Pagi sebelum bekerja, saat nongkrong, atau ketika butuh teman menyelesaikan pekerjaan, kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Nama seperti Starbucks, Nescafé, Nespresso, dan Dunkin’ pun semakin mudah ditemukan, baik di kedai maupun rak supermarket.
Namun, pernah terpikir siapa perusahaan di balik merek kopi tersebut? Jawabannya ternyata tidak selalu nama yang tercetak pada kemasan. Mengenal sebuah merek kopi juga bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal bisnis yang lebih besar di belakangnya.
Berikut 10 merek kopi terkenal dan perusahaan yang berada di balik masing-masing brand tersebut.
Daftar Isi
Toggle10 Merek Kopi Terkenal dan Perusahaan di Baliknya
1. Starbucks
![]()
Perusahaan: Starbucks Corporation
Ticker:SBUX
Bursa: Nasdaq
Jenis bisnis: Kedai kopi, minuman, makanan, dan produk konsumen
Starbucks menjadi salah satu nama yang paling mudah dikenali ketika membicarakan merek kopi global. Berawal dari satu toko di Pike Place Market, Seattle, pada 1971, Starbucks berkembang menjadi jaringan yang memiliki lebih dari 41.000 kedai yang dioperasikan perusahaan maupun berlisensi secara global.
Model bisnisnya juga membuat Starbucks berbeda dari banyak merek kopi dalam daftar ini. Perusahaan tidak hanya menjual biji atau kopi kemasan, tetapi membangun bisnis di sekitar kedai, minuman, makanan, program loyalitas, lisensi, hingga produk konsumen.
Siapa perusahaan di balik Starbucks?
Dalam kasus Starbucks, hubungan antara merek dan sahamnya cukup langsung. Brand Starbucks berada di bawah Starbucks Corporation, perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di Nasdaq dengan ticker SBUX.
Namun, ada satu detail menarik. Produk Starbucks yang kamu temukan di supermarket tidak seluruhnya dikelola dengan cara yang sama seperti kedainya. Nestlé memiliki hak global untuk memasarkan produk Starbucks Consumer Packaged Goods dan foodservice tertentu di luar kedai melalui kerja sama yang dimulai pada 2018. Bahkan Nestlé memasukkan Starbucks bersama Nescafé dan Nespresso sebagai tiga billionaire brands dalam portofolio kopinya.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Starbucks masih menjalankan transformasi “Back to Starbucks” di bawah CEO Brian Niccol. Fokusnya antara lain memperbaiki pengalaman di kedai, layanan, inovasi menu, dan program loyalitas. Pada kuartal ketiga tahun fiskal 2026, perusahaan menyebut hasilnya mulai menunjukkan kemajuan dari strategi tersebut.
Bagi investor, performa Starbucks karena itu tidak cukup dilihat dari seberapa populer kopinya. Traffic pelanggan, penjualan gerai yang sama, pembukaan kedai, biaya tenaga kerja, harga kopi, serta kemampuan perusahaan mempertahankan margin juga ikut menentukan kinerja bisnis.
2. Nescafé

Perusahaan: Nestlé S.A.
Ticker utama: NESN
Bursa: SIX Swiss Exchange
Jenis bisnis: Kopi instan dan berbagai produk kopi kemasan
Jika Starbucks identik dengan kedai, Nescafé mengambil jalur yang berbeda. Brand ini tumbuh menjadi salah satu nama besar dalam kategori kopi yang dapat disiapkan di rumah, dengan produk mulai dari kopi instan hingga berbagai format kopi siap seduh.
Di Indonesia pun nama Nescafé cukup familiar. Produknya dapat ditemukan dalam bentuk kopi instan, sachet, hingga minuman siap minum, membuatnya relevan untuk konsumen yang mencari kopi praktis tanpa harus datang ke kedai.
Siapa perusahaan di balik Nescafé?
Nescafé merupakan merek milik perusahaan makanan dan minuman asal Swiss, Nestlé S.A.
Kopi bukan sekadar kategori tambahan bagi Nestlé. Perusahaan menyebut kopi sebagai bisnis terbesarnya, dengan Nescafé, Nespresso, dan Starbucks menjadi tiga merek bernilai miliaran dalam portofolio kopi Nestlé. Perusahaan memperkirakan kategori kopi secara keseluruhan memiliki potensi pertumbuhan nilai sekitar 3%-5% pada periode 2025–2027.
Ini menjadikan Nestlé salah satu contoh menarik bagaimana satu perusahaan dapat memperoleh eksposur terhadap berbagai segmen pasar kopi sekaligus, dari kopi instan hingga sistem kapsul premium.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Nestlé memiliki portofolio yang jauh lebih luas, termasuk pet care, nutrisi, makanan, dan berbagai kategori consumer goods lainnya. Kopi merupakan salah satu dari empat bisnis yang menjadi fokus utama strategi perusahaan bersama Petcare, Nutrition, serta Food & Snacks.
Investor juga perlu memperhatikan harga biji kopi. Nestlé mencatat kondisi pasar kopi yang tidak biasa pada 2025, termasuk tingginya harga yang memengaruhi rantai pasok.
3. Nespresso

Perusahaan: Nestlé S.A.
Ticker utama: NESN
Bursa: SIX Swiss Exchange
Jenis bisnis: Sistem kopi kapsul, mesin kopi, dan kopi premium
Nescafé dan Nespresso berada di bawah perusahaan yang sama, tetapi keduanya bermain di segmen yang berbeda.
Jika Nescafé banyak dikenal melalui kopi instan dan konsumsi sehari-hari, Nespresso membangun ekosistem kopi premium melalui mesin dan kapsul. Konsumen tidak hanya membeli kopi, tetapi masuk ke dalam sistem yang menghubungkan mesin dengan pembelian kapsul secara berulang.
Model seperti ini membuat Nespresso menarik dari perspektif bisnis karena hubungan dengan konsumen dapat berlanjut setelah mesin kopi pertama kali dibeli.
Siapa perusahaan di balik Nespresso?
Nespresso juga dimiliki oleh Nestlé S.A. sehingga tidak terdapat saham Nespresso yang diperdagangkan secara terpisah. Pada 2025, bisnis Nespresso membukukan penjualan sekitar CHF6,48 miliar, naik dari CHF6,38 miliar setahun sebelumnya. Pertumbuhan organiknya mencapai 6%, dengan sistem Vertuo menjadi salah satu pendorong pertumbuhan.
Ekspansi Vertuo masih berlanjut pada 2026. Hingga paruh pertama tahun ini, mesin Vertuo Up telah tersedia di hampir 50 pasar dan Nestlé menyebut Vertuo masih menjadi pendorong pertumbuhan Nespresso.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Keunggulan model Nespresso juga membawa tantangannya sendiri. Bisnis ini perlu terus menjaga daya tarik sistem mesin dan kapsulnya, mendorong pembelian berulang, serta menghadapi persaingan dari sistem kopi lain dan kapsul kompatibel. Nestlé sendiri masih melihat Vertuo sebagai platform pertumbuhan, terutama karena fleksibilitasnya untuk berbagai ukuran dan jenis minuman, termasuk kopi dingin.
4. Dunkin’

Perusahaan pemilik brand: Inspire Brands
Status: Perusahaan privat
Ticker: Tidak ada ticker Dunkin’ saat ini
Jenis bisnis: Kedai kopi, minuman, makanan, dan kopi kemasan melalui lisensi
Dunkin’ menjadi contoh yang bagus mengapa merek terkenal belum tentu memiliki saham yang bisa dibeli. Brand yang sebelumnya dikenal sebagai Dunkin’ Donuts ini berkembang dari restoran pertamanya di Quincy, Massachusetts, pada 1950 menjadi jaringan global yang identik dengan kopi, donat, dan menu sarapan. Saat ini, Inspire menyebut Dunkin’ memiliki lebih dari 14.000 restoran di hampir 40 pasar global.
Brand ini juga masih aktif berekspansi di Indonesia. Pada April 2026, Dunkin’ memperkenalkan konsep baru di Indonesia melalui gerai di Puri Indah Mall, Jakarta Barat, bersama franchisee baru PT Diamonds Donuts International.
Siapa perusahaan di balik Dunkin’?
Dunkin’ dahulu berada di bawah Dunkin’ Brands Group, yang pernah diperdagangkan di Nasdaq dengan ticker DNKN. Namun, saham DNKN sudah tidak diperdagangkan.
Pada Desember 2020, Inspire Brands menyelesaikan akuisisi Dunkin’ Brands senilai sekitar US$11,3 miliar. Dunkin’ kemudian menjadi bagian dari portofolio Inspire bersama brand seperti Baskin-Robbins, Arby’s, Buffalo Wild Wings, Jimmy John’s, dan SONIC.
Inspire Brands sendiri merupakan perusahaan privat. Artinya, investor ritel saat ini tidak dapat membeli saham Dunkin’ atau Inspire Brands melalui bursa saham publik.
Tapi, Mengapa Dunkin’ Muncul di Bisnis J.M. Smucker?
Kopi Dunkin’ kemasan yang dijual melalui supermarket dan berbagai kanal retail di Amerika Serikat dilisensikan kepada The J.M. Smucker Company (SJM). Lisensi tersebut berlaku untuk produk packaged coffee di berbagai kanal retail dan tidak mencakup produk yang dijual di restoran Dunkin’.
5. Café Bustelo

Perusahaan: The J.M. Smucker Company
Ticker: SJM
Bursa: NYSE
Jenis bisnis: Kopi kemasan
Café Bustelo dikenal dengan karakter kopi espresso-style yang kuat dan identitas Latin yang khas. Berbeda dari Starbucks atau Dunkin’ yang memiliki jaringan kedai besar, kekuatan Café Bustelo terutama berada pada kopi yang dikonsumsi di rumah.
Brand ini juga memberikan contoh lain bagaimana sebuah merek kopi dapat berada di dalam perusahaan consumer goods yang memiliki banyak produk lain.
Siapa perusahaan di balik Café Bustelo?
Café Bustelo merupakan salah satu merek kopi milik The J.M. Smucker Company, perusahaan publik yang diperdagangkan di New York Stock Exchange dengan ticker SJM.
Smucker memiliki portofolio kopi yang cukup besar. Selain Café Bustelo, perusahaan memiliki Folgers serta menjalankan bisnis kopi kemasan Dunkin’ melalui lisensi. Smucker menyebut ketiga brand tersebut termasuk di antara merek utama dalam bisnis kopi at-home perusahaan.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Café Bustelo justru menunjukkan perkembangan yang cukup menarik pada tahun fiskal 2026.
Pada kuartal keempat tahun fiskal tersebut, penjualan bersih segmen U.S. Retail Coffee Smucker mencapai sekitar US$830,6 juta, naik 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut banyak ditopang realisasi harga yang lebih tinggi, sementara volume/mix turun. Café Bustelo menjadi pengecualian karena mencatat peningkatan volume/mix ketika Dunkin’ dan Folgers mengalami penurunan.
6. Fore Coffee

Perusahaan: PT Fore Kopi Indonesia Tbk
Ticker: FORE
Bursa: Bursa Efek Indonesia (BEI)
Jenis bisnis: Kedai kopi, minuman, dan F&B
Kalau beberapa nama sebelumnya lahir dari perusahaan global, Fore Coffee menjadi contoh yang lebih dekat dengan konsumen Indonesia.
Fore Coffee hadir dengan model grab-and-go yang menggabungkan kedai fisik dengan pemesanan digital. Dalam beberapa tahun, jaringan ini berkembang dari kota-kota besar hingga semakin banyak wilayah di Indonesia, sekaligus mulai merambah pasar luar negeri.
Yang membuat Fore berbeda dalam daftar ini adalah hubungan antara brand dan perusahaan publiknya cukup langsung. Sejak April 2025, masyarakat juga dapat mengenal Fore bukan hanya sebagai merek kopi, tetapi sebagai emiten di pasar modal Indonesia.
Siapa Perusahaan di Balik Fore Coffee?
Fore Coffee berada di bawah PT Fore Kopi Indonesia Tbk, perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker FORE.
Berbeda dari perusahaan seperti Nestlé atau Coca-Cola yang memiliki ratusan brand dan kategori produk, bisnis FORE masih sangat dekat dengan merek utamanya. Perusahaan mengelola Fore Coffee serta Fore Donut, sehingga perkembangan jaringan gerai dan konsumsi produknya memiliki hubungan yang lebih langsung dengan kinerja perusahaan.
Ekspansinya juga berlangsung cukup cepat. Pada akhir 2025, Fore Coffee Indonesia memiliki 316 gerai aktif, dibandingkan 231 gerai pada akhir 2024. Hingga semester pertama 2026, jumlah tersebut telah meningkat menjadi 363 gerai Fore Coffee di Indonesia, ditambah empat gerai di Singapura.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Ekspansi tersebut mulai terlihat pada laporan keuangannya. Sepanjang 2025, pendapatan FORE tumbuh 44% menjadi sekitar Rp1,50 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 55% menjadi Rp90,1 miliar.
Pertumbuhan berlanjut pada semester pertama 2026. Pendapatan mencapai Rp1,00 triliun atau tumbuh 52% YoY, EBITDA meningkat 65% menjadi Rp216 miliar, dan laba bersih naik 34% menjadi Rp56,5 miliar.
Ekspansi gerai memang dapat membuka ruang pertumbuhan. Namun, semakin banyak gerai tidak otomatis menghasilkan profit yang lebih besar. Pertumbuhan penjualan per gerai, biaya sewa, bahan baku seperti kopi dan susu, tenaga kerja, serta kemampuan mempertahankan margin tetap perlu diperhatikan.
7. Kapal Api

Perusahaan: PT Santos Jaya Abadi
Status: Perusahaan privat
Ticker: Tidak ada
Jenis bisnis: Kopi bubuk, kopi instan, dan minuman kopi
Bagi konsumen Indonesia, Kapal Api mungkin menjadi salah satu merek kopi yang paling mudah dikenali dalam daftar ini.
Berbeda dari Fore atau Starbucks yang banyak berinteraksi dengan konsumen melalui kedai, Kapal Api tumbuh kuat di segmen kopi untuk dikonsumsi di rumah. Portofolionya sekarang juga tidak hanya berupa kopi bubuk tradisional, tetapi mencakup berbagai format seperti kopi instan, ready-to-drink, drip bag, hingga berbagai racikan arabika dan robusta.
Siapa Perusahaan di Balik Kapal Api?
Kapal Api diproduksi oleh PT Santos Jaya Abadi, perusahaan yang juga memiliki berbagai merek kopi lain seperti Good Day, Kopi ABC, dan PIKOPI dalam portofolio produknya.
Namun, berbeda dari Fore Coffee atau Torabika yang akan kita bahas berikutnya, Kapal Api tidak memiliki ticker saham di Bursa Efek Indonesia. PT Santos Jaya Abadi bukan perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di BEI.
8. Torabika

Perusahaan: PT Mayora Indah Tbk
Ticker: MYOR
Bursa: Bursa Efek Indonesia (BEI)
Jenis bisnis: Kopi instan dan coffee mix
Selain Kapal Api, Torabika menjadi merek kopi Indonesia lain yang telah lama hadir di kategori kopi instan.
Produknya mencakup Torabika Duo, Torabika 3in1, Torabika Tora Susu, Torabika Creamy Latte, hingga Torabika Cappuccino. Mayora bahkan menyebut Torabika Duo sebagai salah satu pelopor kategori coffee mix dan Torabika Creamy Latte sebagai pelopor kopi latte dengan gula terpisah dalam portofolionya.
Siapa Perusahaan di Balik Torabika?
Torabika merupakan bagian dari bisnis PT Mayora Indah Tbk, perusahaan consumer goods Indonesia yang sahamnya diperdagangkan di BEI dengan ticker MYOR.
Dalam struktur grup Mayora, terdapat PT Torabika Eka Semesta, entitas anak yang bergerak dalam industri pengolahan kopi bubuk dan kopi instan. Berdasarkan laporan keuangan September 2025, Mayora memiliki 96,23% kepemilikan pada perusahaan tersebut.
Selain Torabika, divisi kopi Mayora juga memiliki produk seperti Kopiko Brown Coffee dan Tora Café.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Mayora merupakan contoh yang bagus untuk memahami konsep perusahaan induk. Torabika mungkin menjadi merek yang membawa seseorang mengenal MYOR, tetapi bisnis Mayora jauh lebih luas. Portofolionya mencakup kategori biskuit, permen, wafer, cokelat, kopi, minuman, hingga makanan kesehatan dengan brand seperti Roma, Kopiko, Beng-Beng, Astor, Choki-Choki, dan Energen.
9. Keurig

Perusahaan: Keurig Dr Pepper Inc.
Ticker: KDP
Bursa: Nasdaq
Jenis bisnis: Mesin kopi, K-Cup pods, dan sistem single-serve coffee
Kalau Nespresso membangun ekosistem mesin dan kapsul premium, Keurig menggunakan konsep yang serupa dengan pendekatan yang sangat kuat di pasar Amerika Utara.
Keurig dikenal melalui mesin kopi single-serve dan K-Cup pods. Model bisnisnya tidak hanya bergantung pada penjualan mesin. Setelah memiliki brewer Keurig, konsumen dapat terus membeli pods untuk menyeduh berbagai jenis dan merek minuman.
Hal tersebut menciptakan dua lapisan bisnis: appliances sebagai perangkat dan K-Cup pods sebagai produk yang dikonsumsi berulang.
Siapa Perusahaan di Balik Keurig?
Keurig berada di bawah Keurig Dr Pepper Inc., perusahaan publik dengan ticker KDP di Nasdaq.
Pada 2025, segmen U.S. Coffee KDP menghasilkan penjualan bersih sekitar US$3,99 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$3,21 miliar berasal dari K-Cup pods dan US$582 juta dari appliances. Angka ini menunjukkan bahwa bagian terbesar bisnis kopi bukan berasal dari mesin yang dibeli sekali, tetapi pods yang terus dikonsumsi setelahnya.
Namun, cerita KDP berubah cukup besar pada 2026. Pada April, KDP menyelesaikan akuisisi 96,22% saham JDE Peet’s, perusahaan kopi global di balik berbagai brand, dan menggabungkannya dengan bisnis Keurig.
KDP kini tengah mempersiapkan pemisahan bisnis menjadi dua perusahaan independen: satu berfokus pada minuman dan satu lagi menjadi Global Coffee Co. Pemisahan tersebut ditargetkan berlangsung pada awal 2027.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Perubahan tersebut membuat KDP menjadi salah satu nama yang paling menarik untuk dipantau dalam daftar ini, tetapi sekaligus membuat struktur investasinya lebih kompleks.
Investor tidak lagi hanya perlu melihat penjualan brewer dan K-Cup. Integrasi JDE Peet’s, potensi sinergi, utang setelah transaksi, serta proses pemisahan menjadi dua perusahaan akan ikut menentukan arah bisnis.
10. Costa Coffee

Perusahaan: The Coca-Cola Company
Ticker: KO
Bursa: NYSE
Jenis bisnis: Kedai kopi, mesin kopi, dan minuman siap minum
Costa Coffee mungkin paling dikenal sebagai jaringan kedai kopi asal Inggris. Namun, di balik brand tersebut terdapat nama yang jauh lebih identik dengan minuman bersoda: The Coca-Cola Company.
Coca-Cola mengakuisisi Costa pada 2019. Sejak itu, Costa menjadi salah satu cara perusahaan memperluas bisnisnya di luar kategori minuman ringan tradisional.
Bisnis Costa juga tidak hanya berupa coffee shop. Brand ini memiliki jaringan retail, mesin Costa Express, serta produk ready-to-drink di sejumlah pasar.
Siapa Perusahaan di Balik Costa Coffee?
Costa Coffee dimiliki oleh The Coca-Cola Company, perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di NYSE dengan ticker KO.
Sejak Januari 2025, Costa ditempatkan sebagai bisnis mandiri yang melapor melalui unit operasi Coca-Cola di Eropa. Mayoritas outlet retail dan Costa Express berada di Inggris serta wilayah Eropa lainnya, sementara bisnis minuman siap minum di luar Eropa dikelola melalui unit operasi lokal Coca-Cola.
Yang Perlu Diperhatikan Investor
Hubungan Costa dengan Coca-Cola menunjukkan mengapa investor perlu memperhatikan seberapa besar kontribusi sebuah merek terhadap perusahaan induknya. Jika membeli saham perusahaan yang sangat terdiversifikasi seperti Coca-Cola, performa satu jaringan kopi mungkin memiliki pengaruh yang lebih kecil terhadap keseluruhan bisnis dibandingkan Fore Coffee terhadap FORE atau Starbucks terhadap SBUX.
Ringkasan Merek Kopi dan Sahamnya
| Merek Kopi | Perusahaan di Baliknya | Kode Saham | Bursa | Status |
|---|---|---|---|---|
| Starbucks | Starbucks Corporation | SBUX | Nasdaq | Publik |
| Nescafé | Nestlé S.A. | NESN | SIX Swiss Exchange | Publik melalui perusahaan induk |
| Nespresso | Nestlé S.A. | NESN | SIX Swiss Exchange | Publik melalui perusahaan induk |
| Dunkin’ | Inspire Brands | - | - | Privat |
| Café Bustelo | The J.M. Smucker Company | SJM | NYSE | Publik melalui perusahaan induk |
| Fore Coffee | PT Fore Kopi Indonesia Tbk | FORE | BEI | Publik |
| Kapal Api | PT Santos Jaya Abadi | - | - | Privat |
| Torabika | PT Mayora Indah Tbk | MYOR | BEI | Publik melalui perusahaan induk |
| Keurig | Keurig Dr Pepper Inc. | KDP | Nasdaq | Publik* |
| Costa Coffee | The Coca-Cola Company | KO | NYSE | Publik melalui perusahaan induk |
*) Keurig Dr Pepper sedang mempersiapkan pemisahan bisnis minuman dan kopi menjadi dua perusahaan independen yang ditargetkan pada awal 2027.
Apa yang Perlu Dilihat Sebelum Membeli Saham Perusahaan Kopi?
Merek yang terkenal bisa menjadi awal untuk menemukan sebuah perusahaan, tetapi popularitas saja tidak cukup untuk menilai sahamnya. Investor tetap perlu memahami bagaimana bisnis menghasilkan uang, bertumbuh, dan menghadapi risiko.
1. Harga Kopi, Volume, dan Harga Jual
Kenaikan harga arabika atau robusta dapat meningkatkan biaya produksi. Perusahaan bisa merespons dengan menaikkan harga jual, tetapi harga yang terlalu tinggi juga berisiko menekan permintaan. Perhatikan apakah kenaikan tersebut berasal dari volume yang bertambah atau harga jual yang lebih tinggi.
2. Pertumbuhan dan Produktivitas Gerai
Untuk merek berbasis kedai seperti Starbucks dan Fore Coffee, pertumbuhan jumlah gerai perlu dilihat bersama produktivitasnya. Namun, ekspansi tetap perlu dibandingkan dengan penjualan per gerai, biaya sewa, tenaga kerja, dan investasi untuk membuka lokasi baru.
3. Perubahan Kebiasaan Minum Kopi
Pasar kopi tidak hanya tumbuh melalui coffee shop. Konsumen juga membeli kopi instan, ready-to-drink, hingga menggunakan mesin kapsul.
Setiap merek memiliki eksposur berbeda: Nescafé kuat di konsumsi rumahan, Starbucks dan Fore mengandalkan kedai, Keurig memiliki ekosistem brewer dan K-Cup, sedangkan Nespresso mengandalkan mesin dan kapsul. Perubahan kebiasaan konsumen dapat menguntungkan model bisnis tertentu dibandingkan lainnya.
4. Seberapa Besar Bisnis Kopinya?
Tidak semua saham dalam daftar ini memiliki eksposur yang sama terhadap kopi. Artinya, semakin terdiversifikasi perusahaan induknya, semakin penting melihat keseluruhan bisnis, bukan hanya merek kopinya.
5. Fundamental dan Valuasi
Pada akhirnya, perusahaan dengan merek populer tetap harus menghasilkan bisnis yang sehat. Investor dapat melihat pertumbuhan pendapatan dan laba, margin, arus kas, tingkat utang, hingga valuasi saham dibandingkan prospek pertumbuhannya.
Bisakah Membeli Saham Perusahaan Kopi dari Indonesia?
Ya, investor Indonesia dapat memperoleh eksposur terhadap sejumlah perusahaan publik di balik merek kopi, tetapi aksesnya bergantung pada bursa tempat saham tersebut tercatat dan platform investasi yang digunakan.
Contohnya, Fore Coffee (FORE) dan Mayora (MYOR) tercatat di Bursa Efek Indonesia. Starbucks (SBUX), J.M. Smucker (SJM), Keurig Dr Pepper (KDP), dan Coca-Cola (KO) diperdagangkan di pasar saham AS.
Bagi investor Indonesia yang tertarik dengan saham AS, beberapa perusahaan dalam daftar ini dapat menjadi titik awal untuk mempelajari bagaimana bisnis yang produknya familiar menghasilkan pendapatan.
Kenali Saham di Balik Brand Favoritmu
Jelajahi berbagai saham AS di Nanovest dan pelajari bisnis, kinerja, serta risikonya sebelum menentukan pilihan investasi.
FAQ
Beberapa merek kopi terkenal antara lain Starbucks, Nescafé, Nespresso, Dunkin’, Café Bustelo, Fore Coffee, Kapal Api, Torabika, Keurig, dan Costa Coffee. Merek-merek tersebut memiliki model bisnis dan struktur kepemilikan yang berbeda, mulai dari perusahaan publik hingga perusahaan privat.
Beberapa merek kopi yang familiar di Indonesia antara lain Kapal Api, Torabika, Good Day, Kopi ABC, Fore Coffee, Nescafé, Starbucks, dan berbagai brand lokal lainnya. Sebagian berfokus pada kopi kemasan, sementara lainnya berkembang melalui jaringan kedai.
Fore Coffee berada di bawah PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE), sedangkan Torabika merupakan bagian dari bisnis PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Keduanya tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sementara itu, Kapal Api berada di bawah PT Santos Jaya Abadi yang bukan perusahaan publik.
Starbucks berada di bawah Starbucks Corporation, perusahaan publik asal Amerika Serikat yang sahamnya diperdagangkan di Nasdaq dengan ticker SBUX.
Ya. Starbucks Corporation merupakan perusahaan publik dengan kode saham SBUX di Nasdaq. Membeli saham SBUX berarti memperoleh bagian kepemilikan pada Starbucks Corporation, bukan membeli satu kedai Starbucks tertentu.
Nescafé dimiliki oleh Nestlé S.A., perusahaan makanan dan minuman asal Swiss. Nestlé juga memiliki Nespresso dan berbagai merek lainnya.
Nescafé tidak memiliki saham sendiri. Investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap bisnis Nescafé dapat melihat perusahaan induknya, Nestlé S.A., yang saham utamanya diperdagangkan di SIX Swiss Exchange dengan ticker NESN.
Nespresso merupakan merek milik Nestlé S.A. Sama seperti Nescafé, Nespresso tidak memiliki saham publik yang terpisah dari Nestlé.
Dunkin’ dimiliki oleh Inspire Brands, perusahaan privat yang mengakuisisi Dunkin’ Brands pada 2020. Karena itu, saham Dunkin’ dengan ticker DNKN sudah tidak diperdagangkan di bursa.
Untuk produk kopi kemasan Dunkin’ tertentu di pasar retail AS, J.M. Smucker menjalankan bisnisnya melalui perjanjian lisensi.
Tidak. Kapal Api berada di bawah PT Santos Jaya Abadi, yang bukan perusahaan publik tercatat di Bursa Efek Indonesia. Karena itu, tidak terdapat kode saham Kapal Api yang dapat dibeli investor melalui BEI.
Torabika merupakan bagian dari bisnis PT Mayora Indah Tbk, yang memiliki ticker MYOR di Bursa Efek Indonesia. Namun, MYOR merepresentasikan seluruh bisnis Mayora, bukan saham Torabika secara terpisah.
Ya. Fore Coffee berada di bawah PT Fore Kopi Indonesia Tbk, yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker FORE sejak 2025.
Costa Coffee dimiliki oleh The Coca-Cola Company. Karena Costa tidak memiliki saham tersendiri, eksposur melalui pasar saham berada pada perusahaan induknya, Coca-Cola (KO), yang memiliki banyak bisnis dan merek lain.
Beberapa saham perusahaan yang memiliki bisnis atau merek kopi antara lain Starbucks (SBUX), J.M. Smucker (SJM), Keurig Dr Pepper (KDP), Coca-Cola (KO), Fore Coffee (FORE), dan Mayora Indah (MYOR). Tingkat eksposur masing-masing perusahaan terhadap bisnis kopi berbeda.
Tidak semuanya. Klasifikasi sektor bergantung pada model bisnis perusahaan. Perusahaan yang menjual produk konsumsi kemasan dapat memiliki klasifikasi berbeda dari operator restoran atau kedai kopi. Karena itu, istilah “saham kopi” lebih tepat digunakan untuk menggambarkan eksposur bisnisnya, bukan satu sektor saham yang seragam.
Tidak. Merek yang kuat dapat menjadi keunggulan kompetitif, tetapi kinerja saham juga dipengaruhi pertumbuhan pendapatan dan laba, margin, utang, harga bahan baku, kondisi konsumen, valuasi, dan berbagai faktor lainnya.
Investor Indonesia dapat mengakses saham AS seperti Starbucks (SBUX) melalui platform yang menyediakan akses terhadap saham AS. Sebelum membeli, pahami terlebih dahulu bisnis Starbucks, kinerja keuangannya, valuasi, serta risiko investasi yang menyertainya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham maupun instrumen investasi tertentu. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Setiap investasi memiliki risiko. Pelajari perusahaan, produk investasi, biaya, dan risiko sebelum mengambil keputusan.
Referensi +
- Starbucks Investor Relations
- Nestlé — Annual Report 2025
- Inspire Brands — Acquisition of Dunkin’ Brands
- The J.M. Smucker Co. — FY2026 Q4 Results & FY2027 Outlook
- Fore Coffee — Investor FAQ
- PT Santos Jaya Abadi — Kapal Api
- PT Mayora Indah Tbk — Kegiatan Usaha dan Jenis Produk
- Keurig Dr Pepper — JDE Peet’s Acquisition, April 2026
- The Coca-Cola Company — Costa Coffee Reporting Structure






