Ada sesuatu yang tidak biasa dari Wall Street saat ini: daftar risikonya semakin panjang, tetapi estimasi labanya justru ikut naik.
Harga minyak Brent sudah menembus US$100 per barel, yield Treasury AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2023, dan investor masih menunggu data inflasi sebelum keputusan The Fed pekan depan. Kombinasi tersebut biasanya cukup untuk membuat prospek saham terlihat semakin berat. Pada Rabu (9/9), S&P 500 memang turun 0,48%, Nasdaq melemah 0,64%, dan Dow Jones terkoreksi 0,77%.
Tetapi di balik tekanan tersebut, satu penyangga besar belum hilang: laba perusahaan.
Barclays pada Rabu justru menaikkan target S&P 500 akhir 2026 menjadi 7.950 dari sebelumnya 7.800 dan meningkatkan proyeksi EPS indeks menjadi US$365 dari US$337. Alasannya cukup jelas. Dari 492 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja kuartal kedua, sekitar 86% berhasil melampaui estimasi laba analis, jauh di atas rata-rata jangka panjang 67,5%.
AI masih menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan tersebut, tetapi ceritanya lebih luas dari teknologi. Aktivitas ekonomi global tetap relatif kuat, belanja perusahaan meningkat, dan investasi AI terus mengalir meski biaya pendanaan semakin mahal. JPMorgan memperkirakan pertumbuhan output global berada pada laju tahunan sekitar 3,1%, lebih tinggi dari estimasi pertumbuhan potensial 2,3%.
Artinya, investor sekarang menghadapi tarik-menarik yang menarik: harga uang semakin mahal, tetapi mesin laba perusahaan belum kehilangan tenaga.
Situasi tersebut juga menjelaskan mengapa rotasi sektoral menjadi semakin penting. Ketika Brent menembus US$100 pada Rabu, sektor energi menjadi satu-satunya sektor S&P 500 yang berakhir positif dengan kenaikan 1,1%. Di sisi lain, investasi AI masih mendukung perusahaan yang memasok chip dan konektivitas data center, sementara kondisi ekonomi yang relatif kuat menjaga peluang bagi trading, investment banking, dan pertumbuhan kredit.
Risikonya belum selesai. Data PPI AS menjadi agenda penting hari ini, disusul CPI pada Jumat. Pasar masih memperhitungkan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan depan. Namun, jika earnings tetap mampu tumbuh di tengah tekanan tersebut, fokus investor bisa semakin bergeser dari sekadar arah indeks menuju perusahaan yang memiliki mesin laba paling jelas.
Dalam konteks ini, ExxonMobil, Marvell Technology, dan Bank of America menawarkan tiga jalur yang berbeda: harga energi dan produksi, pembangunan infrastruktur AI, serta aktivitas keuangan dan pasar modal.
Berikut saham pilihan yang masuk radar Nanovest hari ini.
Rekomendasi Saham AS Hari Ini, 10 September 2026
1. ExxonMobil Holdings Corporation (XOM) —BUY
- Range Buy: Rp2.891.764
- Target Price 1: Rp2.955.504
- Target Price 2: Rp3.019.245
- Stop Loss: Rp2.769.063
Mengapa Menarik?
ExxonMobil berada di posisi yang semakin menarik ketika harga minyak kembali menembus US$100 per barel. Pada Q2 2026, perusahaan membukukan revenue sekitar US$114,53 miliar dan laba US$14,5 miliar, tertinggi dalam empat tahun. Produksi mencapai sekitar 4,5 juta barel setara minyak per hari, termasuk sekitar 1,8 juta barel per hari dari Permian Basin.
Kekuatan XOM tidak hanya bergantung pada harga minyak. Produksi berbiaya rendah dari Permian dan Guyana, penguatan margin penyulingan, efisiensi biaya, serta ekspansi proyek LNG memberikan beberapa sumber pertumbuhan. Arus kas juga tetap kuat dengan levered free cash flow TTM sekitar US$20,67 miliar, mendukung pembayaran dividen US$4,3 miliar dan buyback US$5,1 miliar pada kuartal kedua.
Kondisi energi saat ini menjadi katalis tambahan, tetapi sekaligus sumber risiko. Harga minyak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan permintaan global. Dengan saham yang sudah naik kuat dalam setahun terakhir, kemampuan Exxon mempertahankan produksi, disiplin modal, dan shareholder returns akan semakin penting ketika harga komoditas kembali berubah.
2. Marvell Technology, Inc. (MRVL) —BUY
- Range Buy: Rp4.145.990
- Target Price 1: Rp4.456.420
- Target Price 2: Rp4.766.850
- Stop Loss: Rp3.478.565
Mengapa Menarik?
Marvell berada di salah satu bagian penting dari pembangunan data center AI: custom silicon dan connectivity. Pada Q2 FY2027, perusahaan mencetak rekor revenue US$2,739 miliar atau tumbuh 37% YoY, sementara non-GAAP EPS meningkat sekitar 40% menjadi US$0,94.
Data Center menjadi motor utamanya dengan pertumbuhan revenue 46% YoY. AI-related bookings tetap kuat, sementara bisnis custom silicon diperkirakan semakin berakselerasi pada paruh kedua FY2027. Manajemen bahkan kembali menaikkan outlook FY2027 dan FY2028, dengan revenue Q3 diproyeksikan sekitar US$3,15 miliar ±5%.
Pertumbuhan tersebut juga mulai menghasilkan operating leverage. Non-GAAP operating margin meningkat menjadi 36,6% dari 34,8%, operating cash flow mencapai US$605,5 juta, dan levered free cash flow TTM sekitar US$2,41 miliar. Namun, setelah reli saham yang sangat besar, forward P/E sekitar 53,76x membuat ekspektasi terhadap MRVL sudah tinggi. Perlambatan belanja AI, konsentrasi data center, atau eksekusi custom silicon yang meleset dapat memicu volatilitas.
3. Bank of America Corporation (BAC) —SPEC. BUY
- Range Buy: Rp1.104.592
- Target Price 1: Rp1.120.013
- Target Price 2: Rp1.135.435
- Stop Loss: Rp1.074.905
Mengapa Menarik?
Bank of America menawarkan kombinasi antara pendapatan bunga dan aktivitas pasar modal. Pada Q2 2026, revenue naik 15% YoY menjadi US$31,6 miliar, dengan net interest income meningkat 9% menjadi US$16,0 miliar dan noninterest income melonjak 22% menjadi US$15,6 miliar.
Global Markets menjadi salah satu sumber pertumbuhan terkuat. Revenue segmen tersebut meningkat 34% menjadi US$8,0 miliar, sementara equities sales and trading revenue melonjak sekitar 70% menjadi US$3,6 miliar. Pertumbuhan investment banking fees, basis pinjaman dan simpanan, serta efficiency ratio yang membaik turut memperkuat fundamental BAC.
Modal perusahaan juga tetap solid dengan CET1 ratio 11,2%, sementara sekitar US$8 miliar dikembalikan kepada pemegang saham melalui dividen dan buyback pada kuartal kedua. Namun, ketidakpastian arah suku bunga dapat memengaruhi net interest income dan aktivitas pasar modal, sedangkan perlambatan ekonomi dapat meningkatkan risiko kredit. Karena itu, status Spec. Buy mencerminkan fundamental yang membaik tetapi sensitivitas makro yang tetap tinggi.
Ringkasan Rekomendasi Saham Hari Ini
| Saham | Rekomendasi | Range Buy | Target Price 1 | Target Price 2 | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|---|
| XOM | Buy | Rp2.891.764 | Rp2.955.504 | Rp3.019.245 | Rp2.769.063 |
| MRVL | Buy | Rp4.145.990 | Rp4.456.420 | Rp4.766.850 | Rp3.478.565 |
| BAC | Spec. Buy | Rp1.104.592 | Rp1.120.013 | Rp1.135.435 | Rp1.074.905 |
Kesimpulan
Risiko makro memang meningkat, tetapi laba korporasi belum menunjukkan cerita yang sama. XOM mendapat dukungan dari lingkungan harga energi dan produksi berbiaya rendah, MRVL menawarkan pertumbuhan dari pembangunan infrastruktur AI, sedangkan BAC membawa peluang dari pendapatan bunga dan aktivitas pasar modal. Di tengah valuasi dan biaya modal yang tinggi, kemampuan mempertahankan pertumbuhan laba menjadi semakin penting.
Pantau Peluang Investasi Hari Ini
Pantau XOM, MRVL, dan BAC melalui aplikasi Nanovest dan ikuti perkembangan pasar terbaru lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan riset internal dan bertujuan untuk edukasi serta informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun jaminan keuntungan atas transaksi investasi tertentu. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.






