Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel ketika harga bahan bakar tersebut mencapai rekor tertinggi dan tekanan terhadap pasokan global belum mereda.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah tengah mengevaluasi apakah larangan penuh atau sebagian dapat diterapkan dengan mempertimbangkan kapasitas penyulingan AS dan efektivitas kebijakan tersebut. Trump sendiri menyatakan mendukung penghentian ekspor diesel, tetapi keputusan final belum diumumkan.
Wacana tersebut muncul ketika rata-rata harga diesel AS mencapai sekitar US$6,53 per galon, hampir US$3 lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya. Di California, harganya bahkan mencapai US$8,44 per galon.
Kenaikan diesel menjadi perhatian karena bahan bakar ini digunakan secara luas untuk truk, kereta api, dan peralatan pertanian. Kenaikan biaya diesel karena itu dapat merambat ke biaya transportasi dan harga berbagai barang yang sampai ke konsumen.
Harga Diesel Cetak Rekor saat Pasokan Global Mengetat
Lonjakan harga diesel AS terjadi di tengah tekanan pasokan yang lebih luas.
Perang dan gangguan terhadap infrastruktur energi di Rusia dan Timur Tengah telah mengurangi kapasitas penyulingan serta aliran produk bahan bakar ke pasar internasional. Serangan Ukraina terhadap kilang Rusia ikut menekan kapasitas penyulingan negara tersebut, sementara Moskow juga menerapkan pembatasan ekspor diesel.
Di Timur Tengah, gangguan terhadap fasilitas energi dan pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz turut mempersempit pasokan. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor diesel Timur Tengah rata-rata turun menjadi sekitar 800.000 barel per hari sepanjang Maret hingga Agustus, sekitar separuh dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Persediaan AS juga berada dalam kondisi ketat. Data Energy Information Administration menunjukkan stok diesel AS turun menjadi 107,9 juta barel pada 11 September, level terendah untuk periode tersebut sejak pencatatan dimulai pada 1982.
Kondisi tersebut membuat nilai diesel melonjak jauh di atas minyak mentah. Pada Selasa, diesel diperdagangkan sekitar US$207 per barel, lebih dari US$100 di atas harga crude oil. Kilang AS kemudian meningkatkan ekspor untuk memenuhi permintaan internasional sekaligus memanfaatkan margin penyulingan yang tinggi.
Larangan Ekspor Bisa Beri Efek Berbeda
Secara sederhana, pembatasan ekspor dapat mempertahankan lebih banyak diesel di dalam negeri. Namun, dampaknya terhadap harga tidak sesederhana menambah pasokan AS.
Amerika Serikat memproduksi sekitar 5,3 juta barel diesel per hari, dibanding kebutuhan domestik sekitar 3,6 juta barel per hari. Negara tersebut juga mengekspor sekitar 1,3 juta barel per hari, hampir seperempat dari produksi penyulingannya. Jika ekspor dibatasi, lebih banyak diesel berpotensi tersedia di pasar domestik dan dapat memberikan tekanan turun terhadap harga dalam jangka pendek.
Namun, analis memperingatkan bahwa surplus domestik dapat menekan harga yang diterima produsen dan mengurangi insentif kilang untuk mempertahankan produksi pada level tinggi. Jika produksi kemudian diturunkan, tambahan pasokan yang awalnya tercipta dari pembatasan ekspor dapat berkurang.
American Petroleum Institute juga menentang pembatasan tersebut dengan alasan bahwa persoalan utama berada pada keterbatasan kapasitas penyulingan dan pasokan global, bukan semata-mata jumlah diesel yang diekspor AS.
Konsekuensinya juga dapat meluas ke luar Amerika Serikat. Inggris, Belanda, dan sejumlah pasar lain menggunakan pasokan dari AS untuk menggantikan sebagian kekurangan yang muncul setelah sanksi terhadap energi Rusia. Berkurangnya ekspor AS berpotensi semakin mengetatkan pasar internasional.
Pasar Menunggu Keputusan Pemerintah AS
Untuk saat ini, larangan ekspor masih berupa opsi yang sedang dievaluasi, bukan kebijakan yang telah ditetapkan. Bessent mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan baik larangan penuh maupun pembatasan sebagian dengan memperhitungkan kemampuan kilang AS.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada bentuk pembatasan yang dipilih, jika pemerintah memutuskan untuk melanjutkannya.
Bagi pasar energi, beberapa indikator akan menjadi penting untuk dipantau, mulai dari persediaan distilat AS, tingkat utilisasi kilang, volume ekspor diesel, hingga perkembangan pasokan dari Rusia dan Timur Tengah.
Harga minyak mentah juga mulai menunjukkan sedikit perubahan. Pada 22 September, harga minyak turun seiring meningkatnya aliran crude Saudi setelah beroperasinya kembali East-West Pipeline dan membaiknya pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Namun, pasar diesel masih menghadapi pasokan yang ketat. Karena diesel merupakan komponen penting dalam transportasi barang dan aktivitas industri, arah harga berikutnya dapat berpengaruh bukan hanya pada sektor energi, tetapi juga biaya logistik dan tekanan inflasi AS.
Harga Diesel Rekor, Pantau Arah Pasar Energi
AS mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel saat pasokan global mengetat. Pantau saham AS melalui Nanovest dan ikuti perkembangan pasar terbaru lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- BBC: Trump says he would back ban on diesel exports
- CNBC: Trump administration is examining whether a diesel export ban is feasible, Treasury Secretary says
- Yahoo Finance: 'Let's not send out the diesel': Trump floats ban on US diesel exports






