Sebelum menjadi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia, perjalanan hidup Prajogo Pangestu dimulai dari kondisi yang sederhana.
Ia disebut pernah bekerja sebagai sopir angkot dan berdagang hasil pertanian sebelum bergabung dengan perusahaan kayu.
Hingga akhirnya membangun bisnis yang berkembang ke sektor petrokimia, energi, dan pertambangan.
Simak!
Siapa Prajogo Pangestu?
Prajogo Pangestu adalah pengusaha asal Indonesia yang dikenal sebagai pendiri Barito Pacific Group. Perjalanan bisnisnya cukup panjang. Sebelum membangun bisnis besar di sektor energi dan petrokimia, Prajogo lebih dulu terjun ke bisnis kayu.
Dari bisnis tersebut, ia kemudian mulai mengembangkan usahanya ke sektor lain. Salah satu langkah pentingnya terjadi pada 2007 ketika Barito Pacific mengambil alih sekitar 70% saham Chandra Asri, perusahaan petrokimia yang kemudian menjadi salah satu bisnis utama dalam kelompok usahanya.
Seiring waktu, bisnis Prajogo semakin berkembang dan masuk ke sektor energi terbarukan serta pertambangan.
Profil Prajogo Pangestu
Prajogo lahir pada 1944 di Bengkayang, Kalimantan Barat. Sebelum menjadi pengusaha besar, perjalanan hidupnya cukup sederhana. Ia bahkan pernah bekerja sebagai sopir angkot dan pedagang hasil pertanian.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Prajogo sebelum akhirnya membangun bisnis sendiri.
Bagaimana Prajogo Pangestu Membangun Kekayaannya?
Kekayaan Prajogo Pangestu tidak terbentuk dalam waktu singkat. Ada beberapa tahap penting dalam perjalanan bisnisnya.
1. Memulai dari Bisnis Kayu
Prajogo mulai membangun bisnisnya di sektor kayu pada akhir 1970-an.
Pada 1977, ia mendirikan bisnis yang kemudian berkembang menjadi Barito Pacific Timber. Perusahaan ini kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta pada 1993.
Bisnis kayu menjadi fondasi awal yang membuat Prajogo memiliki modal dan pengalaman untuk masuk ke sektor lainnya.
2. Masuk ke Bisnis Petrokimia
Salah satu titik penting dalam perjalanan bisnis Prajogo terjadi pada 2007.
Saat itu, Barito Pacific mengambil alih sekitar 70% saham Chandra Asri. Beberapa tahun kemudian, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia pada 2011.
Langkah ini membuat bisnis Prajogo semakin kuat di sektor petrokimia.
Petrokimia sendiri merupakan industri yang menghasilkan berbagai bahan kimia dari minyak dan gas. Produk dari industri ini digunakan untuk membuat berbagai barang, mulai dari plastik hingga bahan baku industri.
3. Mengembangkan Bisnis Energi
Prajogo kemudian memperluas bisnisnya ke sektor energi.
Salah satu bisnis pentingnya adalah Star Energy Geothermal, yang bergerak di bidang pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal.
Ekspansi ke energi terbarukan membuat kelompok bisnis Prajogo tidak hanya bergantung pada sektor petrokimia.
4. Masuk ke Pertambangan
Selain petrokimia dan energi, kelompok bisnis Prajogo juga memiliki eksposur ke sektor pertambangan melalui Petrindo Jaya Kreasi.
Perusahaan tersebut melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2023.
Dengan masuknya bisnis pertambangan, portofolio bisnis Prajogo menjadi semakin luas.
Baca juga: 10+ Daftar Saham Tambang di Indonesia dan Dunia yang Menarik
Update Terbaru Tentang Ekonomi Dunia
Ikuti berita terbaru Tokoh penting, Tesla, SpaceX, dan saham AS lainnya.
Prajogo Pangestu Punya Perusahaan Apa Saja?
Nama Prajogo Pangestu berkaitan dengan sejumlah perusahaan yang bergerak di berbagai sektor.
Berikut beberapa perusahaan yang paling sering dikaitkan dengan kelompok bisnisnya:
Perlu diperhatikan, hubungan Prajogo dengan perusahaan-perusahaan tersebut tidak selalu berarti ia memiliki seluruh saham perusahaan secara langsung. Struktur kepemilikan dan afiliasi perusahaan dapat berubah seiring aksi korporasi.
Karena itu, investor sebaiknya melihat laporan perusahaan dan keterbukaan informasi BEI sebelum mengambil kesimpulan mengenai kepemilikan saham.
Apakah Saham Prajogo Pangestu Bisa Memengaruhi IHSG?
Bisa, terutama saham dengan kapitalisasi pasar besar.
IHSG menggunakan bobot berdasarkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float. Karena beberapa saham dalam ekosistem Prajogo memiliki kapitalisasi besar, pergerakannya dapat ikut memberi tekanan atau dorongan terhadap IHSG. Bahkan, analisis Ajaib mencatat BREN, TPIA, dan BRPT secara gabungan menyumbang sekitar 424,53 poin penurunan IHSG sepanjang 2026 hingga 31 Agustus 2026.
Ada contoh konkret juga. Pada 26 Juni 2026, IHSG turun 1,72% ke 5.896,13, bersamaan dengan penurunan saham TPIA, BREN, dan CUAN.
Sebaliknya, pada 12 Agustus 2026, IHSG naik 1,69% ke 6.373,85, sementara sejumlah saham terafiliasi Prajogo seperti PTRO, BREN, CUAN, BRPT, dan TPIA menjadi saham yang banyak dibeli investor asing.
Berapa Kekayaan Prajogo Pangestu?

Menurut data real-time Forbes per 14 September 2026, kekayaan Prajogo Pangestu berada di sekitar US$16,4 miliar.
Angka tersebut dapat berubah setiap saat karena sebagian besar kekayaan pengusaha seperti Prajogo berkaitan dengan nilai kepemilikan saham.
Ini juga menjadi alasan mengapa angka kekayaan yang muncul di berbagai artikel bisa berbeda.
Sebagai contoh, Forbes mencatat kekayaan Prajogo sebesar US$28,6 miliar dalam daftar miliarder tahunan 2026 yang menggunakan data per Maret 2026.
Baca juga: Andry Hakim: Profil, Perjalanan, dan Strategi Investasi Saham
Bisnis Energi Terbarukan Prajogo Pangestu

Salah satu perkembangan menarik dari bisnis Prajogo adalah semakin besarnya perhatian terhadap energi terbarukan.
Melalui Barito Renewables Energy dan Star Energy, kelompok bisnisnya memiliki eksposur yang besar terhadap energi panas bumi.
Panas bumi atau geothermal memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan energi listrik.
Sektor ini menarik karena Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar. Bagi kelompok bisnis Prajogo, energi terbarukan juga menjadi salah satu area ekspansi di luar bisnis petrokimia.
Pada 2026, Barito Renewables bahkan dikaitkan dengan rencana ekspansi energi di luar Indonesia, termasuk rencana penawaran untuk mengakuisisi Energy Development Corporation di Filipina.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Perjalanan Bisnis Prajogo Pangestu?
Ada satu hal menarik dari perjalanan Prajogo yakni bisnisnya tidak berhenti di satu sektor.
Ia memulai dari kayu, kemudian masuk ke petrokimia, energi, hingga pertambangan.
Namun, bukan berarti berpindah sektor dilakukan tanpa strategi. Perusahaan-perusahaan yang berada dalam kelompok bisnisnya memiliki hubungan dengan kebutuhan industri dan energi yang besar.
Bagi investor, perjalanan seperti ini juga menunjukkan pentingnya melihat bisnis di balik sebuah saham, bukan hanya pergerakan harganya.
Sebelum membeli saham perusahaan, investor dapat melihat bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan, sektor yang menjadi sumber bisnisnya, serta bagaimana prospek industrinya.
Kesimpulan
Prajogo Pangestu merupakan contoh pengusaha Indonesia yang membangun bisnis dari sektor kayu hingga berkembang ke petrokimia, energi, dan pertambangan.
Perjalanan tersebut membuat kelompok bisnisnya memiliki sejumlah perusahaan besar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Bagi investor, kisah Prajogo juga menarik bukan hanya dari sisi jumlah kekayaannya. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana ia membangun bisnis, melakukan ekspansi ke sektor baru, dan mengembangkan perusahaan dalam jangka panjang.
Jadi, ketika melihat nama Prajogo Pangestu atau perusahaan yang terafiliasi dengannya, jangan hanya melihat siapa pemiliknya. Lihat juga bisnis perusahaan, kinerja keuangan, prospek industri, dan risikonya.
Investasi di Berbagai Aset dalam Satu Aplikasi
Akses saham Amerika, emas, dan kripto melalui Nanovest.
FAQ tentang Prajogo Pangestu
Referensi +
- Prajogo Pangestu-Forbes






