Wall Street akhirnya kembali menguat pada Rabu setelah tiga sesi berturut-turut melemah, tetapi pemulihannya belum merata. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite masing-masing hanya naik sekitar 0,2%, sementara saham-saham teknologi dan semikonduktor masih menghadapi tekanan jual.
Pemicu utama perbaikan sentimen datang dari pasar obligasi. Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana memperbesar pembelian kembali Treasury jangka panjang, sebuah langkah yang langsung menekan yield setelah biaya pinjaman AS melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Namun, reli obligasi belum otomatis menjadi kabar baik bagi seluruh pasar. Saham seperti Intel (INTC), Advanced Micro Devices (AMD), dan Broadcom (AVGO) tetap melemah, memperlihatkan bahwa investor masih berhati-hati terhadap valuasi teknologi dan besarnya kebutuhan modal untuk ekspansi kecerdasan buatan.
Treasury Perbesar Buyback, Yield Jangka Panjang Turun
Departemen Keuangan AS mengatakan akan setidaknya menggandakan pembelian kembali obligasi Treasury tenor 10, 20, dan 30 tahun, dengan operasi yang dijadwalkan berlangsung mulai 9 September hingga 4 November.
Batas pembelian kembali dinaikkan menjadi setidaknya US$4 miliar, dari sebelumnya US$2 miliar. Pengumuman tersebut langsung meningkatkan harga obligasi sekaligus menekan yield, yang bergerak berlawanan arah dengan harga.
Yield Treasury 10 tahun turun sekitar 5 basis poin menjadi 4,65%, sementara tenor 30 tahun turun sekitar 9 basis poin menjadi 5,19%. Sebelumnya, yield 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.
Langkah ini muncul setelah biaya pinjaman jangka panjang meningkat akibat beberapa tekanan sekaligus, mulai dari defisit fiskal yang besar, inflasi yang masih berada di atas target The Fed, pelemahan dolar, hingga lonjakan penerbitan obligasi perusahaan teknologi untuk membiayai pembangunan pusat data AI.
Penurunan yield membantu mengurangi sebagian tekanan terhadap valuasi saham karena biaya pendanaan menjadi lebih rendah. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai dampak buyback tersebut kemungkinan lebih kuat dalam jangka pendek daripada menjadi solusi permanen terhadap kenaikan yield.
Saham Teknologi Tetap Dijual, Healthcare Justru Melonjak
Meski kondisi pasar obligasi membaik, sektor teknologi tetap menjadi salah satu titik lemah perdagangan Rabu.
Tekanan terutama terlihat pada kelompok semikonduktor. Intel, AMD, dan Broadcom kembali melemah, memperpanjang aksi jual yang sebelumnya juga membebani Nasdaq.
AMD tercatat turun sekitar 3,7%, sementara investor juga mencermati saham chip dan penyimpanan seperti Micron (MU), Sandisk (SNDK), Marvell (MRVL), dan SK Hynix. Tekanan tersebut muncul ketika pasar semakin selektif terhadap perusahaan yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur AI, terutama setelah kebutuhan modal sektor tersebut terus membesar.
Kontras terjadi di sektor kesehatan. Saham Moderna (MRNA) melonjak sekitar 177% setelah vaksin kanker personalisasi yang dikembangkan bersama Merck mencatat hasil positif dalam uji klinis Fase 3 untuk melanoma. Merck ikut naik sekitar 12,6%.
Lonjakan tersebut membantu sektor healthcare mengungguli sektor lain dan menjadi salah satu penopang pasar di tengah pelemahan teknologi. Sektor bahan baku juga menguat seiring kenaikan harga emas dan saham perusahaan pertambangan emas.
Pergerakan ini memperlihatkan adanya rotasi yang semakin jelas di pasar. Investor tidak sepenuhnya meninggalkan saham, tetapi modal mulai bergerak dari tema teknologi yang sudah memiliki ekspektasi tinggi menuju sektor dengan katalis baru yang lebih spesifik.
Treasury dan The Fed Bisa Bergerak ke Arah Berbeda
Di balik penurunan yield, muncul pertanyaan baru bagi Federal Reserve.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menilai kenaikan yield jangka panjang ikut membantu memperketat kondisi finansial tanpa bank sentral harus langsung menaikkan suku bunga kebijakan. Namun, intervensi Treasury kini justru mendorong yield kembali turun.
Jika kondisi keuangan menjadi lebih longgar sementara inflasi tetap tinggi, The Fed berpotensi perlu melakukan lebih banyak pekerjaan melalui suku bunga jangka pendek.
Risalah rapat FOMC terbaru menunjukkan beberapa pejabat Fed memang telah mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan sebelumnya. Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden Fed Dallas Lorie Logan, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari termasuk pihak yang lebih memilih kenaikan sebesar 25 basis poin.
Dengan inflasi masih menjadi perhatian, investor kini menghadapi dinamika yang tidak sederhana: Treasury berusaha meredakan tekanan yield jangka panjang, sementara The Fed tetap harus memastikan kondisi finansial cukup ketat untuk membawa inflasi kembali menuju target.
Situasi ini membuat Jackson Hole pekan depan menjadi semakin penting. Pasar akan mencermati apakah Warsh mengubah nada kebijakannya setelah langkah Treasury, khususnya mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.
Tech Selloff Belum Selesai, Fokus Beralih ke Inflasi dan The Fed
Penurunan yield Treasury memberikan ruang bernapas bagi Wall Street, tetapi pergerakan saham teknologi menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya hilang.
Investor masih menimbang valuasi tinggi, kebutuhan pembiayaan AI yang semakin besar, serta kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga jika inflasi tidak turun sesuai harapan. Pada saat yang sama, penguatan healthcare dan sektor bahan baku menunjukkan bahwa peluang pasar mulai tersebar lebih luas di luar saham teknologi.
Bagi investor, beberapa pekan ke depan akan menjadi ujian apakah penurunan yield mampu bertahan dan kembali menopang saham growth, atau justru hanya menjadi jeda sementara sebelum kekhawatiran inflasi dan suku bunga kembali mengambil alih sentimen pasar.
Pantau Rotasi Pasar Wall Street
Yield Treasury, kebijakan The Fed, dan rotasi sektor terus memengaruhi pergerakan saham Amerika. Pantau saham teknologi dan sektor lainnya melalui Nanovest, serta ikuti perkembangan Wall Street terbaru lewat News dan Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- Yahoo Finance: Tech sell-off resumes, counterbalancing bond yield relief: AlphaCheck
- Yahoo Finance: The Treasury Department just pushed down long-term US bond yields. That could make Kevin Warsh's job harder.






