Di Indonesia, sejumlah saham properti yang banyak diperhatikan antara lain BSDE, CTRA, PWON, SMRA, PANI, ASRI, dan APLN.
Sementara di pasar Amerika Serikat, investor dapat menemukan perusahaan properti dan Real Estate Investment Trust (REIT) seperti Prologis, Realty Income, Simon Property Group, Equinix, dan Digital Realty.
Simak!
Apa Itu Saham Properti?
Saham properti adalah saham perusahaan yang menjalankan bisnis real estat atau pengembangan properti. Bisnisnya dapat mencakup pembangunan rumah, apartemen, kawasan terpadu, pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, gudang, hingga kawasan industri.
Keuntungan investasi saham properti dapat berasal dari kenaikan harga saham (capital gain) dan dividen apabila perusahaan membagikannya.
Berbeda dengan membeli properti secara langsung, investor saham tidak memiliki rumah, tanah, atau gedung tertentu. Investor memiliki bagian kepemilikan dalam perusahaan yang menjalankan bisnis properti.
Saham Properti Indonesia yang Banyak Diperhatikan

Tidak ada satu saham properti yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua investor. Namun, beberapa emiten memiliki skala bisnis dan portofolio yang membuatnya sering masuk dalam pembahasan sektor properti.
1. Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
BSDE dikenal sebagai pengembang kawasan BSD City dan memiliki bisnis residensial serta komersial. Kinerja perusahaan dapat dipengaruhi oleh penjualan proyek, perkembangan kawasan, dan kemampuan menghasilkan arus kas.
Pada 2026, BSDE menargetkan marketing sales sekitar Rp10 triliun. Karena itu, marketing sales, arus kas, utang, dan perkembangan proyek menjadi sejumlah indikator penting yang dapat dipantau investor.
2. Ciputra Development Tbk (CTRA)
CTRA merupakan salah satu pengembang besar Indonesia dengan portofolio residensial dan komersial di berbagai daerah. Diversifikasi proyek menjadi salah satu karakteristik bisnis yang dapat diperhatikan.
Investor dapat melihat pertumbuhan pendapatan dan laba, marketing sales, proyek baru, arus kas, serta valuasi saham untuk menilai kinerjanya.
3. Pakuwon Jati Tbk (PWON)
PWON memiliki model bisnis yang tidak hanya mengandalkan penjualan properti. Perusahaan juga memiliki mal, hotel, dan aset komersial yang menghasilkan pendapatan berulang atau recurring income.
Pada semester I 2026, recurring income PWON dilaporkan meningkat 7,4% secara tahunan menjadi sekitar Rp2,89 triliun. Karakteristik ini membuat pendapatan sewa, okupansi, dan kinerja aset komersial menjadi indikator penting.
4. Summarecon Agung Tbk (SMRA)
SMRA mengembangkan kawasan terpadu yang mencakup perumahan, pusat perbelanjaan, area komersial, dan fasilitas pendukung.
Pada semester I 2026, SMRA mencatat pendapatan sekitar Rp4,25 triliun dan laba bersih Rp332,39 miliar. Perkembangan marketing sales dan pemulihan profitabilitas menjadi hal yang perlu diperhatikan investor.
5. Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
PANI memiliki eksposur besar terhadap pengembangan kawasan PIK 2. Bisnisnya mencakup pengembangan kawasan, residensial, kavling, dan area komersial.
Karena valuasinya berkaitan erat dengan ekspektasi perkembangan kawasan, investor perlu melihat realisasi penjualan, perkembangan proyek, arus kas, kebutuhan modal, serta valuasinya.
6. Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)
ASRI bergerak dalam pengembangan kawasan terpadu, residensial, komersial, dan berbagai proyek properti lainnya.
Untuk menilai saham ini, investor dapat memperhatikan penjualan proyek, perkembangan kawasan, arus kas, struktur utang, dan kemampuan perusahaan meningkatkan pendapatan.
7. Agung Podomoro Land Tbk (APLN)
APLN memiliki portofolio properti yang mencakup residensial, pusat perbelanjaan, hotel, dan proyek mixed-use.
Karena sumber pendapatannya cukup beragam, investor perlu melihat perkembangan setiap proyek, penjualan properti, pendapatan berulang, utang, serta arus kas perusahaan.
Baca juga: 7+ Daftar Saham Rokok di BEI dan Amerika dan Prospeknya
Saham Properti Amerika Serikat dan Dunia

Saham properti global tidak hanya berupa perusahaan developer rumah. Di Amerika Serikat, banyak perusahaan properti berbentuk REIT yang memiliki dan mengelola aset seperti pusat perbelanjaan, gudang logistik, data center, menara komunikasi, dan fasilitas kesehatan.
1. Prologis (PLD)
Prologis merupakan perusahaan real estat global yang berfokus pada properti logistik dan gudang. Bisnisnya berkaitan dengan kebutuhan distribusi, rantai pasok, dan aktivitas perdagangan.
Investor dapat memperhatikan tingkat okupansi, pertumbuhan sewa, perkembangan portofolio properti, arus kas, dan sensitivitas perusahaan terhadap suku bunga. Pada September 2026, saham PLD masih menjadi salah satu REIT besar yang aktif diperdagangkan di pasar AS.
2. Realty Income (O)
Realty Income merupakan REIT yang memiliki portofolio properti komersial dengan pendapatan utama berasal dari sewa. Perusahaan ini juga dikenal luas karena kebijakan pembagian dividennya.
Karena itu, investor dapat melihat tingkat okupansi, kualitas penyewa, pertumbuhan sewa, arus kas, utang, serta kemampuan perusahaan mempertahankan distribusi kepada pemegang saham.
3. Simon Property Group (SPG)
Simon Property Group berfokus pada pusat perbelanjaan dan properti ritel. Kinerja bisnisnya berkaitan dengan tingkat okupansi, kondisi konsumen, penjualan penyewa, dan kemampuan perusahaan mempertahankan pendapatan sewa.
Saham ini memberikan eksposur yang berbeda dibanding developer perumahan karena sumber pendapatannya lebih banyak berasal dari aset komersial yang telah beroperasi.
4. Equinix (EQIX)
Equinix bergerak di bidang data center dan infrastruktur digital. Aset yang dimiliki perusahaan digunakan oleh perusahaan teknologi dan bisnis untuk kebutuhan konektivitas serta penyimpanan dan pertukaran data.
Perusahaan seperti EQIX menunjukkan bahwa sektor properti global juga berkembang mengikuti kebutuhan ekonomi digital. Pertumbuhan kapasitas, utilisasi, pendapatan, dan kebutuhan belanja modal menjadi indikator penting.
5. Digital Realty (DLR)
Digital Realty merupakan perusahaan data center yang memberikan eksposur terhadap kebutuhan infrastruktur digital. Permintaan terhadap data center juga berkaitan dengan pertumbuhan cloud computing, AI, dan penggunaan data.
Pada September 2026, DLR masih menjadi salah satu REIT data center besar di AS. Sahamnya ditutup sekitar US$188,58 pada 11 September 2026.
6. Welltower (WELL)
Welltower berfokus pada properti yang berkaitan dengan sektor kesehatan, seperti fasilitas perawatan lansia dan layanan kesehatan.
Model bisnis tersebut membuat kinerjanya memiliki karakter berbeda dari developer perumahan atau REIT mal. Pertumbuhan permintaan layanan kesehatan, okupansi, pendapatan sewa, dan biaya pendanaan menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
7. American Tower (AMT)
American Tower merupakan REIT yang mengelola infrastruktur komunikasi seperti menara telekomunikasi di berbagai negara.
Perusahaan ini menunjukkan bahwa investasi properti global tidak selalu berkaitan dengan gedung atau rumah. Infrastruktur digital juga dapat menjadi bagian dari aset real estat yang menghasilkan pendapatan sewa. Pada September 2026, AMT masih menjadi salah satu REIT besar dengan portofolio global.
Investasi Saham Amerika dalam Satu Aplikasi
Akses saham properti Amerika melalui Nanovest.
Apa Itu REIT?
REIT atau Real Estate Investment Trust adalah perusahaan atau kendaraan investasi yang memiliki dan mengelola aset real estat untuk menghasilkan pendapatan.
Aset REIT dapat berupa:
- pusat perbelanjaan;
- gedung perkantoran;
- gudang;
- apartemen;
- hotel;
- rumah sakit;
- data center; dan
- infrastruktur komunikasi.
REIT populer di pasar Amerika Serikat karena memberikan cara bagi investor untuk memperoleh eksposur ke aset real estat melalui pasar saham.
Salah satu perbedaan penting dengan developer properti adalah sumber pendapatannya. Developer dapat memperoleh pendapatan dari penjualan proyek, sedangkan REIT lebih banyak mengandalkan pendapatan sewa atau operasional aset yang dimilikinya.
Apa yang Memengaruhi Harga Saham Properti?
Ada beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan ketika menganalisis sektor ini.
1. Suku bunga
Suku bunga berpengaruh terhadap biaya pinjaman perusahaan dan kemampuan konsumen mengambil KPR.
Di Indonesia, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% pada Agustus 2026.
Ketika suku bunga turun, biaya pendanaan dapat menjadi lebih ringan dan kemampuan masyarakat mengambil kredit berpotensi meningkat. Sebaliknya, bunga tinggi dapat menekan permintaan dan meningkatkan beban bunga perusahaan.
2. Marketing sales
Marketing sales menunjukkan nilai penjualan proyek yang berhasil dipasarkan perusahaan.
Angka ini penting bagi developer karena dapat memberikan gambaran mengenai potensi pendapatan dari proyek pada periode berikutnya.
3. Daya beli masyarakat
Properti merupakan aset dengan nilai transaksi relatif besar. Ketika daya beli melemah, konsumen dapat menunda pembelian rumah, apartemen, atau properti komersial.
4. Recurring income
Pendapatan berulang dari mal, hotel, perkantoran, atau aset komersial dapat memberikan sumber pemasukan yang lebih stabil.
5. Utang dan biaya pendanaan
Bisnis properti membutuhkan modal besar. Karena itu, investor perlu memperhatikan jumlah utang, jatuh tempo, biaya bunga, serta kemampuan perusahaan membayar kewajibannya.
6. Kebijakan pemerintah
Kebijakan KPR, pajak, perizinan, pembangunan infrastruktur, dan insentif sektor properti dapat memengaruhi permintaan.
Pada 2026, Bank Indonesia melanjutkan kebijakan LTV/FTV properti hingga 100% untuk kategori bank yang memenuhi persyaratan, dan kebijakan tersebut berlaku hingga 31 Desember 2026.
Cara Memilih Saham Properti
Sebelum membeli saham properti, investor dapat menggunakan checklist berikut:
| Indikator | Yang Perlu Dianalisis |
| Pendapatan | Apakah tumbuh secara konsisten? |
| Laba | Apakah margin dan laba meningkat? |
| Marketing sales | Bagaimana tren penjualan proyek? |
| Arus kas | Apakah perusahaan menghasilkan kas? |
| Utang | Apakah leverage masih terkendali? |
| Recurring income | Seberapa besar kontribusinya? |
| Land bank | Seberapa besar potensi pengembangan? |
| Valuasi | Apakah harga relatif mahal atau murah? |
| Dividen | Apakah pembayarannya konsisten? |
Baca juga: 10 Saham Makanan Amerika dan Merek Terkenal di Baliknya
Risiko Investasi Saham Properti
Sebelum berinvestasi, pahami beberapa risiko berikut.
Risiko suku bunga
Kenaikan bunga dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan menekan permintaan KPR.
Risiko daya beli
Jika daya beli masyarakat melemah, penjualan properti dapat ikut turun.
Risiko utang
Perusahaan dengan leverage tinggi lebih sensitif terhadap kenaikan biaya pendanaan.
Risiko proyek
Keterlambatan pembangunan, lemahnya penjualan, atau perubahan kondisi kawasan dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
Risiko regulasi
Perubahan pajak, aturan KPR, perizinan, dan kebijakan pertanahan dapat memengaruhi sektor properti.
Risiko siklus ekonomi
Properti sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi. Perlambatan ekonomi dapat menekan permintaan.
Risiko nilai tukar
Investor yang membeli saham properti Amerika dengan rupiah menghadapi tambahan risiko perubahan nilai tukar USD/IDR.
Bagaimana Cara Membeli Saham Properti?
Saham properti Indonesia dapat dibeli melalui perusahaan sekuritas atau aplikasi investasi yang menyediakan akses ke Bursa Efek Indonesia.
Secara umum, langkahnya:
- Membuka rekening saham.
- Melakukan verifikasi identitas.
- Menyetorkan dana.
- Mencari kode saham.
- Menentukan harga dan jumlah saham.
- Melakukan transaksi.
- Memantau kinerja perusahaan dan portofolio.
Untuk saham properti Amerika, kamu bisa membeli dia aplikasi saham Amerika Nanovest






