Saham Oracle (ORCL) kembali tertekan setelah muncul persoalan baru pada salah satu proyek infrastruktur AI terbesarnya di Amerika Serikat.
ORCL ditutup turun 3,47% menjadi US$139,54 pada Kamis, 24 September 2026, setelah laporan menyebut perusahaan mengirimkan pemberitahuan force majeure kepada unit Blue Owl Capital yang mengembangkan Project Jupiter, sebuah kampus data center AI berskala besar di New Mexico.
Langkah tersebut berkaitan dengan potensi keterlambatan penyediaan daya untuk proyek. Reuters melaporkan bahwa berdasarkan kontrak, Oracle bertanggung jawab mengamankan pasokan listrik untuk fasilitas tersebut. Perusahaan berupaya memperoleh perlindungan apabila kendala yang berada di luar kendalinya membuat proyek tidak dapat beroperasi pada 2028 sesuai rencana.
Namun, pemberitahuan force majeure bukan berarti Oracle membatalkan keterlibatannya. Perusahaan tetap berencana menjadi penyewa utama Project Jupiter dan menyatakan proyek tersebut masih berjalan sesuai jadwal.
Force Majeure Lindungi Oracle dari Risiko Keterlambatan
Klausul force majeure umumnya digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap kewajiban kontraktual ketika terjadi kondisi di luar kendali pihak terkait. Dalam kasus Project Jupiter, langkah Oracle terutama berkaitan dengan pembayaran apabila pembangunan fasilitas mengalami keterlambatan.
Apabila Project Jupiter gagal mulai beroperasi pada 2028, pemberitahuan tersebut dapat memungkinkan Oracle menunda pembayaran tertentu daripada membayar penuh untuk fasilitas yang belum tersedia. Reuters melaporkan Oracle tidak dapat mengakhiri kontrak sewa dalam kondisi apa pun berdasarkan ketentuan proyek tersebut.
Blue Owl, yang memiliki pengembang data center Stack Infrastructure, menyatakan pemberitahuan tersebut tidak mengubah komitmen finansial terhadap proyek multi-tahun itu. Menurut sumber Reuters, Blue Owl memiliki sekitar US$3 miliar ekuitas dalam proyek tersebut, sementara Oracle bertanggung jawab membayar biaya utangnya.
Project Jupiter sendiri telah mendapatkan pembiayaan sekitar US$18 miliar dari konsorsium bank. Skala pendanaannya membuat perkembangan proyek menjadi relevan bukan hanya bagi Oracle dan Blue Owl, tetapi juga bagi lembaga keuangan yang mendukung pembangunan infrastruktur tersebut.
Pemberitahuan force majeure pada akhirnya memberikan Oracle mekanisme untuk membatasi sebagian risiko finansial apabila pembangunan membutuhkan waktu lebih panjang dari rencana.
Pasokan Energi Jadi Kendala Project Jupiter
Project Jupiter dirancang sebagai kampus data center seluas sekitar 1.400 acre dengan kebutuhan daya sekitar 2,45 gigawatt. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari pembangunan kapasitas komputasi AI Oracle untuk OpenAI dan masuk dalam proyek infrastruktur Stargate.
Namun, kebutuhan energi sebesar itu juga menjadi salah satu tantangan utama proyek.
Kampus tersebut direncanakan menggunakan fuel cell berbahan bakar gas dari Bloom Energy. Infrastruktur pipa Energy Transfer yang akan memasok gas ke lokasi mengalami keterlambatan hampir enam bulan hingga 1 Februari 2027 setelah menghadapi persoalan perizinan. Rute pipa juga telah diubah menyusul penolakan sebelumnya.
Selain itu, izin kualitas udara untuk sistem fuel cell yang akan memasok listrik ke kampus masih dalam proses. Departemen lingkungan New Mexico memiliki tenggat hingga 23 November untuk mengambil keputusan mengenai izin tersebut.
Project Jupiter juga menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat dan kelompok lingkungan terkait penggunaan air, kebutuhan energi, dan dampak kualitas udara. Persoalan tersebut memperlihatkan tantangan yang lebih luas dalam pembangunan data center AI berkapasitas besar, karena ekspansi komputasi tidak hanya membutuhkan chip dan server, tetapi juga akses terhadap listrik, air, lahan, dan infrastruktur pendukung dalam skala besar.
Investor Pantau Eksekusi Ekspansi AI Oracle
Perkembangan Project Jupiter menjadi perhatian karena proyek tersebut merupakan bagian dari ekspansi infrastruktur AI Oracle yang lebih luas.
Stargate sendiri merupakan inisiatif pembangunan infrastruktur AI di AS dengan komitmen investasi hingga US$500 miliar yang melibatkan OpenAI, SoftBank, serta mitra termasuk Oracle. Project Jupiter menjadi salah satu fasilitas yang mendukung penyediaan kapasitas komputasi untuk OpenAI.
Dalam jangka pendek, keterlambatan Project Jupiter belum tentu langsung memengaruhi pendapatan Oracle. William Blair menilai tahun fiskal 2027 seharusnya tidak terdampak karena fasilitas tersebut memang belum dijadwalkan menghasilkan pendapatan pada periode tersebut.
Namun, bagi investor, perkembangan ini menambah beberapa indikator yang perlu dipantau dalam ekspansi AI Oracle: kemajuan perizinan, ketersediaan pasokan energi, target operasional 2028, serta kemampuan perusahaan menjaga biaya pembangunan dan pendanaan tetap terkendali.
Oracle sendiri menyatakan Project Jupiter masih berada pada jadwal yang direncanakan. Karena itu, pemberitahuan force majeure saat ini lebih tepat dilihat sebagai langkah perlindungan kontraktual terhadap potensi keterlambatan, bukan konfirmasi bahwa proyek telah gagal atau dibatalkan.
Proyek AI Jadi Sorotan, Pantau ORCL
Project Jupiter menghadapi risiko pasokan energi dan perizinan saat Oracle memperbesar infrastruktur AI. Pantau ORCL dan saham teknologi AS lainnya melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Yahoo Finance: Oracle stock drops as the company moves to shield itself from costs linked to controversial data center
- GuruFocus: Oracle Stock Falls on Force Majeure Notice for Data Center






