Investasi besar-besaran Oracle (ORCL) pada infrastruktur artificial intelligence mulai menunjukkan hasil yang lebih konkret.
Bisnis cloud infrastructure perusahaan tumbuh tiga digit pada kuartal pertama fiskal, sementara kontrak AI baru terus menambah backlog yang sudah mencapai ratusan miliar dolar. Pada saat bersamaan, arus kas keluar ternyata tidak sebesar yang dikhawatirkan Wall Street.
Kombinasi tersebut menjadi penting bagi Oracle. Dalam beberapa bulan terakhir, investor bukan mempertanyakan besarnya permintaan AI yang datang, melainkan berapa banyak modal yang harus dikeluarkan Oracle untuk memenuhi permintaan tersebut dan seberapa cepat investasi itu dapat berubah menjadi pendapatan.
Hasil terbaru mulai memberikan jawaban. Saham ORCL naik sekitar 4% dalam perdagangan setelah jam bursa setelah sebelumnya ditutup di US$152,94.
Oracle Cloud Tumbuh 121%, Pendapatan Tembus US$19,3 Miliar
Oracle Cloud Infrastructure menjadi salah satu sorotan terbesar pada laporan kali ini. Pendapatan bisnis tersebut melonjak 121% menjadi US$7,4 miliar, lebih tinggi dari estimasi rata-rata analis sebesar US$7,19 miliar.
Pertumbuhan itu membantu mendorong total pendapatan kuartal pertama fiskal naik 30% menjadi US$19,3 miliar, sedikit melampaui konsensus US$19,14 miliar. Laba disesuaikan mencapai US$1,92 per saham, juga berada di atas perkiraan sekitar US$1,74-US$1,75.
Kinerja tersebut menunjukkan bagaimana Oracle semakin bergeser dari perusahaan yang identik dengan software database menjadi salah satu penyedia infrastruktur komputasi untuk workload AI.
Perusahaan terus membangun kapasitas data center untuk OpenAI dan pelanggan lainnya. Dalam satu kuartal terakhir saja, Oracle mengatakan telah menambahkan sekitar 850 megawatt kapasitas data center.
Ekspansi tersebut ikut membantu Oracle mengamankan lebih banyak kontrak. Perusahaan mencatat tambahan kontrak cloud AI senilai lebih dari US$30 miliar, membawa remaining performance obligations atau nilai kontrak yang belum diakui sebagai pendapatan menjadi US$664 miliar. Angka itu melampaui perkiraan analis sekitar US$639,89 miliar.
Oracle memperkirakan sekitar 50% dari backlog tersebut akan dikonversi menjadi pendapatan dalam 36 bulan ke depan, memberikan visibilitas yang lebih jelas terhadap potensi pertumbuhan bisnis cloud beberapa tahun mendatang.
Backlog Membesar Tanpa Seluruh Beban Ditanggung Oracle
Besarnya backlog sebelumnya juga menjadi sumber kekhawatiran. Untuk memenuhi kontrak AI bernilai besar, Oracle membutuhkan data center, chip, jaringan, listrik, dan infrastruktur lain yang membutuhkan investasi besar.
Namun, laporan terbaru menunjukkan model pembiayaan yang lebih ringan dibandingkan asumsi sebagian investor.
Oracle mencatat belanja modal atau capex sebesar US$28,50 miliar pada kuartal tersebut. Dari jumlah itu, sekitar US$11,36 miliar ditutupi oleh pembayaran di muka pelanggan.
Perusahaan juga menjelaskan bahwa sebagian besar kontrak baru menggunakan mekanisme pembayaran di muka, pelanggan membawa hardware sendiri, atau struktur lain yang membuat Oracle tidak harus mengeluarkan tambahan modal besar untuk membeli chip.
Hal ini memungkinkan Oracle mempertahankan rencana pengeluaran tahunannya di kisaran US$90 miliar hingga US$95 miliar, meskipun kontrak AI terus bertambah.
Dampaknya mulai terlihat pada arus kas. Free cash flow Oracle memang masih negatif US$5,40 miliar, tetapi angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan ekspektasi negatif US$9,56 miliar. Posisi itu juga membaik dibandingkan free cash flow negatif US$11,48 miliar pada kuartal ketiga fiskal 2026.
Perbaikan ini menjadi penting setelah tingginya capex sebelumnya menimbulkan kekhawatiran mengenai neraca Oracle. Pada Juli, S&P Global bahkan menurunkan peringkat kredit perusahaan dengan menyoroti lemahnya arus kas dan meningkatnya risiko bisnis.
Oracle juga telah menyelesaikan program penjualan saham senilai US$20 miliar yang sebelumnya diumumkan dan dilakukan secara bertahap melalui pasar. Langkah pendanaan tersebut sempat mendapat perhatian investor menjelang laporan keuangan terbaru.
ORCL Rebound, Tapi Eksekusi Data Center Tetap Jadi Ujian
Reaksi awal investor cukup positif. Saham Oracle naik sekitar 4% setelah jam perdagangan, setelah sebelumnya berada di bawah tekanan tajam akibat kekhawatiran mengenai kebutuhan pendanaan, biaya komponen, dan pembangunan data center.
Tekanan tersebut cukup besar. Menurut Bloomberg, ORCL telah turun sekitar 38% dari level tertingginya pada 1 Juni, sementara Reuters mencatat saham turun hampir 25% sejak laporan earnings Juni dan lebih dari 21% sepanjang tahun sebelum hasil terbaru dirilis.
Investor sebelumnya juga menyoroti proyek Stargate, terutama setelah muncul laporan mengenai tantangan pembangunan infrastruktur AI terkait tenaga kerja, perizinan, dan ketersediaan listrik.
Hasil kuartal ini belum menghilangkan risiko tersebut. Dengan capex tahunan US$90 miliar-US$95 miliar dan backlog US$664 miliar, kemampuan Oracle membangun kapasitas tepat waktu tetap menjadi faktor penting untuk mengubah kontrak menjadi pendapatan aktual.
Namun, pertumbuhan OCI sebesar 121%, backlog yang lebih tinggi dari perkiraan, dan kebutuhan kas yang lebih terkendali memberikan bukti bahwa investasi AI Oracle mulai menghasilkan pertumbuhan yang terlihat dalam laporan keuangan.
Perusahaan bahkan menaikkan proyeksi laba disesuaikan tahun fiskal 2027 menjadi US$8,10 per saham dari US$8,05, sedikit di atas konsensus analis US$8,07. Oracle juga masih memperkirakan pendapatan tahunan setidaknya US$90 miliar.
Dengan demikian, fokus investor berikutnya bukan lagi hanya seberapa besar kontrak AI yang bisa dikumpulkan Oracle. Kecepatan konversi backlog menjadi pendapatan, kebutuhan modal untuk membangun kapasitas, dan kemampuan menjaga arus kas akan menentukan apakah ekspansi AI ini dapat menghasilkan return yang sepadan dengan skalanya.
Pantau Oracle di Tengah Ledakan Permintaan AI
Pantau saham Oracle dan perusahaan teknologi AS lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan AI, cloud, earnings, dan sentimen Wall Street lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Bloomberg: Oracle Posts Cloud Sales That Top Estimates on Surging AI Demand
- Reuters: Oracle tops estimates as AI demand tempers cash-burn fears






