Harga minyak kembali bergerak tajam pada Kamis, 24 September 2026, ketika eskalasi konflik di Arab Saudi bertemu dengan sinyal diplomasi baru antara Amerika Serikat dan Iran.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November berakhir naik US$3,52 atau 3,4% menjadi US$106,60 per barel, penutupan tertingginya sejak 15 September. West Texas Intermediate (WTI) naik US$2,45 atau 2,7% menjadi US$94,61 per barel. Pada titik tertinggi sesi, kedua benchmark sempat melonjak sekitar 5%, dengan Brent diperdagangkan di atas US$108.
Pergerakan tersebut memperlihatkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mendorong harga naik, sementara prospek pembukaan kembali jalur perdagangan utama melalui Selat Hormuz dengan cepat mengurangi sebagian premi risiko tersebut.
Serangan Houthi Kembali Angkat Risiko Pasokan
Kenaikan minyak dipicu oleh eskalasi terbaru antara kelompok Houthi Yaman dan Arab Saudi. Koalisi yang dipimpin Saudi mengatakan pertahanan udaranya mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan Houthi. Serangan ditujukan ke wilayah Taif dan Yanbu, sementara Houthi menyatakan telah meluncurkan rudal dan drone dalam operasi terhadap posisi militer Saudi.
Perkembangan tersebut menjadi penting bagi pasar energi karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia, sementara jalur ekspornya tengah menghadapi tekanan dari beberapa arah.
Selat Hormuz, yang sebelum konflik menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak global, belum sepenuhnya kembali beroperasi normal. Pada saat yang sama, Laut Merah menjadi jalur alternatif penting bagi ekspor Saudi, tetapi meningkatnya aktivitas Houthi turut menaikkan risiko pelayaran di kawasan tersebut.
Saudi Arabia sebelumnya telah mengaktifkan kembali East-West Pipeline setelah fasilitas itu terganggu akibat serangan drone pada awal September. Pipa tersebut menghubungkan wilayah produksi di bagian timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga minyak dapat diekspor tanpa melewati Selat Hormuz.
Namun, jalur alternatif tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko. Reuters melaporkan premi asuransi risiko perang untuk tanker yang memuat minyak dari pelabuhan utama Saudi di Laut Merah telah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Diplomasi AS-Iran Pangkas Kenaikan Minyak
Harga minyak tidak mempertahankan seluruh kenaikannya karena pasar juga menerima sinyal bahwa Washington dan Teheran masih membahas kemungkinan jalan keluar dari konflik.
Laporan Reuters menyebut pembicaraan di New York mencakup kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz. Prospek kembalinya lalu lintas yang lebih normal melalui jalur tersebut membuat Brent dan WTI turun dari level tertinggi sesi.
Iran sebelumnya menyatakan terbuka terhadap negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan AS, tetapi tetap mempertahankan sejumlah tuntutan, termasuk terkait sanksi, blokade, dan program nuklirnya. Perbedaan posisi tersebut membuat hasil diplomasi masih belum pasti.
Pada saat yang sama, sebagian aliran minyak melalui kawasan mulai membaik. Pengoperasian kembali East-West Pipeline dan meningkatnya pergerakan kapal melalui Hormuz sebelumnya sempat menekan harga minyak.
Tarik-menarik dua faktor inilah yang membuat perdagangan minyak sangat volatil. Risiko serangan terhadap infrastruktur atau jalur pelayaran dapat mendorong harga naik dalam waktu singkat, sementara kemajuan diplomasi yang membuka peluang pemulihan ekspor dapat memberikan tekanan ke arah sebaliknya.
Pasar Pantau Hormuz, Laut Merah, dan Pasokan Global
Pergerakan minyak berikutnya akan sangat bergantung pada seberapa cepat jalur ekspor utama Timur Tengah dapat kembali beroperasi secara konsisten.
Selat Hormuz tetap menjadi titik utama yang perlu diperhatikan. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut sebelum konflik meningkat pada akhir Februari, sehingga perubahan kecil dalam volume pelayaran dapat memiliki dampak besar terhadap ekspektasi pasokan dunia.
Laut Merah juga semakin penting setelah Arab Saudi mengandalkan East-West Pipeline untuk mengalihkan minyak menuju Yanbu. Apabila serangan Houthi berlanjut, risiko terhadap tanker dan infrastruktur di jalur tersebut dapat mempertahankan premi geopolitik dalam harga minyak.
Tekanan tidak hanya berasal dari Timur Tengah. Serangan terhadap sektor penyulingan Rusia dan wacana pembatasan ekspor diesel AS turut menambah ketidakpastian terhadap ketersediaan produk energi global.
Dengan Brent kembali berada di atas US$100 per barel, pasar kini menghadapi dua kemungkinan yang bergerak berlawanan: pemulihan pasokan melalui diplomasi AS-Iran atau gangguan baru akibat eskalasi regional. Perkembangan di Hormuz, Arab Saudi, dan Laut Merah karena itu akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga energi dalam jangka pendek.
Minyak Bergejolak, Pantau Dampaknya ke Pasar
Brent kembali menembus US$106 di tengah serangan Houthi dan perkembangan diplomasi AS-Iran. Pantau saham AS dan perkembangan pasar global melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Yahoo Finance: Oil prices swing as Houthis claim strike on Saudi Arabia, US said to be negotiating Hormuz deal with Iran
- The Wall Street Journal: Oil Prices Jump on Houthi Attacks, U.S.-Iran Escalation Fears
- Reuters: Oil prices settle up about 3% as Houthi attack on Saudi Arabia lifts supply fears
- The Business Times: Oil prices fall as markets look to Iran truce, but remain wary of attacks on oil facilities






