Untuk memahami penyebab IHSG anjlok pada perdagangan 29 Oktober 2026, investor perlu mencermati tekanan pada saham berkapitalisasi besar serta perkembangan sentimen pasar. Konsultasi MSCI dan kebijakan suku bunga The Fed menjadi konteks yang perlu diperhatikan, meskipun belum dapat dipastikan sebagai penyebab tunggal penurunan indeks.
Berdasarkan laporan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip sejumlah media, saham BBCA turun 6,35% ke Rp4.940 per saham. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar turut menekan pergerakan indeks hingga penutupan.
Apa Penyebab IHSG Anjlok?
Penyebab IHSG anjlok pada perdagangan 29 Oktober 2026 berkaitan dengan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar dan sentimen pasar yang berkembang di tengah ketidakpastian global maupun domestik. Namun, data yang tersedia tidak cukup untuk memastikan satu faktor sebagai penyebab tunggal penurunan indeks.
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian investor adalah konsultasi MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Dalam pengumuman pada 15 Oktober 2026, MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi. Keputusan akhir mengenai usulan tersebut ditargetkan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.
Usulan tersebut menjadi perhatian karena klasifikasi indeks MSCI berkaitan dengan cara investor institusi global memandang dan mengakses pasar saham Indonesia. Meski demikian, dampak konsultasi MSCI terhadap penurunan IHSG pada hari itu tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pergerakan indeks.
Sentimen global juga menjadi konteks yang perlu dicermati. Pada 28 Oktober 2026, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75% hingga 4,00%. Dalam pernyataannya, bank sentral AS menyebut inflasi masih tinggi. Keputusan tersebut merupakan bagian dari latar kebijakan moneter global, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan penyebab langsung pelemahan IHSG.
Dengan demikian, tekanan saham-saham berkapitalisasi besar menjadi faktor yang terlihat langsung dalam perdagangan, sedangkan perkembangan MSCI dan kebijakan moneter AS merupakan bagian dari sentimen yang perlu dipantau investor.
Saham Big Caps Menekan Pergerakan IHSG
Sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami koreksi pada perdagangan Kamis. Saham BBCA turun 6,35% ke Rp4.940 per saham. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,77% ke Rp2.810, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 3,12% ke Rp3.720 per saham.
Tekanan juga terjadi pada saham di luar sektor perbankan, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang turun 6,76% ke Rp1.930 dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) yang terkoreksi 6,87% ke Rp2.440.
Pergerakan saham berkapitalisasi besar dapat memengaruhi IHSG karena bobot saham dalam indeks tidak sama. Ketika saham dengan bobot besar mengalami penurunan, tekanan terhadap indeks dapat menjadi lebih signifikan.
Mayoritas Indeks Saham Indonesia Melemah
Tekanan pasar juga tercermin pada sejumlah indeks saham utama. IDX LQ45 turun 4,48% ke sekitar 515,28, sedangkan IDX30 melemah 4,49% ke sekitar 289,35. IDX Kompas 100 juga terkoreksi 4,34% ke sekitar 655,99.
Di antara indeks sektoral yang tercatat dalam data perdagangan, sektor industri mengalami penurunan terdalam sebesar 4,64%, diikuti sektor barang baku yang melemah sekitar 4,53%. Sektor infrastruktur juga terkoreksi sekitar 4,24%.
Pelemahan di berbagai kelompok saham menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak terbatas pada satu emiten. Meski demikian, pergerakan indeks sektoral saja tidak cukup untuk memastikan penyebab utama aksi jual.
Berapa Banyak Saham yang Melemah?
Data perdagangan yang dilaporkan Bisnis.com dan Katadata mencatat 624 saham melemah, 98 saham menguat, dan 70 saham stagnan pada penutupan 29 Oktober 2026.
Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah saham yang terkoreksi jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Kondisi ini sejalan dengan penurunan IHSG sebesar 3,49% pada akhir perdagangan.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Setelah IHSG anjlok ke level 5.098, investor dapat memantau sejumlah indikator untuk memahami perkembangan pasar berikutnya:
- Pergerakan IHSG: apakah indeks mampu bertahan di sekitar level penutupan atau kembali mengalami tekanan.
- Saham perbankan besar: pergerakan BBCA, BBRI, dan BMRI serta volume transaksinya.
- Perkembangan MSCI: pembaruan konsultasi mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia.
- Kebijakan The Fed: perkembangan suku bunga dan prospek inflasi Amerika Serikat.
- Kinerja sektor saham: apakah tekanan meluas atau mulai mereda pada perdagangan berikutnya.
Penurunan tajam tidak otomatis berarti harga saham sudah murah atau mencapai titik terendah. Sebaliknya, koreksi juga tidak memastikan harga akan terus turun. Investor perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan, valuasi, jangka waktu investasi, dan kemampuan menanggung risiko sebelum mengambil keputusan.
DISCLAIMER: Artikel ini bertujuan menyampaikan berita dan informasi, bukan merupakan saran finansial atau rekomendasi transaksi. Lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.






