Rekor baru Nasdaq tidak berarti semua cerita pertumbuhan kembali mendapat cek kosong dari investor. Justru ketika saham teknologi kembali berlari, pertanyaan soal siapa yang benar-benar mampu menghasilkan return dari investasi besar semakin sulit dihindari.
Nasdaq mencetak rekor penutupan baru pada 22 September, ditopang saham AI dan semikonduktor, sementara S&P 500 bergerak sedikit di bawah rekor tertingginya. Reli chip kembali mendapat tenaga dari optimisme AI, meski minyak masih berada di sekitar US$100 per barel.
Namun, sinyal dari pasar obligasi memberikan cerita yang berbeda. Investor mulai meminta premi lebih tinggi untuk utang perusahaan terkait AI karena kebutuhan pendanaan data center dan chip terus membesar. Reuters mencatat penerbitan utang hyperscaler diproyeksikan mencapai sekitar US$420 miliar tahun depan, naik 60% dibanding 2026.
Di farmasi, seleksi juga semakin ketat. Kompetisi obat obesitas bertambah setelah Roche melaporkan hasil positif kandidat barunya, sementara industri secara lebih luas menghadapi patent cliff yang dapat mengancam ratusan miliar dolar revenue hingga 2033. Artinya, pipeline dan kemampuan menciptakan blockbuster berikutnya semakin menentukan.
Dalam kondisi tersebut, KLAC, LLY, dan JNJ menawarkan tiga bentuk pertumbuhan yang sudah memiliki pijakan nyata: kompleksitas manufaktur chip, ekspansi pasar obesitas, dan pipeline farmasi yang semakin luas.
Berikut saham pilihan yang masuk radar Nanovest hari ini.
Rekomendasi Saham AS Hari Ini, 23 September 2026
1. KLA Corporation (KLAC) —BUY
- Range Buy: Rp3.351.630
- Target Price 1: Rp3.449.556
- Target Price 2: Rp3.547.482
- Stop Loss: Rp3.204.741
Mengapa Menarik?
KLA mendapat keuntungan dari semakin rumitnya proses produksi chip modern. Perusahaan menyediakan peralatan untuk memeriksa kualitas chip dan mendeteksi cacat selama proses produksi, yang semakin penting untuk chip AI, advanced memory, leading-edge foundry/logic, dan advanced packaging. Pada Q4 FY2026, revenue KLA mencapai US$3,66 miliar, naik 15,2% YoY.
Pertumbuhan AI menjadi katalis karena industri tidak hanya membutuhkan lebih banyak chip, tetapi juga chip yang semakin kompleks. Semakin rumit desain dan proses produksinya, semakin tinggi kebutuhan produsen terhadap teknologi KLA untuk menjaga kualitas dan hasil produksi. Artinya, KLA dapat ikut mendapat manfaat dari ekspansi AI tanpa harus bersaing langsung dalam membuat GPU atau AI accelerator.
Fundamental perusahaan juga kuat. Secara TTM, revenue mencapai US$13,58 miliar dengan laba bersih US$4,83 miliar, profit margin 35,57%, ROE 87,50%, dan levered free cash flow sekitar US$2,62 miliar. Namun, valuasi tetap perlu diperhatikan setelah saham naik 55,56% YTD. Dengan forward P/E sekitar 34,01x, perlambatan belanja industri semikonduktor dapat menjadi risiko jika pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi.
2. Eli Lilly and Company (LLY) —SPEC. BUY
- Range Buy: Rp20.848.789
- Target Price 1: Rp21.192.168
- Target Price 2: Rp21.535.547
- Stop Loss: Rp20.325.137
Mengapa Menarik?
Eli Lilly masih ditopang oleh pertumbuhan sangat kuat dari bisnis diabetes dan obesitas. Pada Q2 2026, revenue perusahaan mencapai US$22,97 miliar, naik 48% YoY. Penjualan Mounjaro melonjak 91% menjadi US$9,9 miliar, sementara Zepbound menghasilkan sekitar US$4,9 miliar. Tingginya permintaan membuat Lilly terus memperbesar kapasitas produksi agar dapat melayani pasar yang masih berkembang.
Pertumbuhan berikutnya tidak hanya bergantung pada dua obat tersebut. Lilly juga mengembangkan retatrutide, kandidat terapi obesitas generasi berikutnya yang dapat memperluas portofolio perusahaan jika berhasil melewati proses pengembangan dan persetujuan. Namun, persaingan semakin ketat. Roche pada 22 September melaporkan kandidat obat obesitasnya menghasilkan rata-rata penurunan berat badan 15,5% dalam studi tahap menengah pada pasien diabetes tipe 2.
Risiko lainnya datang dari valuasi dan tekanan harga obat. LLY diperdagangkan dengan trailing P/E sekitar 39,10x dan forward P/E 24,69x, sehingga pasar masih memasang ekspektasi pertumbuhan yang tinggi. Meski demikian, kombinasi Mounjaro, Zepbound, ekspansi kapasitas produksi, dan pipeline obat baru memberi Lilly beberapa sumber pertumbuhan untuk jangka panjang.
3. Johnson & Johnson (JNJ) —BUY
- Range Buy: Rp4.792.106
- Target Price 1: Rp4.838.109
- Target Price 2: Rp4.884.115
- Stop Loss: Rp4.706.921
Mengapa Menarik?
Johnson & Johnson mendapat peluang pertumbuhan baru dari bisnis neuroscience. CAPLYTA berhasil mencapai target utama dalam studi fase akhir untuk bipolar mania, sehingga berpotensi digunakan untuk lebih banyak kondisi jika nantinya memperoleh persetujuan regulator. CAPLYTA sebelumnya sudah digunakan untuk schizophrenia dan depressive episodes yang terkait dengan bipolar disorder.
Perkembangan ini penting karena J&J sedang menghadapi penurunan penjualan STELARA akibat hadirnya obat biosimilar. Perusahaan perlu memperbesar kontribusi produk baru untuk menggantikan pertumbuhan dari obat-obat lama. Fundamentalnya masih solid, dengan revenue Q2 2026 sebesar US$25,31 miliar, laba US$5,53 miliar, profit margin kuartalan 21,86%, serta free cash flow sekitar US$8,7 miliar pada semester pertama.
J&J juga tidak hanya bergantung pada satu lini bisnis. Selain Innovative Medicine dan pipeline neuroscience, perusahaan memiliki bisnis MedTech yang memberikan sumber pertumbuhan tambahan. Risiko patent cliff tetap perlu diperhatikan, tetapi kemajuan CAPLYTA menunjukkan perusahaan terus membangun produk baru untuk menjaga pertumbuhan ketika eksklusivitas beberapa obat lama mulai berakhir.
Ringkasan Rekomendasi Saham Hari Ini
| Saham | Rekomendasi | Range Buy | Target Price 1 | Target Price 2 | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|---|
| KLAC | Buy | Rp3.351.630 | Rp3.449.556 | Rp3.547.482 | Rp3.204.741 |
| LLY | Spec. Buy | Rp20.848.789 | Rp21.192.168 | Rp21.535.547 | Rp20.325.137 |
| JNJ | Buy | Rp4.792.106 | Rp4.838.109 | Rp4.884.115 | Rp4.706.921 |
Kesimpulan
Rekor indeks tidak menghilangkan kebutuhan untuk semakin selektif terhadap kualitas pertumbuhan. KLAC mendapat manfaat dari kompleksitas produksi chip AI, LLY masih memiliki pertumbuhan kuat dari franchise obesitas dan pipeline berikutnya, sementara JNJ memperluas mesin pertumbuhan melalui neuroscience dan MedTech. Ketiganya menawarkan jalur berbeda ketika investor semakin memperhatikan apakah investasi dan inovasi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi revenue berikutnya.
Pantau Peluang Investasi Hari Ini
Pantau KLAC, LLY, dan JNJ melalui aplikasi Nanovest dan ikuti perkembangan pasar terbaru lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan riset internal dan bertujuan untuk edukasi serta informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun jaminan keuntungan atas transaksi investasi tertentu. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.






