Ledakan artificial intelligence dan pertumbuhan infrastruktur Bitcoin selama ini banyak dibicarakan dari sisi chip, listrik, dan data center. Kini satu komponen lain mulai masuk radar: tembaga.
Pasokan logam industri tersebut mengalami tekanan paling ketat sejak 2021. Di London Metal Exchange (LME), kontrak tembaga tunai sempat diperdagangkan hingga US$478 per ton lebih mahal dibanding kontrak tiga bulan. Kondisi backwardation sebesar itu menunjukkan pembeli bersedia membayar premi tinggi untuk memperoleh pasokan yang tersedia segera.
Tekanan tidak hanya terlihat pada harga. Persediaan LME telah turun selama 42 hari berturut-turut, periode penarikan terpanjang sejak 2014, menjadi sekitar 204.975 ton. Hampir separuh stok yang tersisa bahkan telah ditandai untuk ditarik dari gudang.
Akibatnya, harga tembaga telah naik hampir 16% sepanjang tahun. Kontrak tiga bulan sempat mencapai US$14.360,50 per ton, mendekati rekor Januari di US$14.527,50.
Bagi industri yang sedang berlomba menambah kapasitas komputasi, pengetatan ini menjadi penting. Data center AI maupun fasilitas mining Bitcoin sama-sama membutuhkan infrastruktur listrik dalam jumlah besar, dan sebagian besar infrastruktur itu sulit dibangun tanpa tembaga.
Stok Turun, Produksi Tambang Ikut Mengecewakan
Ketatnya pasar tembaga bukan hanya berasal dari meningkatnya permintaan.
Risiko tarif tembaga olahan di Amerika Serikat ikut mengubah arus perdagangan global. Harga tembaga di AS berada di atas acuan LME, menciptakan peluang arbitrase yang mendorong sebagian pedagang dan produsen mengalihkan logam ke pasar Amerika. Dampaknya, pasokan yang tersedia di wilayah lain, khususnya Eropa, semakin terbatas.
Pada saat bersamaan, produksi sejumlah perusahaan tambang besar justru melemah. Data Jefferies yang mencakup produsen dengan kontribusi sekitar 55% terhadap pasokan global menunjukkan produksi kuartal kedua turun 3,9% secara tahunan menjadi 3,113 juta ton.
Ivanhoe Mines mencatat penurunan produksi 43% setelah gangguan di Kamoa-Kakula, sedangkan produksi Newmont turun 53% akibat penurunan kadar bijih. Freeport-McMoRan, Antofagasta, dan BHP juga melaporkan penurunan.
Jefferies memperkirakan kondisi tersebut dapat membawa pasar tembaga menuju defisit sekitar 442.000 ton pada 2026, kemudian melebar menjadi sekitar 782.000 ton pada 2030.
Jika estimasi tersebut terealisasi, tekanan harga tembaga dapat bertahan lebih lama daripada sekadar lonjakan jangka pendek akibat perubahan inventori.
Mining Bitcoin Hadapi Biaya Infrastruktur Lebih Tinggi
Mining Bitcoin (BTC) memang tidak menggunakan tembaga sebagai bahan bakar. Namun hampir seluruh infrastruktur yang memungkinkan mesin mining bekerja sangat bergantung pada logam tersebut.
Fasilitas mining membutuhkan transformator, gardu induk, jaringan kabel, switchgear, sistem pendinginan, hingga sambungan transmisi listrik. Ketika harga tembaga meningkat, biaya membangun fasilitas baru ataupun memperluas kapasitas lama ikut berpotensi naik.
Tekanan ini datang ketika industri mining Bitcoin sendiri sudah menghadapi sejumlah tantangan lain, mulai dari volatilitas harga BTC, meningkatnya tingkat kesulitan jaringan, hingga tekanan margin akibat penurunan imbalan blok.
Biaya infrastruktur yang lebih tinggi pada akhirnya dapat membuat proyek baru menjadi lebih sulit secara ekonomi.
Operator besar yang sudah memiliki kontrak energi jangka panjang dan akses terhadap infrastruktur listrik mungkin berada dalam posisi lebih baik dibanding pemain kecil yang masih harus membangun fasilitas dari awal.
Kelangkaan tembaga juga membuat lokasi yang telah memiliki sambungan listrik, gardu induk, dan kapasitas jaringan siap pakai menjadi semakin bernilai. Persoalannya bukan hanya apakah listrik tersedia, tetapi seberapa cepat listrik tersebut bisa disalurkan ke fasilitas komputasi.
Ledakan AI Membuat Persaingan Tembaga Semakin Ketat
Tekanan serupa juga muncul dari pembangunan pusat data AI, bahkan dalam skala yang berpotensi lebih besar.
Data center hyperscale membutuhkan tembaga dalam jumlah besar untuk distribusi listrik, pendinginan, generator cadangan, jaringan kabel, dan koneksi ke grid. Semakin besar kapasitas komputasi yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur pendukungnya.
Masalahnya, AI bukan satu-satunya sumber permintaan. Modernisasi jaringan listrik, kendaraan listrik, dan energi terbarukan juga membutuhkan tembaga dalam jumlah besar. Jefferies memperkirakan permintaan tembaga yang berasal dari infrastruktur jaringan listrik dapat tumbuh sekitar 5% per tahun hingga 2030, sementara permintaan dari kendaraan listrik diperkirakan tumbuh 9,6%.
Hal ini membuat operator data center AI dan penambang Bitcoin bukan hanya bersaing untuk chip dan listrik, tetapi juga untuk sebagian komponen fisik yang sama.
Jika defisit tembaga bertahan, biaya pembangunan data center baru dapat meningkat dan waktu ekspansi kapasitas dapat memanjang. Kondisi tersebut berpotensi menambah satu lagi hambatan bagi perusahaan teknologi yang sedang menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk membangun infrastruktur AI.
Jefferies memperkirakan harga rata-rata tembaga berada di sekitar US$13.380 per ton pada 2026 dan dapat meningkat menjadi US$17.637 pada 2030.
Tekanan saat ini masih dapat mereda jika ekspektasi tarif berubah atau persediaan kembali masuk ke gudang LME. Namun penurunan produksi dan kadar bijih menunjukkan bahwa sebagian persoalan pasokan juga bersifat struktural.
Artinya, ketika perlombaan AI dan komputasi terus membutuhkan semakin banyak listrik, tembaga dapat berubah dari sekadar komoditas industri menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan seberapa cepat dan seberapa mahal kapasitas komputasi baru dapat dibangun.
Baca berita lainnya terkait perkembangan aset Bitcoin di halaman ini.
Pantau Perkembangan AI dan Pasar Kripto
Pantau saham teknologi, Bitcoin, dan aset lainnya melalui Nanovest, serta ikuti perkembangan pasar terbaru lewat News dan Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- CCN: Copper Hits 2021 Squeeze Levels: What It Means for Bitcoin Miners and the AI Boom






