Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menambah pasokan solar ke pasar AS dan global. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah AS menekan harga bahan bakar yang melonjak akibat gangguan pasokan energi dan konflik geopolitik.
Dalam pengumuman pada Jumat, 9 Oktober 2026, Trump menyatakan Rusia akan segera memasok sekitar 300.000 metrik ton solar, setara dengan lebih dari 2,2 juta barel. Pengiriman tambahan juga direncanakan berlangsung pada November dan periode berikutnya.
Kesepakatan ini disertai pelonggaran sementara sanksi AS terhadap solar Rusia. Kebijakan tersebut muncul ketika harga rata-rata solar di AS mencapai US$6,28 per galon, mendekati level tertinggi sepanjang sejarah.
Pasar energi langsung merespons pengumuman tersebut. Kontrak berjangka solar AS turun hampir 5%, meskipun sejumlah analis memperingatkan bahwa tambahan pasokan Rusia belum tentu cukup untuk menurunkan harga secara berkelanjutan.
Rusia Siapkan Pasokan Solar hingga Jutaan Barel
Kesepakatan antara Trump dan Putin mencakup pengiriman solar Rusia secara bertahap untuk membantu menambah ketersediaan bahan bakar di pasar internasional.
Menurut pengumuman Trump, Rusia akan segera menyediakan sekitar 300.000 metrik ton solar, setara dengan sekitar 2,2-2,25 juta barel.
Pengiriman berikutnya direncanakan mencakup tambahan 500.000 ton pada November 2026, kemudian 1 juta ton dalam periode setelahnya, bergantung pada kemampuan produksi dan kondisi kilang Rusia.
Secara keseluruhan, volume yang diumumkan mencapai sekitar 1,8 juta ton atau setara dengan kurang lebih 13,5 juta barel solar.
Namun, realisasi pengiriman masih bergantung pada kapasitas kilang dan kemampuan Rusia memenuhi komitmen tersebut. Sejumlah fasilitas pengolahan minyak Rusia sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan Ukraina.
Kesepakatan ini juga menjadi perkembangan penting dalam hubungan energi AS dan Rusia, mengingat Washington sebelumnya memberlakukan pembatasan terhadap perusahaan minyak Rusia sebagai respons atas perang di Ukraina.
Untuk memungkinkan pasokan tersebut masuk ke pasar AS, Departemen Keuangan AS mengeluarkan izin yang melonggarkan pembatasan impor solar Rusia hingga 7 April 2027.
Langkah ini membuka jalur perdagangan bahan bakar Rusia yang sebelumnya dibatasi oleh kebijakan sanksi Washington.
Meski demikian, tambahan pasokan awal sekitar 2,2 juta barel relatif kecil dibandingkan kebutuhan bahan bakar AS. Menurut Yahoo Finance, jumlah tersebut bahkan lebih rendah daripada konsumsi solar untuk transportasi di AS dalam satu hari.
Harga Solar AS Melonjak 70%, Pasar Langsung Bereaksi
Kesepakatan tersebut diumumkan ketika pasar bahan bakar menghadapi tekanan pasokan yang meningkat sejak konflik AS dan Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Menurut Reuters, harga solar AS telah meningkat sekitar 70% sejak dimulainya perang tersebut. Harga rata-rata nasional mencapai US$6,28 per galon pada Kamis, 8 Oktober, berdasarkan data American Automobile Association (AAA).
Kenaikan harga solar menjadi perhatian karena bahan bakar ini digunakan secara luas dalam transportasi barang, kegiatan pertanian, dan pemanasan rumah.
Biaya solar yang tinggi dapat meningkatkan pengeluaran perusahaan logistik dan produsen, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap harga barang dan inflasi.
Pengumuman tambahan pasokan Rusia langsung memicu penurunan harga di pasar berjangka.
Kontrak berjangka solar AS turun hampir 5% dan diperdagangkan di sekitar US$4,64 per galon setelah berita kesepakatan tersebut muncul.
Namun, harga kontrak berjangka dan harga rata-rata solar yang dibayar konsumen di SPBU merupakan dua indikator berbeda. Penurunan di pasar berjangka belum tentu langsung tercermin dalam harga eceran.
Sejumlah analis juga mempertanyakan kemampuan kesepakatan tersebut untuk menghasilkan penurunan harga yang bertahan lama.
Analis Wood Mackenzie menilai tambahan pasokan Rusia dapat membantu pasar solar yang sedang ketat, tetapi belum menjadi solusi permanen. Sementara itu, analis GasBuddy memperkirakan dampak awalnya berpotensi terbatas, dengan kemungkinan penurunan harga sekitar 10-20 sen per galon.
Efektivitas kebijakan tersebut akan bergantung pada realisasi volume ekspor Rusia, kondisi pasokan global, serta perkembangan konflik yang memengaruhi produksi dan distribusi energi.
AS Longgarkan Sanksi Rusia di Tengah Kritik Ukraina
Pelonggaran sanksi terhadap solar Rusia menjadi bagian dari perubahan kebijakan energi AS untuk menghadapi kenaikan harga bahan bakar.
Sebelumnya, Washington telah memberlakukan sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia pada Oktober 2025 sebagai upaya membatasi pendapatan Moskow yang dapat digunakan untuk membiayai perang di Ukraina.
Dengan dibukanya kembali akses perdagangan solar, Rusia berpotensi memperoleh tambahan pendapatan ekspor energi.
Keputusan tersebut mendapat kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang menilai pelonggaran tekanan ekonomi terhadap Rusia dapat melemahkan upaya internasional untuk mengakhiri perang.
Kritik serupa datang dari sejumlah anggota Kongres AS, termasuk anggota Partai Republik Don Bacon, yang mendorong pemerintah untuk mempertahankan tekanan sanksi terhadap Moskow. Kebijakan ini juga muncul menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November 2026, ketika harga energi dan biaya hidup menjadi perhatian utama pemilih.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah menempuh sejumlah langkah untuk menambah pasokan bahan bakar, termasuk mendukung kesepakatan negara-negara G7 untuk melepaskan hingga 100 juta barel cadangan minyak dan solar darurat selama empat bulan.
Pemerintah juga memperluas akses penggunaan solar berwarna merah yang bebas pajak dan biasanya digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun, kebijakan tersebut diperkirakan lebih banyak membantu sektor pertanian dibandingkan pengemudi truk.
Selain itu, pemerintah AS dilaporkan mempertimbangkan penggunaan Defense Production Act (DPA) untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dan pengolahan energi domestik.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah dapat memberikan dukungan pembiayaan atau mendorong prioritas produksi untuk kebutuhan tertentu. Meski demikian, pembangunan kapasitas kilang baru membutuhkan investasi besar dan waktu yang panjang.
Pasokan Tambahan Belum Menjamin Harga Solar Turun Permanen
Kesepakatan AS dan Rusia memberikan tambahan opsi pasokan bagi pasar solar global, tetapi dampaknya terhadap harga masih bergantung pada realisasi pengiriman dan kondisi fundamental pasar energi.
Analis menilai volume awal yang dijanjikan Rusia relatif terbatas dibandingkan kebutuhan bahan bakar global. Selain itu, kapasitas produksi Rusia masih menghadapi risiko akibat kerusakan fasilitas pengolahan minyak.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang Ukraina juga tetap menjadi faktor yang dapat mengganggu pasokan serta memengaruhi harga energi.
Karena itu, penurunan harga kontrak berjangka setelah pengumuman belum dapat dianggap sebagai tanda berakhirnya tekanan harga solar.
Bagi investor, perkembangan ini menjadi salah satu faktor penting untuk memantau arah pasar energi, terutama terkait harga minyak, biaya transportasi, inflasi, dan prospek kebijakan suku bunga AS.
Tambahan pasokan Rusia dapat membantu meredakan tekanan dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutan penurunan harga akan ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan global serta perkembangan konflik geopolitik.
Trump Gandeng Rusia, Ke Mana Arah Harga Energi?
Kesepakatan pasokan solar Rusia membuka perkembangan baru di pasar energi global. Pantau saham-saham AS dan peluang investasi lainnya melalui Nanovest, serta ikuti berita ekonomi, energi, dan pasar terbaru di News & Artikel Tips.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Reuters: Trump says Russia to supply diesel to US and global markets
- Yahoo Finance: Trump announces Russia will release 2.2 million barrels of diesel 'immediately,' with more to follow






