Profit taking adalah salah satu istilah yang sering muncul ketika harga saham atau aset investasi mengalami kenaikan.
Istilah ini biasanya digunakan saat investor mulai menjual aset untuk merealisasikan keuntungan yang sudah diperoleh.
Namun, kapan waktu yang tepat untuk melakukan profit taking?
Simak!
Apa Itu Profit Taking?
Profit taking adalah tindakan menjual aset atau surat berharga yang harganya sudah naik untuk merealisasikan keuntungan. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini juga dikenal sebagai ambil untung.
Menurut OJK Pedia, profit taking merupakan tindakan investor menjual aset atau surat berharga ketika harganya tinggi untuk mendapatkan keuntungan.
Profit taking dapat dilakukan oleh investor individu maupun pelaku pasar dalam jumlah besar. Pada tingkat pasar, aksi jual yang dilakukan banyak investor sekaligus dapat menekan harga aset, terutama ketika tidak diimbangi permintaan beli yang cukup.
Misalnya, kamu membeli saham seharga Rp2.000 per lembar. Beberapa waktu kemudian, harganya naik menjadi Rp2.500. Jika kamu menjual saham tersebut pada harga Rp2.500, kamu merealisasikan keuntungan Rp500 per lembar sebelum biaya transaksi dan pajak.
Keuntungan tersebut disebut capital gain. Sebaliknya, jika kamu masih memegang saham tersebut tanpa menjualnya, kenaikan nilainya masih berupa keuntungan yang belum direalisasikan.
Apa Perbedaan Profit Taking dan Take Profit?
Profit taking dan take profit sama-sama berkaitan dengan upaya mengambil keuntungan, tetapi penggunaannya berbeda.
- Profit taking merujuk pada tindakan menjual aset untuk merealisasikan keuntungan. Istilah ini juga sering digunakan untuk menggambarkan aksi jual investor setelah harga pasar naik.
- Take profit biasanya merujuk pada target harga atau instruksi jual yang ditetapkan untuk merealisasikan keuntungan ketika harga mencapai level tertentu.
Contohnya, kamu membeli saham pada harga Rp2.000 dan menetapkan target jual Rp2.500. Target Rp2.500 tersebut merupakan level take profit. Ketika saham dijual untuk merealisasikan keuntungan, tindakan itu disebut profit taking.
Mengapa Profit Taking Penting?
Profit taking bukan sekadar menjual aset ketika harganya naik. Jika dilakukan berdasarkan perencanaan, strategi ini dapat membantu investor mengelola portofolio dengan lebih terarah.
1. Merealisasikan Keuntungan
Harga aset yang naik belum tentu bertahan di level yang sama. Dengan menjual aset sesuai target, investor bisa merealisasikan keuntungan yang sebelumnya masih berupa keuntungan di atas kertas.
Meski begitu, tidak semua kenaikan harga harus langsung diikuti penjualan. Keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan tujuan dan strategi investasi.
2. Mengelola Risiko Investasi
Harga saham dan aset kripto dapat berubah dengan cepat. Jika kenaikan harga sudah membuat nilai suatu aset terlalu besar dalam portofolio, menjual sebagian kepemilikan bisa membantu mengurangi eksposur terhadap aset tersebut.
Strategi ini tidak menghilangkan risiko sepenuhnya, tetapi dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio.
3. Menjaga Disiplin dalam Berinvestasi
Tanpa target yang jelas, investor bisa tergoda menahan aset terlalu lama karena berharap harganya terus naik. Sebaliknya, ada juga yang terburu-buru menjual ketika melihat sedikit kenaikan.
Profit taking membantu investor memiliki rencana yang lebih terukur, termasuk menentukan target keuntungan dan kondisi yang menjadi alasan untuk menjual aset.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Profit Taking?

Tidak ada satu waktu yang selalu tepat untuk melakukan profit taking. Keputusan ini bergantung pada masing-masing investor.
Berikut beberapa pertimbangan yang bisa digunakan.
1. Saat Target Harga Tercapai
Salah satu cara paling sederhana adalah menentukan target harga jual sejak awal.
Misalnya, kamu membeli saham pada harga Rp2.000 dan menargetkan keuntungan 15%. Artinya, target harga jualmu adalah Rp2.300 per lembar, sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan pajak.
Ketika harga mencapai target tersebut, kamu bisa mengevaluasi apakah akan menjual seluruh kepemilikan atau sebagian saja.
2. Saat Fundamental Aset Berubah
Untuk investasi saham, perhatikan kondisi bisnis perusahaan, laporan keuangan, prospek industri, dan faktor lain yang memengaruhi nilai perusahaan.
Jika harga saham sudah naik tetapi prospek bisnis justru memburuk, kamu perlu mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham tersebut. Sebaliknya, kenaikan harga saja tidak selalu menjadi alasan untuk menjual jika fundamental perusahaan masih sesuai dengan rencana investasi.
Untuk aset kripto, pertimbangkan pula perkembangan proyek, aktivitas jaringan, likuiditas, serta kondisi pasar.
3. Saat Harga Mendekati Resistance
Bagi investor yang menggunakan analisis teknikal, level resistance dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan target jual. Resistance merupakan area harga yang sebelumnya cenderung menghadapi tekanan jual.
Jika harga mendekati area tersebut, investor bisa mengevaluasi peluang kenaikan lanjutan dan risiko koreksi. Namun, resistance bukan batas harga yang pasti. Harga dapat menembus level tersebut jika tekanan beli cukup kuat.
4. Saat Komposisi Portofolio Tidak Lagi Seimbang
Kenaikan harga suatu aset dapat membuat porsinya dalam portofolio menjadi lebih besar daripada rencana awal.
Misalnya, kamu menargetkan saham tertentu hanya sebesar 20% dari total portofolio. Setelah harganya naik, porsinya bertambah menjadi 35%. Menjual sebagian saham dapat menjadi salah satu cara untuk mengembalikan komposisi portofolio sesuai rencana.
Strategi ini dikenal sebagai rebalancing dan tidak selalu berarti kamu harus menjual seluruh aset yang sedang untung.
Strategi Profit Taking yang Bisa Kamu Gunakan

Setelah menentukan alasan untuk menjual aset, langkah berikutnya adalah memilih strategi yang sesuai dengan gaya investasimu.
1. Menentukan Target Keuntungan
Sebelum membeli aset, tentukan target keuntungan yang realistis berdasarkan analisis dan tujuan investasi.
Sebagai contoh, kamu membeli aset pada harga Rp1.000. Jika target keuntunganmu 20%, target harga jualnya menjadi Rp1.200.
Target tersebut berfungsi sebagai panduan, bukan jaminan bahwa harga akan mencapai level yang diinginkan. Sesuaikan target dengan karakteristik aset dan risiko yang sanggup kamu tanggung.
2. Menjual Aset Secara Bertahap
Profit taking tidak harus dilakukan dengan menjual seluruh aset sekaligus. Kamu bisa menjual sebagian kepemilikan ketika target tertentu tercapai, lalu mengevaluasi sisa aset berdasarkan kondisi pasar.
Contohnya, kamu memiliki 100 lembar saham. Ketika harga mencapai target pertama, kamu menjual 30 lembar. Sisa 70 lembar tetap kamu pegang selama alasan investasi masih berlaku.
Strategi ini memungkinkan kamu merealisasikan sebagian keuntungan sekaligus tetap memiliki peluang memperoleh keuntungan lebih lanjut. Namun, strategi ini juga memiliki risiko jika harga berbalik turun.
3. Menggunakan Trailing Stop
Trailing stop merupakan mekanisme untuk menyesuaikan batas harga jual mengikuti pergerakan harga yang menguntungkan, sesuai aturan yang digunakan.
Misalnya, kamu menetapkan trailing stop sebesar 10%. Ketika harga aset naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.500, batasnya dapat mengikuti kenaikan harga sesuai mekanisme yang digunakan. Jika harga kemudian turun dari puncaknya hingga menyentuh batas tersebut, instruksi jual dapat terpicu.
Perlu diingat, trailing stop tidak selalu menjamin penjualan tepat pada harga batas, terutama saat pasar bergerak cepat atau likuiditas rendah. Ketersediaan fitur ini juga bergantung pada platform dan instrumen yang digunakan.
Baca juga: Kapan Harus Stop Loss dan Take Profit Crypto? Ini Cara Menentukannya
4. Menyesuaikan Target dengan Rasio Risiko dan Imbal Hasil
Target keuntungan sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan angka yang terlihat menarik. Pertimbangkan pula potensi kerugian jika prediksi harga ternyata salah.
Misalnya, kamu menargetkan keuntungan 15% dengan batas kerugian 5%. Secara sederhana, rasio potensi keuntungan terhadap potensi kerugian adalah 3:1.
Rasio ini membantu menyusun rencana transaksi yang lebih terukur. Namun, rasio yang terlihat menarik tidak menjamin transaksi akan menghasilkan keuntungan.
Bagaimana Cara Menghitung Keuntungan Profit Taking?
Untuk memahami hasil profit taking, kamu bisa menghitung selisih antara harga jual dan harga beli, lalu mengalikannya dengan jumlah aset yang dijual.
Rumus sederhana keuntungan kotor:
Keuntungan = (Harga jual − Harga beli) × Jumlah aset
Contohnya, kamu membeli 100 lembar saham dengan harga Rp2.000 per lembar. Total modal pembelianmu adalah Rp200.000.
Beberapa waktu kemudian, harga saham naik menjadi Rp2.500 per lembar. Kamu memutuskan menjual seluruh saham tersebut.
| Keterangan | Perhitungan | Nilai |
| Modal pembelian | 100 × Rp2.000 | Rp200.000 |
| Hasil penjualan | 100 × Rp2.500 | Rp250.000 |
| Keuntungan kotor | Rp250.000 − Rp200.000 | Rp50.000 |
| Persentase keuntungan kotor | Rp50.000 ÷ Rp200.000 × 100% | 25% |
Dari transaksi tersebut, keuntungan kotormu mencapai Rp50.000 atau 25% dari modal pembelian.
Namun, keuntungan bersih dapat lebih rendah setelah memperhitungkan biaya transaksi dan pajak yang berlaku. Untuk saham di Indonesia, penjualan saham di bursa juga dikenakan PPh final atas nilai bruto transaksi jual sesuai ketentuan perpajakan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Profit Taking
Berikut beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan.
1. Menjual Hanya karena Panik
Penurunan harga dalam waktu singkat tidak selalu berarti prospek aset memburuk. Sebelum menjual, evaluasi penyebab penurunan dan periksa apakah alasan awal berinvestasi masih berlaku.
Namun, jangan pula mengabaikan perubahan fundamental yang memang meningkatkan risiko aset.
2. Terlalu Cepat Merealisasikan Keuntungan
Menjual aset segera setelah harganya naik sedikit bisa membuatmu kehilangan peluang keuntungan lebih lanjut. Hal ini terutama perlu diperhatikan jika kamu berinvestasi berdasarkan prospek jangka panjang.
Bukan berarti kamu harus selalu menahan aset, melainkan pastikan keputusan jual sesuai dengan rencana yang sudah dibuat.
3. Menahan Aset karena Serakah
Kebalikan dari menjual terlalu cepat adalah menunda profit taking karena berharap harga terus naik. Akibatnya, keuntungan yang sebelumnya sudah besar bisa menyusut ketika harga berbalik turun.
Untuk menghindarinya, tentukan target dan kriteria evaluasi sejak awal. Jangan mengubah rencana hanya karena tergoda mengejar keuntungan yang lebih besar.
4. Mengabaikan Biaya Transaksi dan Pajak
Selisih harga beli dan jual belum tentu sama dengan keuntungan bersih. Biaya transaksi dan pajak dapat mengurangi hasil akhir, tergantung pada instrumen serta ketentuan yang berlaku.
Perhitungkan komponen tersebut sebelum menentukan target harga jual agar ekspektasimu lebih realistis.
Kesimpulan
Profit taking adalah tindakan menjual aset untuk merealisasikan keuntungan setelah harganya naik. Strategi ini dapat membantu investor mengelola hasil investasi, menjaga komposisi portofolio, dan menjalankan rencana transaksi dengan lebih disiplin.
Namun, tidak ada persentase keuntungan atau waktu jual yang ideal untuk semua investor. Tentukan target berdasarkan tujuan investasi, kondisi aset, dan toleransi risiko. Jangan mengambil keputusan hanya karena panik atau berharap harga akan terus naik tanpa batas.
Mulai Kenali Pilihan Investasimu di Nanovest
Nanovest menyediakan akses ke berbagai pilihan aset investasi melalui satu aplikasi, dengan transaksi yang dapat dimulai dari Rp5.000. Produk emas digital, aset kripto dan saham AS yang difasilitasi melalui Nanovest terdaftar dna diawasi OJK .






