Ancaman pemecahan salah satu bagian penting kerajaan digital Google (GOOG) kembali mereda.
Hakim federal AS pada Rabu memutuskan bahwa Google tidak perlu menjual atau memisahkan bisnis teknologi periklanannya, menolak salah satu solusi paling agresif yang diajukan Departemen Kehakiman AS atau Department of Justice (DOJ).
Namun, keputusan tersebut bukan berarti Google sepenuhnya bebas dari konsekuensi. Pengadilan sebelumnya telah menyimpulkan bahwa perusahaan melakukan praktik ilegal untuk mempertahankan dominasinya di sebagian pasar teknologi periklanan. Kini, Google tetap diwajibkan melakukan perubahan pada cara bisnis tersebut beroperasi untuk membuka ruang persaingan yang lebih besar.
Putusan ini menambah babak baru dalam pertarungan antimonopoli yang telah berlangsung bertahun-tahun antara pemerintah AS dan salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia.
Google Lolos dari Skenario Breakup
Hakim Leonie M. Brinkema dari Pengadilan Distrik Timur Virginia menolak permintaan pemerintah untuk memaksa Google melepaskan sebagian bisnis teknologi periklanannya.
Keputusan tersebut merupakan tahap penentuan solusi atau remedies dari kasus yang diajukan DOJ pada 2023. Pada April 2025, Brinkema sebelumnya telah memutuskan bahwa Google secara ilegal mempertahankan monopoli di sejumlah bagian pasar teknologi iklan digital.
DOJ kemudian mendorong langkah struktural berupa pemisahan sebagian bisnis tersebut sebagai salah satu cara memulihkan persaingan.
Pengadilan akhirnya memilih pendekatan yang lebih ringan. Google diperbolehkan mempertahankan bisnis ad tech-nya, tetapi harus menyesuaikan sejumlah praktik operasional agar pesaing memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bersaing.
Detail lengkap mengenai perubahan tersebut belum tersedia. Putusan tertulis hakim akan tetap dirahasiakan selama 14 hari agar pihak-pihak terkait dapat melakukan penyuntingan terhadap informasi yang bersifat sensitif.
Bagi Alphabet, keputusan ini setidaknya menghilangkan salah satu risiko terbesar dalam kasus tersebut: dipaksa menjual bagian dari ekosistem periklanan yang selama ini saling terhubung.
Kasus Ad Tech Jadi Bagian dari Tekanan yang Lebih Besar
Perselisihan kali ini merupakan satu dari dua kasus antimonopoli besar yang dihadapi Google di Amerika Serikat.
Kasus pertama diajukan pemerintah pada 2020 dan berfokus pada dominasi Google di pasar pencarian online. Pada 2024, pengadilan menyimpulkan bahwa Google mempertahankan monopoli secara ilegal dalam bisnis pencarian.
DOJ sempat mengusulkan solusi besar, termasuk kemungkinan divestasi browser Chrome. Namun, pada September 2025, hakim Amit Mehta menolak langkah tersebut dan mengizinkan Google mempertahankan Chrome.
Sebagai gantinya, Google diperintahkan menghentikan sejumlah perjanjian distribusi eksklusif dan membagikan sebagian data pencarian kepada pesaing. Google saat ini masih mengajukan banding terhadap putusan dalam kasus tersebut.
Pola serupa kini terlihat dalam perkara ad tech. Pengadilan mengakui adanya pelanggaran antimonopoli, tetapi tidak memilih pemecahan perusahaan sebagai solusinya.
Dengan demikian, dua kasus tersebut sama-sama memperlihatkan batas yang mulai dibentuk regulator terhadap bisnis Google, tanpa sejauh ini memaksa Alphabet memisahkan aset utama seperti Chrome maupun operasi teknologi periklanannya.
Bisnis Iklan Tetap Jadi Mesin Utama Alphabet
Besarnya perhatian regulator terhadap bisnis ini tidak terlepas dari posisi iklan dalam model bisnis Alphabet.
Google mengoperasikan ekosistem yang mencakup berbagai tahapan transaksi iklan digital. Dalam perkara ad tech, pemerintah mempermasalahkan bagaimana posisi Google di berbagai bagian rantai tersebut dapat memberikan keuntungan yang sulit ditandingi pesaing.
Nilai bisnis iklan juga masih sangat besar bagi Alphabet. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan iklan Google mencapai US$81,63 miliar, menjadi bagian terbesar dari total pendapatan Alphabet sebesar US$119,8 miliar.
Artinya, perubahan regulasi terhadap cara ekosistem iklan Google beroperasi tetap relevan bagi investor meskipun pengadilan tidak memerintahkan divestasi.
Dampak jangka panjangnya akan bergantung pada seberapa jauh aturan baru mengubah cara Google menghubungkan pengiklan, publisher, dan berbagai layanan teknologi iklannya.
Karena rincian lengkap remedies belum dipublikasikan, konsekuensi finansial dari putusan terbaru ini juga belum dapat dinilai secara penuh.
Risiko Breakup Mereda, Pengawasan Belum Berakhir
Bagi Alphabet, putusan terbaru mengurangi ketidakpastian mengenai kemungkinan restrukturisasi besar terhadap bisnis iklannya.
Namun, persoalan antimonopoli belum selesai. Google masih menghadapi proses hukum terkait bisnis pencarian, termasuk banding atas solusi yang ditetapkan dalam kasus tersebut. Pada bisnis ad tech, perusahaan juga harus menunggu rincian lengkap mengenai perubahan operasional yang diwajibkan pengadilan.
Perhatian investor selanjutnya kemungkinan akan tertuju pada seberapa besar remedies tersebut dapat memengaruhi integrasi ekosistem iklan Google dan kemampuan perusahaan mempertahankan monetisasi iklannya.
Untuk sementara, hasil pengadilan memberikan satu kepastian penting: Google dapat mempertahankan bisnis ad tech-nya dalam satu perusahaan. Namun, cara bisnis tersebut dijalankan tidak akan sepenuhnya sama seperti sebelumnya.
Pantau Google dan Saham Teknologi AS
Pantau saham Alphabet dan perusahaan teknologi AS lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan regulasi, AI, earnings, dan sentimen Wall Street lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- TechCrunch: Google spared from ad-business breakup, but judge orders changes to how it operates
- AP News: Judge orders changes to Google’s digital ads business but spares it from a breakup






