Pasar Bitcoin (BTC) mungkin belum sepenuhnya keluar dari tekanan, tetapi beberapa indikator mulai menunjukkan bahwa fase terburuk dari pasar bearish bisa semakin dekat ke ujungnya.
Salah satu sinyal terbaru datang dari Tether (USDT). Kapitalisasi pasar stablecoin terbesar tersebut menyusut sekitar US$4 miliar dalam dua bulan terakhir, menjadikannya salah satu kontraksi likuiditas paling tajam yang pernah tercatat.
Sekilas, penurunan USDT terdengar negatif bagi Bitcoin. Stablecoin merupakan salah satu sumber likuiditas utama di pasar kripto, sehingga ketika pasokannya berkurang, jumlah modal yang siap masuk ke aset seperti Bitcoin juga ikut menurun.
Namun pola historis menunjukkan sisi lain. CryptoQuant mencatat bahwa kontraksi USDT yang sangat dalam justru kerap muncul menjelang fase akhir penurunan pasar, ketika investor yang ingin keluar sudah banyak melakukan penjualan dan tekanan tambahan mulai kehilangan tenaga.
Dengan Bitcoin masih bergerak di sekitar area US$60.000-US$65.000, pertanyaan pasar kini mulai berubah: apakah BTC masih bersiap turun lebih dalam, atau justru sedang membangun fondasi untuk bottom yang lebih besar?
USDT Menyusut US$4 Miliar, Likuiditas Kripto Masih Tertekan
Data CryptoQuant menunjukkan perubahan kapitalisasi pasar USDT selama 60 hari masih berada di kisaran negatif US$4 miliar.
Bahkan jika menggunakan rata-rata pergerakan 30 hari dari perubahan tersebut, kontraksinya berada di sekitar negatif US$4,88 miliar pada awal pekan ini.
Tekanan belum sepenuhnya berhenti. Dalam 11 hari terakhir saja, hampir US$870 juta pasokan USDT kembali menghilang.
Bagi pasar kripto, perkembangan ini penting karena stablecoin berfungsi sebagai salah satu sumber “dry powder” atau modal yang dapat dengan cepat dialihkan ke Bitcoin dan aset digital lainnya.
Ketika kapitalisasi stablecoin meningkat, pasar biasanya memiliki likuiditas tambahan untuk mendukung pembelian. Sebaliknya, kontraksi berkepanjangan sering berjalan beriringan dengan lemahnya permintaan dan kondisi pasar yang lebih defensif.
Namun hubungan tersebut tidak berarti penurunan USDT secara langsung menyebabkan Bitcoin turun. Keduanya dapat sama-sama mencerminkan kondisi risk-off yang lebih luas, ketika investor mengurangi eksposur terhadap kripto dan menarik modal dari ekosistem.
Yang menarik justru terletak pada skalanya. Kontraksi 60 hari USDT sempat mencapai sekitar US$5,72 miliar pada 13 Juli, salah satu level terdalam secara historis. Berdasarkan pola sebelumnya, kondisi ekstrem seperti ini lebih sering ditemukan di fase akhir pasar bearish daripada pada awal gelombang penjualan baru.
Dengan kata lain, likuiditas memang masih ketat, tetapi ruang bagi tekanan jual untuk terus meningkat dengan intensitas yang sama mulai terlihat semakin terbatas.
Bitcoin Bertahan di Area Support US$60.000-US$65.000
Pergerakan harga Bitcoin juga mulai memperlihatkan pola yang menarik. Seperti terlihat pada grafik mingguan, BTC saat ini berada di sekitar area support penting US$60.000-US$65.000 setelah terkoreksi tajam dari puncaknya di atas US$120.000.
Zona tersebut bukan area harga yang sepenuhnya baru. Secara historis, Bitcoin beberapa kali membentuk fase konsolidasi panjang setelah penurunan besar sebelum akhirnya menentukan arah selanjutnya. Pada kondisi sekarang, area sekitar US$60.000 menjadi salah satu level yang perlu dipertahankan agar struktur pemulihan jangka panjang tetap terbuka.
Namun tren belum dapat disebut bullish. Harga Bitcoin masih berada di bawah sejumlah moving average utama pada grafik mingguan, sementara pemulihannya dari tekanan jual sebelumnya belum cukup kuat untuk mengubah struktur tren secara keseluruhan.
Karena itu, pasar kemungkinan masih membutuhkan fase konsolidasi. Jika area sekitar US$60.000-US$65.000 terus bertahan, zona ini dapat berkembang menjadi basis harga baru. Sebaliknya, pelemahan signifikan di bawah area tersebut kembali membuka ruang bagi pencarian support yang lebih rendah.
Menariknya, CryptoQuant menilai jaringan Bitcoin sendiri masih berada dalam kondisi fundamental yang sehat. Artinya, tekanan harga saat ini lebih banyak berkaitan dengan siklus pasar dan likuiditas dibandingkan kerusakan struktural pada jaringan.
Divergensi RSI Mulai Mirip Bottom 2022
Sinyal lain muncul dari Relative Strength Index (RSI) Bitcoin pada grafik mingguan. Harga BTC masih membentuk struktur yang relatif lemah, tetapi RSI mulai bergerak lebih tinggi dari titik terendah sebelumnya. Kondisi ketika harga tetap rendah sementara indikator momentum justru membaik dikenal sebagai bullish divergence.
Pola serupa pernah terlihat menjelang berakhirnya pasar bearish Bitcoin pada 2022. Divergensi seperti ini menunjukkan bahwa meskipun harga masih berada di bawah tekanan, kekuatan penjual tidak lagi meningkat secepat sebelumnya. Momentum bearish dengan kata lain mulai kehilangan tenaga.
Grafik Bitcoin yang menyertai analisis juga memperlihatkan RSI mingguan mulai berbalik dari area rendah sementara harga berkonsolidasi di sekitar support jangka panjang.
Tetapi sinyal ini tetap perlu dibaca dengan hati-hati. Bullish divergence bukan jaminan bahwa harga telah mencapai titik terendah. Bitcoin dapat tetap bergerak sideways atau bahkan mencetak penurunan tambahan sebelum tren baru benar-benar terbentuk.
Saat ini, kontraksi ekstrem USDT, tekanan jual yang mulai kehilangan tenaga, support Bitcoin, serta perbaikan momentum RSI memang mulai membentuk gambaran yang konsisten dengan fase akhir pasar bearish.
Bottom Mungkin Mendekat, Konfirmasi Masih Dibutuhkan
Sinyal on-chain dan teknikal mulai memberikan gambaran yang lebih konstruktif bagi Bitcoin dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Kontraksi USDT sudah berada pada tingkat historis yang ekstrem. RSI mingguan mulai membentuk bullish divergence. Sementara Bitcoin masih mampu bertahan di area support yang secara teknikal cukup penting.
Namun belum ada cukup bukti untuk menyatakan pasar bullish baru telah dimulai. Likuiditas stablecoin belum kembali tumbuh, permintaan Bitcoin belum menunjukkan ekspansi agresif, dan harga masih perlu membuktikan kemampuannya keluar dari struktur tren turun.
Dalam jangka pendek, skenario penurunan tambahan karena itu masih terbuka.
Perbedaannya, apabila interpretasi CryptoQuant tepat, penurunan berikutnya kemungkinan terjadi ketika tekanan jual sudah semakin dekat pada tahap jenuh, bukan sebagai awal dari gelombang bearish yang jauh lebih besar.
Bagi investor, beberapa perkembangan berikutnya menjadi penting untuk dipantau: apakah kapitalisasi USDT kembali bertumbuh, apakah Bitcoin mampu mempertahankan area US$60.000-US$65.000, dan apakah divergensi RSI akhirnya diikuti oleh pembalikan tren harga yang lebih jelas.
Baca berita lainnya terkait aset Bitcoin di halaman ini.
Pantau Bitcoin dan Aset Kripto Lainnya
Perubahan likuiditas stablecoin, momentum harga, dan kondisi pasar dapat menjadi sinyal penting bagi Bitcoin. Pantau pergerakan BTC dan aset kripto lainnya di Nanovest, serta ikuti analisis pasar terbaru lewat News dan Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- CoinTelegraph: Bitcoin sell pressure ‘closer to exhaustion’ after $4B USDT market-cap drop: CryptoQuant






