Efek positif dari intervensi Departemen Keuangan AS di pasar obligasi ternyata hanya bertahan singkat.
Sehari setelah pemerintah mengumumkan peningkatan program pembelian kembali atau buyback Treasury jangka panjang, yield obligasi AS kembali naik dan menghapus sebagian besar penurunan sebelumnya. Pergerakan tersebut ikut menekan pasar saham karena investor kembali menghadapi biaya pinjaman jangka panjang yang tinggi.
Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,70%, sementara tenor 30 tahun kembali berada di sekitar 5,25%. Keduanya berada di atas level sesaat setelah pengumuman buyback pada Rabu.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah dapat memberikan dukungan likuiditas jangka pendek, pasar masih melihat persoalan yang lebih besar di balik kenaikan yield: utang pemerintah yang membengkak, inflasi yang belum kembali ke target, hingga kebutuhan pembiayaan besar dari perusahaan teknologi.
Buyback US$4 Miliar Belum Cukup Menahan Yield
Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan akan setidaknya menggandakan ukuran maksimum buyback untuk Treasury tenor 10 hingga 30 tahun, dari US$2 miliar menjadi US$4 miliar per operasi.
Program tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 9 September hingga 4 November.
Pengumuman itu sempat memberikan dampak besar. Yield Treasury 30 tahun turun sekitar 10 basis poin setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam sekitar 19 tahun.
Namun, pergerakan tersebut berbalik hanya sehari kemudian. Yield Treasury 10 tahun kembali menembus 4,7%, sedangkan tenor 30 tahun naik ke sekitar 5,25%. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mulai menilai buyback lebih sebagai penopang likuiditas dibandingkan solusi terhadap penyebab utama kenaikan yield.
Bessent kemudian menyatakan Departemen Keuangan siap memperbesar program tersebut dan membuka kemungkinan nilai buyback melampaui US$4 miliar per penerbitan.
Langkah itu memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam meredakan tekanan di pasar obligasi. Namun, investor tetap mempertanyakan seberapa jauh Departemen Keuangan dapat menekan yield apabila kondisi fundamental tidak berubah.
Utang US$40 Triliun dan Ledakan Pembiayaan AI Jadi Tekanan
Masalah utama pasar obligasi AS tidak hanya berasal dari likuiditas.
Total utang nasional Amerika Serikat pekan ini telah menembus US$40 triliun, menciptakan kekhawatiran mengenai kebutuhan pembiayaan pemerintah yang semakin besar.
Pada saat yang sama, inflasi masih berada di atas target 2% Federal Reserve. Risalah FOMC terbaru bahkan menunjukkan sejumlah pejabat The Fed menilai suku bunga yang lebih tinggi mungkin masih dibutuhkan apabila tekanan harga tidak terus mereda.
Pasar obligasi juga menghadapi pesaing baru dalam memperebutkan modal investor: perusahaan teknologi yang agresif menerbitkan utang untuk membiayai infrastruktur AI dan data center.
Gelombang penerbitan obligasi korporasi tersebut membuat investor memiliki lebih banyak pilihan instrumen berimbal hasil tinggi. Akibatnya, Treasury perlu menawarkan yield yang lebih menarik agar tetap kompetitif.
Kombinasi defisit fiskal, inflasi, pasokan obligasi pemerintah, serta kebutuhan pendanaan sektor AI inilah yang membuat sebagian pelaku pasar skeptis bahwa buyback saja dapat mempertahankan yield pada level rendah.
Yield Tinggi Kembali Tekan Wall Street
Dampak kenaikan yield kembali terasa di pasar saham.
Pada perdagangan Kamis, S&P 500 turun sekitar 0,9% dan Nasdaq Composite melemah 1%. Secara mingguan, S&P 500 berada di jalur penurunan sekitar 1,9%, sedangkan Nasdaq turun sekitar 2,5%.
Yield jangka panjang yang tinggi menjadi tekanan khusus bagi saham dengan valuasi tinggi karena meningkatkan discount rate terhadap pendapatan masa depan sekaligus membuat obligasi menjadi alternatif investasi yang lebih kompetitif.
Pergerakan tersebut juga menegaskan perbedaan antara buyback Treasury dan kebijakan quantitative easing atau QE dari Federal Reserve. Departemen Keuangan tidak menciptakan uang baru untuk membeli obligasi. Setiap pembelian kembali tetap harus dibiayai melalui sumber lain dalam program pendanaan pemerintah.
Karena itu, buyback lebih banyak mengubah komposisi dan likuiditas utang yang berada di pasar, bukan menghilangkan kebutuhan pemerintah untuk mencari pembiayaan.
Bagi investor, arah yield Treasury tetap menjadi salah satu variabel penting untuk diperhatikan. Jika tekanan fiskal dan inflasi bertahan, volatilitas pasar obligasi dapat terus merembet ke saham, khususnya sektor teknologi dan saham-saham dengan valuasi tinggi.
Pantau Arah Pasar Saham Amerika
Yield Treasury kembali menjadi salah satu penggerak utama Wall Street. Pantau saham Amerika melalui Nanovest dan ikuti perkembangan obligasi, The Fed, serta sentimen pasar terbaru lewat News dan Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- CNBC: Treasury yields rebound, wiping out the decline following Bessent’s intervention
- Yahoo Finance: One day after doubling Treasury buybacks, Bessent says he's ready to boost them further to push down long-term yields
- CNBC: Stock futures are little changed after a steep sell-off sparked by a move back higher in Treasury yields: Live updates






