Harga Bitcoin (BTC) kembali turun di bawah US$82.000 pada Kamis, 22 Oktober 2026, di tengah aksi jual aset berisiko yang turut menekan saham teknologi Amerika Serikat. Pelemahan terjadi ketika investor menghadapi ketidakpastian terkait laporan keuangan perusahaan teknologi, kenaikan harga minyak, dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Yahoo Finance, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$81.600 pada perdagangan Kamis pagi di AS, turun lebih dari 3% dalam 24 jam. Penurunan tersebut terjadi setelah Bitcoin sempat mendekati US$85.000 pada sesi sebelumnya, tetapi gagal mempertahankan pemulihan.
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum, Solana, dan sejumlah aset kripto lainnya juga melemah, sementara kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turun sekitar 1,4% dalam 24 jam.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar kripto kembali dipengaruhi oleh perkembangan di luar industri aset digital, terutama saham teknologi dan ekspektasi kebijakan moneter AS.
Bitcoin Gagal Bertahan di US$85.000, Likuidasi Capai US$400 Juta
Bitcoin sempat menguat mendekati US$85.000 pada Rabu sebelum kembali mengalami tekanan jual pada perdagangan Kamis.
Menurut data TradingView yang dikutip salah satu laporan pasar, BTC sempat mencapai sekitar US$84.840 sebelum turun menuju US$81.500. Yahoo Finance mencatat harga Bitcoin berada di sekitar US$81.600 pada sesi perdagangan Kamis pagi di AS.
Pelemahan tersebut memperpanjang kesulitan Bitcoin mempertahankan pemulihan setelah aksi jual besar pada awal Oktober.
Data CoinMarketCap menunjukkan kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 1,4% dalam 24 jam. Sementara itu, CoinGlass mencatat likuidasi posisi perdagangan kripto senilai sekitar US$400 juta dalam periode yang sama.
Likuidasi terjadi ketika posisi perdagangan dengan leverage tidak lagi memiliki jaminan yang cukup untuk dipertahankan. Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, penutupan posisi secara otomatis dapat memperbesar tekanan harga.
Sebelum koreksi terbaru, total open interest atau nilai kontrak derivatif kripto yang masih terbuka dilaporkan mencapai US$55,95 miliar pada Selasa malam, meningkat 4,5% dalam 24 jam dan menjadi level tertinggi sejak 25 September.
Besarnya posisi derivatif tersebut menunjukkan bahwa pasar memiliki eksposur leverage yang cukup tinggi menjelang pembalikan harga.
Pelemahan juga terjadi pada aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) turun hampir 4% dan diperdagangkan di sekitar US$2.400, sementara Solana berada di kisaran US$104 dan XRP sekitar US$1,34.
Dogecoin (DOGE) juga dilaporkan turun lebih dari 5% dalam periode pelemahan pasar tersebut.
Dengan tekanan yang terjadi secara luas, penurunan Bitcoin kali ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan BTC, tetapi juga mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap aset berisiko.
Saham Teknologi Turun, Earnings Tesla dan Meta Jadi Sorotan
Koreksi Bitcoin berlangsung bersamaan dengan penurunan saham teknologi AS setelah investor merespons laporan keuangan sejumlah perusahaan besar.
Nasdaq Composite turun sekitar 2% pada perdagangan Kamis, sementara tiga indeks saham utama Wall Street bergerak di zona merah.
Saham perusahaan semikonduktor juga mengalami tekanan, mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap prospek pertumbuhan dan besarnya pengeluaran untuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan adalah laporan keuangan Tesla (TSLA). Perusahaan milik Elon Musk tersebut mencatat pendapatan kuartal III sebesar US$28,05 miliar, sedikit di bawah perkiraan konsensus US$28,13 miliar. Belanja modal Tesla dilaporkan mencapai US$4,73 miliar, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sekitar US$7,96 miliar.
Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai waktu dan skala investasi AI Tesla, meskipun manajemen perusahaan mengindikasikan bahwa pengeluaran akan meningkat pada tahun-tahun mendatang.
Meta Platforms (META) juga menjadi perhatian setelah memperkirakan belanja modal 2026 mencapai US$135 miliar hingga US$145 miliar untuk mendukung ekspansi infrastruktur AI.
Besarnya kebutuhan investasi tersebut membuat investor semakin mencermati hubungan antara pengeluaran perusahaan teknologi dan potensi pengembalian finansialnya.
Perkembangan ini turut memengaruhi pasar kripto karena Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir bergerak searah dengan saham teknologi ketika sentimen terhadap aset berisiko berubah.
Ketika investor mengurangi eksposur terhadap saham pertumbuhan, aset digital seperti Bitcoin juga dapat mengalami tekanan jual, terutama jika pasar derivatif memiliki posisi leverage yang besar.
Harga Minyak Melonjak, Risiko Inflasi Kembali Meningkat
Selain perkembangan saham teknologi, kenaikan harga minyak menjadi faktor lain yang menekan sentimen pasar.
Menurut Yahoo Finance, harga minyak mentah Brent naik hingga melampaui US$112 per barel pada Kamis, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di atas US$100 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi.
Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi, sehingga berpotensi mempertahankan tekanan inflasi. Kondisi tersebut juga relevan terhadap ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Apabila tekanan inflasi tetap tinggi, ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan suku bunga dapat menjadi lebih terbatas. Suku bunga yang bertahan tinggi cenderung membuat kondisi pembiayaan lebih ketat dan dapat mengurangi daya tarik aset berisiko, termasuk kripto.
Meski demikian, hubungan antara harga minyak, inflasi, dan Bitcoin tidak selalu bergerak secara langsung. Pergerakan BTC juga dipengaruhi oleh likuiditas, aktivitas perdagangan, serta permintaan dari investor institusional.
Arus dana ETF Bitcoin spot AS turut menjadi perhatian setelah periode masuk dan keluarnya dana yang berfluktuasi.
Investor mencermati apakah permintaan melalui ETF dapat membantu menyerap tekanan jual ketika pasar saham dan aset digital sama-sama mengalami koreksi.
Baca berita lainnya terkait perkembangan Bitcoin di halaman ini.
Bitcoin Lagi Tertekan, Sudah Pantau Pergerakannya?
Bagaimana pergerakan BTC selanjutnya? Pantau harga Bitcoin dan aset kripto lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan pasar global, The Fed, dan berita kripto terbaru di News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko, termasuk potensi kehilangan modal. Harga aset kripto sangat volatil dan kinerja historis tidak menjamin hasil di masa depan. Lakukan riset dan sesuaikan keputusan dengan profil risikomu.
Referensi +
- Yahoo Finance: Bitcoin falls below $82,000 as investors retreat from risk assets
- Economies.com: Bitcoin falls below $82,000 as technology selloff and oil rally pressure cryptocurrencies
- BigGo Finance: Bitcoin Falls Below $82,000 as Tesla's AI Spending Gap Rattles Risk Assets






