September dibuka dengan tekanan baru di Wall Street. Kombinasi kenaikan harga minyak, aksi jual obligasi global, dan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor kembali mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Pada perdagangan Selasa, Dow Jones Industrial Average turun 419,02 poin atau 0,79% ke 52.766,88. S&P 500 melemah 0,71%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,03%. Penurunan tersebut menjadi sesi negatif ketiga secara berturut-turut bagi Wall Street.
Tekanan datang setelah pasar sebenarnya menutup Agustus dengan kinerja yang cukup solid. Memasuki September, perhatian investor kini bergeser dari earnings menuju risiko makro, terutama pergerakan harga energi dan yield obligasi.
Kontrak berjangka saham AS juga belum menunjukkan pemulihan signifikan. Pada Selasa malam, futures Dow, S&P 500, dan Nasdaq 100 bergerak nyaris datar, sementara tekanan menyebar ke Asia. Nikkei 225 Jepang, Kospi Korea Selatan, dan S&P/ASX 200 Australia sama-sama dibuka melemah.
Minyak Tembus US$95 setelah Konflik AS-Iran Memanas
Salah satu tekanan terbesar datang dari pasar energi.
Harga minyak kembali naik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru terhadap sejumlah target di Iran. Eskalasi terjadi setelah insiden terhadap kapal tanker yang mencoba keluar dari Selat Hormuz, kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur energi terpenting dunia.
Brent menembus US$95 per barel, sementara WTI kembali berada di atas US$90. Pergerakan tersebut membawa harga minyak kembali ke level yang belum terlihat sejak akhir Juli.
Bagi pasar saham, kenaikan minyak menjadi perhatian karena dampaknya tidak berhenti pada sektor energi. Harga energi yang bertahan tinggi dapat menambah tekanan terhadap inflasi, biaya transportasi, dan biaya operasional perusahaan.
Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter AS. Jika tekanan harga kembali meningkat, ruang bagi Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan dapat semakin terbatas.
Bitcoin ikut terkena tekanan. BTC sempat turun lebih dari 3% dan diperdagangkan di sekitar US$76.500, seiring kenaikan yield dan penguatan dolar mendorong investor menjauh dari aset berisiko.
Yield Treasury Naik, Saham Teknologi Tertekan
Harga minyak bukan satu-satunya sumber tekanan. Pasar obligasi juga bergerak tajam.
Yield Treasury AS 10 tahun naik hingga 4,79%, level intraday tertinggi sejak Januari 2025. Yield obligasi 30 tahun juga mencapai sekitar 5,27%, mendekati level tertingginya dalam beberapa dekade.
Kenaikan yield terjadi di tengah aksi jual obligasi yang tidak hanya berlangsung di Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah jangka panjang di Jepang, Inggris, dan Jerman juga bergerak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menambah tekanan terhadap pasar aset global.
Saham teknologi menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak. Ketika yield meningkat, valuasi perusahaan yang banyak bergantung pada ekspektasi laba masa depan cenderung menghadapi tekanan lebih besar. Nasdaq pun mencatat penurunan paling dalam di antara tiga indeks utama AS pada Selasa.
Pada saat bersamaan, spekulasi mengenai arah suku bunga The Fed kembali meningkat. Ekonom Deutsche Bank bahkan menilai kenaikan suku bunga menjadi skenario yang paling mungkin untuk pertemuan September setelah komentar hawkish Ketua Fed Kevin Warsh dan sejumlah pejabat The Fed lainnya.
Dengan demikian, pasar kini menghadapi dua sumber tekanan yang saling berkaitan: harga energi yang kembali tinggi dan biaya pendanaan yang meningkat.
Data Tenaga Kerja dan The Fed Jadi Fokus Berikutnya
Perhatian investor selanjutnya beralih ke rangkaian data ekonomi AS.
Data JOLTS terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja relatif stabil pada Juli. Jumlah lowongan pekerjaan naik tipis menjadi 7,3 juta, sementara perekrutan turun menjadi 5,1 juta dari 5,3 juta pada Juni. Tingkat PHK juga turun menjadi 1% dari 1,1%.
Investor kini menunggu data penggajian swasta ADP Agustus, Beige Book Federal Reserve, serta laporan ketenagakerjaan bulanan yang akan menjadi referensi penting untuk menilai kondisi ekonomi menjelang pertemuan The Fed.
Dari sisi korporasi, laporan earnings juga masih menjadi perhatian. Hewlett Packard Enterprise (HPE), Snowflake (SNOW), dan Broadcom (AVGO) dijadwalkan merilis kinerja setelah penutupan perdagangan Rabu. Dell Technologies (DELL) sebelumnya melonjak hampir 9% pada perdagangan after-hours setelah melampaui ekspektasi dan menaikkan proyeksi tahun fiskal 2027, didukung kekuatan bisnis infrastruktur AI.
September sendiri memiliki catatan historis yang kurang kuat bagi saham AS. S&P 500 secara historis mencatat penurunan rata-rata sekitar 0,6% selama September dan hanya membukukan return positif sekitar 45% dari waktu. Namun, pola musiman bukan penentu tunggal pergerakan pasar. Tahun ini, arah Wall Street akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak, yield obligasi, data tenaga kerja, dan kebijakan The Fed.
Bagi investor, pekan pertama September membawa perubahan fokus yang cukup jelas. Setelah earnings dan reli Agustus mendominasi perhatian, minyak, obligasi, dan suku bunga kini kembali berada di tengah pergerakan Wall Street.
Pantau Peluang di Tengah Gejolak Wall Street
Pantau saham AS di Nanovest dan ikuti perkembangan harga minyak, yield obligasi, kebijakan The Fed, serta sentimen Wall Street melalui News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Yahoo Finance: Stock market today: Dow, S&P 500, Nasdaq drop as oil tops $95, bond yields rise
- CNBC: Stock futures are little changed after Wall Street posts third straight losing day: Live updates






