mer berada di segmen premium.
Namun keduanya tetap berada di bawah perusahaan yang sama.
Hal ini menunjukkan bagaimana satu perusahaan dapat membangun beberapa brand untuk menjangkau konsumen dengan kebutuhan dan daya beli berbeda.
Merek Skincare dan Perusahaan Pemiliknya
Tabel tersebut menunjukkan bahwa tujuh merek skincare ternyata hanya berasal dari beberapa perusahaan besar.Sebagai konsumen, kita biasanya lebih mengenal nama produknya. Namun, ketika mulai belajar investasi, kita juga perlu mengetahui siapa perusahaan yang berada di balik produk tersebut.
| Merek | Perusahaan | Kode Saham |
|---|---|---|
| Neutrogena | Kenvue | KVUE |
| Olay | Procter & Gamble | PG |
| SK-II | Procter & Gamble | PG |
| The Ordinary | Estée Lauder Companies | EL |
| Clinique | Estée Lauder Companies | EL |
| Estée Lauder | Estée Lauder Companies | EL |
| La Mer | Estée Lauder Companies | EL |
Tabel tersebut menunjukkan bahwa tujuh merek skincare ternyata hanya berasal dari beberapa perusahaan besar.
Sebagai konsumen, kita biasanya lebih mengenal nama produknya. Namun, ketika mulai belajar investasi, kita juga perlu mengetahui siapa perusahaan yang berada di balik produk tersebut.
Merek Skincare Apa yang Banyak Direkomendasikan Dermatolog?
Selain brand di atas, ada beberapa merek yang mempunyai positioning kuat di kategori dermatological skincare, seperti CeraVe dan La Roche-Posay.
CeraVe menyatakan produknya dikembangkan bersama dermatolog. Sementara La Roche-Posay merupakan brand dermatological skincare yang juga sudah mempunyai kehadiran resmi di Indonesia.
Keduanya berada di bawah L’Oréal. Namun, berbeda dari P&G atau Estée Lauder Companies, saham utama L’Oréal diperdagangkan di Paris, bukan di bursa saham Amerika Serikat.
Sementara itu, Neutrogena menjadi salah satu brand dalam daftar di atas yang juga dikenal dekat dengan kategori dermatological skincare.
Tetap perlu diingat bahwa skincare yang paling cocok bergantung pada kondisi dan kebutuhan kulit masing-masing. Jika memiliki masalah kulit tertentu, konsultasi dengan dokter kulit lebih tepat daripada memilih produk hanya berdasarkan popularitas mereknya.
Apa Hubungannya Skincare dengan Saham?

Sebenarnya hubungannya cukup sederhana.
Saat membeli Olay, kita menjadi konsumen Procter & Gamble. Saat membeli The Ordinary atau Clinique, kita menggunakan produk dari perusahaan yang berada di bawah Estée Lauder Companies.
Sementara saham memberikan kesempatan kepada investor untuk memiliki bagian dari sebuah perusahaan publik.
Bayangkan sebuah toko skincare yang berkembang pesat. Awalnya toko tersebut hanya mempunyai satu cabang. Beberapa tahun kemudian, bisnisnya mempunyai ratusan cabang dan berbagai merek sendiri.
Kalau kamu membeli sebagian kepemilikan bisnis tersebut, kamu bukan sekadar menjadi pelanggan. Kamu ikut mempunyai bagian dari perusahaan sesuai porsi kepemilikanmu.
Konsep dasar saham kurang lebih seperti itu.
Karena itu, saham sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai kode seperti PG atau EL yang harganya naik dan turun setiap hari. Di belakang saham tersebut ada perusahaan nyata yang mempunyai produk, pelanggan, pendapatan dan bisnis.
Kenapa Orang Membeli Saham?
Salah satu alasan orang membeli saham adalah untuk mendapatkan kesempatan ikut menikmati pertumbuhan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
Misalnya sebuah perusahaan skincare awalnya hanya menjual produknya di satu negara. Seiring waktu, perusahaan berkembang, penjualannya meningkat, produknya semakin banyak dan bisnisnya masuk ke berbagai negara.
Jika bisnis tersebut semakin besar dan menghasilkan keuntungan yang lebih baik, nilai perusahaan juga berpotensi meningkat. Hal tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi harga sahamnya.
Selain kenaikan harga saham, beberapa perusahaan juga membagikan sebagian keuntungan kepada pemegang saham melalui dividen.
Namun investasi saham tetap mempunyai risiko. Perusahaan bisa mengalami penurunan penjualan, kehilangan konsumen atau menghadapi persaingan yang semakin ketat. Harga saham juga bisa turun.
Produk Bagus Belum Tentu Sahamnya Bagus
Ini bagian yang penting untuk dipahami.
Bayangkan ada toko skincare yang sangat ramai. Produknya bagus, banyak digunakan influencer dan selalu viral di media sosial.
Kemudian pemiliknya menawarkan bisnis tersebut kepadamu dengan harga Rp100 miliar.
Apakah kamu langsung membelinya hanya karena produknya bagus?
Kemungkinan besar tidak.
Kamu tentu ingin mengetahui berapa pendapatannya, berapa keuntungannya, apakah mempunyai utang, apakah konsumennya terus membeli produknya, dan apakah harga Rp100 miliar tersebut masuk akal.
Hal yang sama berlaku pada saham.
Menyukai The Ordinary tidak otomatis berarti saham EL harus dibeli. Menggunakan Olay juga tidak otomatis membuat saham PG menjadi pilihan investasi terbaik.
Produk yang sudah dikenal bisa menjadi awal untuk mengenal perusahaan, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada riset.
Apa yang Perlu Dilihat Sebelum Membeli Saham?
Sebelum membeli saham perusahaan di balik brand skincare, investor dapat mulai dengan melihat beberapa hal sederhana.
Pertama, kenali bisnis perusahaan dan brand apa saja yang dimilikinya. Setelah itu, perhatikan apakah penjualan dan laba perusahaan bertumbuh.
Investor juga perlu melihat kondisi utang, arus kas, persaingan serta prospek bisnisnya.
Terakhir, jangan lupa memperhatikan harga saham dan valuasinya. Perusahaan yang bagus belum tentu menjadi investasi yang menarik apabila sahamnya dibeli pada harga yang terlalu mahal.
Dengan cara tersebut, kamu tidak membeli saham hanya karena mengenal produknya.
Mulai Belajar Saham dari Produk yang Kamu Kenal
Belajar investasi tidak harus selalu dimulai dari membaca grafik saham yang rumit.
Kamu bisa memulainya dari produk yang digunakan sehari-hari.
Misalnya kamu menggunakan Olay. Cari tahu siapa pemilik Olay, kemudian kamu menemukan Procter & Gamble. Setelah itu, pelajari produk lain milik P&G, bagaimana perusahaan menghasilkan uang dan bagaimana kondisi bisnisnya.
Dari sana, barulah kamu mulai mengenal saham PG.
Cara sederhana seperti ini membantu kita memahami bahwa membeli saham berarti membeli bagian dari sebuah bisnis, bukan sekadar menebak harga akan naik atau turun.
Beli Saham AS dari Indonesia melalui Nanovest
Investor Indonesia bisa mendapatkan akses ke berbagai saham perusahaan Amerika melalui Nanovest.
Nanovest menyediakan saham AS secara fraksional sehingga kamu tidak harus membeli satu lembar saham secara penuh. Kamu bisa memulai dari nominal yang lebih terjangkau sesuai ketentuan yang berlaku.
Jadi, jika selama ini kamu hanya mengenal perusahaan global melalui produk yang digunakan sehari-hari, kamu juga bisa mulai mempelajari bisnis dan saham perusahaan tersebut.
Mulailah dari perusahaan yang kamu pahami. Kenali produknya, pelajari bisnisnya, lihat kondisi keuangannya dan pahami risikonya sebelum mengambil keputusan investasi.
Investasi saham memiliki risiko dan harga dapat naik maupun turun. Gunakan uang dingin dan lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.
FAQ
1. Apa saja merek skincare terbaik yang perusahaan pemiliknya memiliki saham?
Beberapa merek skincare populer yang perusahaan induknya memiliki saham antara lain Neutrogena, Olay, SK-II, The Ordinary, Clinique, Estée Lauder, dan La Mer.
2. Apakah saham perusahaan pemilik merek skincare bisa dibeli investor?
Bisa, selama perusahaan tersebut merupakan perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di bursa. Investor dapat membeli saham perusahaan tersebut melalui broker atau platform investasi yang menyediakan akses ke bursa terkait.
3. Neutrogena dimiliki oleh perusahaan apa?
Neutrogena merupakan salah satu merek yang berada di bawah Kenvue. Kenvue tercatat di New York Stock Exchange dengan kode saham KVUE.
4. Olay dan SK-II dimiliki perusahaan yang sama?
Ya. Olay dan SK-II merupakan merek yang berada di bawah perusahaan yang berbeda? Wait. Olay adalah Procter & Gamble, sedangkan SK-II juga merupakan bagian dari Procter & Gamble. Saham Procter & Gamble diperdagangkan dengan kode PG di New York Stock Exchange.
5. The Ordinary dimiliki oleh perusahaan apa?
The Ordinary merupakan bagian dari DECIEM, yang diakuisisi oleh Estée Lauder Companies. Saham Estée Lauder Companies diperdagangkan dengan kode EL di New York Stock Exchange.
6. Clinique dan La Mer dimiliki perusahaan yang sama?
Ya. Clinique dan La Mer merupakan beberapa merek yang berada di bawah Estée Lauder Companies, dengan kode saham EL.
7. Apa kode saham Estée Lauder Companies?
Estée Lauder Companies memiliki kode saham EL dan diperdagangkan di New York Stock Exchange (NYSE).
8. Apakah membeli saham perusahaan skincare sama dengan membeli merek skincare?
Tidak. Membeli saham berarti memiliki bagian kepemilikan pada perusahaan publik yang menerbitkan saham tersebut, bukan memiliki merek atau produk skincare secara langsung.
9. Apa yang perlu diperhatikan sebelum membeli saham perusahaan skincare?
Investor sebaiknya memperhatikan kinerja keuangan, pertumbuhan pendapatan, margin keuntungan, utang, prospek industri kecantikan, valuasi saham, serta risiko bisnis perusahaan.
10. Apakah merek skincare populer membuat saham perusahaannya otomatis bagus?
Tidak. Popularitas merek tidak menjamin kinerja saham. Investor tetap perlu melihat fundamental perusahaan, kondisi industri, valuasi, prospek pertumbuhan, dan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.






