Melihat harga saham saja belum cukup untuk mengetahui seberapa besar sebuah perusahaan.
Bayangkan Perusahaan A memiliki harga saham Rp10.000, sementara saham Perusahaan B diperdagangkan di Rp1.000. Perusahaan A belum tentu sepuluh kali lebih besar. Jika Perusahaan B memiliki jauh lebih banyak saham yang beredar, nilai pasarnya justru bisa lebih tinggi.
Di sinilah market capitalization atau market cap digunakan. Angka ini membantu investor melihat ukuran perusahaan berdasarkan nilai seluruh sahamnya di pasar.
Lantas, apa itu market cap, bagaimana cara menghitungnya, dan apa arti large cap, mid cap, serta small cap?
Daftar Isi
ToggleApa Itu Market Cap?
Market cap adalah total nilai pasar seluruh saham perusahaan yang beredar. Istilah ini merupakan singkatan dari market capitalization atau kapitalisasi pasar.
Market cap dihitung menggunakan harga saham yang berlaku di pasar dan jumlah saham perusahaan yang beredar (shares outstanding). SEC melalui Investor.gov mendefinisikan market capitalization dengan perhitungan yang sama, yaitu harga pasar per saham dikalikan total saham beredar.
Artinya, perusahaan dengan harga saham tinggi belum tentu memiliki market cap lebih besar dibandingkan perusahaan dengan harga saham yang lebih rendah.
Sebagai ilustrasi:
| Komponen | Perusahaan A | Perusahaan B |
|---|---|---|
| Harga saham | Rp10.000 | Rp1.000 |
| Saham beredar | 1 miliar | 20 miliar |
| Market cap | Rp10 triliun | Rp20 triliun |
Harga saham Perusahaan A sepuluh kali lebih tinggi. Namun, Perusahaan B memiliki market cap dua kali lebih besar karena jumlah saham beredarnya jauh lebih banyak.
Karena menggunakan harga saham saat ini, market cap dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham. Ketika harga saham naik dan jumlah saham beredar tetap, market cap ikut meningkat. Sebaliknya, penurunan harga saham akan menurunkan market cap.
Cara Menghitung Market Cap
Rumus market cap cukup sederhana:
Market Cap = Harga Saham × Jumlah Saham Beredar
Misalnya, PT ABC Tbk memiliki:
- Harga saham: Rp2.000
- Jumlah saham beredar: 5 miliar saham
Maka:
Market Cap = Rp2.000 × 5 miliar
Market Cap = Rp10 triliun
Jadi, kapitalisasi pasar PT ABC Tbk pada harga tersebut adalah Rp10 triliun.
Perhitungan ini juga menjelaskan mengapa perubahan harga saham langsung memengaruhi market cap. Jika harga PT ABC Tbk naik menjadi Rp2.500 sementara jumlah saham beredarnya tetap 5 miliar, market cap berubah menjadi: Rp2.500 × 5 miliar = Rp12,5 triliun
Masukkan harga saham dan jumlah saham beredar untuk menghitung estimasi market cap perusahaan.
Jenis-Jenis Market Cap
istilah yang paling umum ditemui adalah large cap, mid cap, dan small cap.
Tidak ada batas nominal universal yang berlaku untuk seluruh pasar. FINRA menjelaskan bahwa batas setiap kategori dapat berbeda, meskipun rentang US$10 miliar untuk large cap dan US$2-10 miliar untuk mid cap umum digunakan.
Berikut gambaran umumnya:
| Kategori | Kisaran Market Cap* | Gambaran Umum |
|---|---|---|
| Large Cap | US$10 miliar atau lebih | Perusahaan berskala besar dan umumnya lebih mapan |
| Mid Cap | US$2–10 miliar | Perusahaan berukuran menengah, termasuk perusahaan yang sedang memperluas skala bisnis |
| Small Cap | US$250 juta–US$2 miliar | Perusahaan dengan skala lebih kecil dan secara kelompok dapat memiliki volatilitas lebih tinggi |
*Kisaran merupakan pengelompokan umum dan dapat berbeda menurut pasar, indeks, atau penyedia data.
1. Large Cap
Large cap adalah perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar, dengan batas US$10 miliar atau lebih yang umum digunakan sebagai referensi.
Perusahaan dalam kategori ini umumnya telah memiliki skala bisnis yang besar dan posisi yang lebih mapan di industrinya. Beberapa bahkan berada pada kategori mega cap, istilah yang umum digunakan untuk perusahaan dengan market cap sekitar US$200 miliar atau lebih.
Sebagai kelompok, saham perusahaan besar cenderung memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan perusahaan berkapitalisasi lebih kecil. Namun, ukuran perusahaan tetap tidak menjamin kinerja saham ataupun kondisi fundamentalnya.
2. Mid Cap
Mid cap umumnya merujuk pada perusahaan dengan market cap sekitar US$2 miliar hingga US$10 miliar.
Kategori ini berada di antara large cap dan small cap dari sisi ukuran. Perusahaannya dapat mencakup bisnis yang sudah berkembang tetapi masih memiliki ruang untuk memperbesar skala operasi dan pangsa pasar.
Karakteristik setiap perusahaan mid cap tetap dapat berbeda cukup jauh. Karena itu, kategori market cap sebaiknya digunakan untuk memahami ukuran perusahaan terlebih dahulu sebelum investor melihat faktor lain seperti pertumbuhan, profitabilitas, utang, dan valuasi.
3. Small Cap
Small cap adalah kelompok perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang relatif lebih kecil. Salah satu rentang yang umum digunakan adalah sekitar US$250 juta hingga US$2 miliar.
Perusahaan small cap dapat memiliki ruang pertumbuhan yang besar karena skala bisnisnya masih relatif kecil. Pada saat yang sama, kelompok ini dapat menghadapi risiko dan volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar, termasuk karena bisnisnya mungkin lebih sensitif terhadap perubahan ekonomi atau memiliki akses pendanaan yang lebih terbatas.
Karena itu, label large cap, mid cap, atau small cap menunjukkan ukuran kapitalisasi pasar perusahaan. Kategori tersebut belum cukup untuk menentukan apakah suatu saham menarik untuk dibeli.
Setelah memahami cara menghitung dan mengelompokkan market cap, langkah berikutnya adalah melihat mengapa kapitalisasi pasar penting, bagaimana istilah first liner hingga third liner digunakan di Indonesia, serta perbedaan market cap dengan enterprise value.
Mengapa Market Cap Penting?
Market cap memberi gambaran mengenai ukuran nilai ekuitas perusahaan di pasar. Informasi ini membantu investor membandingkan perusahaan, memahami karakter saham berdasarkan skalanya, hingga membaca komposisi suatu indeks.
1. Menunjukkan Ukuran Perusahaan
Harga saham per lembar tidak cukup untuk menunjukkan ukuran perusahaan karena setiap emiten memiliki jumlah saham beredar yang berbeda. Hal ini sesuai dengan perhitungan dasar kapitalisasi pasar, yaitu harga saham saat ini dikalikan jumlah saham beredar.
2. Membantu Membandingkan Perusahaan
Market cap dapat menjadi titik awal untuk membandingkan skala beberapa perusahaan, terutama yang bergerak di industri serupa.
Dua perusahaan teknologi, misalnya, dapat memiliki pendapatan dan model bisnis yang mirip tetapi ukuran kapitalisasi pasar yang jauh berbeda. Perbedaan tersebut menunjukkan bagaimana pasar memberi nilai terhadap ekuitas masing-masing perusahaan pada harga saham saat itu.
Namun, market cap belum menunjukkan apakah valuasi suatu saham murah atau mahal. Penilaian tersebut membutuhkan metrik tambahan seperti P/E, P/B, pertumbuhan laba, serta indikator fundamental lainnya.
3. Membantu Melihat Komposisi Portofolio
Kategori market cap juga dapat digunakan untuk melihat apakah sebuah portofolio lebih banyak berisi perusahaan besar, menengah, atau kecil. Hal ini relevan karena masing-masing kelompok dapat memiliki karakter pertumbuhan, volatilitas, dan risiko yang berbeda. Investor dapat menggunakan informasi tersebut sebagai salah satu pertimbangan ketika menyusun diversifikasi portofolio.
4. Digunakan dalam Indeks Saham
Kapitalisasi pasar juga berperan dalam penyusunan berbagai indeks saham.
Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) menggunakan metode free-float adjusted market capitalization weighted dengan batas bobot tertentu pada banyak indeks, termasuk IHSG, LQ45, IDX30, IDX80, KOMPAS100, serta IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid. Artinya, perhitungan bobot indeks memperhitungkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan saham free float, sesuai metodologi masing-masing indeks.
Konsep serupa digunakan pada berbagai indeks berbasis kapitalisasi pasar di luar Indonesia. Pada market-cap-weighted index, perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih tinggi memperoleh bobot lebih besar dibandingkan perusahaan dengan market cap lebih kecil.
Market Cap di Indonesia: First Liner, Second Liner, dan Third Liner
Selain istilah large cap, mid cap, dan small cap, investor Indonesia juga sering menjumpai istilah first liner, second liner, dan third liner.
Istilah tersebut digunakan secara informal oleh pelaku pasar untuk menggambarkan kelompok saham berdasarkan ukuran perusahaan serta karakteristik perdagangannya. Batas kapitalisasi pasar untuk setiap kelompok dapat berbeda antarpraktisi atau sumber, sehingga tidak ada angka tunggal yang perlu dijadikan patokan.
1. First Liner atau Blue Chip
First liner umumnya merujuk pada saham perusahaan besar yang sudah mapan dan memiliki kapitalisasi pasar tinggi. Istilah blue chip juga sering digunakan untuk kelompok saham dengan karakteristik tersebut.
Perusahaannya biasanya memiliki bisnis berskala besar, rekam jejak yang panjang, serta saham yang relatif aktif diperdagangkan.
Meski demikian, status sebagai saham berkapitalisasi besar tetap perlu dipisahkan dari penilaian valuasi. Harga saham first liner dapat berada pada valuasi yang berbeda-beda tergantung kinerja perusahaan dan ekspektasi pasar.
2. Second Liner
Second liner digunakan untuk menyebut saham yang berada di bawah kelompok first liner dari sisi ukuran dan popularitas pasar.
Kelompok ini dapat mencakup perusahaan yang sudah memiliki bisnis cukup berkembang dan masih berada dalam fase ekspansi. Kapitalisasi pasarnya umumnya lebih kecil dibandingkan saham first liner.
Pergerakan saham second liner dapat lebih volatil sehingga investor tetap perlu melihat likuiditas, fundamental, dan valuasinya secara individual.
3. Third Liner
Third liner umumnya mengacu pada saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih kecil.
Likuiditas pada sebagian saham dalam kelompok ini dapat lebih rendah dan pergerakan harganya bisa lebih tajam. Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih memperhatikan volume perdagangan, kondisi fundamental perusahaan, serta risiko volatilitas.
Istilah first liner, second liner, dan third liner tidak memiliki batas kapitalisasi pasar baku yang ditetapkan BEI. Untuk klasifikasi berbasis indeks, BEI memiliki indeks seperti IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid yang mengikuti metodologi serta kriteria resmi tersendiri.
Market Cap vs Enterprise Value: Apa Bedanya?
Market cap dan enterprise value (EV) sama-sama digunakan untuk melihat nilai perusahaan, tetapi komponen yang dihitung berbeda.
Market cap menggambarkan nilai pasar ekuitas yang dimiliki pemegang saham. Enterprise value memasukkan struktur modal perusahaan dengan mempertimbangkan utang dan kas. Dalam bentuk sederhana, EV dapat dihitung dengan rumus:
Enterprise Value = Market Cap + Total Utang − Kas dan Setara Kas
Dalam analisis yang lebih lengkap, perhitungan EV juga dapat memasukkan saham preferen dan kepentingan nonpengendali.
| Aspek | Market Cap | Enterprise Value |
|---|---|---|
| Mengukur | Nilai pasar ekuitas | Nilai perusahaan dengan mempertimbangkan struktur modal |
| Rumus sederhana | Harga saham × saham beredar | Market cap + utang − kas |
| Memperhitungkan utang | Tidak | Ya |
| Memperhitungkan kas | Tidak | Ya |
| Kegunaan utama | Melihat ukuran nilai ekuitas perusahaan | Membandingkan nilai bisnis dengan mempertimbangkan struktur pendanaan |
Perbedaan ini membuat EV sering digunakan bersama metrik seperti EV/EBITDA ketika membandingkan valuasi perusahaan.
Apakah Market Cap Sama dengan Nilai Perusahaan?
Dalam percakapan sehari-hari, market cap terkadang disebut sebagai “nilai perusahaan”. Secara analisis keuangan, istilah tersebut perlu dibaca lebih spesifik.
Market cap menunjukkan nilai pasar ekuitas perusahaan, yaitu nilai yang terkait dengan pemegang saham biasa. Enterprise value memperluas perhitungan dengan memasukkan klaim dari sumber pendanaan lain seperti utang serta mengurangi kas yang tersedia. Karena itu, perusahaan dengan market cap lebih besar belum tentu memiliki enterprise value yang lebih besar jika struktur utang dan kasnya berbeda.
Apa yang Membuat Market Cap Naik atau Turun?
Karena rumusnya menggunakan harga saham × jumlah saham beredar, perubahan pada salah satu komponen tersebut dapat mengubah market cap.
1. Perubahan Harga Saham
Harga saham merupakan faktor yang paling sering membuat market cap berubah dari hari ke hari. Jumlah saham perusahaan tetap sama. Perubahan market cap terjadi karena pasar memberi harga yang lebih tinggi pada setiap sahamnya.
2. Perubahan Jumlah Saham Beredar
Jumlah saham beredar juga dapat berubah akibat aksi korporasi. Penerbitan saham baru dapat menambah jumlah saham beredar, sedangkan share buyback yang diikuti perubahan saham beredar dapat memberikan efek sebaliknya. Dampak akhirnya terhadap market cap tetap bergantung pada jumlah saham beredar dan harga saham setelah aksi tersebut.
3. Kinerja dan Ekspektasi terhadap Perusahaan
Laporan keuangan, pertumbuhan pendapatan dan laba, peluncuran produk, ekspansi bisnis, hingga perubahan prospek dapat memengaruhi cara investor menilai sebuah perusahaan. Ketika ekspektasi pasar berubah, permintaan dan penawaran saham dapat mendorong perubahan harga. Pergerakan tersebut kemudian tercermin pada market cap.
4. Kondisi Pasar dan Sentimen Investor
Perubahan suku bunga, pertumbuhan ekonomi, kondisi industri, kebijakan pemerintah, hingga sentimen pasar juga dapat memengaruhi harga saham. Dampaknya tidak selalu sama pada setiap perusahaan. Perubahan kondisi ekonomi tertentu dapat memberikan tekanan lebih besar pada satu sektor sekaligus mendukung sektor lainnya.
Dengan memahami faktor-faktor tersebut, market cap dapat dibaca sebagai nilai yang bergerak mengikuti harga pasar dan struktur saham perusahaan pada suatu waktu. Selanjutnya, investor dapat menggunakannya bersama data fundamental dan valuasi untuk membandingkan saham secara lebih terstruktur.
Bagaimana Cara Menggunakan Market Cap dalam Investasi?
Market cap dapat membantu investor memahami skala perusahaan dan karakter saham yang sedang dianalisis. Penggunaannya akan lebih relevan jika dikombinasikan dengan fundamental, valuasi, kondisi industri, dan tujuan investasi.
Berikut beberapa cara menggunakan market cap dalam analisis saham.
1. Bandingkan Perusahaan dalam Industri yang Sama
Market cap dapat digunakan untuk melihat perbedaan ukuran perusahaan yang bergerak di industri serupa. Dari market cap, analisis dapat dilanjutkan ke pendapatan, pertumbuhan laba, margin, pangsa pasar, utang, dan valuasi untuk memahami kondisi masing-masing perusahaan.
Perbandingan dengan perusahaan sejenis juga penting ketika menggunakan rasio valuasi karena karakteristik dan tingkat valuasi dapat berbeda antarindustri.
2. Kenali Karakter Perusahaan Berdasarkan Ukurannya
Kelompok large cap, mid cap, dan small cap dapat memiliki karakter risiko dan pertumbuhan yang berbeda.
Secara umum, perusahaan besar cenderung memiliki bisnis dan sumber daya yang lebih luas. Perusahaan berkapitalisasi kecil dapat memiliki ruang pertumbuhan lebih besar, tetapi harga sahamnya sebagai kelompok juga cenderung lebih volatil dan lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi. Karakter tersebut merupakan kecenderungan umum dan tidak berlaku sama untuk setiap perusahaan. Syndication
Karena itu, market cap dapat digunakan sebagai salah satu parameter untuk memahami profil sebuah saham sebelum analisis dilanjutkan ke kondisi perusahaan secara individual.
3. Gunakan Market Cap Bersama Valuasi
Perusahaan dengan market cap kecil tidak otomatis memiliki saham yang murah. Begitu pula perusahaan dengan market cap besar tidak otomatis memiliki saham yang mahal.
Rasio seperti P/E, P/B, dan P/S dapat memberikan konteks tambahan karena membandingkan harga atau nilai pasar perusahaan dengan laba, nilai buku, maupun pendapatannya.
Investor juga dapat melihat pertumbuhan pendapatan dan laba, arus kas, profitabilitas, serta kondisi neraca untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
4. Gunakan untuk Diversifikasi Berdasarkan Ukuran Perusahaan
Market cap dapat membantu investor mengetahui seberapa besar eksposur portofolio terhadap perusahaan dengan ukuran berbeda. Portofolio yang seluruhnya berisi saham large cap, misalnya, memiliki komposisi berdasarkan ukuran yang berbeda dari portofolio yang juga memiliki mid cap dan small cap.
Diversifikasi antarukuran perusahaan dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam menyebarkan eksposur investasi. Namun, diversifikasi tidak menjamin keuntungan atau menghilangkan risiko kerugian.
Keterbatasan Market Cap yang Perlu Diketahui
Market cap berguna untuk melihat ukuran nilai ekuitas perusahaan, tetapi angka ini tidak memberikan seluruh informasi yang dibutuhkan untuk menganalisis saham.
Market cap sendiri tidak menunjukkan secara langsung:
- berapa besar utang dan kas perusahaan;
- apakah perusahaan menghasilkan laba;
- bagaimana kondisi arus kasnya;
- seberapa cepat pendapatan dan laba bertumbuh;
- apakah saham diperdagangkan pada valuasi yang tinggi atau rendah; dan
- bagaimana kualitas serta prospek bisnis perusahaan.
Market cap juga mengikuti harga saham yang terbentuk di pasar. Artinya, perubahan ekspektasi investor dapat menaikkan atau menurunkan kapitalisasi pasar meskipun jumlah saham beredar tidak berubah. FINRA mencatat bahwa market cap mencerminkan nilai yang diberikan pasar kepada perusahaan dan dapat dipengaruhi ekspektasi terhadap pertumbuhan di masa depan.
Karena itu, analisis fundamental dapat melengkapi market cap melalui data seperti pendapatan, laba, arus kas, aset, liabilitas, dan posisi kompetitif perusahaan.
Contoh Cara Membaca Market Cap dalam Analisis Saham
Anggap terdapat dua perusahaan dalam industri yang sama dengan data berikut:
| Indikator | Perusahaan A | Perusahaan B |
|---|---|---|
| Debt-to-Equity Ratio | 0,4x | 1,2x |
| Market Cap | Rp100 triliun | Rp20 triliun |
| P/E Ratio | 18x | 30x |
| Pertumbuhan Pendapatan | 8% | 20% |
Dari market cap, kita dapat mengetahui bahwa nilai pasar ekuitas Perusahaan A lima kali lebih besar daripada Perusahaan B.
Data lainnya memberikan konteks tambahan. Perusahaan B mencatat pertumbuhan pendapatan lebih tinggi, tetapi diperdagangkan pada P/E yang lebih tinggi dan memiliki rasio utang terhadap ekuitas yang lebih besar dalam contoh tersebut.
Informasi ini belum cukup untuk menentukan saham mana yang lebih menarik. Investor masih perlu memeriksa antara lain tren laba, arus kas, margin, prospek industri, kualitas bisnis, serta penyebab perbedaan valuasi.
Contoh tersebut menunjukkan fungsi market cap dalam analisis: memberikan konteks mengenai ukuran perusahaan yang kemudian dapat dilengkapi dengan indikator fundamental dan valuasi.
Mulai Investasi Saham di Nanovest
Memahami market cap dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mengenali perusahaan yang sedang dianalisis. Setelah mengetahui ukurannya, investor dapat melanjutkan analisis ke kinerja keuangan, valuasi, prospek bisnis, dan risiko sebelum mengambil keputusan.
Melalui Nanovest, kamu dapat menjelajahi berbagai pilihan saham dan mempelajari perusahaan yang sesuai dengan strategi investasimu.
FAQ
Apa itu market cap?
Market cap adalah total nilai pasar seluruh saham perusahaan yang beredar. Nilainya diperoleh dengan mengalikan harga saham saat ini dengan jumlah saham beredar.
Bagaimana cara menghitung market cap?
Gunakan rumus Market Cap = Harga Saham × Jumlah Saham Beredar. Jika harga saham Rp2.000 dan perusahaan memiliki 5 miliar saham beredar, market cap-nya adalah Rp10 triliun.
Apa arti market cap besar?
Market cap besar menunjukkan bahwa total nilai pasar saham beredar perusahaan relatif besar. Perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar umumnya masuk kelompok large cap, meskipun batas kategorinya dapat berbeda menurut pasar atau penyedia indeks.
Apa perbedaan large cap, mid cap, dan small cap?
Perbedaannya terletak pada ukuran kapitalisasi pasar. Salah satu klasifikasi yang umum digunakan menempatkan large cap pada US$10 miliar atau lebih, mid cap sekitar US$2–10 miliar, dan small cap sekitar US$250 juta–US$2 miliar. Batas tersebut tidak bersifat universal. FINRA.
Apakah market cap besar berarti saham bagus?
Tidak selalu. Market cap menunjukkan ukuran nilai ekuitas perusahaan di pasar. Kualitas saham perlu dianalisis melalui kondisi fundamental, valuasi, prospek bisnis, risiko, dan faktor relevan lainnya.
Apakah market cap sama dengan harga saham?
Tidak. Harga saham adalah harga satu lembar saham, sedangkan market cap merupakan nilai seluruh saham beredar. Dua perusahaan dapat memiliki harga saham yang sama tetapi market cap berbeda karena jumlah saham beredarnya berbeda.
Apa perbedaan market cap dan enterprise value?
Market cap menunjukkan nilai pasar ekuitas perusahaan. Enterprise value memiliki cakupan lebih luas karena turut mempertimbangkan struktur modal, termasuk utang dan kas perusahaan.
Apakah market cap bisa berubah setiap hari?
Ya. Market cap berubah mengikuti harga saham. Jika jumlah saham beredar tetap, kenaikan harga saham akan meningkatkan market cap dan penurunan harga akan menurunkannya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen investasi tertentu. Investasi memiliki risiko. Pelajari kondisi perusahaan dan sesuaikan keputusan investasi dengan tujuan serta profil risikomu.
Referensi +
- Investor.gov: Market Capitalization
- Fidelity: What is market cap?
- FINRA: Stocks
- Corporate Finance Institute: Enterprise Value (EV)
- Syndication: Market Cap, Explained






