Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di atas US$84.000 setelah menembus area tertinggi Mei 2026. Pergerakan tersebut membawa perhatian pasar menuju penutupan mingguan, terutama karena zona US$82.000-US$82.500 sebelumnya beberapa kali membatasi kenaikan BTC.
Analis kripto Benjamin Cowen menilai penutupan mingguan di atas US$82.500 dapat menjadi konfirmasi bahwa Bitcoin telah keluar dari rentang perdagangan sebelumnya. Sebaliknya, apabila harga kembali ditutup di bawah area tersebut, kenaikan terbaru berisiko tercatat sebagai breakout yang gagal.
Bitcoin diperdagangkan sekitar US$84.600 pada 25 September 2026. Artinya, jarak harga dari level konfirmasi US$82.500 masih relatif tipis dan dapat tertutup dalam satu sesi perdagangan yang volatil.
Bitcoin Kembali Tembus Puncak Mei
Bitcoin sempat melampaui US$87.000 pada awal pekan dan mencapai level tertingginya sejak Januari 2026. Kenaikan tersebut memperpanjang pemulihan dari area US$59.000 yang sempat tercatat pada tahun ini.
Pada harga sekitar US$84.600, Bitcoin telah naik lebih dari 40% dari level US$59.000. Namun, BTC masih berada sekitar 33% di bawah rekor lebih dari US$126.000 yang tercatat pada Oktober 2025. Dengan demikian, pergerakan terbaru menunjukkan pemulihan kuat, tetapi belum membawa Bitcoin kembali ke level tertinggi sepanjang masa.
Area US$82.500 menjadi perhatian karena berdekatan dengan puncak harga pada Mei. Ketika harga menembus level tertinggi sebelumnya, pelaku pasar biasanya memantau apakah resistance tersebut berubah menjadi support.
Bitcoin perlu bertahan di atas zona tersebut hingga periode perdagangan mingguan berakhir untuk memberikan konfirmasi yang lebih kuat. Kenaikan sesaat di atas resistance belum cukup karena harga dapat turun kembali sebelum candle mingguan ditutup.
Mengapa Penutupan Mingguan Penting?
Penutupan mingguan digunakan untuk menyaring pergerakan harga jangka pendek. Bitcoin diperdagangkan tanpa henti selama 24 jam, sehingga lonjakan maupun penurunan tajam dapat terjadi ketika likuiditas pasar lebih rendah.
Sebuah candle dapat membentuk ekor panjang apabila harga sempat naik melewati resistance, tetapi kemudian ditutup kembali di bawahnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembeli belum mampu mempertahankan harga pada level yang lebih tinggi.
Cowen menempatkan US$82.500 sebagai batas teknikal utama. Penutupan di atasnya dapat mengindikasikan perubahan struktur pasar dari pola konsolidasi menjadi tren kenaikan. Namun, indikator teknikal tersebut bersifat konfirmasi berdasarkan pergerakan harga, bukan alat yang dapat memastikan target berikutnya.
Michaël van de Poppe juga menilai Bitcoin belum menunjukkan kekuatan yang sepenuhnya stabil. Menurutnya, harga masih dapat kembali menguji area sekitar US$81.000 sebelum menentukan arah lanjutan. Pernyataan kedua analis tersebut merupakan interpretasi teknikal dan bukan kepastian mengenai pergerakan BTC.
Penutupan di atas US$82.500 juga perlu diikuti volume perdagangan dan kemampuan harga bertahan pada pekan berikutnya. Tanpa kelanjutan tersebut, breakout masih dapat berubah menjadi pergerakan sementara.
ETF dan Short Squeeze Dorong Reli
Kenaikan Bitcoin tidak hanya berlangsung di pasar spot. Permintaan melalui ETF Bitcoin spot Amerika Serikat turut meningkat menjelang breakout.
Berdasarkan data CoinGlass yang dilaporkan The Wall Street Journal, ETF Bitcoin mencatat arus masuk bersih sekitar US$999 juta pada 21 September. Jumlah tersebut membawa arus masuk selama tiga sesi perdagangan berturut-turut menjadi sekitar US$1,59 miliar.
Arus ETF dapat menjadi indikator permintaan dari investor yang memperoleh eksposur Bitcoin melalui produk pasar modal. Namun, arus tersebut dapat berubah setiap hari dan tidak selalu bergerak searah dengan harga dalam jangka pendek.
Reli juga diperkuat oleh likuidasi posisi short. Ketika Bitcoin menembus US$87.000, sekitar US$919 juta posisi short di pasar kripto dilikuidasi dalam 24 jam. Sekitar US$557 juta dari jumlah tersebut berasal dari posisi Bitcoin.
Likuidasi terjadi ketika trader yang memperkirakan harga turun tidak lagi memiliki jaminan yang cukup untuk mempertahankan posisinya. Bursa kemudian menutup posisi tersebut secara paksa, menciptakan tambahan pembelian yang dapat mempercepat kenaikan.
Kondisi itu menjelaskan mengapa harga dapat bergerak tajam dalam waktu singkat. Namun, kenaikan yang didorong short squeeze tidak selalu menghasilkan tren berkelanjutan apabila permintaan spot melemah setelah proses likuidasi selesai.
Nilai open interest Bitcoin juga meningkat sekitar 8% dalam tujuh hari menjadi US$55,7 miliar. Kenaikan open interest menunjukkan bertambahnya nilai kontrak derivatif yang masih terbuka. Data ini mencerminkan meningkatnya aktivitas pasar, sekaligus memperbesar potensi likuidasi apabila harga bergerak tajam ke arah yang berlawanan.
Yield Obligasi Menjadi Hambatan
Bitcoin berhasil menguat ketika kondisi pasar obligasi justru semakin ketat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai 5,05% pada 23 September 2026, berdasarkan data Departemen Keuangan AS.
Kenaikan yield membuat instrumen berpendapatan tetap menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat mengurangi minat terhadap aset berisiko, termasuk saham pertumbuhan dan kripto.
Tekanan pada pasar obligasi muncul setelah data aktivitas bisnis AS lebih kuat daripada perkiraan. Indeks awal S&P Global US Composite PMI naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September, tertinggi sejak Juli 2021. Survei tersebut juga menunjukkan peningkatan tekanan biaya, termasuk dari harga energi dan keterbatasan kapasitas.
Ekonomi yang tetap kuat dapat membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Suku bunga dan yield tinggi biasanya meningkatkan biaya modal sekaligus menekan likuiditas yang tersedia untuk aset spekulatif.
Meski demikian, Bitcoin sejauh ini mampu bertahan di atas US$80.000 ketika yield obligasi melewati 5%. Hal itu menunjukkan harga tidak hanya dipengaruhi satu faktor makro. Arus ETF, posisi derivatif, regulasi, pergerakan dolar AS, dan sentimen pasar saham juga berperan.
Ketahanan tersebut masih perlu diuji dalam periode yang lebih panjang. Pelemahan arus ETF atau kenaikan yield lanjutan dapat mengubah keseimbangan pasar dengan cepat.
Jalan Menuju US$100.000 Belum Terbuka Penuh
Dari harga sekitar US$84.600, Bitcoin masih membutuhkan kenaikan sekitar 18% untuk mencapai US$100.000. Sebelum level tersebut, pasar juga menghadapi area sekitar US$89.000 – US$90.000 yang berdekatan dengan puncak Januari dan menjadi resistance psikologis berikutnya.
Skenario kedua adalah harga ditutup kembali di bawah US$82.500. Kondisi itu tidak otomatis mengakhiri pemulihan Bitcoin, tetapi akan menunjukkan bahwa resistance Mei belum sepenuhnya ditembus. Pasar kemudian dapat kembali menguji area US$80.000 atau US$81.000.
Investor juga perlu memantau komposisi reli. Kenaikan yang disertai permintaan spot dan arus ETF berkelanjutan memiliki karakter berbeda dari kenaikan yang terutama didorong posisi leverage dan likuidasi short.
Penutupan mingguan menjadi salah satu data penting, tetapi bukan satu-satunya penentu. Pergerakan setelah penutupan, arus ETF, open interest, tingkat pendanaan kontrak berjangka, yield obligasi AS, serta kebijakan Federal Reserve tetap diperlukan untuk menilai keberlanjutan breakout.
Untuk saat ini, Bitcoin telah melewati resistance Mei secara intraday, tetapi konfirmasi mingguan belum terbentuk. Target US$100.000 masih memungkinkan secara matematis, meski belum dapat dinyatakan sebagai arah yang sudah terkonfirmasi.
Baca berita lainnya terkait perkembangan Bitcoin di halaman ini.
Bitcoin Uji Breakout, Pantau Arah BTC
Bitcoin kembali bergerak di atas US$84.000 dengan US$82.500 menjadi level penting untuk konfirmasi breakout. Pantau pergerakan BTC melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- The Wall Street Journal
- Investor’s Business Daily
- U.S. Department of the Treasury






