Alibaba (BABA) kembali menunjukkan bahwa perlombaan kecerdasan buatan (AI) membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Raksasa teknologi asal China tersebut baru saja mengantongi sekitar US$10,2 miliar atau setara dengan Rp160 triliun melalui penerbitan saham baru di Hong Kong. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat kemampuan AI Alibaba, termasuk pengembangan dan perluasan infrastrukturnya.
Namun, bukannya mendapat sambutan positif, pasar justru bereaksi keras.
Saham Alibaba sempat terjun hingga 10% pada perdagangan Senin (24/8), setelah perusahaan menetapkan harga saham baru di HK$112,70 per saham. Harga tersebut berada di bawah harga penutupan Alibaba pada perdagangan sebelumnya.
Lantas, mengapa investor justru khawatir ketika Alibaba mendapatkan suntikan dana besar untuk mengembangkan teknologi yang sedang menjadi salah satu tema investasi terbesar di dunia?
Alibaba Suntik Dana Jumbo untuk Perang AI
Alibaba menerbitkan sekitar 710 juta saham baru kepada investor non-Amerika Serikat dengan harga HK112,70 per saham. Aksi ini menghasilkan dana sekitar HK80 miliar atau US$10,2 miliar. Transaksi tersebut diperkirakan selesai pada 26 Agustus 2026, dengan seluruh dana bersihnya dialokasikan untuk memperkuat kemampuan AI Alibaba.
Bagi Alibaba, langkah ini bukan sekadar aksi mencari pendanaan.
Perusahaan sedang berusaha membangun ekosistem AI secara menyeluruh, mulai dari model AI hingga infrastruktur komputasi yang menopangnya. Strategi tersebut menjadi semakin penting ketika kebutuhan terhadap kapasitas komputasi AI terus meningkat.
Alibaba sendiri sebelumnya telah memasang target investasi sekitar 380 miliar yuan atau sekitar US$56,5 miliar untuk cloud computing dan infrastruktur AI dalam periode tiga tahun.
Dengan tambahan dana terbaru, Alibaba tampaknya belum berniat mengerem pedal gas dalam perlombaan AI.
Dilusi dan Lonjakan Belanja Modal Tekan Sentimen
Di sinilah persoalan investor mulai terlihat. Ketika perusahaan menerbitkan saham baru, jumlah saham yang beredar bertambah. Bagi pemegang saham lama, kondisi ini dapat menyebabkan dilusi kepemilikan, karena porsi kepemilikan mereka terhadap perusahaan menjadi lebih kecil jika tidak ikut membeli saham baru.
Selain itu, harga penempatan HK$112,70 juga memberikan diskon dibandingkan harga penutupan saham Alibaba sebelumnya. Kondisi tersebut membuat investor mempertanyakan valuasi dan dampak aksi korporasi ini terhadap pemegang saham yang sudah ada.
Tekanan tersebut semakin terasa karena Alibaba baru saja menunjukkan betapa mahalnya perlombaan AI dalam laporan keuangannya.
Pada kuartal yang berakhir Juni 2026, laba bersih Alibaba turun sekitar 75% secara tahunan. Di saat yang sama, belanja modal perusahaan melonjak 75% menjadi sekitar 67,7 miliar yuan.
Dengan kata lain, Alibaba sedang mengeluarkan uang dalam jumlah sangat besar untuk membangun fondasi AI, sementara dampaknya terhadap laba saat ini masih menjadi tantangan.
Cloud dan AI Tetap Jadi Sisi Positif Alibaba
Meski angka laba terlihat mengkhawatirkan, ada sisi lain yang tidak kalah penting.
Investasi besar Alibaba mulai menunjukkan tanda-tanda menghasilkan permintaan.
Pada kuartal Juni 2026, pendapatan cloud dan layanan komputasi AI Alibaba mencapai sekitar US$7,1 miliar, meningkat 45% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa kebutuhan pelanggan terhadap layanan AI dan komputasi cloud terus meningkat.
Alibaba bahkan mencatat pertumbuhan cloud terkuat dalam 22 kuartal, sementara pendapatan terkait AI tumbuh tiga digit selama 12 kuartal berturut-turut.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah Alibaba mampu menghasilkan uang dari AI.
Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa cepat pertumbuhan tersebut mampu mengimbangi biaya investasi yang sangat besar.
Alibaba sebelumnya memperkirakan investasi AI yang dilakukan saat ini dapat mencapai titik pengembalian dalam sekitar dua setengah tahun, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya tiga tahun.
Pasar Kini Menunggu Hasil dari Taruhan Besar Alibaba
Strategi agresif Alibaba juga mencerminkan persaingan yang semakin ketat di industri teknologi China.
Perusahaan-perusahaan teknologi besar China kini berlomba membangun kapasitas komputasi dan mengembangkan model AI mereka sendiri. Tencent, misalnya, juga meningkatkan belanja modal untuk mendukung pengembangan AI dan infrastrukturnya.
Artinya, Alibaba tidak hanya berinvestasi untuk mengejar peluang pertumbuhan baru. Perusahaan juga harus memastikan dirinya tidak tertinggal ketika kompetitor menggelontorkan modal dalam jumlah besar untuk teknologi yang sama.
Situasi ini membuat perlombaan AI semakin mirip dengan pembangunan infrastruktur: perusahaan harus mengeluarkan biaya besar terlebih dahulu sebelum manfaat finansialnya benar-benar terlihat.
Penurunan saham Alibaba menunjukkan bahwa pasar tidak selalu memberikan respons positif terhadap investasi besar, bahkan ketika investasi tersebut ditujukan pada teknologi dengan prospek pertumbuhan tinggi seperti AI.
Dalam jangka pendek, investor harus menghadapi dua tekanan sekaligus: dilusi akibat penerbitan saham baru dan potensi tekanan terhadap laba karena belanja AI yang masih tinggi.
Namun, dalam jangka lebih panjang, ceritanya bisa berbeda apabila investasi tersebut berhasil meningkatkan pendapatan cloud, memperluas penggunaan layanan AI, dan pada akhirnya menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
Alibaba kini sedang mempertaruhkan modal dalam jumlah sangat besar untuk memenangkan perlombaan AI.
Bagi investor, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah Alibaba serius mengembangkan AI. Jawabannya sudah jelas.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah pertumbuhan AI Alibaba nantinya cukup besar untuk membayar harga investasi yang harus dikeluarkan hari ini.
Pantau Perkembangan Saham Teknologi Global
Investasi AI semakin besar dan mulai memengaruhi strategi serta valuasi perusahaan teknologi. Pantau saham Alibaba dan saham global lainnya melalui Nanovest, serta ikuti perkembangan AI dan pasar terbaru lewat News dan Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- Reuters: Alibaba shares slide after $10.2 billion AI share sale offered at sharp discount
- CNBC: Alibaba plunges after announcing $10.2 billion share placement to fund AI push






