Menjelang pergantian kuartal, ada kontras menarik di Wall Street: biaya modal semakin mahal, tetapi investor belum sepenuhnya meninggalkan saham. Sekarang, perusahaan harus memberikan alasan yang lebih konkret untuk tetap dipilih.
Yield Treasury 30 tahun sempat mencapai 5,6206% pada Selasa, tertinggi sejak 2002, sementara yield 10 tahun menyentuh 5,293%, level tertinggi sejak 2007. Meski demikian, S&P 500 hanya turun 0,17% dan Nasdaq 0,08%. Tekanan bahkan mereda setelah harga minyak turun dan komentar Presiden New York Fed John Williams membuat ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober berkurang.
Kontrasnya semakin terlihat jika melihat sepanjang kuartal. Yield Treasury 10 tahun naik sekitar 81 basis poin dari Juli hingga September, kenaikan kuartalan terbesar sejak 2022, tetapi saham relatif mampu bertahan. Memasuki Q4, kondisi seperti ini membuat cerita pertumbuhan saja semakin kurang cukup. Eksekusinya yang mulai diuji.
Itulah yang membuat ORCL, PEP, dan ABT menarik untuk diperhatikan hari ini. Ketiganya menghadapi tantangan berbeda: Oracle perlu memenuhi permintaan cloud AI yang melonjak, PepsiCo perlu menjaga volume tanpa terlalu membebani konsumen dengan harga, sedangkan Abbott perlu mempertahankan laju pertumbuhan menjelang laporan keuangan berikutnya.
Berikut saham pilihan yang masuk radar Nanovest hari ini.
Rekomendasi Saham AS Hari Ini, 30 September 2026
1. Oracle Corporation (ORCL) —SPEC. BUY
- Range Buy: Rp2.470.892
- Target Price 1: Rp2.609.900
- Target Price 2: Rp2.748.907
- Stop Loss: Rp2.241.530
Mengapa Menarik?
Permintaan terhadap layanan cloud Oracle meningkat sangat cepat. Pada Q1 FY2027, Oracle Cloud Infrastructure (OCI) tumbuh 121% YoY menjadi US$7,4 miliar, didorong kebutuhan komputasi untuk AI. Revenue perusahaan secara keseluruhan mencapai US$19,3 miliar dengan laba US$4,68 miliar dan margin sekitar 24,19%.
Skala permintaan ke depan terlihat dari remaining performance obligations (RPO) sebesar US$664 miliar. Sederhananya, RPO mencerminkan nilai kontrak yang sudah diperoleh Oracle tetapi belum seluruhnya diakui sebagai revenue. Angka yang sangat besar ini memberikan visibilitas pertumbuhan, tetapi sekaligus menciptakan tantangan: Oracle harus membangun kapasitas data center yang cukup untuk memenuhi kontrak tersebut.
Risiko eksekusi ini sedang menjadi perhatian investor. Oracle sebelumnya memberi pemberitahuan force majeure terkait potensi keterlambatan pasokan listrik untuk proyek data center besar di New Mexico. Perusahaan juga membutuhkan investasi dan pembiayaan besar untuk memperluas infrastruktur AI. Karena itu, peluang ORCL bukan hanya terletak pada seberapa besar permintaan AI yang masuk, tetapi seberapa cepat perusahaan dapat mengubah backlog tersebut menjadi kapasitas aktif, revenue, dan arus kas.
2. PepsiCo, Inc. (PEP) —SPEC. BUY
- Range Buy: Rp2.310.410
- Target Price 1: Rp2.352.438
- Target Price 2: Rp2.394.466
- Stop Loss: Rp2.248.418
Mengapa Menarik?
PepsiCo memasuki periode penting untuk membuktikan bahwa pertumbuhan tidak hanya berasal dari kenaikan harga. Pada Q2 2026, revenue mencapai US$24,18 miliar atau tumbuh 6,4% YoY, dengan EPS US$2,20. Untuk FY2026, perusahaan masih mempertahankan guidance organic revenue growth 2%-4% dan core constant-currency EPS growth 4%-6%.
Tantangan terbesar berada di Amerika Utara, ketika konsumen semakin sensitif terhadap harga sementara biaya komoditas masih tinggi. Karena itu, kemampuan PepsiCo menjaga affordability sekaligus volume penjualan akan menjadi penting. Kenaikan harga memang dapat membantu margin, tetapi jika terlalu tinggi juga berisiko membuat konsumen mengurangi pembelian atau beralih ke produk yang lebih murah.
PepsiCo mencoba mengimbanginya melalui pertumbuhan internasional, efisiensi biaya, serta inovasi seperti Doritos Protein dan Gatorade Lower Sugar. Investasi US$1 miliar di Kolombia juga memperluas kapasitas jangka panjang perusahaan. Dengan saham berada dekat level terendah sejak 2020, pemulihan volume terutama di Amerika Utara dapat menjadi katalis. Namun, sensitivitas konsumen terhadap harga dan tekanan biaya input tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan.
3. Abbott Laboratories (ABT) —BUY
- Range Buy: Rp1.811.146
- Target Price 1: Rp1.862.203
- Target Price 2: Rp1.913.260
- Stop Loss: Rp1.723.073
Mengapa Menarik?
Abbott memasuki periode menjelang laporan Q3 dengan ekspektasi pertumbuhan yang masih positif. Konsensus memperkirakan EPS sekitar US$1,42 dengan revenue sekitar US$12,99 miliar, sementara manajemen sebelumnya telah menaikkan guidance FY2026 menjadi adjusted EPS US$5,45-US$5,60 dan mempertahankan proyeksi pertumbuhan penjualan 6,5%-7,5%.
Salah satu kekuatan Abbott adalah sumber pertumbuhannya yang cukup beragam. Medical Devices tetap menjadi mesin utama, sementara perusahaan juga memperluas bisnis Cancer Diagnostics dan pipeline produk baru. Ekspansi seperti Cologuard memberikan peluang tambahan di pasar diagnostik kanker, sehingga pertumbuhan tidak bergantung pada satu kategori produk saja.
Saham ABT telah naik 17,71% YTD dan 22,46% dalam satu tahun, sehingga ekspektasi terhadap eksekusi perusahaan juga semakin tinggi. Pemulihan Nutrition yang lebih lambat, persaingan diagnostik, serta insiden siber pada bisnis Cancer Diagnostics tetap menjadi risiko. Namun, kombinasi perangkat medis, diagnostik, dan produk baru memberikan beberapa sumber pertumbuhan sekaligus, sementara forward P/E sekitar 17,09x membuat valuasinya tetap menjadi faktor yang menarik untuk dicermati.
Ringkasan Rekomendasi Saham Hari Ini
| Saham | Rekomendasi | Range Buy | Target Price 1 | Target Price 2 | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|---|
| Oracle Corporation (ORCL) | Spec. Buy | Rp2.470.892 | Rp2.609.900 | Rp2.748.907 | Rp2.241.530 |
| PepsiCo, Inc. (PEP) | Spec. Buy | Rp2.310.410 | Rp2.352.438 | Rp2.394.466 | Rp2.248.418 |
| Abbott Laboratories (ABT) | Buy | Rp1.811.146 | Rp1.862.203 | Rp1.913.260 | Rp1.723.073 |
Kesimpulan
Memasuki kuartal baru, investor semakin membutuhkan bukti bahwa rencana pertumbuhan dapat benar-benar dieksekusi. ORCL perlu mengubah backlog cloud menjadi kapasitas dan revenue, PEP perlu menjaga keseimbangan antara harga dan volume, sementara ABT perlu mempertahankan pertumbuhan menjelang earnings. Ketiganya memiliki katalis berbeda, tetapi eksekusi akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah fundamental yang ada dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan berikutnya.
Pantau Peluang Investasi Hari Ini
Pantau ORCL, PEP, dan ABT melalui aplikasi Nanovest dan ikuti perkembangan pasar terbaru lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan riset internal dan bertujuan untuk edukasi serta informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun jaminan keuntungan atas transaksi investasi tertentu. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.






